I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Menarik Diri



Setelah menikmati waktu di rumah keluarga Hamilton yang secara mengejutkan terasa menyenangkan. Aku dan William pulang diantar oleh sopir Tuan Dimitri. William sangat beruntung karena menerima salah satu miniatur mobil milik Tuan Besar.


"Willy, jangan pernah sekali lagi pergi ke rumah keluarga Hamilton lagi!" kataku tegas.


"Tapi, kalau ibu menikah dengan Paman Daniel, aku akan bermain dengan kakek tua sepuasnya"


Aku menutup mulut Wiliam yang terlanjur berbicara sesuatu yang bahkan tidak akan pernah terjadi.


"Ibu tidak akan menikah dengan Paman Daniel"


"Kenapa?" Anakku terlihat kecewa dengan keputusanku.


"Willy tidak akan mengerti, ini urusan ibu"


William terlihat bingung dengan pengakuanku. Tentu saja, dia tidak mengerti kalau aku dengan bodohnya menerima lamaran Daniel hanya untuk membalas perkataan nenek tua yang tidak kami jumpai lagi saat pulang.


"Apa karena Willy?" Aku terkejut dan melihat raut wajah anakku.


"Willy tahu kalau selama ini ibu tidak menikah karena Willy. Karena itu Willy berusaha mencari ayah dan bertanya pada nenek tua. Tapi, nenek tua tidak memberikan alamat yang jelas dan dia menayakan apakah Willy memiliki pasport atau tidak. Kemudian ibu datang"


"Willy, ibu tidak berpikir kala kau beban di dalam kehidupan ibu"


"Willy tahu, ibu sangat menyayangi Willy. Tapi, kini saatnya ibu hidup untuk ibu sendiri. Willy sudah besar dan bisa tinggal di tempat ayah atau tempat lainnya"


"Apa Willy pikir ibu akan senang hidup seperti itu?'


Willy terdiam saat akhirnya kami sampai di depan gedung apartemen. Setelah mengucapkan banyak terima kasih kepada sopir Tuan Dimitri, aku melihat William yang berjalan sendiri ke dalam apartemen. Kami terdiam cukup lama dan aku kembali melihat cincin yang melingkar indah di jari manaisku. Daniel sangat baik, dia pasti mengerti kalau aku tidak bisa memakai cincin ini lagi. Akhirnya, aku melepas cincin itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak berwarn a biru beludru yang indah. Walaupun sempat tergoda untuk tetap memakainya, aku sadar bahwa anakku yang menjadi inti darri hidupku sekarang. Kami berdua akan baik-baik saja seperti sebelumnya setelah aku mendapatkan pekerjaan baru. Maaf, Daniel.


Sara Hamilton datang ke perusahaan pagi itu untuk menanyakan sesuatu pada pengawal anaknya yang paling setia itu, Martin. Sayangnya, mereka tidak ada di kantor dan Sara bertemu perempuan yang seemakin hari terlihat mirip dengan Nora.


"Bibi, aku senang bisa bertemu dengan bibi disini" ucap Hilda dengan nada suara penuh harap.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Sara kesal. Dia sedang tidak ingin bertemu seseorang selain Martin, tapi terpaksa harus melayani perempuan yang gelisah ini dengan segala keluh kesahnya karena Daniel.


Mereka berdua pergi ke restoran untuk membicarakan Hilda dan rencananya mendekati Daniel, membuat Sara lupa akan tujuan awalnya pergi ke perusahaan.


Malamnya, aku memasak makan malam dan memanggil William dari dalam kamarnya.


"Ayo makan, Ibu sudah memasak ayam goreng kesukaanmu'


"Baik"


Kami makan malam dalam keheningan dan William sama sekali tidak melihatku.


"Ibu akan kembali mencari pekerjaan besok. Willy harus meminta maaf pada Jacob yang terpaksa harus berbohong kepada gurumu dan mengatakan kalau Willy tidak masuk kelas karena sakit"


"Baik"


"Ibu juga akan meminta Paman Daniel mengambil cincinnya kembali. Kita tidak membutuhkan Paman Daniel atau oang lain untuk dapat bahagia. Ibu sangat menyayangimu dan tidak ingin tinggal jauh dari Willy"


Pagi harinya, semua berjalan seperti semula. William pergi ke sekolah dan  aku mulai mencari pekerjaan. Tapi, ada satu hal yang haus kuselesaikan. Dengan membawa lamaran pekerjaan, aku pergi dengan taksi ke sebuah perusahaan besar yang pernah menjadi tempatku bekerja beberapa bulan lalu. Di lobi, tentu saja aku ditolak mentah-mentah oleh keamanan untuk bertemu seorang Presiden Direktur. Aku lupa, aku bukanlah siapa-siapa yang bisa mengenal seorang Daniel Hamilton.


Hanya ada satu cara untuk dapat bertemu Daniel tanpa harus melewati keamanan. Tapi, aku harus berada di tempat yang tidak terlihat terlebih dahulu.


"Halo, Daniel"


"Nora, maaf. Aku harus rapat sampai malam kemarin dan tidak dapat mengantar kalian pulang"


"Oh, tidak apa-apa. Apakah kau ada di perusahaan?" tanyaku.


"Iya. Kenapa?"


Setelah mengatakan bahwa aku ada di bawah dan tidak diperbolehkan masuk ke perusahaan untuk menemuinya. Daniel tidak menjawab teleponnya lagi. Dan dalam beberapa menit saja, orang yang kutelepon ada di hadapanku. Napasnya memburu tapi kesannya tetap tampan. Apalagi dengan setelan jas berwarna cokelat yang dikenakannya. Terlihat manly sekali. Sangat laki-laki.


"Kenapa tidak bilang sejak pagi kalau kau ingin datang ke perusahaan?'


"Ada sesuatu yang harus kukatakan. Apa kita bisa pergi ke suatu temmpat?"


Ketika aku mengatakan bahwa kami harus pergi ke suatu tempat. Tempat yang ada dalam pikiraanku adalah restoran. Tapi Daniel membawaku ke dalam perusahaan dan ruangannya. Yang membuatnya lebih parah adalah, dia selalu memegang tanganku sepanjang jalan kami masuk ke ruangannya. Tentu saja banyak mata yang melihat kami, termasuk keamanan yang mengusirku tadi. Terpaksa aku menutup wajahku dengan rambut dan tetap mengikuti Daniel.


Ketika akhirnya kami sampai di ruangannya, aku dapat bernapas dengan lega.


"Apa yang ingin kau katakan padaku?"


Ada seorang perempuan yang masuk ke dalam ruangan Daniel dengan membawa secangkir kopi dan aku terpaksa diam sekejap. Ketika akhirnya perempuan itu pergi, aku melihat wajah Daniel yang tersenyum dan menjadi tidak tega. Tapi, inilah tujuanku kemari, aku tidak boleh mundur. Dengan perlahan, aku mengeluarkan sebuah kotak biru yang ada di tasku dan meletakkannya di meja.


"Ini, aku datang untuk mengembalikan cincin ini padamu"


Daniel tiba-tiba saja terlihat serius dan memandangku dengan tatapan yang aneh.


"Aku tidak tahu kalau cincin ini sangat berharga bagi keluargamu. Ayahmu mengatakan kalau cincin ini adalah peninggalan nenekmu. Aku tidak berhak memakainya, karena kita hanya berpura-pura melakukan semuanya untuk menghindarkanmu dari Hilda" sambungku. Aku menggigit bibirku karena merasa sangat gugup.


Daniel berdiri dan membuatku lebih gugup. Apa dia akan marah padaku?


"Kukira, kau mengerti kalau aku tidak melakukan semua itu hanya untuk menghindari sepupumu" katanya membuatku tidak mengerti.


"Apa?'


"Kaupikir, aku akan menciummu seperti itu hanya untuk alasan yang tidak penting?"


Aku teringat lagi bagaimana kami berciuman di bianglala dan mulai menegakkan punggung.


Daniel tidak diam di posisinya dan mulai mendekatiku. Dia duduk di sebelahku dan mulai meletakkan tangannya di pinggangku. Tanpa jeda, dia mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Aku ... mencintaimu"


Mataku terbelalak karena kaget saat Daniel mulai mencium dan menghisap bibirku. Dia tidak lagi menahan tangannya dan memasukkannya ke dalam bajuku. Tidak. Apa yang dia lakukan?