
Membenci keluarga sendiri benar-benar membuatku hancur. Merasa sendirian di dunia ini dan akhirnya berkenalan drngan Reynold adalah kesalahan terbesar dalam hidupku yang menginjak umur 21 tahun ini.
Dan sekarang, aku dalam keadaan hamil sembilan bulan. Berdiri di depan rumah sakit sendirian. Reynold sudah pergi ke luar negeri dengan keluarganya untuk menghindari polisi. Kata-katanya saat menghinaku terus saja terngiang di telingaku.
Perempuan miskin
Tidak berguna
Perempuan bodoh
Aku merasa, semua pengetahuan yang selama ini kudapat di bangku sekolah dan kuliah tidak ada gunanya. Aku harus melahirkan anak di dalam rahimku ini lalu segera bekerja untuk mengembalikan uang kak Lizzy.
Tujuh atau sepuluh hari lagi, aku akan segera melahirkan. Tapi tidak ada perasaan senang ataupun cemas untuk makhluk dalam kandunganku. Kata dokter, janinku berjenis kelamin laki-laki dan sangat sehat.
Lagi-lagi, aku tidak peduli dan berjalan sampai rumah hanya untuk menghemat uang. Saat lapar, aku mengulum permen yang murah hanya agar tabunganku masih tersisa untuk membayar sewa kamar yang baru saja aku tempati satu bulan.
Induk semang kamar sewa yang dulu mengusirku setelah mengetahui bahwa aku hamil. Untunglah aku segera mendapatkan kamar sewa lain dalam waktu kurang dari 10 jam. Walaupun tempatnya ada di dekat pasar, kotor, kumuh dan terlihat tidak layak. Pemilik rumah serta penyewa lain tidak peduli dengan keadaan perutku yang besar.
Capek berjalan, aku duduk melihat halaman tengah yang berisi rumput dan satu pohon besar tak terawat. Barang-barangku masih tetap ada di kardus. Sengaja tidak kukeluarkan karena takut diusir lagi setelah anak ini lahir.
Ayah dan ibu benar-benar tidak peduli dengan keadaanku. Mereka memutuskan komunikasi, menghapus nomorku bahkan tidak menjawab setiap aku menghubungi. Rasanya seperti tidak memiliki orang tua lagi.
Malamnya sekitar jam 11.45, aku merasakan sakit perut yang hebat. Dengan menahan sakit, aku pergi ke kamar mandi dan air mulai mengalir di kakiku. Sejenak, aku hanya diam, tidak mengerti apa yang terjadi.
Sepertinya, aku pernah membaca tentang ini di internet. Air ketuban ... apa yang keluar diantara kakiku ini air ketuban?
Katanya, kalau air ketuban sudah keluar, bayinya akan seger lahir. Aku berusaha menenangkan diri, lalu keluar dari kamar mandi.
Kuambil tas persalinan yang sudah siap, memakai jaket, mengantongi dompet dan ponsel lalu keluar dari kamar. Dengan cepat aku mencari taksi online dan segera pergi ke rumah sakit. Langit gelap dan suasana jalan sepi tidak lagi kupedulikan karena rasa sakit yang datang lebih sering.
Sampai di rumah sakit, para perawat mulai menyiapkan aku untuk persalinan. Keadaanku saat itu adalah pembukaan telah lengkap dan air ketuban telah habis keluar.
Karena tidak ada kelyarga yang menyertaiku, mereka menyuruhku menandatangani semua sendiri lalu masuk ke dalam ruang bersalin.
Udara dingin, suntikan dan semua tindakan yang dilakukan padaku, rupanya tak bisa menghilangkan rasa sakit yang semakin tak tertahankan. Dan setelah mengikuti semua perintah dokter dan melewati rentetan sakit, terdengar suara tangisan bayi.
"Selamat, Bu. Anaknya laki-laki"
Aku mendengar ucapan selamat dari semua orang yang membantu persalinanku, tapi ... tidak ada rasa senang di dalam hati. Terbayang segala kesulitan yang akan kuhadapi setelah pulang nanti.
Dan saat bayi itu didekatkan padaki, ada keinginan untuk menolaknya. Dia adalah anak Reynold, pria yang kini sangat kubenci.
"Bu, ada apa?"
Rupanya, suster yang membawa bayi itu sadar akan reaksiku yang tidak senang.
"Bagaimapun, ini adalah bayi Ibu. Dia lahir di dunia dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Hanya ibu yang bisa diandalkan olehnya. Dia milik ibunya. Keluarga ibunya yang terdekat" katanya membuatku melihat gerak tangan bayi mungil itu.
"Saya tidak bisa" jawabku lalu menangis. Aku tidak bisa memegang bayiku sendiri. Aku masih tidak bisa merelakan kenyataan yang harus kuhadapi selama dan setelah ini.
Melihatku menolak, dokter mengambil keputusan untuk membawa bayi itu ke ruang bayi. Dan menyelesaikan tindakannya lalu mengembalikanku ke ruang rawat.
Aku melihat langit-langit kamar dan mendengar pekikan gembira para keluarga yang menantikan kehadiran bayi lain. Aku memilih tidur karena sangat kelelahan.
Saat terbangun, aku baru sadar kalau hari sudah malam. Ada suara bayi dari ranjang sebelahku. Pasti dia juga melahirkan hari ini sepertiku. Apa anaknya laki-laki? Perempuan? Ah ... kenapa aku peduli. Bayi yang kulahirkan saja sekarang ada dimana aku tidak tahu.
Tak lama, seorang perawat memeriksa keadaanku. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya mengantarkan makanan serta memeriksa darah nifas.
Apa bayi itu baik-baik saja? Bukankah seharusnya aku menyusuinya? Tapi ... aku tidak bisa memegangnya. Aku ... tidak yakin bisa membawanya pulang. Apa yang terjadi padaku?
"Apa Miss Hardy sudah agak tenang?"
Aku menoleh ke arah dokter yang membantu persalinanku. Kenapa dia kemari? Apa ada yang salah?
"Setelah saya lihat berkas Miss Hardy, saya tidak melihat ada nama suami Anda disana. Jadi, saya memutuskan untuk memanggil Anda Miss. Apa tidak apa-apa?"
Aku mengangguk menghadapi dokter wanita yang umurnya mungkin sama dengan ibu. Dia terdengar sangat tenang dan sabar.
"Apa Miss Hardy tidak memiliki keluarga?"
Walaupun tidak tahu tujuannya mengajukan pertanyaan ini. Sepertinya, aku harus menjawabnya.
"Ada"
"Apa mereka tahu kalau Miss Hardy hamil?"
Aku melihat ke arahnya dengan tatapan malu.
"Tahu"
"Apa Miss Hardy menginginkan bayi ini?"
Aku terganggu dengan pertanyaan ini. Sejujurnya, aku benar-benar tidak tahu tentang apa yang akan kulakukan setelah ini dengan bayi itu. Melihatku yang terdiam dan tidak menjawab, dokter itu menghela napas panjang dan mulai bertanya lagi.
"Apa Miss Hardy suka anak-anak?"
"Suka" Aku suka. Bahkan sangat menyukai anak-anak. Terkadang, aku bisa tersenyum hanya karena melihat beberapa anak TK yang berjalan riang bersama ibunya.
"Saya memang tidak tahu tentang keadaan yang Miss Hardy alami. Dan sya tidak akan menghakimi itu. Tapi, seorang bayi laki-laki menunggu kehadiran Miss Hardy di sisinya. Apakah, Miss Hardy tidak ingin melihatnya?" Suara dokter ini memang terdengar seperti bujukan yang mendesak. Tapi aku mengerti maksudnya.
"Saya masih tidak yakin dengan ... semuanya" Air mata tiba-tiba menetes dari mataku. Aku bingung ... benar-benar sangat bingung sekarang. Dan yang lebih parah. Tidak ada siapapun untukku bertanya atau sekedar mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
"Bagaimana kalau kita lihat dulu bayi itu?" ajaknya lalu membantuku turun dari tempat tidur. Ternyata, bekas luka yang dijahit dini hari tadi, kini tidak terasa sakit lagi.