I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Mulai Terbongkar



Aku harus segera berangkat setelah William pergi ke sekolah. Pusat perbelanjaan tempatku bekerja berada lebih dari tiga puluh menit perjalanan dengan bus dari apartemenku. Terpikir untuk pindah ke dekatnya, tapi aku tidak mungkin mengorbankan sekolah William. Jadilah aku harus pulang pergi menempuh jarak yang cukup jauh. Tapi, ini bukanlah hal yang buruk. William juga memulai pelajaran tambahan sejak sebulan yang lalu. Kehidupan kami akhirnya sangat sibuk.


Di bus, ada banyak orang yang sedang membicarakan berita terbaru hari ini. Pertunangan Daniel dan Hilda ternyata menjadi berita yang cukup menyita perhatian masyarakat. Bagaimanapun, hal itu bukanlah urusanku lagi. Semuanya sudah ada sesuai dengan tempatnya, begitu juga mereka dan aku. Tidak ada lagi beban berat di pundakku.


Tiga puluh menit kemudian, aku turun dari bus dan berlari ke arah pusat perbelanjaan.


"Hari ini, kita akan menjual lebih dari seratus barang tiap orangnya. Apa kalian setuju??" teriak supervisor lantai 3 pusat perbelanjaan


"Setuju!!" balas kami para pegawai.


"Kita akan menjadi orang sukses dengan pekerjaan ini. Semangaaaat!!!!" Terkadang aku merasa supervisor ini berlebihan. Tapi, kami sangat membutuhkannya. Berdiri selama lebih dari delapan jam dapat membuat badan lelah, apalagi dengan semua watak pelanggan yang harus kami hadapi. Rasanya, badan bisa ambruk saat itu juga.


"Dan Nora" Aku mendongak melihatnya ketika supervisor memanggilku


"Tebalkanlah riasanmu!!" katanya seperti menamparku. Aku memang tidak terlalu suka berias sejak lama sekali. Dan kini, mau tidak mau aku harus belajar memakainya lebih dari yang seharusnya.


Pintu mall akhirnya dibuka dan perlahan kami mendapatkan pelanggan satu persatu. Secara bergantian, kami memberi salam pada setiap pelanggan yang datang dan melayani mereka satu persatu seperti pelayan.


"Eh, Nora. Tahu tidak kalau Daniel Hamilton bertunangan hari ini?" tanya temanku yang berada di stand sebelah.


"Iya. Aku lihat beritanya di media sosial" jawabku, padahal aku belum melihatnya.


"Nama belakang tunangannya sama denganmu"


Aku hanya bisa diam setelah mendengar pertanyaan itu. Seandainya saja aku tidak mengembalikan cincin itu, pasti berita itu akan menyebutkan namaku dan bukan Hilda.


"Kami hanya memiliki nama belakang sama tapi bukan nasib yang sama" jawabku sambil bergurau.


Sejak kedatangan mereka untuk memintaku melepas Daniel, aku tidak pernah lagi melihat satupun keluargaku datang melihat kami. Pasti ayah dan ibu sibuk dengan persiapan pertunangan Hilda.


"Kalau kita mendapat sedikit saja keberuntungan mereka. Kita tidak akan pernah mendapatkan cacian para pelanggan" kata temanku dengan sedikit sedih. Iya benar, Hilda benar-benar beruntung mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku dan kelak Tuan dan Nyonya Hamilton yang sangat baik.


Sebelum makan siang, aku sempat menanyakan hari libur pada supervisor kami. Sayangnya, aku tidak akan mendapatkan hari libur pada akhir pekan sampai awal bulan depan. William pasti sedih tidak dapat liburan sekarang. Aku harus membelikannya kue saat melewati toko roti di dekat rumah nanti malam.


Daniel tidak percaya keluarga Hardy akan melakukan sebuah langkah besar seperti ini. Bagaimana bisa mereka membuat berita tak berdasar seperti ini tayang di televisi. Dan yang lebih membuatnya marah adalah sebuah pesta benar-benar telah disiapkan oleh keluarga Hardy di kediaman mereka.


"Apa yang harus kita lakukan Tuan Muda?" tanya Martin yang sejak pagi disibukkan dengan mencari dalang dibalik penyebar berita pertunangan Daniel dan Hilda.


"Kalau keluarga Hardy sangat tidak sabar membuatku terikat dengan keluarga mereka maka akan sangat tidak sopan bagiku menolaknya" jawab Daniel membuat Martin tidak percaya. Bukannya sampai detik ini Tuan Mudanya itu masih menyukai Nora Hardy?


Walaupun pada awalnya merasa terhina dengan penolakan ibu satu anak itu, Martin tidak pernah melihat Tuan Mudanya memperbolehkan perempuan manapun masuk ke dalam hatinya. Terutama Hilda Hardy. Perempuan berwajah palsu itu.


"Martin, siapkan jas terbaikku nanti malam untuk menghadiri pesta itu dan satu hal lagi" Martin mendengarkan dan merasa tidak percaya dengan perintah tuan mudanya.


"Maaf Tuan, sepertinya saya harus menolak permintaan Anda"


"Apa? Berani sekali kau menolak perintahku?!"


Martin memang tidak memiliki kuasa untuk menolak setiap permintaan Tuan mudanya. Tapi, menampilkan profil Nora Hardy yang hamil diluar nikah sebagai salah satu anak kandung keluarga Hardy bukanlah langkah yang tepat untuk mengatasi kemarahan Tuan Mudanya.


"Saya tidak berhak menghancurkan kehidupan Nona Nora yang baru saja bekerja di sebuah pusat perbelanjaan"


Daniel melihat Martin dan kembali ke berkas yang menumpuk di hadapannya.


"Dia bekerja sekarang? Bagaimana dengan Willy?"


"Tuan muda kecil baik-baik saja. Mulai minggu kemarin, Tuan muda Willy diharuskan mengikuti pelajaran tambahan oleh ibunya"


Daniel terdiam sebentar lalu melemparkan semua berkas yang ada di mejanya. Lalu, dia melihat Martin dengan tatapan curiga lagi.


Sejak pertama kali bertemu Nora lagi setelah sepuluh tahun. Daniel selalu mendengar Martin memanggil William dengan sebutan Tuan Muda Kecil. Padahal, anak itu bukanlah anaknya. William adalah anak dari Nora dan kekasihnya yang pergi begitu saja. Tapi ... Martin selalu memanggilnya Tuan Muda Kecil. Saat William menghilang, Martin jugalah yang menemukannya dalam hitungan menit. Semua itu tidak mungkin terjadi kalau Martin tidak memperhatikan William dengan baik.


"Apakah kau selalu mengawasi mereka?" tanya Daniel membuat Martin waspada.


"Iya, Tuan muda"


Sungguh orang baik. Tapi, kenapa juga Martin menjaga seseorang yang sudah menolak cintanya beserta anaknya. Mereka bukan orang yang seharusnya diawasi oleh Martin.


"Sejak kapan kau mengawasi mereka. Mereka tidak ada hubungannya denganku lagi"


"Nona Nora tidak ada hubungannya lagi dengan Tuan Muda. Tapi, tuan muda kecil ... "


Martin menghentikan mulutnya dari membocorkan rahasia yang disimpannya selama sebelas tahun ini.


Daniel melihat pengawalnya itu dengan tatapan curiga. Tuan muda kecil, kenapa Martin selalu memanggil William dengan panggilan ini. Dan kenapa katanya William ada hubungan dengannya?


"Martin. Sepertinya aku tidak pernah sekalipun memerintahkanmu memanggil Willy dengan sebutan Tuan muda kecil. Tapi kenapa kau selalu menggunakan panggilan itu?"


Martin merasa berada di ujung tanduk sekarang. Seharusnya dia tidak memanggil tuan muda kecil dengan panggilan itu lagi sejak Nona Nora menolak cinta Tuan Mudanya.


Tidak mendengar Martin menjawab membuat Daniel semakin merasa curiga. Dia mendekati pengawalnya dan kembali bertanya.


"Sejak kapan kau mulai mengikuti Nora dan Willy?"


Rahasia yang sudah disimpan Martin selama lebih dari sebelas tahun ini tampaknya tidak bisa dia simpan lagi. Munkin ini saatnya Tuan Mudanya mengetahui yang sebenarnya.


"Sejak Tuan muda kecil berada di kandungan"


Jawaban Martin membuat Daniel semakin tidak mengerti. Sejak William ada di dalam kandungan?


"Apa Willy anakku?" tanya Daniel penasaran. Tidak mungkin Martin mengawasi seseorang dalam waktu selama itu kalau mereka tidak ada hubungannya dengan keluarga Hamilton.


Martin melihatnya dengan raut wajah tenang lalu menjawab.


"Benar. Tuan muda kecil adalah putra kandung Anda dan Nona Nora"


Daniel merasa sangat terkejut dan menjatuhkan penanya begitu saja. Bagaimana mungkin? William adalah anaknya dan Nora? Dia baru bertemu Nora saat melahirkan. Mana mungkin. Tunggu, apakah kejadian di Hotel Imperial sebelas tahun yang lalu sebenarnya adalah awalnya.