I JUST ... LOVE YOU

I JUST ... LOVE YOU
Sepuluh Tahun Kemudian



"Apa ini? Untuk apa anak berumur sepuluh tahu membawa majalah bisnis, properti dan ekonomi?"


William Hardy, 10 tahun. Sekarang hanya bisa menunduk karena ketahuan membaca majalah bisnis selama pelajaran.


"Ingin kaya, Miss" ejek teman-temannya, tapi Willy tidak bergeming.


"Miss Anne akan memanggil ibumu ke sekolah lagi. Dan semua majalah ini akan Miss sita. Jangan pernah membawa majalah yang tidak berguna untuk pelajaran. Renungkan perbuatanmu di depan kelas!" Willy mengikuti perintah Miss Anne, guru kelasnya untuk berdiri di depan kelas.


Tidak lama kemudian, Nora Hardy yang sudah berumur 33 tahun datang dengan terburu-buru ke sekolah. Meninggalkan pekerjaannya sebagai staff gudang perusahaan suku cadang otomotif begitu saja.


Setelah menerima banyak informasi dari Miss Anne, ibu Willy melihat anaknya yang masih berdiri di depan kelas.


"Mama tidak akan mungkin menikah dengan orang-orang yang ada di dalam majalah itu. Jadi bisakah kau menyerah?" jelas Nora pada anaknya yang terus saja membuatnya mengikuti kencan buta dan perjodohan tidak masuk akal.


"Iya"


Untunglah, akhirnya Willy mengerti, pikir Nora.


"Ayo kita pulang, ibu sudah memasak makanan kesukaanmu. Sandwich tuna mayo"


"Aku tidak ingin pulang"


Entah sejak kapan, Nora juga tidak menyadarinya. Anaknya yang beranjak remaja itu mulai memiliki keinginan untuk menjodohkan ibunya sendiri. Padahal sudah berapa kali Nora bilang, kalau dia tidak akan menikah sampai anaknya dewasa.


"Lalu, Willy mau kemana?"


"Aku ingin ikut Mama ke kantor"


Memang bukan pertama kalinya ini Nora mengajak anaknya ke gudang tempat dia bekerja. Tapi keadaannya lain sekarang. William sudah terlalu besar untuk bersembunyi di dalam tumpukan barang.


"Baik. Tapi Willy harus tetap di dalam kantor"


William mengangguk lemah dan itu sudah cukup bagi Nora sebagai alasan untuk memeluknya.


Anak yang dibesarkannya sendiri dari awal, ternyata sudah sebesar ini. Sulit memang pada awalnya, tapi, begitu tahu caranya, semuanya terasa mudah. Apalagi, William bukanlah anak yang manja. Ayahnya juga sudah berbaik hati membelikan mereka sebuah apartemen mewah dengan dua kamar.


Sudah lebih dari lima tahun, Nora bekerja sebagai staff gudang di salah satu perusahaan suku cadang otomotif terbesar di negeri ini. Meskipun sangat melenceng dari pendidikannya, Nora merasa butuh bekerja. Kebutuhannya terus bertambah sedangkan pekerjaan paruh waktu tidak mencukupi hidupnya.


"Diam disini. Mama harus bekerja lagi. Tidak boleh kemana-mana! Tunggu sekitar satu jam lagi lalu kita pulang" Willy mengangguk, berpura-pura setuju dengan usul ibunya.


Saat ibunya fokus bekerja, Willy menyelinap keluar ruangan kantor sebesar 5x5 meter itu dan berjalan-jalan di sekitar perusahaan.


Akhir-akhir ini, Willy memang tertarik pada mobil. Dia menemukan bahwa perusahaan tempat ibunya bekerja adalah salah satu perusahaan besar di dunia. Berarti ibunya memiliki gaji yang banya, lalu kenapa? Kenapa mereka selalu kekurangan.


"Apa yang membuatmu tertarik samapi seperti itu, anak kecil?" Willy terkejut karena saat menoleh ke belakang, ada segerombol orang yang berpakaian jas lengkap. Sepertinya mereka petinggi di perusahaan ini. Apa yang harus dilakukannya?


"Aku senang melihat semuanya dibuat dari awal" kata Willy, mencoba untuk tidak terlalu menarik banyak perhatian.


"Benarkah? Aku dulu juga menyukainya, tapi sekarang tidak lagi"


William kagum pada penampakan paman di sebelahnya. Dia seperti keluar dari majalah binbis yang pernah dibacanya.


Kaki panjang membuat paman ini tampak sangat tinggi. Dan tampaknya, dia sangat kaya. Semua orang dibelakang mereka seperti sedang menunggunya bergerak.


"Iya. Aku suka mobil. Tapi tidak drngan mobil ibu"


"Ibumu memiliki mobil seperti apa?"


"Mobil buatan Jepang tahun 2008" William tidak suka dengan mobil jenis City-car milik ibunya. William lebih suka yang tinggi dan besar.


"Apa kau suka mobil sport?"


"Tidak, aku suka dengan yang lebih tinggi dan besar. Tidak suka City-car"


Tidak terasa, kedua orang itu terus saja bicara tentang mobil kesukaan mereka. Dan saat ponsel paman tinggi itu berbunyi, William baru sadar kalau sekarang waktunya pergi.


"Tunggu" William berhenti dan menoleh lagi pada paman tinggi itu.


"Siapa namamu?" William ragu apakah dia harus menjawab pertanyaan paman tinggi itu dengan jujur atau bohong. Dia tidak mau ibunya terkena masalah karena dirinya.


"William" jawabnya lalu berlari ke arah gudang, tempat ibunya bekerja.


Daniel Hamilton, kagum dengan teman bicaranya yang baru saja kabur itu. Baru kali ini, Daniel berbicara panjang lebar tentang mobil setelah sekian lama mewarisi perusahaan milik kakeknya ini.


Setiap hari harus berurusan dengan suku cadang mobil, membuatnya lupa hasratnya pada mobil sejak dulu. Daniel tersenyum melihat punggung anak laki-laki itu sampai menghilang.


"Apakah kita harus mengejar anak itu, Tuan muda?" tanya salah satu pengawalnya.


"Tidak perlu. Mungkin anak itu dikirim untukku" jawab Daniel lalu mengajak semua bawahan yang mengikutinya sejak tadi ke ruang rapat.


William ... William, Daniel berhenti saat mengingat tentang nama itu. Dia pernah memberikan nama itu pada seorang bayi yang mirip monyet. Mungkin, bayi itu sekarang juga sudah tumbuh besar seperti anak itu tadi.


Daniel mulai berjalan lagi ke ruang rapat diiringi oleh para petinggi perusahaan lainnya. Sedangkan William harus menggertakkan gigi karena dimarahi oleh ibunya. Untuk yang kedua kalinya, hari ini.


"Sudah berapa kali ibu bilang. Jangan pergi kemana-mana. Bagaimana kalau sampai ibu ketahuan membawa anak ke perusahaan? Bisa-bisa ibu dipecat!!" Nira tidak habis pikir. Setelah berumur sepuluh tahun, William menjadi agak susah dinasehati.


"Maaf, Ma. Willy ke kamar mandi tadi" alasan yang sepertinya kurang kuat karena ibunya kembali melotot.


"Mama sudah cari Willy kemana-mana. Dan kamu tidak ada di kamar mandi manapun. Ini adalah terakhir kalinya Willy ikut mama ke kantor"


William kecewa debgan keputusan ibunya yang melarangnya ikut ke kantor selamanya. Padahal Willy sangat suka dengan mesin-mesin yang bekerja tiada henti itu.


"Kita pergi setengah jam lagi. Diam disini dan jangan pergi kemana-mana lagi!"


William menurut selama tiga puluh menit ke depn. Dan saat ibunya akhirnya pulang, William menatap mobil buatan Jepang yang berwarna perak itu.


"Kenapa hanya berdiri disana?" William tersadar dan akhirnya masuk ke dalam mobil ibunya yang diejeknya di depan paman tinggi tadi.


"Apa Willy ingin makan sesuatu?"


Nora melihat ke anaknya yang lesu menatap keluar jendela mobil. Rasa bersalah kembali menusuk hatinya. Bukan hanya tidak bisa memenuhi kebutuhan anaknya dengan kasih sayang seirang ayah, Nora juga merasa gagal tidak dapat membuat kehidupan mereka lebih baik.


Tapi, ini adalah pilihan hidup yang sudah Nora ambil. William adalah tanggung jawabnya dan Nora akan sekuat tenaga memenuhi kebutuhannya sampai dewasa nanti.