
"Kita sudah sampai"
Aku mendengar suara Daniel yang menenangkan dan berusaha membuka mata. Kami ternyata sudah sampai di depan gedung apartemenku yang kecil dan sedikit kumuh.
"Terima kasih atas hari ini, Willy sangat senang dan aku juga ... . Terima aksih. Willy, apa yang harus kau katakan pada paman Daniel dan Martin?" Aku mencoba menangkap tangan William dan menyeretnya untuk berpamitan pada Daniel, tapi percuma. Wiliiam berlari ke arah gedung apartemen dan tidak terlihat lagi.
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti malam" hah?? Kenapa juga Daniel masih ingin menghubungku nanti malam? Kami menghabiskan lebih dari separuh hari bersama dan aku hanya ingin beristirahat. daniel dan Martin serta satu moil pengawal pergi dari depan gedung, meninggalkan aku dalam kesepian. Tadi begitu ramai, tapi sekarang? Sungguh menyenangkan memiliki banyak orang di rumahmu seperti itu.
Baru saja berpikir seperti itu, kini aku mulai menyesal.
"Nora? Kemana saja kalian?"
Ayah, ibu dan Hilda berdiri di depan apartemen kami. Andai saja boleh memilih, lebih baik aku berada di Taman Bermain sepanjang hari.
"Cepat buka pintunya! Kau mau kami kedinginan disini?" perintah ibu. Aku terpaksa membuka pintu apartemen dan mepersilahkan mereka masuk ke dalam. Hilda menahanku di depan pintu dan melihat ke arah bawah gedung.
"Tadi kak Daniel. Kalian pergi bersama?" tanyanya membuatku tidak nyaman. Sungguh, wajahnya yang dulu lebih indah dipandang daripada sekarang. hidung dan dagu terbelah itu tidak esuai dengan Hilda.
"Iya, aku, Willy, daniel dan asistennya pergi bersama" kataku lalu mendorong tangan Hilda yang menghalangi pintu.
Terlihat ayah yang sedang mendengarkan cerita William tentang pengalamannya di taman bermain hari ini. Ibu melihat-lihat semua ruangan yang ada di rumah ini. Perlu waktu selama dua menit mengelilingi semua ruangan di apartemen ini dan ibu kemudian duduk dengan tenang. Hilda terlihat marah mendengarkan pernyataanku yang tidak disukainya.
"Willy, sebaiknya kau mencuci tangan dan kakimu dulu. Ibu akan menghidangkan teh untuk kakek" kataku lalau William menurutinya.
"Tidak perlu teh, ibu hanya ingin bertanya dan menegaskan sesuatu dengan datang kemari"
Pasti tentang masalah Daniel lagi. Kenapa dua nenek tua ini begitu ingin membuatku terganggu. Ibu Daniel dan sekarang ibuku bisa membuatku kesal dan marah.
"Kak Daniel milikku" kata Hilda, menyela ibu yang sudah ingin membuka mulutnya.
"Hilda, tunggu dulu. Bibi yang akan bicara dengan Nora" kata ibu kesal. Aku hanya bisa melihat mereka berdua seperti adegan drama pagi saja.
"Sejak kapan kau mengenal Daniel? Kau tahu kan kalau Hilda-lah yang akan menjadi calon istri Daniel, mereka telaah mengenal satu-sama lain sejak beberapa bulan lalu dan sangat tidak baik untukmu menerima lamarannya begitu saja. Bagaimana bisa seorang perempuan dengan anak menikah dengan laki-lakai muda tampan dan kaya seperti Daniel hamilton?'
Pertanyaan ibu seperti kereta yang tidak berhenti untuk menjemput penumpangnya di stasiun. Begitu panjang dan tidak tertata dengan baik. Setelah melihat raut muka ibu dan Hilda yang tak sabar, sepertinya aku harus segera menjawabnya.
Tentu saja ibu bahkan ayah tidak pernah menyangka aku akan bertemu seorang Daniel Hamilton sesaat setelah melahirkan. Aku juga tidak percaya dengan kejadian aneh itu.
"Dan untuk lamaran Daniel, aku menerimanya tanpa berpikir banyak. Semua itu karena Nyonya Besar keluarga Hamilton mengatakan banyak hal buruk tentang William"
"Apa?? Jadi, kak Nora tidak mencintai kak Daniel? Aku yang mencintainya dengan tulus. Bibi ini tidak mungkin, jangan biarkan kak Nora menikah dengan calon suamiku" rengek Hilda membuatku kesal. Bagaimana bisa seorang perempuan yang kkenal memiliki pendidikan yang cukup berubah menjadi seperti ini?
"Tenang, Hilda. Ibu Daniel juga tidak menyukai Nora karena ada William"
Aku benar-benar marah sekarang. Kenapa mereka selalu mengikutkan William dalam urusan ini. William tidak memiliki kesalahan apa-apa karena dilahirkan dari ibu sepertiku. Tidak ada alasan untuk selalu menyebut nama William saat mereka bermasalah denganku.
"Yang terpenting sekarang adalah meminta Nora menolak Daniel dengan baik. Setelah itu baru Hilda bisa masuk untuk menghibur Daniel"
"Iya Bi. Aku pasti akan membuat Daniel jatuh cinta dan membutuhkanku. Lalu kami akan pergi keluar negeri dan menikah seperti orang kaya lainnya"
Menjijikkan. Bagaimana bisa ibu dan Hilda merancang sebuah rencana tepat dihadapanku. Padahal, untuk saat ini akulah yang menjadi calon istri Daniel. Konyol sekali, aku tidak harus melihat dan mendengarkan semua ini di rumahku. William juga terlihat kelelahan setelah bermain sepanjang hari.
"Lebih baik kalian semua pergi dan merencanakan semuanya di tempat lain. Aku dan anakku ingin beristirahat"
"Sungguh tidak sopan. Bagaimana bisa kau mengusir kedua orang tuamu begitu saja" Ibu dan Hilda bangkit dari duduknya dan membawa ayah pergi dari apartemen. William lagi-lagi menunjukkan raut wajah yang menyedihkan untuk dilihat. Sepertinya dia mendengar lagi pembicaraan saat namanya disebut oleh ibu.
"Tidurlah, ibu akan menemanimu di tempat tidur" kataku lalu mengajak William beristirahat. Saat William sydah tertidur, aku melihat cincin yang melingkar di jari manis kiriku dan mulai ragu. Semua tentang pernikahan yang belum terlaksana ini membuatnya dan terutama William menjadi korban yang tidak bisa melawan. Apa benar aku akan mengorbankan William demi sebuah kebanggaan menjadi istri dari seorang pemuda paling diminati di negara ini?
William adalah tanggung jawabku dan aku dari awal, seharusnya tidak menerima lamaran penuh maksud Daniel. Bodoh sekali. Dan lagi ... ciuman yang kami lakukan di bianglala tadi terasa sangat nyata. Membuat hatiku merasakan sesuatu yang tidak pernah lagi kurasakan setelah mengalami banyak hal dalam hidup. Rasa senang, takut, sedih dan tergoda membuat perutku tergelitik.
Aku harus mengembalikan cincin ini pada Daniel besok dan mencari pekerjaan. Dengan begitu, aku tidak akan berurusan dengan ibu, nenek sihir dan Hilda lagi. Hidup kami yang tenang akan kembali seperti sebelumnya.
Pagi harinya, aku bangun dan melakukan kegiatan seperti biasanya. Menyiapkan makanan, baju dan bekal untuk William. Hari Minggu kemarin merupakan hari paling melelahkan dalam hidupku. Badanku rasanya remuk dan mataku perlahan ingin menutup lagi. Tidak, aku tidak boleh terlihat capek dihadapan William yang harus bersekolah.
Dan saat aku mencoba membangunkan William, tidak ada sahutan dari dalam selimut. Aku menemaninya tidur tapi tidak tahu kalau selimutnya menutupi seluruh badan William.
"Willy bangun. Saatnya untuk sekolah" kataku lalu membuka selimut tebal yang membungkusnya. Betapa terkejutnya aku mengetahui yang ada di balik selimut bukanlah William tapi hanya beberapa bantal. Aku mencari ke seluruh rumah, gedung apartemen dan sekolah untuk mencarinya tapi tidak menemukan William dimanapun. Bagaimana ini? Bagaimana ini?