
"Paman Tinggi, boleh aku membeli untuk temanku Jacob" pinta William, tentu saja Daniel akan mengabulkannya.
Setelah mereka mengantar es krim ke Jacob, William meminta Daniel untuk menggendongnya.
"Apa ibumu tidak pernah menggendongmu?' tanya Daniel saat William ada di punggungnya.
"Dulu, sebelum Willy berumur 7 tahun, ibu sering sekali menggendongku. Tapi sekarang tidak lagi"
"Tentu saja, badanmu sangat berat, ibumu pasti kurus karena menggendongmu"
"Apakah aku memang memberatkan ibu, Paman Tinggi?" Daniel berhenti di jalan dan melihat ke anak yang menempel di punggungnya. "Semua orang selalu mengatakan kalau Willy adalah beban ibu. Apa itu benar?"
"Tentu saja tidak, ibumu pasi sangat menyayangimu. Jangan dengarkan kata orang lain dan selalu dengarkan ibumu saja" Daniel kembali berjalan ke arah apartemen Nora.
"Paman ... "
"Apa?"
"Apa ibuku cantik?"
"Tentu saja"
"Apa Paman dattang kesini untuk mendekati ibuku?"
Bagaimana bisa anak kecil ini tahu tentang niatnya datang kemari.
"Bisakah paman menikahi ibuku? Aku tidak keberatan diletakkan di anti asuhan asalkan ibuku bisa hidup bahagia"
Apa yang baru saja didengar Danile malam ini sangat menyakiti hatinya. Seharusnya dia lebih cepat menemukan Nora dan William.
"Apa Willy tahu kalau dulu ibumu pernah tidak menyukaimu?"
"Benarkah itu, Paman?"
"Iya, mungkin karena Willy mirip seperti monyet kecil. Jelek sekali. Tapi, ibumu menangis melihatmu menangs dan tertawa saat melihatmu tertawa. Bagaimana bisa Willy berkata ingin berpisah dengan ibumu sekarang?"
William terdiam dan tidak menjawab paman tingginya sampai di deepan pintu apartemen.
"Kalian kemana saja? Lama sekali?"
Nora sekarang menggelung rambutnya ke atas kepala dan memakai baju tidurnya. Sepertinya dia bersiap untuk tidur.
"Kami hanya berjalan ke rumah Jacob" jawab Wiliiam yang turun dari punggung Daniel sedetik lalu.
"Maaf, Willy pasti merepotkanmu. Apakah kau ingin kopi pahit sebelum pulang? Willy, sikat ggigmu lalu bersipa tidur"
Danie tidak perlu menjawab Nora karena dia memilih untuk duduk nyaman di sofa depan televisi. Dengan sigap, Nora pergi memanaskan air lalu beralih ke kamar William untuk mengingatkan perintahnya. Kembali lagi ke dapur dan menyeduh kopi tetes dengan cepat.
Secangkir kopi panas dan kue cokelat telah tersaji di atas meja dan Nora yang terlihat lelah duduk di depan Daniel.
"Maaf, aku tidak bisa menyambutmu dengan baik di apartemen kami. padahal kau sudah memberikan banyak hal"
Sepertinya Nora terbiasa meminta maaf karena hidupnya yang keras sekarang. Ingin sekali Daniel menanyakan keberadaan keluarga Hardy dalam hidupnya, tapi melihat semuanya telah membuatnya mengerti. Munkin keluarga Hardy sengaja mnjauhkannya agar nama baik keluarga mereka tidak rusak. Para keluarga kaya memang lebih senang menyingkirkan masalah daaripada harus memperbaikinya.
"Kalau kau lelah, sebaiknya aku pulang" Daniel tidak tega melihat betapa susahnya hidup perempuan yang selalu dicarinya selama ini. Juga merasa tidak tega dengan semua yang harus dihadapi dua orang di dekatnya ini.
"Maafkan aku, apakah aku membuatmu tidak nyaman?" lagi-lagi Nora meminta maaf atas sesuatu yang tidak dilakukannya.
"Tunggu, siapa yang mengatakan itu?" Nora dengan jelas menolak permintaannya, tapi Daniel sangat senang bisa bersamanya walaupun hanya beberapa jam saja. Seandainya saja Daniel bisa menginap disini, dia takut tidak ingin pulang lagi.
Dengan berat hati Daniel meninggalkan apartemen Nora pukul sembilan malam. William belum tidur saat dia pergi. Dalam perjalanan pulang, Daniel melihat foto yang diambilnya saar makan malam tadi. Mereka bertiga tampak seperti keluarga sungguhan baginya.
"Darimana saja kau Danny?" Daniel terkejut melihat ibunya duduk dengan raut muka kesal di apartemennya.
"Ada apa ibu kemari?"
"Ibu lelah memperingatkanmu, jangan membuat keadaan kita dan keluarga Hardy sulit"
"Apa yang ibu inginkan sebenarnya?" Daniel malas membahas tentang keluarga Hardy dengan ibunya. Jelas-jelas anak kandung, Nora diasingkan dari keluarga begitu saja karena William. Sedangkan keponakan berwajah palsu itu didorong menuju ke arahnya.
"Ibu ingin kau menikah dengan Hilda segera dan cepat-cepat memiliki anak. Hilda berasal dari keluarga baik dengan pendidikan tinggi dan wajahnya tidak seburuk itu"
"Aku tidak akan menikah dengan Hilda" jawab Daniel singkat lalu masuk ke dalam kamarnya. Ibunya yang berteriak kesal tidak dipedulikannya lagi.
Seandainya itu Nora, maka Daniel tidak akan menolak pertunangan dan segera pergi menikah sekarang juga.
Tapi sayangnya, keluarganya pasti tidak akan seyuju dia menikah dengan seseorang yang memiliki anak. Dan perkataan William kemarin malam membuatnya tersentak sekaligus kagum. Anak sekecil itu tahu bagaimana membuat ibunya bahagia.
Itu pasti karena Nora mendampingi dan menyayanginya dengan sangat. Tidak seperti dia yang harus menghadapi semua keadaan sendirian selama ini. Ayah dan ibunya terlalu sibuk untuk mengurusnya.
Besok paginya, Daniel kembali ke perusahaan dan melakukan pekerjaannya seperti biasa.
"Apa yang kau lakukan?" Dia mengirim pesan kepada Nora di sela-sela rapat.
"Sedang bekerja. Daniel juga? Semangat💪" balas Nora lengkap dengan emoticonnya. Tentu saja itu membuat Daniel merasa senang. Senyum kembali mengembang di wajahnya saat Daniel melihat foto mereka bertiga.
"Pak, apa ada yang salah?" tanya Kepala Departemen kepadanya.
"Tidak ada. Lanjutkan rapatnya"
Di minimarket, Nora yang baru saja membalas pesan Daniel kembali melayani pembeli.
"Apakah kau senggang malam ini?" tanya pegawai yang selalu membeli makanan pagi harinya di minimarket.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau tidak sibuk, bisakan kita makan malam?"
Nora sangat tahu akhir dari laki-laki seperti ini.
"Aku memiliki anak, sekarang berumur sepuluh tahun" Pasti dia akan pergi sendiri dan tidak akan menjadi pelanggan minimarket.
"Aku sudah tahu. Dan kami pernah bertemu beberapa kali. Kalau boleh, bisakah kita makan malam nanti" Sebenarnya aku tidak menyukainya atau bisa dibilang belum menyukainya.
Tapi, dia terlihat baik. Selama bekerja disini, dia tidak pernah membuat masalah.
"Boleh" balasku lalu dibalas sebuah senyuman olehnya.
Karena perkataan Daniel kemarin malam, Nora menjadi sadar. Seandainya dia memiliki suami pasti William akan senang bermain dengan seorang yang sama dengannya. Aku tidak boleh egois dan mempertahankan diri untuk tidak memiliki pasangan.
Masa depan William mungkin dipertaruhkan karena itu. Aku tidak ingin dia tumbuh dalam keadaan seperti ini terus menerus.
Setelah selesai bekerja, aku menunggu William di depan sekolahnya. Kami terlihat sangat biasa sekarang. Tidak ada bekas nama Hardy dalam kehidupan kami. Seandainya memang aku dibiarkan sendiri oleh keluargaku, maka aku akan memulai keluarga baru dimana disana ada aku, William dan laki-laki yang akan menyayangi kami tanpa syarat.