
"Ayah, aku ingin yang ini"
"Ibu, ini saja. Aku ingin yang ini saja"
Kakak dan adik perempuanku menunjuk dua gaun indah yang terpajang di salah satu butik. Dengan segera, pegawai butik menyambut kami berlima lalu melayani kedua saudariku itu dengan penuh semangat. Mereka tidak tahu bencana yang akan terjadi setelah ini.
Tidak lama, begitu banyak gaun yang menumpuk di luar ruang ganti keduanya dan saudariku tidak berhenti memberi perintah. Terlalu besar, kecil, terlalu meriah, terlalu sederhana, kurang bagus, jahitannya jelek dan banyak lagi alasan dikatakan keduanya. Para pegawai butik itu seperti ingin menyerah.
Akhirnya mereka berdua keluar ruang ganti tanpa memilih apapun. Aku mendekati gaun berwarna biru yang tergantung di rak dan berpikir kalau gaun itu indah sekali.
"Aku mau ini" Kak Lisa mengambil gaun biru itu lalu menyerahkannya pada pegawai butik.
"Cepat bungkus!!"
Kejadian seperti ini tidak terjadi hanya sekali. Dan bukan hanya kak Lisa yang melakukannya. Adikku, Cindy juga melakukan hal yang sama seperti kak Lisa. Dia merebut semua barang yang kuinginkan.
Pasti semua orang pikir, menjadi putri seorang pengusaha besi tua yang kaya sangatlah mudah. Hidup seperti putri raja dengan banyak pelayan dan tempat tidur yang mewah. Sayangnya, bukan itu yang terjadi padaku.
Kak Lisa dan Cindy memang menjalani kehidupan yang seperti orang kira. Tapi, aku tidak. Aku tidur di kamar yang hampir sama dengan pembantu. Baju-baju yang kupakai hanyalah pemberian dari kak Lisa dan kebanyakan sudah rusah di beberapa tempat. Sedangkan Cindy, bajunya semua baru.
Entah kenapa, aku yang merupakan anak kandung kedua keluarga Hardy tidak diperlakukan sama seperti saudaraiku lainnya. Apakah aku ini hanya anak pungut keluarga ini. Atau memang mereka benar-benar tidak menganggapku sebagai anak mereka.
Kami berjalan-jalan berkeliling dan menemukan gaun untuk Cindy. Sebelum aku dibelikan baju, kami pulang. Seminggu lagi, ada pesta di rumah walikota dan sepertinya aku tidak akan diajak. Sama seperti biasanya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku harus membawa gaun ini ke pembantu dan memastikan mereka dijahit dalam ukuranmu" kataku pada kak Lisa.
"Pastikan mereka melakukannya dengan benar. Atau aku akan menamparmu kalau mereka salah melakukannya" kata kak Lisa mengancam.
Tidak hanya kak Lisa, Cindy juga selalu bicara ketus padaku. Mungkin karena wajahku tidak secantik mereka atau badanku yang terlalu gembul daripada keduanya. Mereka benar-benar tidak menganggapku sebagai saudara.
"Kenapa Miss?" tanya Lizzy yang menjadi pembantu kami selama lebih dari dua puluh tahun.
"Tidak ada. Ini gaun kak Lisa dan Cindy. Ukurannya harus disesuaikan dan tidak boleh salah"
Lizzy melihatku dengan tatapan kasihan.
"Aku tidak bisa datang ke pesta minggu depan. Ada ujian penting hari Seninnya dan aku harus belajar."
Lizzy pasti mengerti alasan aku tidak ikut ke pesta tapi kami sama-sama tahu kalau hal itu tidak perlu dibicarakan lagi.
"Nanti, saya antarkan kue coklat sambil memberikan teh pada orang tua Miss Nora"
Aku sangat senang ada seseorang yang peduli padaku di rumah ini. Walaupun dia hanualah seorang pembantu, tapi Lizzy sangat sayang padaku.
"Nora, kemari!" perintah ayahku saat aku baru saja ingin pergi ke kamar.
"Periksa apakah jumlahnya benar. Ayah beri waktu sampai makan malam nanti" kata ayah lalu meninggalkan aku sendiri bersama satu tumpuk kertas yang bertuliskan laporan keuangan.
Inilah satu-satunya waktu dimana ayah membutuhkanku. Memeriksa laporan keuangan yang sudah dikerjakan oleh bawahannya.
Aku memang memiliki kelebihan di bidang akademik, tidak seperti kedua saudariku. Tapi, aku ingin ayah tidak memperlakukan aku seperti ini. Akan sangat menyenangkan kalau ayah mulai menyayangiku seperti pada Cindy.
Saat makan malam tiba, aku belum selesai memeriksa semuanya. Sepertinya, malam ini aku tidak bisa makan lagi bersama mereka. Semoga saja Lizzy menyimpan makananku di dapur.
Akhirnya aku selesai mengerjakan semuanya dan meletakkannya dengan rapi di atas meja ayah. Keluar dari ruang kerja ayah, tidak ada makanan tersisa di atas meja makan. Orang tua dan kedua saudariku asyik menonton tv dan melupakanku begitu saja.
Kenapa aku tidak melawan atau setidaknya protes? Tidak. Aku sudah bosan mengatakan semua isi hatiku pada mereka tapi tidak ada yang peduli. Sebaiknya aku mencari makanan sisa di dapur atau membeli kue untuk mengganjal perut.
Tapi, aku tidak perlu melakukan itu. Lizzy menyiapkan sepiring besar makanan yang bisa kusantap di dapur. Senangnya ... terkadang porsinya lebih besar daripada biasanya dan aku makan dengan sangat lahap.
Hari ini, aku kenyang sekali dan tidur nyenyak seperti bayi.
Besok paginya, aku menemukan kejutan luar biasa. Di umurku yang lima belas tahun ini, akhirnya aku mendapatkan haid. Hampir tiga tahun aku menerima ejekan kak Lisa karena belum juga menjadi dewasa. Tapi, sekarang, aku benar-benar menjadi perempuan dewasa.
Aku memberitahu Lizzy yang kemudian ikut senang dengan kabar itu. Dia mengajakku ke kamarnya lalu memberikan satu bungkus pembalut.
"Pakai ini Miss Nora. Ingat!! Badan Miss Nora, biasanya akan lebih lelah dari biasanya. Tapi, semua akan baik-baik saja"
Lizzy memelukku lalu menunjukkan cara memakai pembalut. Aku sungguh berterima kasih padanya yang menyayangiku seperti ini. Melebihi perlakuan ibuku sendiri padaku.
"Hei, malas. Cepat bangun"
Aku membuka mata dengan malas dan melihat jam di atas meja. Kenapa kak Lisa membangunkan aku sepagi ini.
"Buatkan aku bekal yang cantik lalu letakkan di kamarku sebelum kita berangkat sekolah!" katanya lalu berlalu pergi. Apa? Dia ingin bekal? kenapa tidak minta pembantu atau membuatnya sendiri?
Terpaksa, aku turun dari tempat tidur, menuju dapur dan mulai memasak. Pembantu yang bertugas membuat sarapan saja belum ada yang datang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mbok Karti datang dan terkejut melihatku ada di dapur.
"Kak Lisa yang minta"
"Saya akan membuatnya Miss. Miss Nora kembali saja ke tempat tidur"
Sungguh menyenangkan kalau aku bisa melakukan itu. Tapi, aku akan mengalami hukuman yang tidak ringan kalau melepaskan pekerjaan pada orang lain. Kak Lisa tidak akan segan memukulku seandainya semua tidak berjalan sesuai dengan kehendaknya dan aku terpaksa melakukan semuanya.
Kenapa hidup remajaku berlalu seperti ini. Diperlakukan berbeda oleh keluarga kandungku sendiri dan menerima perlakukan yang menyakitkan terutama dari kak Lisa.
Ibu yang kuharapkan datang padaku juga tidak menunjukkan rasa bersalah setiap kali aku dimarahi ayah. Apa aku ini anak haram? Tidak, aku tidak boleh melow seperti ini. Aku harus menjalani semuanya sekuat mungkin dan menjadi orang yang berhasil.