
"Selamar sore, terima kasih" ucapku saat meninggalkan minimarket untuk pulang. Sekarang masih pukul tiga sore dan William pasti lapar saat pulang dari sekolah.
Lebih baik membuat cookies untuknya, bahan apa yang ada di dalam lemari?
Aku berkutat di dapur dan William akan segera pulang sebentar lagi.
"Ibuu. Aku pulang" Aku memeluk anakku yang sudah besar itu dan dia pergi ke kamarnya sendiri.
"Kenapa tidak ke kamar mandi dan membersihkan badanmu?"
"Nanti, aku mau main dulu" jawabnya senang.
"Willy, lepas dulu baju hangatmu lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Atau mainannya akan ibu kembalikan kepada paman yang memberinya"
Tanpa menjawab, William keluar dari kamarnya dan segera melakukan permintaanku. Srnang sekali rasanya dipatuhi olehnya.
Di Perusahaan Suku Cadang Hall, William telah menyelesaikan rapat dan semua pekerjaannya. Kali ini, dia tidak membuang waktu untuk berdiam diri di dalam ruangan dan memutuskan segera pulang untuk berganti pakaian.
Mungkin pakaian santai akan lebih baik untuk malam ini. Daniel tidak ingin terlalu rapi untuk makan malam bersama Nora dan William.
"Tuan muda, restoran yang biasa telah siap dipesan untuk malam ini" lapor asistennya
"Aku tidak akan makan di restoran itu. Carilah restoran yang tidak terlalu sepi dan tempat duduk menghadap taman atau halaman. Dan juga jangan memesan srmua tempat. Satu lagi, aku akan menyetir sendiri kesana"
Asisten sekaligus pengawalnya terkejut dengan permintaan Tuan Mudanya. Biasanya, keluarga Hamilton akan memesan seluruh tempat di restoran mewah untuk makan malam yang penting. Apa yang membuat makan malam kali ini berbeda dari biasanya.
Dan juga, kenapa Tuan Mudanya berpakaian santai? Tidak resmi seperti biasanya.
Daniel pergi dari apartemen pukul 5 sore dan drngan sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang bisa mengganggunya malam ini.
"Kenapa kita harus makan malam diluar kalau ada daging di lemari es?" tanya William yang merasa keberatan berpakaian rapi untuk makan malam.
"Ibu sudah bilang, paman ini adalah yang memberikan mainan padamu. Apakah kau tidak ingin berterima kasih padanya?"
"Lalu, kenapa ibu memakai gaun sependek itu?"
Aku memang ragu setelah melihat koleksi gaun yang hanya beberapa di lemari. Sekitar tiga puluh menit kemudian, kuputuskan untuk memakai gaun hitam bermotif bunga kecil dengan panjang di atas lutut.
"Ibu tidak ingin terlihat tua" jawabku membuat William mencibir.
Kemarin malam, aku sangat sadar kalau Daniel terlohat sangat muda dan tampan. Akan sangat memalukan kalau aku tampil tua dan tidak bergaya.
"Pakaian dan gaya rambut ibu sangat tidak sesuai"
William terus saja menghina tampilanku sampai ada sebuah kue cokelat di mulutnya.
Tak lama terdengar ketukan pintu dan aku segera membukanya. Sial. Yang berdiri disana adalah Daniel muda dan tampan seperti kemarin. Tidak, sepertinya dia tampak lebih muda dari semalam. Apa mataku yang salah melihatnya?
"Kau sudah siap?" Aku mengangguk dan mempersilahkan Daniel masuk.
"Aah. Paman Tinggi" teriak William membuatku terkejut.
"Hai Willy, senang bertemu denganmu" William sepertinya pernah bertemu dengan Daniel sebelumnya. Tapi kenapa aku tidak tahu tentang hal ini?
"Ibu, paman ini adalah ... " Daniel dengan cepat menangkap William dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Aku akan pergi ke kamar William untuk melihat bagaimana dia bermain"
Di kamar William yang tertutup, Daniel belum menarik tangannya dari mulut anak berumur sepuluh tahun itu.
"Paman yang memberikan mainan itu. Kalau William mengingunkan mainan yang lebih baik dari itu, maka paman sarankan untuk tidak bicara pada ibumu tentang siapa paman sebenarnya"
William mengangguk dengan cepat dan tangan Daniel lepas dari mulutnya.
"Apa paman benar-benar mengenal ibuku?"
Daniel baru kali ini memperhatikan William dengan baik. Anak ini sedikit mirip dengannya waktu kecil.
"Iya. Paman hadir saat kau lahir dan saat pertama ibumu memberimu makan" Daniel tidak bisa percaya, bayi sekecil itu telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan
Saat merek keluar dari kamar, Daniel melihat Nora sedang berada di dapur dan mengambil kue cokelat dari lemari es.
"Apa kalian sudah selesai? Kukira harus makan kue dulu, sebelum kalian selesai"
Daniel mendekat ke arah dapur dan mengambil piring kue dari tangan Nora. Dia menyeka cokelat yang ada di bibir Nora dengan jarinya dan merasa ingin sekali menciumnya. Sayangnya ada suara berdeham di belakangnya, membuat Daniel mengurungkan niatnya.
Kami bertiga akhirnya keluar dari rumah untuk makan malam. Daniel membawaku dan William ke sebuah restoran dengan pemandangan gunung. Sangat cantik dan indah. Untung saja, matahari tenggelam terlambat hari ini.
"Ibu, lihat ada tempat mainnya" William segera lari ke dalam restoran dan melihat-lihat beberapa mainan yang memang disediakan oleh pihak restoran.
"Tempat yang bagus" ucapku pada Daniel yang tersenyum.
"Apa ayah William tidak pernah datang?" tanya Daniel tiba-tiba saat kami sudah duduk. Untung saja William masih sibuk memilih sesuatu di tempat permainan.
"Tidak. Kenapa bertanya tentang itu?"
"Aku hanya penasaran"
Ayah William. Aku tidak tahu keberadaannya sekarang. Nenek sihir itu berkata kalau dia ada di Malta dan sudah berkeluarga. Maka, apa hubungannya lagi denganku?
"Apa Nora tidak berpikir untuk menikah lagi?"
"Belum. Aku tidak mengerti keuntungan yang akan kudapat kalau menikah lagi" jawabku setelah berpikir agak lama.
"Nora tidak ingin ada laki-laki yang bisa diandalkan di dalam rumah, melindungi kalian dari apapun. Dan tentu saja seseorang yang menyayangi kalian"
Aku melihat ke mata Daniel dan tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya, aku sangat membutuhkan seseorang di dalam hidupku. Yang bisa menyayangiku dan William tanpa syarat. Dan tentu saja, bisa membantu setiap kali ada masalah.
Tapi ... selama ini, tidak pernah ada orang seperti itu di hidupku. Bahkan ayah dan ibuku sendiri, membuangku jauh-jauh agar tidak mempermalukan keluarga.
Lalu ... apakah aku masih membutuhkan seseorang fi hidupku?
"Tidak. Aku tidak membutuhkan suami. William saja sudah cukup bagiku" kataku mantap lalu pergi untuk memanggil William karena makanan telah ada diatas meja.
Kami makan malam bersama diselingi beberapa obrolan santai tentang sekolah William dan sesuatu yang sangat disukainya. Mobil.
Daniel dan William sepertinya bisa akrab karena bahasan ini dan aku memilih memperhatikan saja.
Akhirnya makan malam kami berakhir dan Daniel mengantar kami kembali ke apartemen.
"Apa Willy ingin es krim?" tanya Daniel ke William.
Tentu saja, William senang dengan tawaran itu dan mengikuti Daniel ke minimarket tempatku bekerja di pagi hari. Aku memilih naik ke apartemen dan memperhatikan keadaan barang-barangku yang sedikit. Terngiang lagi ucapan Daniel tentang suami yang membuatku sesak.