Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Penyakit Aneh



Laura tidak tinggal bersama lagi dan apartemen hanya ditempati Keenan. Meskipun pria itu memohon agar Laura tak meninggalkannya tapi tetap saja pergi.


Laura tak ingin ada kesalahpahaman diantara keduanya, apalagi Keenan mengatakan jika tak bisa menikahi dirinya karena adanya perbedaan.


Laura juga tak mau berlama-lama dengan Keenan di satu atap yang sama karena perasaan suka dan cinta akan muncul kapan saja seiring berjalannya waktu.


Setiap pagi, Laura akan datang menjemput pria itu di apartemen.


"Hai!" sapanya.


Keenan tetap datar.


"Apa kau baik-baik saja?"


Tetap diam.


"Baiklah, jika tak mau bicara. Aku minta maaf," ujar Laura.


Keduanya pun tiba di kantor, Keenan lebih dahulu keluar dari mobil.


"Astaga, karena aku tidak tinggal lagi dengannya. Dia jadi seperti itu, oh sungguh membuatku jadi serba salah.


Laura berjalan memasuki ruangan kerjanya dan kembali melakukan aktifitasnya.


Laura meraih gelas dan meminumnya seketika lehernya seperti tercekik. Ia pun menjatuhkan gelas tersebut.


Laura terseret sejauh 1 meter dari kursinya, lagi-lagi asap warna-warni memenuhi ruangan itu. Lehernya sudah tak tercekik pandangannya menjadi gelap.


Kesya yang berkali-kali mengetuk namun tak ada jawaban. Ia pun membuka pintunya matanya membulat kala melihat Laura pingsan.


Kesya meminta karyawan lainnya membantu mengangkat wanita itu ke sofa tamu. Ia lalu menghubungi dokter terdekat.


Keenan yang mendapatkan kabar dari Tommy bahwa Laura tak sadarkan diri bergegas ke ruangannya.


Kesya dan seorang karyawan wanita sedang menunggu Laura sadar. Keenan kini berada di samping wanita itu, mengelus dengan lembut rambutnya.


Keenan bisa saja menggunakan kekuatannya untuk menyadarkan Laura namun ia akan menunggu dokter apakah Laura sedang sakit atau memiliki riwayat penyakit lainnya.


Dokter akhirnya datang dan memeriksa kondisi Laura. Selesai pemeriksaan wanita itu dinyatakan baik-baik saja.


Laura terbangun lalu duduk, ia tampak bingung dengan kehadiran beberapa orang di ruangannya. "Kenapa kalian di sini?"


"Tadi Nona pingsan makanya saya panggilkan dokter," jelas Kesya.


"Pingsan?" Laura mengerutkan keningnya.


"Apa Nona tadi sarapan?" tanya Dokter kepada Laura.


"Iya, Dok."


"Apa Nona sedang sakit?"


Laura menggeleng kepala.


"Apa anda sering pingsan akhir-akhir ini?"


"Ya, Dok."


"Kondisi tubuh anda baik-baik saja tak ada penyakit yang serius, mungkin Nona terlalu lelah bekerja sehingga sering pingsan," ujar Dokter.


"Saya bekerja seperti biasa tidak terlalu dipaksakan," ujar Laura.


"Bagaimana dengan pola makan, Nona?"


"Pola makan sehat dan tidak sembarangan serta selalu teratur."


"Cukup aneh, sih. Nona bekerja tak terlalu keras selalu melakukan pola hidup sehat tapi sering lemah," ungkap Dokter.


"Saya juga bingung, Dok."


"Sepertinya Nona harus cek kesehatan ke rumah sakit," saran Dokter.


"Baik, Dok. Saya akan coba ke sana," ujar Laura.


"Kalau begitu, saya pamit!" Dokter tersebut pun pergi.


Kesya dan seorang karyawan yang menemani mereka pun keluar dan kembali bekerja.


Sementara Keenan masih di ruangan Laura menatap wanita itu. "Apa ada sesuatu aneh yang kamu alami sebelum pingsan?"


"Aku merasa leherku tercekik dan di ruangan muncul asap warna-warni lagi."


"Pasti ini ulah mereka!"


"Keenan, aku tahu kenapa hal ini terus terjadi padaku. Seseorang sepertinya ingin mencelakakan aku!"


"Aku pernah mengatakan padamu, untuk tidak menjauhiku!"


"Tapi, sejak kau ada di dekatku rentetan kejadian aneh selalu datang. Siapa kau sebenarnya?"


Keenan menyipitkan matanya. "Aku tahu kau bukan Laura!" dengan nada dingin.


Laura tersenyum menyeringai, "Aku adalah pemilik tubuh ini!"


"Jangan usik hidupnya atau kau akan berhadapan dengan ku!"


Laura mengeluarkan mata bersinarnya merah dan pertarungan keduanya tak bisa dihindari.


Keenan berhati-hati melakukan serangan kepada Laura. Ia tak ingin wanita itu terluka.


"Siapa kau?" tanya Keenan yang memegang perutnya karena mendapatkan pukulan.


"Ayo serang lagi!" Laura tersenyum jahat.


"Tidak!"


"Apa cuma segitu kemampuanmu Kyu-ri?"


"Siapa yang menyuruhmu ke sini?"


Laura menggerakkan tangannya dari jauh mengangkat tubuh Keenan naik.


"Aku tidak ingin melukai tubuhmu, Laura!"


"Apa kau mencintainya?"


Keenan tak menjawab.


"Kyu-ri jawab aku!" sentaknya.


"Kenapa kau bertanya apa aku mencintai wanita ini atau tidak?"


"Jika kau membencinya aku menghancurkannya!"


"Bagaimana jika aku mencintainya?" Keenan bertanya dengan leher tercekik.


"Kau harus kembali!"


"Aku tidak akan pernah membencinya dan takkan kembali!"


Laura semakin mengeraskan rahangnya, menatap tajam Keenan. "Ayo keluarkan kekuatanmu!"


"Tidak!" Keenan menolaknya secara tegas.


"Ayo Kyu-ri!"


Angin berhembus kencang padahal ruangan itu tertutup. Laura tercampak ke dinding dan membuat mulutnya mengeluarkan darah.


Keenan pun terjatuh.


Semua kembali normal seperti biasa.


Keenan melihat wanita itu pingsan dengan cepat mendekatinya. "Laura, bangun!"


Laura tak merespon.


"Laura, ayo bangun!" Keenan panik.


Sama sekali wanita itu tak bergerak.


Keenan meletakkan tangannya di dada Laura, ia mengeluarkan kekuatannya mengobati wanita itu.


Akhirnya, Laura terbangun di pangkuan Keenan.


Laura segera bangun lalu sedikit menjauh dari Keenan. "Kenapa kau memangku aku? Apa yang terjadi?" kelihatan bingung.


Keenan yang wajahnya memucat tak menjawab lalu keluar dari ruangan itu.


Laura memperhatikan sekitarnya, tak ada yang aneh.


Keenan yang berlari secepat angin, kini berada di toilet. Ia menatap cermin dengan wajah pucat dan hidung mengeluarkan darah.


Kekuatannya tak sehebat kala ia menyerang pasukan dari kerajaan ayahnya.


Jika ia menolong wanita, kekuatannya akan berkurang dan lemah.


"Hai, Kak!" sapa Kyu-na yang ada dibelakang pria itu.


Keenan melihat dari cermin, "Angin kencang pasti itu kamu!"


"Ya, Kak."


"Kenapa kau menyakiti Laura?"


"Aku hanya menolongmu!"


Keenan membalikkan tubuhnya. "Kau sudah melukainya, Kyu-na!"


"Kak, kau dalam bahaya. Masih saja memikirkan wanita itu, apa Kakak mencintainya sampai mempertaruhkan dirimu!"


"Ini bukan masalah suka atau tidak. Dia tak bersalah, dia hanya kebetulan membantuku di bumi ini!"


"Aku tidak yakin. Kakak pasti menyukainya sampai rela kekuatanmu melemah karena menolong wanita itu!"


Keenan hanya diam.


"Ingat, Kak. Jika kalian mencintai, Kakak akan kembali tapi jika dia membencimu Kakak akan menjadi manusia dan tak bisa menikahinya karena ia sudah sangat benci!"


Pilihan yang sulit bagi Keenan. Apalagi dia tak mau kembali ke kerajaan Kyuwa.


"Aku harus kembali, ibu dan ayah pasti mencariku. Jika butuh bantuan panggil aku!" Kyu-na pun menghilang.


Keenan kembali menyeka darah di hidungnya. "Aku harus selalu ada di sampingnya!'


Laura yang tadinya melihat wajah Keenan memucat membuat konsentrasinya terganggu. Ia lalu mencari pria itu, entah kenapa dia begitu khawatir dengan keadaannya.


"Apa kamu melihat Keenan?"


"Tadi di kamar mandi, sebentar saya akan panggilkan!"


"Ya."


Tak lama kemudian Keenan keluar dengan wajah masih pucat.


"Keenan apa yang terjadi?" Laura memegang wajah pria itu.


"Aku tidak apa-apa," jawabnya lemah.


"Kau sedang tidak baik-baik, ayo kita pulang!"


"Laura, aku baik-baik saja!"


"Jangan membantahku atau kau ingin dipecat!"


Keenan akhirnya mengiyakan ajakannya.