
Lyla yang sedang berjalan menuju ke sekolah tinggi kesenian, tiba-tiba melihat kucing menyeberang. Gegas berlari mengejarnya, ia menggendong hewan yang menggemaskan itu.
Lyla melangkah cepat ke atas trotoar, lalu ia berikan kepada pemiliknya.
"Terima kasih, Nona." Seorang wanita muda sebaya dengan Laura.
"Sama-sama," Lyla sedikit menundukkan kepalanya.
Melambaikan tangan sebagai perpisahan kepada sang kucing, Lyla melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Kya-ri melihat aksi yang dilakukan gadis itu tersenyum.
"Lyla.."
Gadis itu menoleh, lalu membalas senyuman ketika pemuda yang dihadapannya melemparkan senyum.
"Maaf..."
Lyla tersenyum, "Tidak apa-apa."
"Aku cuma ingin memberikanmu ini!" pemuda itu menyodorkan kotak kecil.
Lyla membukanya lalu mengucapkan terima kasih.
"Kamu suka, kan?"
"Suka sekali," jawab Lyla berbinar.
"Aku tidak tahu warna penjepit rambut kesukaanmu, jadi aku asal memilihnya saja," pemuda itu menggaruk kepalanya karena grogi.
"Apapun warnanya aku suka, ayo kita ke sekolah!"
Pemuda itu mengiyakan.
Kya-ri tampak tak suka jika Lyla mendapatkan perhatian dari seorang lelaki. Ia tetap melangkah mengikuti keduanya.
Lyla dan pemuda tadi berpisah karena kelasnya berbeda.
"Lihatlah, ada gadis aneh itu!"
"Iya, entah kenapa Christ bisa menyukainya?"
"Apa dia menggunakan sesuatu untuk merebut hatinya.
Sayup-sayup terdengar suara yang menceritakan tentangnya, namun Lyla berusaha tetap cuek karena percuma jika dia membantah teman-temannya pasti melukainya.
Kya-ri tampak senang jika Lyla tak memiliki teman di sekolahnya semua karena ulahnya yang membuat gadis itu seperti orang aneh dan stress.
Sepulang sekolah, Lyla kembali berjalan kaki karena tak ada yang menjemputnya dan sekolah ke rumahnya tak terlalu jauh.
Diperjalanan pulang, Lyla melihat seorang wanita lansia kesulitan untuk menyebrang. Gegas ia mendekatinya. "Ayo, Oma!" memegang lengan wanita itu.
Sampai diujung jalan, lansia itu mengucapkan terima kasih. Lyla membalasnya dengan senyuman.
Setelah itu Lyla melanjutkan perjalanannya.
Kya-ri yang tak senang gadis itu berbuat baik, mengarahkan pandangannya kepada ranting pohon dan mematahkannya.
Lyla melewati bawah pohon tersebut.
Dengan kekuatannya, Kya-ri malah memeluk tubuh Lyla dan menjauh dari pohon itu.
Bruuuk...
Lyla menoleh, sebuah ranting besar hampir saja jatuh mengenainya. Ia tampak begitu syok dan dadanya berdegup kencang. Jika itu menimpanya, pasti akan membuat kedua orang tuanya bersedih.
Kya-ri menatap tangannya, "Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menolongnya? Harusnya aku membiarkan ranting itu mengenainya?" Padahal ia sendirilah yang sengaja membuat ranting pohon itu terjatuh.
Begitu sampai rumah, Laura menuangkan air putih ke dalam gelasnya dan meneguknya. "Siapa tadi yang menolongku? Seperti angin yang cukup cepat," batinnya.
Lyla merasa jika ada seseorang yang memeluknya.
-
Lyla tertidur pulas di ranjang karena kelelahan membaca buku. Ia membiarkan benda tersebut di atas dadanya.
Kya-ri duduk di sebelah gadis itu, ia mengarahkan telapak tangannya ke wajah Lyla. Perlahan ia merabanya hingga jemarinya berhenti di bibir.
Kya-ri menyentuh bibir gadis itu sembari tersenyum, ia mengingat ketika menolong tadi bibirnya menyentuh bibir Lyla.
Kya-ri terus mengamati wajah Lyla yang begitu cantik meski sedang tertidur.
Gadis itu menggeliatkan tubuhnya, Kya-ri dengan cepat menghilang.
Lyla mengerjapkan matanya, lalu memanggil dengan lirih, "Papa, Mama!"
Lyla pun duduk mengedarkan pandangannya, lalu ia menyentuh bibirnya. "Aku merasa ada seseorang di sini!" menyibak selimutnya, ia berjalan ke arah kamar mandi.
"Tidak ada orang," gumamnya sembari menutup pintu.
Lyla keluar kamar lalu bertanya kepada asisten rumah tangganya. "Apa mama dan papa tadi pulang?"
"Tidak, Non," jawab wanita berusia 35 tahun itu.
Lyla pun kembali ke kamarnya, lalu menatap cermin. "Apa aku seaneh itu?"
"Ya, kau memang seaneh itu!" Kya-ri tersenyum.
Lyla mendelikkan matanya lalu berbalik. "Kamu!" wajahnya ketakutan.
"Hai, apa kabar?"
Lyla melangkah mundur, tubuhnya gemetar.
Kya-ri menggerakkan tangannya dari jarak jauh ke arah leher Lyla, gadis itu terduduk di ranjang.
Lyla memegang lehernya karena sulit bernapas.
Air mata Lyla jatuh, tubuhnya semakin lemas hingga akhirnya ia melepaskan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
Kya-ri melepaskan cengkeramannya, lalu tersenyum puas.
Pintu kamar terbuka, Kya-ri pun menghilang.
Keenan berlari dengan wajah panik mendekati putrinya. "Lyla.. bangunlah!"
Keenan memperbaiki posisi tidur putrinya, membuka jendela lebar-lebar mengambil minyak kayu putih di atas nakas lalu diarahkannya ke hidung. "Lyla, bangunlah!"
Lyla juga belum sadar.
Keenan meminta asisten rumah tangga air putih hangat. Ia lalu menghubungi istrinya yang sedang di luar kota.
"Halo, sayang!"
"Apa kamu masih lama pulang?"
"Lusa aku kembali," jawabnya.
"Lyla, pingsan."
"Apa? Kenapa bisa?"
"Sepertinya sosok yang aku ceritakan datang mengganggunya!"
"Keenan, jangan sampai mereka melukai Lyla. Kamu jangan pernah ke mana-mana," ujar Laura.
"Ya, aku akan tetap di samping Lyla. Kamu juga harus hati-hati," ucap Keenan.
"Ya, besok pagi aku akan pulang," ujar Laura.
-
Ditengah kegundahan hati, Keenan yang melihat Lyla tak kunjung sadar. Asap warna-warni kembali muncul.
Kyu-na datang bersama Rhi-kyu.
Keenan tersenyum melihat keduanya.
"Apa yang membuatmu gelisah wahai Kakak ku?" tanya Kyu-na.
"Ada dari bangsa kita yang menyusup ke bumi dan ingin mencelakakan Lyla," jawabnya.
"Bukankah Kya-ri yang sering diutus ke bumi oleh orang tua kita?"
"Kya-ri?"
"Ya, dia putranya Kak Kyu-ta."
"Apa dia yang membuat Lyla begini?" tanya Keenan.
"Aku tidak tahu, Kak. Tapi, dia pernah dihukum karena membuat Lyla ketakutan beberapa tahun lalu," jelas Kyu-na.
"Hanya dia yang selalu ke bumi tak ada penduduk ke Kerajaan Kyu-Sa yang lainnya apalagi dari Kerajaan Ma-kyu," sambung Rhi-kyu. "Kami tidak memiliki musuh dari kalangan manusia, jadi tak mungkin mereka menyakiti Lyla," lanjutnya.
"Apa Kya-ri yang melakukannya?" tanya Kyu-na pada suaminya.
"Bisa jadi, karena Kya-ri adalah putra Kak Kyi-Sha. Mungkin hasutan ibunya makanya ia melakukan itu," tebak Rhi-kyu.
"Lyla tidak bersalah, kenapa harus menyakitinya?" Keenan mulai tersulut emosi.
"Kak Kyi-Sha tidak bisa ke bumi, karena sejak kejadian dia berusaha menggagalkan rencana pernikahan Kak Kyu-ri. Kedua orang tua kita dan suaminya menghukumnya dan mengurungnya di Goa," tutur Kyu-na.
Keenan terdiam, dia berpikir apa Kyi-Sha masih menyimpan dendam pada dirinya.
"Kami akan membantu menyadarkan Lyla," ujar Kyu-na.
Keenan mengiyakan.
Kyu-na dan suaminya mengeluarkan kekuatannya membantu memulihkan keponakannya.
Tak lama gadis itu mengerjapkan matanya dan terbatuk-batuk.
"Kakak, kami pamit!" Kyu-na dan suaminya pun menghilang.
Keenan tersenyum senang melihat putrinya telah sadar.
"Papa.." lirihnya.
"Ya, Nak."
"Dia datang lagi," ucap Lyla pelan.
"Ya, Papa akan menjaga dan melindungimu."
Tadi Keenan berada di kantor, entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia mencoba menghubungi putrinya namun tak aktif, bergegas ia pun pulang dan benar saja sesuatu terjadi pada Lyla.
*
Kerajaan Kyu-Sa....
Kyu-na memanggil Kya-ri ke tempat di mana para penghuni istana diinterogasi.
Kya-ri tampak terkejut ketika sang bibi yang memanggilnya apalagi dihadiri oleh ayahnya dan kakek neneknya.
Kya-ri berdiri di tengah-tengah.
"Apa yang telah kamu lakukan pada Lyla?" tanya Kyu-ma.
Kya-ri terdiam lalu bertanya dalam hati. "Jadi mereka sudah tahu?"
"Kenapa kamu mengganggunya lagi, Kya-ri?" sentak Kyu-ta.