Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Menculik Keenan



Keenan tampak terkejut ketika melihat sosok yang berdiri dihadapannya.


"Apa kau terkejut dengan kehadiran aku di sini?"


"Mau apa kau ke sini?"


"Aku ingin melihat adikku yang sekarang menjadi manusia," tersenyum mengejek.


"Aku belum sepenuhnya menjadi manusia, karena wanita yang menolongku masih bimbang. Tapi, kau jangan khawatir aku tidak akan kembali ke sana dan merebut apa yang menjadi keinginanmu!"


"Apa kau begitu sangat mencintai wanita itu?"


"Ya."


"Itu artinya, Kyi-Sha tak perlu mengejar cintamu lagi."


"Aku sudah menutup pintu hati untuknya. Jadi, kau tak usah khawatir!"


"Tapi, Kyi-Sha selalu saja mengharapkanmu lagi!" Kyu-ta mendorong tubuh adik tirinya dengan gerakan tangan.


Tubuh Keenan terangkat, Laura yang melihat sesuatu tak beres bergegas turun.


"Keenan!" teriaknya panik.


Keenan melihat Laura di bawah memohon dengan mimik wajah agar kembali ke dalam mobil.


Laura menoleh ke sosok yang membuat Keenan melayang, ia mendekatinya dan mendorongnya.


Kyu-ta melepaskan tubuh adiknya dan menjatuhkannya. Entah, kenapa Kyu-ta bisa disentuh Laura. Ia melihat wanita yang menggagalkan rencananya begitu cantik.


Laura kembali menghampiri Keenan dan membantunya berdiri. "Kau tidak apa-apa?"


"Kenapa kamu keluar? Ini sangat berbahaya," ujar Keenan.


"Aku mengkhawatirkanmu!" tampak wajah cemas terpancar.


"Pergilah masuk!"


Kyu-ta menggerakkan tangannya kembali ke arah Keenan, dengan cepat Laura menghalanginya dan membuat wanita itu tercekik.


"Kau ingin menyelamatkan dia?" Tersenyum jahat.


Laura memegang lehernya.


"Kyu-ta, lepaskan dia!" ucapnya dengan nada lantang.


"Dia mulai mencari gara-gara denganku!"


"Aku mohon, lepaskan dia!" pinta Keenan memohon.


Angin kembali bertiup kencang, Kyu-ta tercampak beberapa meter.


Laura pun tersungkur di aspal memegang lehernya yang sakit.


Kyu-ta melihat siapa yang berani mendorong tubuhnya. "Kyu-na?"


"Jangan mengganggu mereka, Kak!"


"Kyi-Sha berani membantahku karena dia, Kyu-na!" menunjuk ke arah Keenan.


"Kakak yang sudah merebut Kyi-Sha dari Kak Kyu-ri jadi jangan salah 'kan kalau istrimu itu masih mencintai Kak Kyu-ri," ungkap Kyu-na.


"Kyu-ta, aku sudah merelakan Kyi-Sha dan gelar kerajaan untukmu. Jangan mengganggu hidupku di sini. Aku sangat mencintai, Laura." Menatap wanita yang bahunya ia rangkul.


Laura menatap mata Keenan tersirat kejujuran.


"Ayah dan Ibu pasti tidak akan menyetujuimu menjadi dan menikahi manusia," ujar Kyu-ta.


"Aku tidak peduli dengan semua itu!" mengarahkan pandangannya kepada saudara tirinya.


-


-


Keenan merebahkan tubuh Laura di ranjang yang serasa panas dengan wajah pucat. Ia mengompres kening wanita itu dengan air biasa.


Keenan memegang tangan kanan Laura dan meletakkannya di pipinya. "Maafkan aku, karena diriku kamu seperti ini."


Laura memaksakan tersenyum di balik wajahnya yang lemah.


"Apa kamu ingin sesuatu?"


"Keenan, aku ingin kamu tetap di sini."


"Aku tidak akan pergi!" janjinya.


"Terima kasih," ucapnya lirih.


Keenan tersenyum.


Pria itu lantas berdiri kemudian berpamitan membuat makanan untuk Laura.


Hampir 30 menit membuat masakan, Keenan membawanya ke kamar lalu menyuapinya.


Ponsel Laura berdering tertera nama Mama Dita.


"Orang tuamu!" menyodorkan ponsel kepada Laura dan wanita itu meraihnya.


"Halo, Ma."


"Laura, kamu di mana? Kenapa suaramu lemah sekali? Apa kamu sakit?" cecar Mama Dita.


"Aku di apartemen, Ma. Aku tadi demam, Keenan lagi merawatku. Mama jangan khawatir, dia takkan berani menyentuhku."


"Mama percaya kamu, tapi tidak dengannya!" ucap Mama Dita.


"Suatu saat pasti Mama akan tahu siapa yang tulus menyayangiku selain kalian berdua," ujar Laura.


Mama Dita terdiam.


"Aku mau makan, Ma. Aku menyayangi Papa dan Mama, jangan khawatir!"


"Ya, Nak. Mama percaya padamu," Mama Dita menutup panggilannya.


"Mama kamu masih belum percaya padaku?" tanya Keenan setelah Laura selesai bertelepon.


"Ya."


"Aku akan buktikan pada mereka, jika aku calon menantu yang baik dan jujur."


Laura tertawa kecil mendengarnya.


"Aku serius, Laura." Menatap wajah wanita yang ada dihadapannya.


"Aku belum bisa menerima keseriusanmu maaf."


"Berusahalah, Tuan Kyu-ri!"


......................


Keesokan paginya, Laura dan Keenan datang ke sebuah bangunan kantor. Di sana mereka bertemu dengan para model iklan lainnya.


Tatapan orang-orang tertuju pada Keenan yang tampan dan mempesona. Hal itu membuat Laura risih.


"Apa kita bisa mulai sekarang latihannya?" Laura membuka suaranya ketika para wanita terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Keenan.


"Ya, Nona Laura!" jawab lainnya.


Keenan duduk di sebelah Laura, membaca naskah yang akan ia perankan.


Sutradara mengarahkan apa saja yang akan dilakukan para model iklannya. Keenan memperhatikan dengan sungguh-sungguh sementara Laura melirik para wanita yang tak hentinya menatap Keenan.


Selesai sutradara memberikan pengarahan, Laura menarik tangan Keenan bergegas meninggalkan tempat itu.


Laura menyetir mobil dengan wajah cemberut.


"Kamu yang memintaku menjadi model, kenapa terlihat kesal?"


"Apa para wanita itu tak pernah melihat pria tampan," omelnya.


"Mungkin tak pernah!" jawab Keenan asal.


Laura mengerem mendadak.


"Apa yang terjadi?" Keenan heran.


"Jadi, kau sekarang merasa bangga para wanita itu mengagumimu!"


"Tidak juga."


"Kau seolah-olah menyukai sikap yang mereka tunjukkan!" gerutunya.


Keenan tergelak.


"Hei, kenapa kau begitu bahagia sekali?" Laura menyindir karena Keenan tertawa lebar.


"Kamu cemburu!" menatap wajah wanita itu.


Laura membuang wajahnya.


"Katakan saja jika kamu cemburu."


"Aku tidak cemburu, jangan percaya diri!" Laura menyalakan kembali mesin mobilnya lalu melesat ke apartemennya.


Sesampainya, Laura menyuruh Keenan turun.


"Aku harus pulang ke rumah," ucapnya.


"Hati-hati," Keenan tersenyum.


"Ya," ucap Laura ketus.


Keenan keluar dari mobil dan Laura berlalu.


Keenan memasuki apartemen milik Laura. Asap warna-warni kembali muncul dan ia menyadarinya dan terlihat santai.


"Kenapa lagi kalian ke sini?" tanyanya.


"Kami ingin menjemput Tuan Kyu-ri," jawab salah satu pengawal.


"Aku tidak mau!" tolak Keenan secara tegas.


"Tuan, harus mau!" dua orang pengawal memegang tubuh Keenan.


"Aku tidak mau!" ia memberontak.


"Maafkan kami, Tuan!" ketiga pengawal membawa Keenan.


Keempatnya menghilang dan menuju ke Kerajaan Kyu-Sa.


Keenan tiba di negerinya, masih dengan tangan terikat di belakang dan kaki juga..


Kyi-mi tersenyum bahagia putranya kembali.


"Kenapa kalian membawa aku ke sini lagi?" tanyanya marah.


"Ini dunia kamu, Nak." Jawab Kyi-mi.


"Tidak!" berkata tegas.


"Kamu akan menggantikan posisi Ayah menjadi Raja Kyu- Sa," ucap Kyu-ma.


"Aku tidak mau menjadi raja!"


"Kamu harus mau, Nak!" Kyi-mi beranjak berdiri.


"Aku tidak mau, Bu. Aku ingin kembali ke bumi," pintanya.


"Di sana bukan duniamu!" ucap Kyi-mi lantang.


"Aku harus kembali ke sana, Bu. Ayah tolong kembalikan ku!" mengarahkan pandangannya kepada Kyu-ma.


"Ayah tidak bisa, karena wanita itu sudah mencintaimu maka kamu harus kembali ke sini. Jika dia membencimu maka kamu bisa kembali ke bumi." Jelas Kyu-ma.


"Tidak mungkin, Laura membenciku. Kami saling mencintai, Yah."


"Pilihan ada di tanganmu, ingin dia membencimu dan menjadi manusia atau dicintainya tapi kembali ke wujud aslimu," ujar Kyu-ma.


Pilihan yang sulit untuk Keenan. Jika Laura membencinya mereka takkan bisa bersama tapi dia bisa memantau dan menjaga wanita itu dari jarak jauh.


"Bagaimana, Kyu-ri?"


"Aku akan menjadi manusia meskipun dia membenciku!" jawab Keenan.


"Kamu akan tersiksa dengan perasaanmu, Kyu-ri. Kamu terus melihat wanita itu bersama pria lain saling memadu kasih," ujar Kyi-mi agar putranya mengurungkan niatnya.


"Aku tidak mau membuat Laura bersedih dan tersiksa karena mencintaiku. Jika aku jauh, siapa yang akan menjaga dan melindunginya," ucap Keenan.


Seluruh keluarga dan para pengawal terdiam mendengar pengakuan Kyu-ri.


"Kakak!" Kyu-na memeluk Keenan. "Aku akan membantumu!" bisiknya di telinga.


"Ibu tidak setuju, kamu kembali ke bumi!" Kyi-mi berkata tegas.


"Maafkan aku, Bu. Aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya," ujar Keenan.


Mendengar penuturan membuat Kyi-Sha mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan pernah membuat kalian bahagia!"