
Selesai makan malam, Laura berniat mengantarkan Keenan ke apartemen tapi pria itu menolaknya.
"Kamu tidur saja, aku bisa pulang sendiri!"
"Aku takut tidak ada kendaraan umum di jam seperti ini!" Laura melihat ponselnya menunjukkan pukul 8 malam.
"Masih ada bus umum yang mengangkut pekerja yang pulang malam," ujar Keenan.
"Ya sudah, hati-hati!" Laura tersenyum.
Keenan pun juga tersenyum. "Sudah sana pergi tidur!" menyuruh wanita itu masuk.
"Ya," Laura melangkah memasuki rumahnya.
Dengan cepat Keenan segera menghilang.
Begitu sampai di apartemen, Keenan terkejut dengan kehadiran adiknya Kyu-na.
"Kenapa kamu di sini?"
"Kelihatannya kalian semakin akrab," sindirnya.
"Itu perasaanmu saja!"
"Kyi-Sha mengetahui kelemahan Kakak," ujar Kyu-na.
"Apa untungnya bagi dia?"
"Kyi-Sha masih mencintaimu, dia ingin menghancurkanmu melalui wanita itu," jawabnya.
"Apa?" Keenan tak percaya. "Bukankah dia sudah bahagia menikah dengan Kyu-ta?"
"Kakak pikir Kyi-Sha tulus mencintai Kyu-ta? Tidak!"
"Dari mana kamu tahu dia akan menyerang Laura?"
"Aku diam-diam mengikuti dia keluar dari kerajaan," jawab Kyu-na. "Ternyata, dia sedang memantau wanita itu!"
"Jadi, Kyi-Sha dibalik serangan tadi sore?"
"Ya."
"Aku sudah merelakan dia menikah dengan Kyu-ta bahkan dilempar ke bumi masih saja mengusikku!"
"Dia terpaksa menikah dengan Kyu-ta karena peraturan kerajaan tak mengizinkan kalian menikah," ujar Kyu-na.
"Jadi, menurutmu Kakak yang salah karena tidak memperjuangkan dia!"
"Ya, begitu."
"Semua sudah berlalu, aku merasa nyaman di sini!"
"Karena Kakak sudah jatuh cinta padanya!"
"Tidak!" serunya.
"Jika kalian saling mencintai, bersiaplah semakin menjauh," mengingatkan kembali.
Keenan sejenak berpikir.
"Aku harus kembali, karena ku hanya ingin mengingatkan Kakak akan hal itu!" Kyu-na pun pergi.
Keenan duduk lalu kemudian berpikir. "Aku tidak bisa mencintainya bahkan membencinya entah kenapa diri ini ingin selalu melindunginya."
...----------------...
Seperti biasanya, Laura menunggu Keenan di parkiran. Entah, kenapa pria itu bisa tahu jika dirinya telah tiba di area apartemen.
"Mata batinmu cukup kuat, padahal kau tidak memiliki ponsel tapi selalu tak pernah membuat aku menjemputmu ke dalam!"
"Aku sudah hapal jam berapa, kamu akan datang," ucap Keenan berbohong.
"Kau seseorang yang sangat disiplin, aku senang memiliki karyawan sepertimu!" Laura tersenyum.
Laura mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Diperjalanan, Laura kembali bertanya, "Apa kau sudah sarapan?"
"Sudah."
"Syukurlah, aku tidak mau melihatmu pucat seperti kemarin!"
"Aku juga tidak mau kamu pingsan lagi," ucap Keenan.
Laura tertawa kecil, "Aku juga bingung, kenapa akhir-akhir ini selalu pingsan dan mengalami kejadian aneh. Apa aku terlalu banyak memikirkan hasil rancangan pesanan Sammy?"
"Mungkin saja."
Begitu keduanya sampai di kantor, Sammy juga baru tiba mereka berpapasan di parkiran.
Sammy melihat pria yang ada di samping temannya. "Pengganti Mario?"
"Ya, begitulah," jawab Laura asal.
"Boleh juga, tampan dan cocok menjadi model!" celetuk Sammy.
Sambil berjalan memasuki kantor, "Aku tidak mau kau mengorbitkan dia menjadi model."
Ketiganya menaiki lift.
"Kenapa? Kau juga akan untung karena dia bisa saja menjadi model di perusahaanmu ini!"
"Aku tidak mau dia menjadi model karena akan membuatnya semakin jauh dariku!"
"Apa kau sangat mencintainya?" tanya Sammy.
Laura tak menjawab.
"Lihatlah, kekasihmu ini malu mengakui hubungan kalian!" ucap Sammy kepada Keenan.
Pintu lift terbuka, ketiganya keluar kemudian berjalan berlainan arah.
"Dia mau kemana?" tanya Sammy pada Laura.
"Dia akan ke ruangannya!" jawabnya.
"Memangnya dia bekerja di bagian apa?"
"Kebersihan."
Sammy tampak terkejut, "Kau menjalin hubungan dengan office boy!"
"Jangan mengurusi kehidupan pribadiku!" Laura memasuki ruangan.
"Ini contoh rancangan untuk para dewan juri ajang menyanyi!" Laura menyerahkannya kepada temannya agar berhenti mengoceh.
"Sangat menarik!" pujinya.
"Seminggu lagi, aku akan mengirimkan rancangannya!"
"Oke!"
"Sudah tak ada urusan lagi, silahkan pulang!" ucap Laura.
"Hei, kau mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu, aku hanya ingin kembali bekerja. Jika kau di sini yang ada aku sulit berkonsentrasi."
"Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih!" Sammy tersenyum.
"Ya, sama-sama."
Sammy keluar dari ruangan itu.
Laura menopang dagunya, ia mengingat perkataan asalnya yang mengatakan jika Keenan adalah kekasihnya dan sangat tidak ingin pria itu menjadi model.
"Aku tidak mau dia jauh dariku, jika dia menjadi model pasti banyak para wanita cantik mendekatinya. Aku tak bisa bayangkan itu!" gumamnya.
Kesya mengetuk pintu membuat lamunannya berhenti.
Kesya membawa sebuah buket bunga mawar, "Buat Nona dari Tuan Mario!"
"Mau apa lagi dia?" gerutunya.
"Ini saya letakkan di mana, Nona?"
"Bawa keluar dari ruanganku, jika kamu ingin memajangnya di meja kerjamu. Silahkan!"
"Baiklah, Nona!" Wanita itu keluar membawa kembali buket bunganya.
Kesya lalu meletakkannya di meja kerjanya dan dipajangnya. "Sungguh cantik ini bunga tak mungkin harus berada di tong sampah!" ia tersenyum memandangnya.
Tommy membawa secangkir kopi ke meja Sekretaris Kesya. "Ini pesanan anda!"
"Terima kasih, Tom!"
"Cieee... dapat bunga dari calon suami, ya!"
"Bukan, ini bunga dari Tuan Mario buat Nona Laura tapi dia tak mau daripada di buang lebih baik di sini!"
"Benar juga, Nona!"
Tommy lantas kembali ke pantry, Keenan sedang membersihkan toilet wanita.
Asap warna-warni muncul di ruangan itu, Keenan yang sadar akan kehadiran sebangsanya bersiap-siap diri.
"Kyu-ri, putraku!" Kyi- mi.
"Ibu!" lirihnya.
"Ibu sangat merindukanmu, Nak!"
"Aku juga, Bu!" ucap Keenan dengan mata berkaca-kaca.
"Kembalilah, putraku!"
"Aku tidak bisa, Bu."
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak menyayangi aku lagi?"
"Aku sangat menyayangimu, Bu. Tapi, aku tidak bisa karena seseorang membutuhkanku!"
"Apa manusia berwujud wanita itu yang menjadi alasan kamu?"
"Ya, Bu!"
"Apa kamu mencintainya?"
Keenan terdiam.
"Jika mencintainya, ibu malah senang. Kamu akan segera kembali pulang," ujar Kyi-mi tersenyum.
"Aku tidak akan pulang, Bu. Dan takkan pernah!"
"Keenan, di sini bukan duniamu!"
"Ibu dan ayah sudah mencampakkan aku, kalian sendirilah yang membuat nyaman dan betah di sini!"
"Maafkan kami, Nak. Kamu tahu 'kan alasan kami menghukummu ke bumi!"
"Karena aku mencintai Kyi-Sha, tapi kenapa kalian sampai melempar aku ke sini padahal ku sudah merelakan dia bersama Kyu-ta!"
"Kami takut kalian melakukan cinta terlarang," ujar Kyi-mi.
Keenan menarik sudut bibirnya. "Aku tidak serendah itu, Bu!"
"Ayo, Nak. Kembalilah!" mohon Kyi-mi.
"Tidak, Bu!"
Kyi-mi tak tahan lagi, ia menggerakkan tangannya dengan mata merah menyala menatap Keenan. Ia menghempaskan kuat putra ke dinding.
Keenan memegang perutnya dan cairan darah keluar dari mulutnya.
"Ayo pulang, Kyu-ri!"
"Tidak, Bu!" ucapnya tegas.
Kyi-mi semakin marah, ia kembali menghempaskan tubuh putranya.
"Aku tidak akan pulang, Bu!" ucap Keenan menahan rasa sakitnya.
"Jika kamu tidak mau pulang, ibu akan membuat wanita itu dalam bahaya," ujar Kyi-mi.
"Jangan, Bu!" mohonnya lirih.
"Ibu tak bisa memaafkannya, karena dia sudah membuatmu bertahan di sini!"
"Bu, jangan sakiti Laura. Aku mohon!" Keenan berusaha bangkit.
"Kamu tidak bisa melindunginya, karena kekuatanmu semakin berkurang!" Kyi-mi pun menghilang.
"Bu... Ibu!" panggilnya berteriak.