Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Laura Diculik



Paginya Keenan menjalankan syuting dan Laura melihatnya dari kejauhan. Di sela-sela kegiatan berlangsung wanita itu pamit untuk membuang air kecil kepada sahabatnya Sammy.


Laura melangkah ke toilet yang tidak jauh dari lokasi. Di dalam ruangan kecil hanya dirinya dan seorang wanita.


Selesai membuang air dan keluar dari toilet, mulutnya seperti ada yang membekapnya. Laura berusaha memberontak tapi dirinya kehabisan tenaga dan lemas.


Para penjahat yang menculik Laura membawa gadis itu ke sebuah bangunan tua yang tidak berpenghuni lagi.


Laura tersadar sejam kemudian dengan tangan terikat di belakang begitu juga dengan kedua kakinya. Mulutnya di tutup sebuah sapu tangan dengan cukup kuat.


Kepalanya terasa pusing, perlahan mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangannya. Matanya membulat ketika sadar dirinya bukan di tempat syuting.


Laura berusaha membuka ikatan, dengan mata mulai menangis karena takut.


Pintu ruangan kamar pun terbuka, suara tawa menggema membuat Laura gemetaran.


Sekilas senyum menyeringai menyapa diri Laura yang tampak ketakutan.


"Apa kabar Nagita Laura?"


"Delon!" ucap Laura dibalik penutup mulutnya.


"Akhirnya aku bisa menculikmu!" ucapnya diiringi tawa menggelegar.


Laura menggoyangkan kursi.


"Tidak ada yang bisa menolongmu!" Ucapnya sinis.


Sementara itu di lokasi syuting, Keenan merasa jika Laura tidak berada disekitarnya.


Begitu selesai pengambilan gambar dirinya ia lalu bertanya pada Sammy.


"Apa kau melihat Laura?"


"Tadi dia ke toilet," jawab Sammy.


Keenan lantas berlari ke toilet wanita. Ia menunggu di depan.


Ia bertanya pada wanita yang baru saja keluar dari dalam toilet. "Apa di dalam masih orang?"


"Sepertinya tidak ada, Tuan."


"Terima kasih," ucap Keenan.


Keenan lalu mencarinya ke mobil, lagi-lagi ia tak menemuinya.


Keenan begitu sangat khawatir, ia lalu menghubungi nomor ponsel Laura namun tak aktif.


Dia kembali menghampiri Sammy. "Aku tidak menemukan Laura, apa kau tidak melihatnya?"


"Tadi dia berpamitan ke toilet setelah itu aku tidak berjumpa dengannya," jelas Sammy.


"Aku sudah menghubunginya tapi tak aktif," ucap Keenan.


Sammy pun mengajak Keenan bertanya pada penjaga keamanan gedung yang menjadi tempat lokasi syuting mereka.


Namun, para penjaga keamanan tidak melihat wanita yang disebutkan ciri-cirinya oleh Keenan.


"Aku harus kembali ke hotel," ujar Keenan.


"Tidak mungkin Laura ke hotel, mobilnya masih di sini dan tasnya bersamaku," jelas Sammy.


"Ya, benar saja. Tapi, dia ke mana?" Keenan hampir putus asa.


"Apa dia diculik?" tebak Sammy.


Keenan menggelengkan kepalanya berharap kekasihnya itu baik-baik saja.


"Kakak, kekasihmu diculik pria jahat itu!" bisik-bisik sayup terdengar di telinga Keenan.


"Laura pernah bilang jika Delon hampir menculiknya," ucap Sammy.


"Ya, pria itu selalu saja mengganggunya."


"Kita harus segera mencari Laura, Keenan!"


"Iya, tapi di mana?" Tanya Keenan pada Sammy.


"Kakak, kekasihmu di bawa pria jahat itu di bangunan rumah mewah yang sudah usang. Dia diikat, cepat selamatkan Kak Laura!" bisik Kyu-na lagi.


"Apa kau tahu rumah mewah yang tak berpenghuni lagi?" tanyanya pada Sammy lagi.


"Aku tidak tahu, bukan orang sini."


Keenan lantas berlari ke luar lalu bertanya kepada orang-orang yang melintas apakah mereka tahu rumah mewah tua.


Sebagian menjawab jika rumah mewah itu hanya berjarak 2 kilometer dari tempat Keenan berdiri.


Setelah mendapatkan informasi dari beberapa orang, Keenan dan Sammy berangkat ke tempat yang dibisikkan Kyu-na.


Tak kelihatan orang-orang berjaga di tempat itu.


Keenan hendak turun namun Sammy melarangnya.


"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanyanya sambil memperhatikan bangunan tua itu.


"Ya."


"Aku di sini saja, ya. Aku tidak berani masuk," ujar Sammy.


"Kau bilang Laura sahabatmu tapi kenapa tidak mau menolongnya," sindirnya.


"Aku tidak bisa beladiri, jadi percuma kalau ikut masuk. Aku akan menghubungi keamanan," ucap Sammy.


"Ya sudah," Keenan membuka pintu lalu berjalan ke dalam.


Menyusuri setiap sudut ruangan yang ada di bangunan itu.


"Dia ada di lantai atas, Kak!" bisik Kyu-na lagi bagai angin.


Keenan gegas ke atas dan benar saja terdengar suara tertawa yang memekakkan telinga.


Keenan mendobrak pintu secara paksa membuat orang yang ada didalam ruangan itu terkejut.


Laura tersenyum melihat kehadiran pria yang ia sukai.


"Lepaskan dia!" teriaknya lantang.


"Kenapa dia tahu lokasi ini?" Delon membatin.


"Kau pasti heran, kenapa aku bisa tahu tempat ini?" Keenan tersenyum menyeringai.


Dua orang pria mulai menyerang Keenan, namun mereka tak dapat melayangkan pukulan ke tubuhnya.


Keenan berhasil menghindar secara cepat tentunya dengan bantuan adiknya. Karena dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi.


Dua orang pria merasa kelelahan karena target mereka tak dapat di sentuh hingga akhirnya Keenan melayangkan tendangan ke perut para pria tersebut.


Melihat anak buahnya terjatuh membuat Delon ketakutan.


Keenan menghampiri pria itu lalu meninju wajahnya hingga terjatuh.


Pintu terbuka, beberapa orang pria berseragam membawa pistol lalu mengamankan Delon dan 2 anak buahnya.


Keenan membuka tali yang mengikat kekasihnya.


Laura lantas meraih tubuh Keenan dan memeluknya. "Aku sangat takut!" ucapnya gemetar.


"Semua sudah berakhir, tenanglah!" Keenan mengelus pundak kekasihnya lembut.


Setelah memberikan keterangan, kembali ke hotel mengemasi pakaian Keenan dan Laura meninggalkan kota itu.


Terpaksa beberapa adegan terakhir syuting yang mengharuskan Keenan tampil diubah karena pria itu sedang mencari kekasihnya.


-


Tepat pukul 11 malam mereka tiba, memang Laura meminta Keenan agar kembali pada hari itu juga. Karena dia begitu sangat trauma.


Mama Dita yang mendengar kabar putrinya diculik terkejut dan merasa bersalah. Begitu Laura sampai ia lantas memeluknya. "Maafkan, Mama!"


Laura mengangguk pelan.


Mama Dita melonggarkan pelukannya lalu menangkup wajah putrinya. "Harusnya Mama mendengar perkataan kamu!"


"Sekarang Mama sudah percaya, kan?"


Mama Dita mengiyakan.


Keenan pun pamit pulang.


****


Keesokan harinya, selesai bekerja Keenan mengunjungi Laura ke rumahnya.


Wanita masih terlihat pucat, penculikan kemarin yang ia alami masih membuatnya trauma.


Begitu Keenan tiba di rumah Laura, pria itu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya kekasihnya. Karena kata Mama Dita, Laura tak ingin makan sebelum Keenan datang.


"Delon takkan mengganggumu lagi," ujar Keenan.


"Ya, tapi aku masih takut jika suatu saat dia kembali menyakitiku," ucap Laura.


"Aku takkan membiarkan dia menyakitimu atau membuatmu celaka," Keenan memberikan penguatan.


Laura tersenyum lega.


"Apa kamu ingin kita jalan-jalan?"


Laura mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? Apa ada yang aneh?"


"Tidak biasanya kamu mengajak aku jalan-jalan," jawab Laura.


"Aku sekarang manusia tentunya kehidupanku normal seperti kalian," Keenan berkata pelan.


"Oh, iya. Aku lupa jika kekasihku ini seorang manusia yang tampan," ucap Laura tersenyum begitu manis.


"Aku senang melihatmu tersenyum begitu, semakin aku ingin menciummu!" Keenan menggoda.


"Ayo cium!"


Keenan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa aku belum mandi, ya?"


"Kamu mau kalau Mama Dita memarahiku?" menatap kekasihnya begitu hangat.


"Mama sudah menerima kamu, jadi kapan kita akan menikah?"


"Kamu maunya kita kapan menikah?"


"Minggu depan, bulan depan atau tahun depan, terserah kamu."


"Minggu depan kita menikah, bagaimana?"


"Lalu, siapa yang akan menjadi wakil keluargamu?" tanya Laura.


"Kamu tenang saja," jawab Keenan tersenyum.


"Aku tahu, pasti orang tuamu akan datang menyamar menjadi manusia tapi mereka tidak akan membuat para tamu dan keluarga ku terkejut, kan?" Laura berusaha menebak.


"Tidak, mereka berjanji akan takkan membuat onar di pesta pernikahan kita," jawab Keenan.


Laura tersenyum senang mendengarnya.


*


Dua hari yang lalu...


Keenan tampak kebingungan di apartemen, ia berjalan mondar-mandir mencari cara agar bisa ke Kerajaan Kyu-Sa tanpa harus menetap di sana.


Karena merasa kegundahan hati putranya, Kyi-mi dan Kyu-na datang.


Keenan tersenyum ketika melihat keluarganya itu.


"Apa yang membuatmu gundah, putraku?" tanya Kyi-mi.


"Orang tua Laura ingin bertemu dengan keluargaku, tapi aku tidak bisa memperkenalkan kalian," jelas Keenan.


"Kami akan datang sebagai wujud manusia," ucap Kyi-mi.


"Benarkah, Bu?" tanya Keenan dengan mata berbinar.


"Ya," jawab Kyi-mi tersenyum.


"Terima kasih, Bu." Keenan memeluknya.


"Jangan khawatir, Kak. Kami akan selalu membantumu," ucap Kyu-na.