Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Kembali Di Serang



Laura memapah tubuh Keenan ketika memasuki apartemennya, ia mendudukkan pria itu di sofa tamu.


"Tunggu di sini!"


Laura lalu pergi ke dapur, ia mengambil 2 butir telur dari lemari es kemudian ia rebus. Tak lupa membuatkan susu dan roti isi selai.


Laura melangkah cepat ke arah Keenan. "Kau pasti tidak sarapan makanya wajahmu pucat, sekarang minum susu dan makan roti ini!"


Keenan menuruti perintah wanita itu.


"Aku akan mengambil telur rebus!" Laura berdiri kemudian melangkah ke dapur lagi. Tak sampai 5 menit ia kembali menghampiri Keenan.


"Auww!" Laura mengibas jemarinya karena memegang telur rebus yang masih panas.


Keenan lantas dengan cepat meraih tangan Laura dan meniupnya.


Jemari tangan Laura serasa dingin seperti es.


"Apa sudah tidak panas lagi?" tanya Keenan.


Laura menarik jemarinya dari genggaman Keenan. "Terima kasih!"


"Lain kali hati-hati," ucapnya.


"Aku buru-buru karena khawatir dengan kondisimu!" Laura berkata tanpa menatap ia menuangkan air putih ke dalam mangkok berisi telur panas itu.


Keenan tersenyum.


Laura mengupas kulit telur kemudian ia arahkan ke mulut pria itu, "Ayo makan!"


Keenan membuka mulutnya.


"Jangan sampai sakit, aku tidak bisa selalu ada mengurusmu. Kau tidak memiliki keluarga di sini," ujar Laura mengupas telur yang kedua.


"Kamu keluargaku!"


Laura menoleh lalu tersenyum, "Aku senang kau menganggapku keluarga!"


"Aku ingin bertanya padamu," ucapnya.


"Ya, kau mau bertanya apa?"


"Seandainya aku bukan manusia, apa kamu masih mau bersamaku?"


Laura menatap sejenak Keenan lalu tertawa kecil. "Jangan bercanda!"


"Aku serius!"


"Keenan, aku tahu kau sedang sakit. Tapi, tolong jangan berbicara hal aneh!"


Keenan pun diam.


"Aku harus kembali ke rumah, kau jaga diri. Jangan lupa makan, maaf ku tak bisa menemanimu!" Laura beranjak berdiri.


Keenan memegang telapak tangan wanita itu. "Jangan pergi!"


Laura menatap tangan yang digenggam lalu menurunkannya kemudian tersenyum, "Aku hanya pergi ke rumah tidak ke mana-mana."


"Aku sangat mengkhawatirkanmu!"


"Aku bisa jaga diri, kamu tenang saja!"


"Mereka bukan orang biasa, Laura."


"Maksudnya?"


"Ada seseorang ingin mencelakakanmu!"


"Siapa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya!"


"Keenan, jangan membuatku takut!"


"Aku serius!"


Laura tersenyum, "Beristirahatlah!" ia meraih tas kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Sampai jumpa!" ia pun berlalu.


Keenan meraup wajahnya. "Aaarrrghhh!"


Laura tersenyum ketika membayangkan ucapan Keenan bahwa pria itu begitu mengkhawatirkannya.


Ia membuka pintu mobilnya, kemudian menyalakan mesin dan melesat.


Begitu sampai rumah, Delon sudah berada di sana. Ia duduk sambil berbicara dengan Papa Romi.


"Dia sudah pulang, kalian bicaralah!" Romi meninggalkan putrinya dan Delon.


"Kenapa kau di sini?" tanya Laura ketus.


"Aku tadi ke kantormu tapi dirimu tak ada di sana makanya ku kemari!"


"Sekarang kita sudah bertemu, cepat katakan ada keperluan apa ke sini?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam diluar," jawabnya.


"Aku sedang sibuk!"


Delon tersenyum sinis, "Apa pria miskin itu menjadi alasanmu sibuk?"


"Dia memang miskin tapi bukan sepertimu yang sukanya merebut milik orang lain!" menekankan kata-katanya.


"Laura, jangan menilaiku sebelah. Aku tidak pernah merebut milik orang lain," ucapnya.


"Tidak pernah, apakah caramu mendapatkan jabatan di Antana Grup itu murni karena kerja keras atau hasil menjilat?" Laura menaikan kedua alisnya.


"Antana Grup bukan perusahaan milikmu atau keluargamu, kenapa jadi kamu yang repot?"


"Aku tidak ingin punya pasangan hidup yang selalu berbohong apalagi menipu!"


Delon mengeraskan rahangnya, ia tak suka dengan pernyataan wanita itu. Ia kemudian pun pergi.


"Kenapa Delon pergi, Laura?" tanya Mama Dita.


"Tak tahu, Ma." Menaiki kedua bahunya.


"Pasti ada yang kamu katakan padanya!"


"Aku hanya mengatakan tidak ingin punya suami yang tak jujur apalagi pembohong!"


"Ya sudah, kalau Mama tidak percaya. Tapi, jangan jodohkan aku dengan dia lagi!" Laura melangkah ke kamarnya.


Laura menjatuhkan tubuhnya di ranjang lalu menghembuskan nafas kasar. "Selalu saja perjodohan, perjodohan dan perjodohan. Bukannya aku tidak mau menikah tapi memang belum ada yang cocok dihati!" keluhnya.


Angin bertiup cukup kencang membuat gorden jendela kamar bergerak. Laura segera duduk dan hendak menutup jendela. Namun, ia memundurkan langkahnya karena deburan debu hampir mengenai mata wanita itu.


Asap warna-warni kembali memenuhi ruangan kamarnya, Laura kembali tercekik. Ia berusaha keluar dari tempat itu tapi rasanya sangat berat sekali.


"Ma, Pa, Keenan, tolong aku!" berusaha berteriak.


Angin semakin kencang berputar di ruangan itu dan membuat Laura kesulitan bernapas.


Dalam penglihatan yang samar ia melihat Keenan datang berusaha melepaskan genggaman tangan yang mencekik lehernya.


Laura yang sudah terlepas, memundurkan tubuhnya. Ia melihat Keenan dari kejauhan sedang bertarung dengan makhluk yang tidak terlalu jelas. Ia tahu jika tempat itu bukan di rumahnya tapi di padang tandus.


Laura berdiri dan hendak melangkah, rasanya ia ingin berlari menghampiri Keenan yang berkali-kali terjatuh namun kakinya berat.


Angin kencang kembali datang, seorang wanita cantik membantu Keenan menaklukkan makhluk tak jelas itu.


"Itu wanita yang ada di lift!" gumam Laura.


Keenan akhirnya menang dari pertarungan itu dan wanita cantik juga pergi.


Keenan berlari ke arah Laura dan memeluknya.


"Keenan, aku di mana?"


Keenan melepaskan pelukannya, ia lantas menggenggam tangan Laura dan wanita itu pun pingsan. "Maaf, aku belum bisa memberitahu kamu siapa diriku sebenarnya!"


Keenan merebahkan tubuh Laura di ranjang, menyelimutinya dan menyingkirkan rambut dari wajah wanita cantik itu.


Laura mengerjapkan matanya, Keenan pun bergegas pergi.


Laura terbangun dan melihat tubuhnya di balut selimut seingatnya dia tadi tidak tertidur.


Suara ketukan membuyarkan lamunannya, Laura bergegas membuka pintu.


"Nona, ada Tuan Keenan," ucap asisten rumah tangga.


"Keenan? Dari mana dia tahu alamat rumahku?"


"Nona, apa saya suruh pulang atau tunggu?"


"Suruh tunggu!"


"Baik, Nona." Wanita muda itu pun menemui Keenan menyampaikan pesan Laura.


Karena Keenan datang, ia melangkah ke arah cermin merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Ia tersenyum lalu meraih lipstik dan mengoleskannya ke bibir secara tipis.


Karena sudah yakin dengan penampilannya, Laura keluar dari kamarnya menemui Keenan.


"Hai, dari mana kau tahu alamat rumahku?" sapanya berbasa-basi.


"Aku melihat kartu namamu yang ada di meja nakas televisi," jawab Keenan berbohong.


"Oh," ucapnya singkat.


"Kamu baik-baik saja, kan?"


"Ya, aku baik. Kenapa kau di sini? Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan?"


"Aku hanya khawatir padamu!" jawab Keenan.


Laura tertawa kecil, "Kau jangan khawatir, aku bisa jaga diri!"


"Tapi, aku benar-benar takut!"


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku merasa senang jika kau begitu peduli padaku!" ucap Laura.


Keenan tersenyum tipis.


"Apa kau sudah makan?"


Keenan menggeleng.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" ajaknya.


Keenan mengangguk.


Keduanya melangkah ke meja makan, Laura menarik kursi untuk Keenan. "Silahkan duduk!"


Keenan tersenyum tipis.


Laura duduk di hadapan pria itu. "Kita tunggu papa dan mama, ya!"


Keenan pun mengangguk.


Tak lama kemudian kedua orang tuanya Laura datang.


"Ternyata ada tamu!" ucap Papa Romi.


"Sepertinya hari ini kita tidak ada mengundang orang lain makan bersama," Mama Dita menyindir.


"Ma, sudahlah. Keenan juga teman sekaligus karyawannya Laura," ujar Papa Romi.


"Ya, tapi Mama tak suka pria ini mendekati putri kita," ucap Mama Dita jujur.


"Maafkan istri saya, Nak Keenan!"


Keenan mengangguk.


Mama Dita melirik sinis Keenan, "Dasar aneh!"


Keenan ingin menghempaskan tubuh wanita paruh baya itu namun Mama Dita adalah seorang ibu, ia tak mau Laura bersedih karena dirinya sudah membuat wanita itu terluka.


"Ma, tolong jangan berkata yang menyakiti hati Keenan!" mohon Laura.


"Coba tanya dia, dari mana dirinya berasal?"


"Ma, Keenan sedang lupa ingatan jadi ia tak tahu alamat rumah orang tuanya," jawab Laura berbohong.


"Semoga saja kamu tidak sedang membohongi Mama," ucap Mama Dita.


"Jangan mengobrol, mari kita makan!" Papa Romi menyendokkan nasi ke dalam piringnya.