
Para pengawal kerajaan terus mengawasi kedua anak dari Kyu-ma dan Kyi-mi. Namun, tak membuat Kyu-na kehabisan akal.
Mereka berjalan mengendap-endap keluar dari istana. Kyu-na yang pandai mengalihkan pandangan berhasil membuat para pengawal tak curiga.
"Cepatlah, Kak!" panggilnya dengan suara pelan.
"Ini sangat berbahaya bagi kalian berdua," ujar Keenan.
"Aku mencintai adikmu, Kak Kyu-ri."
"Kalian sudah tahu kalau keluarga kita saling bermusuhan," ujar Keenan.
"Aku tahu, Kak. Tapi, hati dan perasaan ini tidak peduli apakah mereka saling bermusuhan atau tidak," ucap Kyu-na.
Keenan mengangguk paham.
"Waktu kita tidak banyak, cepat kita pergi dari sini!" ucap Rhi-kyu.
Ketiganya pun menghilang. Mereka tiba di apartemen milik Laura yang sudah tertata rapi dengan keadaan lemas.
Sebagian tenaga ketiganya sudah berkurang.
"Kita akan tinggal di mana?" tanya Rhi-kyu.
"Kita menumpang di sini saja," jawab Kyu-na.
"Tidak, kalian harus mencari rumah untuk kalian sewakan."
"Kakak, kami tidak punya uang untuk menyewanya. Apa salahnya kami sementara di sini?" ungkap Kyu-na.
"Kalian harus meminta izin kepada pemilik apartemen ini," ujar Keenan.
"Ya, Kak!" ucap keduanya serentak.
"Aku harus menemui Laura!"
"Kami ikut, Kak," pinta Kyu-na.
"Tidak, kalian di sini. Pulihkan tenaga dahulu," ucap Keenan.
"Benar apa yang dikatakan, Kakakmu." Rhi-kyu menimpali.
Keenan pun bergegas menghilang.
Rhi-kyu berjalan ke dapur, ia membuka lemari dan lemari es mencari sesuatu.
"Hei, kamu mau mencari apa?"
"Aku lapar, Kyu-na."
"Makanan di sini tak cocok di lidah kita," ucapnya.
"Lalu, kenapa Kak Kyu-ri betah di sini?"
"Aku juga tidak tahu, nanti saja makannya tunggu pemilik rumah datang."
-
Sementara di Kerajaan Kyu-Sa..
Seorang pengawal berlari-lari menemui Raja Kyu-ma. "Pangeran dan Putri tidak ada di kamarnya, Raja!"
"Apa!" Kyu-ma terkejut.
Dia berjalan ke kamar kedua anaknya. Ia mengeluarkan kekuatannya memporak-porandakan isi ruangan itu.
Kyi-mi yang mendengar suara kegaduhan dari kamar putra putrinya bergegas mendekat.
"Apa yang terjadi?"
Seorang pengawalnya mengatakan jika kedua anaknya kabur dan membuat Raja marah.
"Bagaimana mungkin mereka bisa kabur?" Kyi-mi tampak heran.
"Kemana saja kamu?" tanya Kyu-ma dengan nada tinggi.
"Aku sedang latihan, suamiku!"
"Lihatlah, Kyu-ri dan Kyu-na kabur ke bumi!" ucap Kyu-ma marah.
"Kita sudah menyuruh pengawal menjaganya, kenapa bisa kabur?"
"Maafkan kami, Ratu!" Ucap salah satu pengawal.
"Aku tidak mau tahu, cari mereka. Kalau perlu sakiti manusia itu!" perintah Kyi-mi.
"Baik, Ratu!" Beberapa pengawal pergi ke bumi.
Ditengah rasa marah dan kesal menyelimuti hati Kyu-ma dan Kyi-mi.
Ayah dari Rhi-kyu datang membawa beberapa pasukan.
"Di mana putraku?" teriaknya.
Kyi-mi dan suaminya menghampiri tamu yang tak diundang itu.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Kyu-ma lantang.
"Di mana putrimu menyembunyikan putraku?"
"Aku juga kehilangan putriku, lalu aku bertanya dengan siapa?" Kyu-ma balik bertanya.
"Ini semua karena ulah putrimu, dia pasti yang mengajak putraku kabur!" tudingnya.
"Apa kamu bilang putriku mengajak putramu?" Kyu-ma menggerakkan jemarinya dan membuat lawan yang ada dihadapannya terhempas.
Ayah Rhi-kyu tak mau tinggal diam, ia membalasnya dengan menghentakkan kakinya membuat tanah bergetar. Wajah pria paruh baya itu memerah.
Kyu-ma tak senang, membalas perbuatan musuhnya dengan tatapan tajam dari jarak jauh membuat ayah Rhi-kyu kembali terhuyung ke belakang.
"Hentikan!" teriak Kyi-mi lantang.
Semuanya mengalihkan perhatiannya kepada wanita itu.
"Kalian berkelahi di sini, tapi bukan mencari solusi. Kyu-na dan Rhi-kyu berada di bumi, lebih baik kalian menyusulnya ke sana!" ucap Kyi-mi.
"Aku akan menjemput putraku, sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan putraku dengan putrimu!"
"Aku pun juga!" ucap Kyu-ma tegas.
Rombongan pasukan ayah Rhi-kyu menghilang.
*
Di bumi....
Keenan menggunakan kekuatannya yang tersisa ke kantor Laura.
Begitu sampai, Laura sedang sibuk merancang desain. Ia dapat merasakan angin yang begitu sejuk.
"Keenan, kau 'kah itu?" Laura beranjak berdiri.
Keenan muncul tepat dihadapan wanita itu yang terhalang dengan meja kerja sembari melemparkan senyumnya.
"Keenan!" Laura tersenyum senang gegas dia mendekati pria itu dan memeluknya erat.
"Aku sangat merindukanmu!" ucapnya sembari mendongakkan kepalanya.
"Aku juga!"
"Apa orang tuamu tahu jika kau ke sini?"
Keenan menggelengkan kepalanya.
"Jadi kau kabur?"
"Iya."
"Aku takut mereka akan menghukummu," ucap Laura.
"Aku yang takut jika mereka menyakitimu."
"Keenan, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" pintanya.
"Kamu harus kembali, Kyu-ri!" ucap Kyu-ma lantang.
Keenan dan Laura menoleh, dengan cepat Keenan menutupi pandangan kekasihnya.
Laura berdiri tepat di belakang punggung Keenan.
"Kamu harus kembali, Kyu-ri!" Mengulang ucapannya.
"Tidak, Ayah!" Keenan menolaknya tegas.
"Kamu membantah demi manusia!" Kyu-ma marah.
"Aku mencintainya, Ayah!"
"Kamu tidak boleh mencintainya!" ucap Kyu-ma.
"Aku rela melakukan apapun demi bersama dengannya, Ayah!"
Kyu-ma yang sudah tersulut emosi mengarahkan tangannya ke leher putranya.
Keenan terbang ke langit-langit ruangan dengan leher tercekik.
Laura yang ketakutan tanpa sadar menangis.
"Apa kamu rela mati demi dia?" tanya Kyu-ma pada putranya.
"Ya," jawabnya sambil memegang lehernya.
"Tidak, Keenan!" ucap Laura.
Tubuh Keenan semakin melemah, Laura semakin bingung.
"Lepaskan dia!" memohon kepada Kyu-ma.
"Apa kamu sangat mencintainya?"
"Aku sangat mencintainya." Jawab Laura.
"Kalau begitu, kamu harus mati bersamanya!" Kyu-ma mengarahkan tangannya ke leher Laura.
Wanita itu terbang bersama dengan Keenan.
"Ayah, lepaskan dia!" Keenan terus memberontak.
"Bukankah kalian saling mencintai?" tanyanya tegas.
Laura yang tak kuat memejamkan matanya.
Keenan melihat ke arah kekasihnya. "Laura, bangunlah!" panggilnya dengan menangis.
Laura tak menjawab.
"Ayah, lepaskan dia!" Keenan berusaha memukul tangan ayahnya.
Kyu-ma melepaskan cengkeramannya di leher Laura dan wanita itu jatuh ke lantai.
"Dia sudah mati!" Kyu-ma tersenyum senang.
"Tidak!!!!!"
Kyu-ma tertawa lebar dan memekakkan telinga.
"Ayah, aku membencimu!" ucap Keenan terbata.
Kyu-ma mendengar ucapan putranya membencinya lantas melepaskan cengkeramannya.
Keenan terjatuh lalu terbatuk, ia mendekati Laura dengan merayap. Meraih tubuh wanita itu dan memeluknya. "Aku mohon, bangunlah!" pintanya dengan menangis.
Laura sama sekali tidak merespon.
"Bangunlah!" panggilnya dengan mengguncangkan tubuh Laura.
Keenan lalu mengarahkan pandangannya kepada Kyu-ma. "Aku sangat membenci, Ayah!" menekankan kata-katanya.
"Tidak, Nak. Jangan membenciku!"
"Kalian sudah menghancurkan kebahagiaan aku untuk kedua kalinya," ucapnya lantang.
"Nak, kami ingin terbaik untukmu!"
"Bukan ini yang aku mau!" teriak Keenan lantang sehingga ruangan tersebut bergetar.
"Kyu-ri...."
"Jangan panggil aku Kyu-ri!"
"Maafkan, Ayah!"
"Aku tidak akan memaafkan sebelum Ayah mengembalikan Laura!"
Kyu-ma berlutut di hadapan putranya.
"Pergilah, Yah!" ucap Keenan lirih namun air matanya terus mengalir.
"Ayah tidak akan pergi sebelum kamu memaafkan," Kyu-ma meneteskan buliran kristal.
Keenan tak memperdulikannya, ia mengangkat tubuh Laura dan menggendongnya.
"Kyu-ri...."
"Aku akan mati bersamanya, Yah."
"Tidak, Nak."
"Kalian semua pengawal raja!" teriaknya. "Keluarkan kekuatan kalian, ayo serang aku!" titahnya.
Para pengawal hanya diam.
"Kenapa diam? Kalian tidak mendengar perintahku? Aku pangeran di Kerajaan Kyu-Sa memberikan perintah, serang sekarang juga!"
"Tidak, Nak." Kyu-ma bangkit.
"Bukankah Ayah ingin melihat kami mati bersama?"