
Malam harinya, setelah ibunya Keenan mendatangi ke rumah. Laura pergi ke apartemennya. Ya, ingin berbicara kepada pria itu karena sekarang waktunya tepat.
Laura membuka pintu apartemennya karena tanpa mengetuknya. Ia melihat Keenan sedang memasak, pria itu melemparkan senyumnya.
"Aku sedang membuat makanan, apa kamu mau kita makan bersama?" Keenan berbasa-basi.
"Pergilah dari kehidupan aku hari ini juga!" Laura berkata dengan nada dingin.
Keenan menoleh sejenak lalu mematikan kompor, mengangkat masakan yang dibuatnya kemudian ia hidangkan di meja.
"Kyu-ri!"
Keenan kembali menoleh lalu ia berjalan menghampiri wanita itu. "Kamu ingin aku kembali ke Kerajaan Kyu-Sa seperti permintaan ibuku?"
"Ya," jawabnya dingin.
"Aku tidak bisa," Keenan menolaknya.
"Kau ingin aku mati di tangan keluargamu," menatap penuh kebencian.
Keenan menggeleng kepalanya pelan, "Tidak, Laura. Aku tak ingin kamu terluka!"
"Jauhi aku!" Ucapnya lantang.
"Baiklah, aku akan menjauhimu tapi ku tak bisa kembali ke sana." Berkata dengan tenang.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak memiliki kekuatan lagi dan ku kini menjadi manusia."
"Aku tidak peduli kau menjadi manusia atau tidak, tapi jangan pernah muncul dihadapan ku lagi. Pergilah dari kehidupan ku selamanya!" Laura membalikkan badannya berjalan ke arah pintu keluar.
Keenan merasakan jika Laura dalam bahaya ia menyusulnya.
Laura melangkah dengan cepat meninggalkan apartemennya.
"Laura, tunggu!"
Laura tak menghiraukannya, ia makin cepat berjalan ke parkirannya.
"Laura, dengarkan aku!" mohonnya.
Wanita itu membuka pintu mobil namun dengan cepat Keenan memegang tangannya.
Laura menggeser tangan Keenan dari punggung tangannya.
"Aku ikut!"
"Kau mau ikut aku ke rumah?"
"Aku akan mengantarmu pulang," jawab Keenan.
"Ini sudah malam, kau mau pakai apa kembali ke sini?"
"Itu urusan belakangan, yang penting aku akan tetap ikut kamu!"
Laura mendorong tubuh Keenan menjauh dari mobilnya, "Jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" bergegas masuk.
Laura menyalakan mesin mobilnya dan berlalu.
Keenan kemudian berlari mengejar mobil dikendarai wanita itu, meskipun hujan mulai turun dan kilat menyambar.
Laura melihat dari kaca spion jika Keenan mengejarnya, ia tetap tidak peduli. Ia semakin menambah kecepatan kendaraannya.
Keenan yang tak lelah terus mengejar.
Hingga akhirnya, Laura mengerem mendadak karena mobilnya dihalangi sebuah mobil berwarna hitam.
Ada 4 orang pria yang turun dari kendaraan tersebut dan mengetuk kaca mobil. Laura yang ketakutan menelan saliva, tangannya gemetaran.
Keenan berhenti ketika melihat dari kejauhan mobil yang dikendarai Laura di hadang 4 orang pria.
Keenan semakin berlari cepat. Sesampainya ia berkata, "Jangan ganggu dia!"
Empat pria menoleh ke arah Keenan.
"Lebih baik pulang dan tidur. Jangan mengganggu urusan kami!" ucap salah satu pria.
"Aku tidak akan pulang sebelum kalian melepaskan dia!"
Keempat pria saling pandang dan tersenyum menyeringai, mereka mulai menghajar Keenan secara bergantian.
Awal pertarungan, Keenan berhasil melawan namun ketika pertengahan ia mulai kelelahan. Kekuatannya sama sekali tidak bisa ia gunakan.
Tendangan di perut, membuat Keenan tersungkur.
Salah satu pria menarik kerah baju Keenan dan kembali melayangkan pukulan di wajah.
Keenan jatuh di aspal dan sangat lemah.
Laura yang khawatir dengan kondisi Keenan, keluar dari mobilnya. Berlari menghampirinya dan mencoba membantunya berdiri.
Salah satu pria menarik tangan Laura menjauh dari Keenan.
"Bawa dia ke mobil!" perintah pria yang lainnya.
"Lepaskan aku!" ucap Laura lantang dan menahan kakinya agar tak melangkah.
Salah satu pria menampar wajah Laura hingga bibir wanita itu berdarah.
Keenan yang tak senang Laura di sakiti, berusaha bangkit dan berjalan dengan tertatih-tatih.
Dua orang pria sudah menunggu di mobil, seorang lagi masih menyeret Laura. Sementara satu orang lagi berjalan di belakang wanita itu.
Keenan menarik bahu pria yang ada di belakang Laura lalu memukul wajahnya dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Pria itu terhuyung dan jatuh.
Laura dan pria yang memegang tangannya menoleh, secepat mungkin Keenan menghajar rahang wajah pria itu membuat genggamannya terlepas.
Laura dengan cepat menarik tubuh Keenan membawanya ke arah mobilnya.
Dua orang pria yang berada di dalam mobil turun lalu menarik tangan Laura agar ikut mereka.
Angin bertiup kencang, menghempaskan kedua pria itu.
Keenan dan Laura menutup pandangannya dengan lengan tangan.
"Cepatlah pergi, Kak!" sayup-sayup terdengar di telinganya.
"Laura, cepat naik mobil!" titah Keenan.
Dengan cepat Laura membuka pintu, keduanya pun pergi dari tempat itu.
Ia menyentuh wajah pria itu. "Kenapa kau melakukan ini?"
"Aku tidak ingin kamu terluka."
"Kau yang akhirnya terluka karena menolongku."
Keenan terdiam.
"Jika tidak punya kekuatan, tak usah membantuku!"
"Aku tidak tega, Laura."
"Kau bisa berteriak, meminta tolong warga agar membantumu menolongku!"
"Aku tidak sempat berpikir karena begitu mengkhawatirkanmu."
"Kita akan ke rumah sakit mengobati lukamu," ujar Laura.
"Tidak, kita kembali ke apartemen saja!"
"Jarak ke apartemen cukup jauh, jadi kau ke rumahku saja."
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?"
"Mereka lagi di luar kota," jawab Laura menyalakan mesin mobilnya.
"Kembali saja ke apartemen!"
"Tidak bisa."
"Aku tadi memasak dan belum sempat membereskan dapur," ucap Keenan.
Laura menghela nafas, akhirnya ia memutar haluan menuju apartemen miliknya.
Begitu sampai, Laura mengobati luka di wajah Keenan.
Pria itu tak hentinya menatap wajah Laura.
"Pulanglah pada orang tuamu!"
"Aku tidak bisa meninggalkanmu."
"Sebelum kita bertemu, aku tetap baik-baik saja."
"Apa aku menjadi beban untukmu?"
Laura terdiam.
"Aku mencintaimu, Laura."
Laura menatap Keenan sejenak lalu membuang wajahnya. Ia lantas berdiri menghilangkan rasa kegugupannya. "Aku lapar, ayo kita makan!" berjalan ke arah meja.
Keenan berdiri ia menyusul Laura ke ruang dapur sekaligus makan.
Menarik kursi keduanya saling berhadapan.
"Apa stok bahan makanan masih banyak?" tanya Laura.
"Masih, aku baru saja berbelanja."
"Belanja? Aku akan mengganti uangmu," ujar Laura.
"Tidak perlu, aku harus membiayai hidupku sendiri," ucap Keenan.
"Ya," Laura tersenyum.
"Apa kamu mengenal para pria tadi?
"Tidak."
"Apa kamu pernah menolak cinta seorang pria?"
Laura diam dan berpikir tak lama kemudian ia menjawab, "Pernah!"
"Siapa?"
"Hampir semua pria aku tolak lamarannya," jawab Laura sambil mengunyah makanannya.
"Pria terakhir?"
"Delon."
Keenan mengepalkan tangannya.
"Kami sempat cekcok," ujar Laura.
"Apa kamu akan dijodohkan dengannya?"
"Dari mana kau tahu?"
"Aku bukan kalangan kalian, jadi ku tahu," jawab Keenan.
"Aku lupa, tapi aku tidak bisa mencintai selain manusia," ucap Laura.
"Jadi, kamu membenciku?"
"Tidak, aku ingin kita menjadi sahabat. Dan aku mohon ketika aku menemukan pria yang benar-benar membuat hatiku mencintainya jangan mengusiknya."
Keenan tak segera mengiyakan.
"Dunia kita berbeda, Keenan. Jangan berharap apapun dariku," ucap Laura.
Sementara itu, Kyu-na yang sedang menikmati buah di negerinya dihampiri ibunya.
"Kamu menolong mereka?"
"Ya, Bu."
"Kenapa kamu membantunya?"
"Kak Kyu-ri tidak memiliki kekuatan dan dia membutuhkan pertolongan. Apa salahnya membantunya?"
"Kamu sudah melanggar aturan kerajaan Kyu-na!" Kyi-mi marah.
"Aku tidak peduli dengan aturan kerajaan, Bu. Kak Kyu-ri dalam bahaya, apa Ibu tidak memiliki hati nurani?"
"Wanita itu sudah membenci putraku, itu artinya Kyu-ri menjadi manusia. Aku ingin dia kembali di sini!"
"Kak Kyu-ri sangat mencintai wanita itu, Bu. Kalian harus bekerja keras lagi agar dia kembali ke sini. Kalau aku jadi Ibu, ku akan membiarkan Kak Kyu-ri menjadi manusia dan mencari kebahagiaannya sendiri!"
Kyi-mi terdiam mendengar ucapan putrinya.