
Kya-ri berlari-lari mengeliling istana dengan beberapa pelayan, ia begitu bahagia dan senang apalagi Bibi Kyu-na turut bermain dengannya.
Ya, hari ini adalah pesta pernikahan Kyu-na. Semua penduduk negeri Kyu-Sha tampak sibuk.
Kya-ri mencari keberadaan nenek dan kakeknya. "Kenapa dari tadi aku tidak melihat mereka?" tanyanya membatin.
Penasaran ia pun pergi ke ujung istana. Dari jauh Kya-ri memandang kakek dan neneknya tertawa melihat tingkah laku bayi perempuan yang tampak menggemaskan bagi kedua orang itu.
Kya-ri yang merasa perhatiannya di rebut menjadi kesal.
Ketika kakek dan neneknya berbalik arah ke istana, Kya-ri bersembunyi di sebatang pohon raksasa.
Kyu-ma menghentikan langkahnya di pohon besar tersebut. "Aku merasa kita sedang diawasi."
"Aku juga, suamiku!" Kyi-mi menimpali.
"Kya-ri keluarlah!" ucap Kyu-ma lembut.
Balita itu perlahan menampakkan diri dengan pandangan tertunduk.
"Kenapa kamu sampai di sini? Bukankah ini cukup jauh?" tanya Kyi-mi.
Kya-ri hanya diam.
"Nenek kamu sedang bertanya, maka jawablah," ucap Kyu-ma.
Kya-ri mendongakkan wajahnya, "Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa, ayo pulang!" Kyu-ma menjawab dengan cepat lalu menggendongnya.
Kya-ri tetap diam.
-
Di tengah kemeriahan pesta pernikahan Kyu-na, balita itu pergi ke bumi. Tentunya dengan bantuan sang ibu.
Kya-ri melihat Lyla seorang diri sedang bermain dengan aneka mainan khusus bayi. Ia melangkah mendekatinya, menghilangkan mainannya.
Sontak Lyla, menangis karena mainannya tiba-tiba menghilang.
Kya-ri senang melihat bayi itu menangis, ia mengarahkan jemarinya ke kursi dan melemparkan bantal kursi ke arah Lyla yang lagi duduk tersungkur.
Kya-ri tertawa senang, "Hai, kecil aku sangat puas bisa mengganggumu hari ini!"
Lyla menjerit kesakitan karena keningnya memar.
Mendengar suara tangis putrinya, Laura yang sedang memasak berlari menghampirinya.
Kya-ri dengan cepat menghilang.
Laura meraih tubuh putrinya dan menggendongnya, Lyla menunjuk ke arah bantal.
"Kamu mau apa dengan bantal itu? Kamu mau manjat?"
Lyla terdiam lalu menangis.
Laura mendadak panik karena melihat kening putrinya memar.
Sambil menggendong, Laura mencari salep pereda nyeri lalu dioleskan ke kening Lyla.
Kya-ri kembali ke Kerajaan Kyu-Sa menghampiri ibunya lalu duduk dipangkuan wanita itu.
"Apa kamu sudah senang?"
"Sudah, Bu. Sepertinya sangat menyenangkan mengganggunya," jawab Kya-ri.
Apa yang telah dilakukan Kya-ri kepada Lyla tidak ada satupun yang tahu.
**********
Di bumi....
Tujuh tahun kemudian....
Lyla sedang berusaha mengambil buku yang terletak di rak paling atas menggunakan kursi.
Lyla berjinjit namun tiba-tiba tiupan angin membuat tubuhnya goyah dan jatuh. Gadis kecil itu meringis kesakitan sembari memegangi lututnya.
Kya-ri tergelak melihat Lyla terluka.
Gadis kecil itu berdiri memegang rak, ia merasa heran di ruangan tertutup tapi ada angin. Namun, hal itu tidak membuatnya berhenti berusaha untuk menggapai buku incarannya.
Lyla berusaha berdiri dan memanjatnya menggunakan kursi. Kali ini ia berhasil mendapatkannya.
Lalu di mana Kya-ri?
Anak laki-laki itu sudah menghilang karena merasa nenek dan kakeknya sedang mengawasinya dengan cepat ia kembali ke istana.
Lyla membawa bukunya ke ruang kelasnya dengan lutut terluka.
"Kenapa dengan kakimu?" tanya Anika.
"Aku tadi terjatuh," jawabnya.
"Ayo kita ke ruang UKS!"
Lyla mengangguk.
Dokter yang di ruang kecil itu mengobati lutut Lyla.
"Lain kali kamu hati-hati," ujar Dokter sekolah.
"Ya, Dok."
Lyla kembali ke kelas bersama Anika.
Di dalam ruangan belajar, Kya-ri muncul lagi ia duduk di sebelah Lyla. Dengan sengaja bocah laki-laki itu, menyembunyikan alat tulis gadis itu.
Lyla tampak kebingungan, dia memeriksa tasnya kembali dan menoleh ke kanan dan kirinya. "Di mana kotak alat tulisku?" batinnya.
Kya-ri menarik sudut bibirnya.
"Lyla, cepat kerjakan tugasmu!" ucap seorang guru wanita.
"Sepertinya alat tulis saya ketinggalan, Bu."
"Ketinggalan di sebelah tangan kanan kamu apa?"
Lyla gegas menoleh dan benar saja kotak alat tulisnya ada di sebelahnya. "Maaf, Bu."
"Masih kecil saja kamu sudah pelupa!"
Ucapan sang guru membuat siswa yang lainnya tertawa.
Lyla menundukkan wajahnya.
"Sudah, sudah, lanjutkan tugas kalian!"
"Ya, Bu!" ucap siswa serempak.
Lyla berjalan ke arah pagar, karena ia tahu jika pembatas sekolah itu akan ditutup.
Dengan berjalan kaki ia berharap sampai di rumah. Karena kelelahan, Lyla duduk di sisi trotoar sembari memainkan ranting pohon yang jatuh di pinggir jalan.
Kya-ri merubah wujudnya menjadi manusia, ia berdiri di hadapan Lyla.
Gadis itu mendongak dan berjengit kaget.
Kya-ri tersenyum.
"Siapa kamu?" tanya Lyla membalas senyumnya.
Kya-ri tiba-tiba menampilkan wujud aslinya.
Lyla menjerit ketakutan dengan menutup matanya, lengan kanannya disentuh seseorang membuatnya semakin histeris.
"Lyla, ini Papa!"
Gadis itu membuka matanya lalu memeluk Keenan.
"Apa yang terjadi?" mengelus rambut putrinya.
"Ada sosok aneh, Pa. Wajahnya sangat seram," jawab Lyla.
"Kamu ceritakan di rumah saja," membantu putrinya berdiri dan berjalan ke mobil.
-
Begitu sampai rumah, Lyla berlari dan memeluk Laura. "Mama!" tangisnya kembali pecah.
"Ada apa?" Wanita itu tampak panik dan khawatir.
"Katanya dia melihat seorang bocah laki-laki yang begitu sangat menyeramkan dengan wajah merah," tutur Keenan menjelaskan, karena selama di perjalanan menuju rumah putrinya bercerita.
"Sayang, kamu pergilah ke kamar. Tenangkan dirimu," Laura membelai rambut putrinya.
"Aku takut, Ma."
"Ayo Mama temani ke kamar," ucap Laura.
"Aku tidak mau, Ma. Aku tak mau sendirian, aku sangat takut," Lyla terus menangis.
"Mama dan Papa akan temani kamu," ujar Laura.
-
Malam harinya setelah Lyla sudah terlelap tidur, Laura dan Keenan saling mengobrol mengenai kejadian yang dialami putrinya.
"Apa mereka yang datang adalah keluargamu?"
"Jika mereka datang tidak mungkin membuat Lyla ketakutan," jawab Keenan.
"Lalu siapa bocah laki-laki yang tampak menyeramkan itu?"
"Aku juga tidak tahu."
"Apa itu putra Kyi-Sha dan Kyu-ta?" Laura mencoba menebak.
"Tidak mungkin, Kyi-Sha tinggal di Goa dan penjagaan cukup ketat. Mana mungkin seusia putra mereka bisa menembus ke bumi dengan bantuan siapa dia ke sini," ujar Keenan.
"Siapa tahu dari ibunya?" tebak Laura lagi.
"Entahlah," jawab Keenan. "Jika kedua orang tuaku datang berkunjung, aku akan bertanya," lanjutnya berucap.
"Ya, kamu memang harus bertanya. Aku takut jika Lyla disakiti," ucap Laura.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti putriku," Keenan menggenggam tangan istrinya.
*
Di Kerajaan Kyu-Sa...
Kya-ri tersenyum-senyum mengingat ulahnya membuat Lyla ketakutan. Hal itu membuat dia begitu sangat bahagia.
"Aku akan membuatmu lebih menderita gadis kecil!" gumamnya.
"Kya-ri!" teriak Kyu-ta memanggil.
Bocah laki-laki itu berlari menghampirinya. "Ada apa, Yah?"
Kyu-ta menarik tangan putranya secara kasar.
Kyi-Sha yang melihat putranya ditarik suaminya mendekatinya. "Apa yang ingin kamu lakukan padanya?"
"Dia harus dihukum!" Kyu-ta tetap menarik putranya keluar dari Goa menuju istana.
Sesampainya, Kyu-ta menerima cambuk dari salah satu pengawalnya.
Kyi-Sha merasa putranya dalam bahaya, berlari dan mendekapnya. "Jangan hukum dia!" mohonnya.
"Dia harus dihukum!" ucap Kyu-ta lantang.
"Apa kesalahannya?" tanya Kyi-Sha.
"Dia sudah berani ke bumi dan membuat putri Kyu-ri ketakutan karena melihat wujudnya," jawabnya.
Kyi-Sha begitu kaget mendengarnya, karena dialah yang mengizinkan putranya ke bumi dengan menggunakan kekuatannya.
"Aku tahu kau ikut andil dalam hal ini!" tuding Kyu-ta.
"Ya, aku yang memudahkan putraku ke bumi. Maka hukumlah aku!"
"Singkirkan dia dari putranya!" titah Kyu-ma.
Beberapa pengawal menarik Kyi-Sha menjauh dari Kya-ri.
Kyu-ta mengarahkan cambuk ke tubuh putranya berulang kali namun bocah laki-laki itu hanya meringis perih.
"Jangan hukum dia!" teriak Kyi-Sha memohon.
"Kenapa kamu ke bumi?" tanya Kyu-ta marah.
"Aku penasaran dengan gadis kecil yang membuat kakek dan nenek tertawa," ujar Kya-ri.
Kyu-ta menghentikan cambukannya.
Kyu-ma dan Kyi-mi saling pandang.
Kya-ri berlutut, "Aku membenci gadis itu, dari ia lahir kalian selalu menomorsatukannya. Meski hanya melihat dari kejauhan, tapi ku rasa nenek, kakek dan seluruh penghuni istana ini begitu menyayanginya," ungkapnya menahan perih di bongkongnya.
"Lalu aku membantunya untuk menghilangkan rasa penasarannya itu!" sahut Kyi-Sha.
"Apa kamu tahu jika itu melanggar peraturan?" tanya Kyi-mi.
"Aku tidak bisa melihatnya menangis karena cucu kesayangan kalian itu!" jawab Kyi-Sha.
Kyu-ma yang mendengarnya merasa bersalah, ia terduduk sembari memijit pelipisnya.