Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Laura Menjadi Sasaran



Laura mengerjapkan matanya, ia terbangun dengan tubuh sudah di ranjang kamarnya.


Keenan datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Minumlah!" menyodorkannya.


Laura menyeruputnya lalu meletakkannya di atas nakas.


"Tadi, aku melihat kamu pingsan," ucap Keenan.


"Aku tadi benar-benar takut, Keenan. Ruangan gelap, penuh asap membuatku tersedak dan batuk. Ini bukan yang pertama kalinya," ungkap Laura.


"Maaf, aku tadi tidak berada di dekatmu," ucap Keenan.


Laura memegang punggung tangan Keenan. "Jangan tinggalkan aku!"


"Tenanglah, aku janji selalu ada untukmu!"


Laura mengangguk.


*


Sementara itu di lain tempat, tepatnya di dunia asli Keenan.


"Kenapa kalian gagal lagi membawa dia pulang?" bentak Raja Kyu-ma, merupakan ayah dari Keenan.


"Maafkan kami, Raja!" ucap salah satu pengawal.


"Kalian hanya menangkap dia saja tapi tak bisa, pakai kekuatan untuk menaklukannya!"


"Kekuatan Tuan Kyu-ri sangat tinggi, Tuan."


"Cari cara lain untuk membawa dia ke sini!"


"Hanya ada satu cara, Tuan."


"Apa?"


"Kita harus menjadikan wanita yang bersama dengan Tuan Kyu-ri sebagai sandera," usul Ma-tha pemimpin pengawal raja.


"Kalian ingin menculiknya?"


"Jika wanita itu terluka pasti Tuan Kyu-ri akan membantunya," jawab Ma-tha.


"Jelas dia akan menolongnya karena wanita itu yang pertama kali menemukan Kyu-ri," ujar Kyu-ma.


"Setelah berhasil membuat wanita itu terluka, kita akan memberikan ancaman kepada Tuan Kyu-ri," jelas Ma-tha lagi.


"Kalian tidak perlu repot-repot mengancam atau menyakiti wanita itu!" Kyi-mi memotong pembicaraan antara suaminya dan kepala pengawal.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, istriku?"


"Jika wanita itu jatuh cinta kepada putra kita, maka Kyu-ri akan kembali ke sini."


"Jika tidak?" tanya Kyu-ma.


"Kyu-ri akan menjadi manusia."


"Berarti kita harus mendekatkan mereka berdua," ucap Kyu-ma.


"Jika mereka saling mencintai, Kyu-ri akan kembali ke sini!" jelas Kyi-ma.


Kyi-Sha mendengar percakapan mertuanya dengan pengawal. "Kenapa aku cemburu?"


Kyi-Sha lantas pergi ke kamarnya. Di dalam ruangan itu ia kembali bermonolog dalam hati. "Aku tak boleh membiarkan Kyu-ri mencintai wanita itu atau sebaliknya. Karena tak ada yang bisa memiliki Kyu-ri selain aku. Ku akan membuat mereka saling membenci biar tak bersama meskipun Kyu-ri menjadi manusia!"


Pintu terbuka, suaminya datang. "Apa yang sedang kamu pikirkan wahai istriku?"


"Aku hanya memikirkan Kyu-ri, suamiku."


"Kenapa dengan Kyu-ri?"


"Ayah dan Ibu bersikeras agar ia kembali ke sini!"


"Biarkan saja di bumi, jika dia di sana maka tahta kerajaan akan jatuh di tanganku!" Kyu-ta tersenyum jahat.


"Aku hanya menyukai dan mencintai adikmu meskipun aku tak bisa memilikinya, jangan harap ada manusia yang mengharapkannya!" batin Kyi-Sha.


***


Di apartemen....


"Pagi, Keenan!" sapa Laura.


Keenan tak menjawab.


"Keenan, nanti malam aku tidak tidur di sini. Kau tak masalah aku tinggal, kan?"


"Tidak!"


"Baguslah kalau begitu!" Laura memakan sepotong roti dengan isian selai nanas.


Keenan menikmati sarapan dengan diam.


Suara bel berbunyi membuat Laura menghentikan aktivitas sarapannya. "Biar aku saja yang buka!" ia mendorong mundur kursinya.


Laura berjalan ke arah pintu, begitu dibuka ia tampak terkejut, "Mama!"


Dita menerobos masuk ke dalam apartemen putrinya, ia berjalan ke arah dapur karena mendengar suara.


"Ma, aku sudah bilang kalau nanti malam aku tidur di rumah," ujar Laura.


"Jadi dia, pria yang membuatmu betah di sini!" Mama Dita menuding.


"Ma, jangan memarahinya. Aku yang sudah membawanya ke sini karena ku tak tahu di mana tempat tinggalnya," jelas Laura.


"Kenapa kamu percaya dengan orang asing? Kamu tidak tahu apakah dia pura-pura atau jujur?"


"Ma, aku yakin dia orang yang jujur," jawab Laura.


"Mama bingung dengan cara berpikirmu, semua orang kamu anggap baik tapi mereka selalu jahat padamu," ucap Mama Dita.


"Ma, aku percaya Keenan orang yang baik," Laura bicara penuh yakin.


"Baiklah, jika kamu memang percaya padanya jangan sampai dia seperti Mario dan Aulia!" ucap Mama Dita.


"Ma, aku yakin Keenan adalah orang yang baik dan tulus tidak seperti dua orang itu!"


"Tapi, Mama tak suka dia berada di sini. Dekat denganmu dan kalian satu tempat tinggal," ujar Mama Dita.


"Aku akan menyewa tempat tinggal untuknya," janji Laura.


"Memang seharusnya kalian tinggal berpisah dan ingat satu lagi, Mama tak mau kamu memiliki perasaan dengan pria ini," ucap Dita melirik Keenan.


"Iya, Ma. Aku janji!"


Mama Dita pun pergi dari apartemen putrinya.


Laura melihat ke arah Keenan yang terlihat santai, pria itu kembali duduk dan melanjutkan sarapannya.


Laura pun berkata, "Dia ibu kandungku, maafkan jika ucapannya menyinggungmu!"


Keenan tak merespon.


"Apa kau marah?" Laura mendekati pria itu.


Keenan sama sekali tak menoleh.


"Keenan, aku tahu kau pasti tersinggung dengan ucapan mama. Tapi, dia berkata begitu karena begitu khawatir padaku. Dia tak mau aku terluka atau tersakiti," jelas Laura.


Pria itu tetap cuek.


"Keenan!" panggilnya dengan nada tinggi.


Keenan pun mendongakkan sedikit wajahnya dan menatap wanita yang ada dihadapannya.


"Apa kau mendengar penjelasan ku?"


"Ya."


"Tapi, kenapa kau hanya diam?"


"Aku harus melakukan apa, di sini ku hanya menumpang."


"Bu.. bukan begitu, kau boleh tinggal di sini. Aku akan kembali ke rumah orang tuaku. Ku harap kau bisa menjaga dan merawat apartemen ini."


"Aku tidak mau tinggal sendiri," ucap Keenan.


"Kita tidak bisa terus bersama, Keenan." Laura menjelaskan.


"Jika kamu jauh, aku tidak bisa menjaga dan melindungimu," ujarnya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."


"Kamu memang lagi dalam bahaya, Laura!"


Wanita itu tertawa.


"Aku serius!" menatap tajam.


"Iya, aku tahu kau begitu mengkhawatirkanku. Tapi, kau bukan suamiku kecuali kita menikah," ujar Laura.


"Aku tidak bisa menikahimu!"


"Dan itu jadi masalahnya kedua orang tuaku tak mau putrinya tinggal serumah dengan pria yang bukan suaminya. Mama Dita pun takkan setuju kita menikah karena tidak tahu asal-usul dirimu!"


"Ada perbedaan yang membuat kita tak bisa menikah," ujar Keenan.


"Apa itu?"


"Aku tidak bisa memberitahumu!"


"Keenan, aku jadi penasaran. Apa perbedaan kita? Apa kau sudah menikah?"


Keenan menggeleng.


"Apa kau bukan manusia?"


Keenan menatap tajam dengan mata berwarna merah menyala membuat Laura memundurkan tubuhnya.


"Kenapa matamu mengeluarkan sinar? Siapa kau sebenarnya?" tampak ketakutan.


Keenan dengan cepat memegang tangan Laura dan wanita itu pingsan.


Beberapa menit kemudian, keduanya kini berada di dalam mobil. Keenan mengambil alih menyetir.


Laura terbangun dengan memegang kepalanya. Ia duduk lalu melihat ke samping. "Apa aku tadi tertidur?"


"Ya, sepertinya semalam kau tak bisa tidur dengan nyenyak," ujar Keenan.


"Mungkin," ucap Laura yang tak tahu kejadian saat ia dan Keenan sedikit berdebat sehingga pria itu hampir menunjukkan wajah aslinya.