
Zen berlari menghampiri Lyla yang baru saja keluar dari kelasnya dengan pakaian basah kuyup. Pemuda itu melemparkan senyumnya hingga membuat para gadis mencuri-curi pandang.
"Ayo pulang!" ajak Lyla.
Keduanya berjalan beriringan, namun tak ada obrolan sama sekali.
Di tengah perjalanan, ponsel Lyla berdering dan gadis gegas menjawabnya.
Lyla menelepon sambil berjalan kaki tanpa ia sadari seorang pria menyambar telepon genggamnya.
Lyla reflek berteriak karena terkejut.
Zen yang sadar, berlari mengejar pria itu. Tak sampai semenit, Zen berhasil menarik kerah baju pencuri tersebut.
Pria itu terjatuh dengan cepat Zen mencekiknya dan matanya memerah.
Pencuri itu berteriak, "Ampun, Tuan. Maafkan saya!" Menutup matanya karena ketakutan.
Zen melepaskan cengkeramannya lalu mengambil ponsel Lyla dari tangan pencuri dengan cepat pria itu bangkit dan berlari.
Lyla mendekati Zen dengan nafas ngos-ngosan.
Zen menyodorkan ponselnya.
Lyla meraihnya, "Terima kasih."
"Ya."
-
-
Malam pun tiba, Lyla mengajak Zen makan bersama karena kedua orang tuanya terlambat pulang.
Keduanya duduk saling berhadapan.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
Zen menghentikan suapannya.
"Siapakah papaku?"
"Paman Keenan seorang manusia yang baik."
"Kenapa kalian saling mengenal?"
"Aku tidak bisa memberitahumu."
"Katakan saja, Zen."
"Tidak bisa, Lyla."
"Kamu pernah mengatakan jika papaku adalah bangsamu."
"Lyla, aku sangat mengantuk." Zen mengakhiri makan malamnya dan pergi ke kamarnya.
Lyla menyusul langkah pemuda itu. "Zen, tunggu!"
Zen menoleh, "Ada apa?"
"Zen, kamu sebenarnya siapa?"
"Aku bukan manusia dan aku sedang dihukum," jawab Zen.
"Kenapa kamu harus di bumi ini dan menyerangku waktu itu?"
"Aku tidak bisa memberitahu alasannya." Zen melanjutkan langkahnya.
Lyla menarik lengan tangan Zen. "Aku butuh jawabanmu sekarang juga!"
Zen menurunkan tangannya Lyla. "Maaf!"
Lyla yang penasaran, melangkah cepat dan menghalangi jalan Zen dengan posisi gadis itu di depan. "Cepat katakan!"
"Aku tidak bisa memberitahumu dan sudah berjanji kepada Paman Keenan." Zen melewati tubuh Lyla dengan memasuki kamarnya.
Lyla menatap pintu kamar Zen sembari berdecak kesal.
******
Sarapan pagi Lyla pun kembali bertanya perihal tentang papanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian," ucap Lyla membuat orang yang berada di meja makan mengalihkan perhatiannya kepadanya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Nak?" tanya Keenan.
"Siapa papa sebenarnya?"
Ketiganya tampak terkejut.
"Kenapa kamu bertanya itu, sayang?" tanya Laura.
"Aku heran saja, Zen bukan manusia tapi mengenal papa. Sebenarnya ada hubungan apa kalian berdua?" tanya Lyla.
Laura menggerakkan kepalanya menatap suaminya, mengisyaratkan untuk tidak memberitahu.
"Pa, tolong jawab!" pinta Lyla.
"Baiklah, papa akan bicara," ujar Keenan.
"Tidak, Keenan. Jangan katakan apapun kepada putri kita!" larang Laura.
"Memangnya kenapa, Ma?"
"Kita harus memberitahunya, Laura."
"Ya, kalian harus memberitahu ku agar tidak penasaran," ujar Lyla.
"Papa bukan dari kalangan manusia," Keenan akhirnya mengaku.
"A..apa!" Lyla tampak terkejut.
"Ya, papa sama seperti Zen cuma sekarang benar-benar menjadi manusia karena kami memang tidak boleh menikah dengan orang-orang di bumi," jelas Keenan.
"Jadi, aku bukan manusia?" tanya Lyla terbata.
"Kamu tetap manusia seperti mama," ujar Laura.
Lyla memundurkan kursinya, "Kenapa kalian tidak memberitahu aku tentang ini?" bertanya dengan nada tinggi.
"Pantas saja dia menyerangku, ternyata ada hubungannya dengan papa. Setelah ini apa yang akan terjadi jika dia berada di sini?"
Zen hanya diam.
"Tidak akan ada terjadi apapun, Lyla. Dia hanya beberapa bulan di sini karena dihukum," jelas Keenan.
"Kalian yakin dia takkan menyerangku?" tanya Lyla.
"Aku janji tidak akan menyerangmu," jawab Zen dengan cepat. "Ku bahkan ingin segera kembali ke kerajaan, hanya kamu yang bisa membantuku!" lanjutnya.
Lyla lantas diam.
"Benar, Nak. Semua akan berjalan seperti biasanya, Zen kembali ke sana dan kamu tetap bersama kami,"Laura ikut menjelaskan.
Selesai sarapan, Zen mengikuti Lyla ke sekolah karena telah mendapatkan izin dari Keenan dan Laura.
Menaiki bus, Lyla dan Zen terpaksa harus berdiri karena penumpang yang ramai.
Lyla yang pandangannya ke arah jalanan tanpa sadar jika ada seseorang yang berusaha mengambil sesuatu dari tas miliknya.
Zen yang mengetahuinya dengan cepat memegang tangan pria itu dan meremasnya kuat.
Seketika pria pencuri meringis kesakitan, ia menahan suaranya agar tidak berteriak.
Zen melepaskan tangan pria yang hampir mengacak isi tas Lyla.
Pria pencuri gegas menarik tangannya dan meminta sopir untuk meminggirkan busnya. Melesat pria itu turun sembari memegang tangannya yang sakit.
Zen menarik sudut bibirnya, melihat dari jauh pencuri itu.
Sepuluh menit kemudian, keduanya tidak di kampus tempat Lyla menimba ilmu di bidang kesenian.
Zen mengikuti gadis itu di belakang, dia menunggu di taman sekolah. Tatapan tak suka dari teman pria Lyla mengarah padanya.
Zen tak mau ambil pusing selama mereka tidak menyentuh fisiknya.
Ketika pulang sekolah, Lyla menghampiri Zen yang sudah menunggunya hampir 2 jam. "Buat kamu?"
Zen melihat 6 buah kue dalam wadah mika plastik yang diberikan Lyla, sambil tersenyum ia menerimanya.
"Makanlah dahulu sebelum kita pulang ke rumah?" Lyla duduk di sebelah pemuda itu.
Dengan hitungan 5 menit, Zen menghabiskannya.
Lyla menatap heran, "Aku pikir setelah jadi manusia, cara makanmu akan berbeda ternyata tetap sama!"
"Ini terlalu lama biasanya aku akan menghabiskannya dalam waktu satu menit," ungkapnya.
"Kenapa ketika kamu di rumah bisa bersikap normal?" menatap Zen.
"Karena aku tidak ingin ditegur Paman Keenan dan Bibi Laura."
Lyla tersenyum kecil.
"Aku sudah selesai makannya, ayo kita pulang!"
"Temani aku ke toko buku!" ajaknya.
"Baiklah," ujar Zen semangat.
Keduanya berjalan ke toko buku yang memang tidak jauh dari sekolah.
"Lyla!"
Keduanya menoleh ke belakang.
Christ dengan nafas terengah-engah, "Kamu mau ke mana?"
"Mau ke toko buku," jawab Lyla.
"Aku boleh ikut?"
"Boleh," jawab Lyla.
"Terima kasih," Christ tersenyum senang.
Zen tak suka ada pria yang mendekati Lyla.
Christ memperhatikan pemuda yang ada di sebelah calon kekasihnya. "Dia siapa?"
"Dia sepupuku namanya Zen, Christ."
"Oh."
Begitu di toko buku, Lyla lebih sering berduaan dengan Christ memilih buku sesekali keduanya saling tertawa.
Zen yang berada tak jauh dari mereka mendengus kesal.
Selesai dari toko buku, ketiganya mampir ke kafe yang menjual minuman dan makanan ringan.
Lagi-lagi Zen harus melihat Lyla dan Christ saling melemparkan pujian dan candaan.
Zen menyandarkan punggungnya di kursi dan bersedekap dada menatap tajam keduanya.
Lyla melihat Zen lain dari biasanya lalu berkata kepada Christ, "Sudah sore, aku harus pulang!"
"Kenapa cepat sekali? Kita belum selesai mengobrol," ujar Christ.
"Lain waktu saja," Lyla berdiri dari tempat duduknya, lalu menarik tangan Zen.
"Lyla..."
"Sampai jumpa, Christ!" Lyla mengakhiri pertemuannya.
Zen memperhatikan tangannya yang digenggam Lyla.
Setelah menjauh dari kafe, Lyla lantas bertanya, "Kenapa kamu menatap kami seperti tadi?"
"Aku tidak suka."
"Kamu ingin berlama-lama di sini?" tanya Lyla.
Zen terdiam ia tak mampu menjawab, harusnya dirinya tak perlu cemburu. Bukankah tujuannya dekat dan melindungi Lyla agar bisa kembali ke Kerajaan Kyu-Sa.
"Zen!" panggil Lyla.
Bukannya mengiyakan atau berucap, Zen malah melangkah lebih dahulu dari gadis itu.