Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
S2 - Ingin Bekerja



"Diamlah di sini, jangan pernah ke mana-mana!" ucap Lyla kepada Zen ketika berada di kamar pemuda itu.


"Aku bosan."


"Kamu ingin kerja?"


Zen mengiyakan.


"Mau kerja apa? Kamu bukan manusia!"


"Jaga kamu!"


Lyla menyipitkan matanya. "Kamu saja pernah hampir mencelakakan aku, kini mau menjagaku. Aku tidak percaya!" menatap sinis.


"Lalu aku kerja apa?"


"Aku tidak tahu, pergilah dari rumah ini!"


"Tidak, aku harus berbuat baik agar hukuman ku segera berakhir."


Lyla tertawa sinis, "Aku tidak yakin, kamu bisa berbuat baik!"


"Terserah kamu saja yang menilainya," ucap Zen.


Setelah obrolan itu, Lyla memilih ke kamarnya ia memainkan ponselnya. Ketika hendak memejamkan mata, suara ketukan pintu terdengar.


"Nona Lyla!" teriak seorang wanita memanggil diiringi dengan gedoran.


Lyla membuka pintu, "Ada apa, Bi?"


"Nona, Tuan Muda itu menghancurkan piring di dapur," jawabnya.


Lyla gegas pergi ke dapur. Matanya membulat melihat Zen memecahkan beberapa piring dan gelas. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan nada tinggi.


Zen tersenyum menyengir.


"Kamu sedang apa?"


"Mencuci piring," jawabnya santai.


"Kamu bukan mencuci piring tapi memecahkannya!" kesal Lyla. Ia lalu menarik tangan Zen, menjauh dari wastafel.


"Aku belum selesai, Lyla."


"Jika kamu berlama-lama di sana yang ada seluruh perabotan makan milik mamaku pecah!"


"Maaf!" lirihnya.


Lyla menghela nafasnya.


"Temani aku!" pintanya.


"Temani ke mana?"


"Ke mana saja yang penting aku tidak bosan!"


"Besok temani aku ke sekolah, tapi kamu harus berjanji tidak akan berbuat rusuh!"


"Baik!"


-


-


Malam pun tiba, Zen begitu semangat menikmati hidangan. Lyla dan kedua orang tuanya hanya saling pandang melihat cara makan yang dilakukan pemuda itu.


"Bisakah kamu makan lebih sopan?" bentak Lyla.


Zen diam lalu menatap Lyla dan kembali menunduk.


Lyla yang kesal dengan tingkah pemuda itu memilih meninggalkan meja makan.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Laura sedikit berteriak.


Lyla tak menjawab.


"Kya-ri, kamu sekarang adalah manusia bersikaplah seperti manusia." Nasehat Keenan.


Zen mengangguk.


"Jangan membuat dia malu karena sikapmu ini," Laura memberikan peringatan.


Zen mengangguk lagi.


****


Keesokan paginya....


Zen berjalan di belakang Lyla yang memilih tak menghiraukannya.


Lyla menghentikan langkahnya ketika tiba di gedung sekolah, ia meminta Zen untuk duduk di bangku yang berada di taman.


"Jangan pernah ke mana-mana, tunggu aku sampai pulang. Apapun terjadi, ku harap kamu tidak pergi!"


Zen mengiyakan.


Lyla lalu melangkah memasuki gedung.


Seluruh mata orang-orang yang lewat tertuju kepada Zen.


"Tampan sekali dia!"


"Apa dia siswa baru?"


"Sepertinya dia bukan orang sini."


"Kenapa dia mirip seorang artis?"


Bisik-bisik para siswa yang melintas berbicara terdengar di telinga Lyla.


Zen, pemuda gagah dengan kulit putih, hidung mancung, bibir tipis dan merah. Matanya berwarna biru. Sehingga banyak yang takjub dengan pesona yang dimilikinya.


Zen duduk sembari mengedarkan pandangannya.


Sementara itu, Lyla yang berada di kelas sedang mengikuti pelajaran.


Langit menjadi gelap, suara petir menggelegar dan hujan turun dengan deras.


Lyla yang lagi fokus belajar, tak peduli dengan Zen yang berada di luar.


Begitu selesai belajar, Lyla keluar kelas hendak ke kantin.


Seorang temannya menghampirinya, "Lyla, bukankah yang duduk di taman itu temanmu?"


"Iya."


"Sungguh kasihan," ucapnya.


Lyla menyipitkan matanya.


"Dia tetap duduk di sana meskipun panas terik dan hujan deras, temanmu itu sungguh aneh!"


Lyla yang mendengarnya, bergegas melihat kondisi Zen dari lantai ruang kelasnya. Lyla menatap iba pemuda itu, "Dia itu sebenarnya bodoh atau bagaimana, sih?" batinnya kesal.


Lyla ke kelasnya, ia mengambil payung yang memang selalu dibawanya apalagi ketika musim penghujan.


Lyla melangkah cepat menghampiri Zen.


Pemuda itu berdiri dan melemparkan senyumnya, "Apa kamu sudah selesai sekolahnya?"


"Kenapa kamu tidak berteduh?" Lyla bukannya menjawab melainkan balik bertanya.


"Aku menuruti kata-katamu tidak boleh ke mana-mana," jawabnya santai.


Lyla menepuk jidatnya. "Aku memang menyuruhmu tidak ke mana-mana, tapi bukan seperti ini tetap diam dan duduk meskipun hujan atau panas. Kamu memang aneh!" ucapnya sedikit berteriak.


"Aku hanya ingin menjadi baik, jadi tak ingin membantahmu!"


"Pergilah ke sana!" Menunjuk ke arah pendopo tempat biasa para siswa duduk sebelum pulang sembari mengunyah makanan ringan.


Zen mengiyakan lalu berlari ke tempat yang ditunjuk Lyla.