
Di Kerajaan Kyu-Sa...
Kyi-mi melamun di taman istana, matanya tampak berair. Ia merutuki dirinya karena kesalahannya melemparkan putranya ke bumi ia akhirnya kehilangan untuk selamanya.
Kyu-ri menjadi membantah juga karena keegoisan dirinya sebagai orang tua.
Kyu-ma mendekati istrinya, menyentuh bahunya. "Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
Kyi-mi mengangguk.
"Apa kamu berhasil?"
Kyi-mi menggelengkan kepalanya.
"Kita harus mengikhlaskan Kyu-ri menjadi manusia," saran Kyu-ma.
"Jika dia menjadi manusia aku tidak bisa berjumpa dengannya lagi," ucap Kyi-mi.
"Kita bisa mengunjunginya sesekali ke bumi, tapi Kyu-ri tidak bisa kemari," ujar Kyu-ma.
"Jika dia bahagia dengan menjadi manusia. Aku ikhlas melepaskannya, Suamiku," ucapnya lirih.
"Kita tidak punya pilihan lagi, jadi biarkan dia bahagia dengan manusia itu," ujar Kyu-ma.
"Ya, Suamiku." Kyi-mi menyentuh punggung tangan Kyu-ma yang pria itu letakkan di bahu kirinya dengan menggunakan tangan kanannya.
Kyi-Sha yang mendengar mertuanya mengizinkan Kyu-ri dan menikah dengan manusia mengepalkan tangannya, ia tak pernah rela mantan kekasihnya itu memiliki hubungan dengan siapapun apalagi manusia.
*
Di bumi...
Kyu-na dan Rhi-kyu melakukan aktivitas seperti manusia pada umumnya. Ya, dia masih bebas berkeliaran di bumi.
"Sepertinya di sini lebih enak," celetuk Rhi-kyu sambil memakan buah anggur di ruang tamu di apartemen milik.
"Iya, pantas saja Kak Kyu-ri betah menjadi manusia," ucap Kyu-na.
"Apa kita izin saja menjadi manusia?"
"Mereka tidak akan mengizinkannya," jawab Kyu-na.
"Kita belum mencobanya," ujar Rhi-kyu.
"Hubungan kita saja belum direstui, kau ingin menjadi manusia. Jangan mikir terlalu jauh," ucap Kyu-na.
Rhi-kyu hanya tersenyum nyengir.
****
Keesokan harinya, Laura menggerakkan tangannya. Tubuhnya mulai merespon, Keenan yang selalu berada di dekat wanita itu tersenyum.
Ia lantas meraih tangan Laura dan menciumnya. "Bangunlah!" ucapnya lembut.
Laura perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandangannya.
"Aku senang, kamu sudah sadar."
"Keenan, apa yang terjadi denganku?" tanyanya lirih.
"Aku akan menceritakannya nanti," jawab Keenan.
Laura mencoba bangun tetapi tubuhnya terasa sakit dan berat. "Aku tidak bisa!" ucapnya pelan.
"Jangan bangkit, kamu belum sepenuhnya pulih," ujar Keenan.
"Apa maksudnya?"
"Lebih baik kamu tetap tenang, sekarang minumlah," Keenan menyodorkan gelas berisi air putih dan sedotan.
Laura menyedot minumannya.
Keenan meletakkan kembali gelas di nakas.
"Keenan, aku ingin duduk," pintanya.
Keenan mengangkat tubuh Laura lalu ia letakkan di kursi. "Bersandarlah!"
Laura duduk bersandar dengan wajah pucat. Keenan keluar sejenak dari kamarnya menuju dapur.
Keenan membawa sepiring buah potong ke kamar, ia duduk berhadapan dengan Laura. Menusuk potongan pepaya lalu ia sodorkan ke mulut wanita itu.
Laura perlahan membuka mulutnya.
"Aku akan membuatkan bubur untukmu," ucap Keenan.
"Sudah berapa hari aku tertidur?"
"Dua hari."
"Kenapa aku merasa baru saja tertidur," ucapnya.
Keenan tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke potongan buah di piring.
"Kyu-ri!" panggilnya lirih.
Keenan lantas mengangkat wajahnya menatap Laura.
"Aku mencintaimu," ucapnya pelan.
Keenan menarik kedua ujung bibirnya.
"Kau tidak ingin meninggalkan aku, kan?"
Keenan menggeleng.
"Aku takut jika kedua orang tuamu datang dan memisahkan kita," ujar Laura.
"Aku janji padamu," Keenan menyakinkan wanita yang ada dihadapannya.
Keenan lantas menggendong tubuh Laura dan membawanya keluar kamar. Wanita itu terkejut ketika melihat ada 2 orang tamu asing.
"Mereka siapa?" tanya Laura ketika dirinya berada di ruang makan.
"Mereka adikku dan kekasihnya."
"A...apa!" Laura terbata, apalagi 2 orang yang ditanyanya mendekat.
"Ya, mereka yang membawaku kembali ke sini," jelas Keenan.
Kyu-na dan Rhi-kyu melempar senyum.
"Kamu tidak perlu takut, mereka takkan menyakitimu," ujar Keenan.
Laura mencoba tersenyum walau hatinya was-was.
Laura menggerakkan dagunya sedikit dan memaksakan tersenyum.
"Mereka hanya tinggal sementara di sini," tutur Keenan.
"Kami hanya mencari restu keluarga saja, setelah itu kami akan kembali ke kerajaan," ungkap Rhi-kyu.
"Iya, Kak. Jangan khawatir, kami tidak akan menggangu hubungan kalian lagi," ucap Kyu-na.
Asap warna-warni kembali muncul, gegas Keenan, Kyu-na dan Rhi-kyu mengelilingi Laura.
Kyu-ma dan Kyi-mi kini berada dihadapan mereka.
Laura yang melihat kehadiran kedua orang tua Keenan sangat ketakutan, ia memeluk tubuh kekasihnya sembari menutup mata.
"Mau apa lagi Ayah dan Ibu kemari?" tanya Keenan dengan nada tinggi.
"Kami ingin menjemput adikmu, Kyu-ri," jawab Kyi-mi.
"Aku tidak mau pulang sebelum kalian merestui hubungan kami," ucap Kyu-na.
"Kami merestui hubungan kalian, Kyu-na." Ucap Kyi-mi menatap putrinya.
Rhi-kyu yang mendengarnya tersenyum.
"Ayo pulang, Nak." Ajak Kyu-ma.
"Kalian tidak akan menyakiti Kak Kyu-ri dan kekasihnya, kan?" tanya Kyu-na.
"Tidak, Nak." Jawab Kyu-ma.
"Bahkan kami dengan rela dan ikhlas mengizinkan Kakakmu menjadi manusia dan menikahi wanita itu," ucap Kyi-mi.
Laura membuka mata ketika mendengar ucapan ibunya Keenan.
Kyu-ma menggerakkan jemarinya ke arah tubuh putranya dari jarak jauh, ia menyeret Keenan menjauh dari ketiga orang tersebut.
Kyu-ma dengan kekuatannya membuat Keenan berteriak kesakitan.
Dari tubuh Keenan keluar asap warna-warni hal itu membuat Laura panik, tubuhnya gemetaran dan meneteskan air matanya.
Tak lama kemudian, tubuh Keenan terjatuh lemas.
"Sekarang kamu bukan putraku di Kerajaan Kyu-Sa, kamu adalah manusia. Berbahagialah, Nak!" ucap Kyu-ma dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan pernah membenci kami, Nak." Kyi-mi berkata dengan bola mata berair.
"Ayah, Ibu, maafkan aku!" lirihnya.
"Kyu-na, Rhi-kyu, ayo pulang!" ajak Kyu-ma.
"Selamat tinggal, Nak." Kyi-mi lebih dahulu menghilang di susul suaminya dan beberapa pengawal.
Kyu-na mendekati kakaknya membantunya berdiri lalu memeluknya. "Jaga dirimu, Kak!"
"Kyu-na, terima kasih!"
"Sama-sama, Kak." Kyu-na tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Selamat tinggal!" Ia pun menghilang.
"Aku pamit, Kak. Selamat tinggal," ucap Rhi-kyu juga menyusul kekasihnya.
Laura berdiri dengan memegang meja, buliran kristal bening mengalir di pipinya. Melangkah pelan ia menghampiri kekasihnya.
Keenan melihat Laura mendekatinya dengan wajah sendu.
Laura memeluk tubuh Keenan dengan terisak, "Maafkan aku!"
Keenan mengeratkan pelukannya, air matanya juga mengalir deras. Ia mengecup puncak kepala kekasihnya.
**********
Dua hari kemudian...
Keenan dan Laura berangkat kerja seperti biasa. Tanpa ragu keduanya saling bergandengan tangan.
Laura memancarkan senyum indah, ia menyapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Keenan dan Laura berpisah di sebuah lorong. Karena ruang kerja mereka berbeda.
Keenan masih bekerja sebagai petugas kebersihan. Ya, dia sekarang menjadi manusia seutuhnya dan dia melakukan pekerjaan secara normal seperti orang-orang.
Keenan juga memiliki usia seperti orang pada umumnya. Kyu-ma menjadikan putranya itu seorang manusia berumur 30 tahun.
"Nanti kita makan siang bersama, ya!" ucap Laura tersenyum.
"Ya," Keenan membalas senyuman kekasihnya.
"Kalau begitu, selamat bekerja!" Laura berjalan ke ruangannya.
Kesya berdiri menyambut kedatangan atasannya. "Selamat pagi, Nona."
"Pagi," jawab Laura dengan senyuman hangat.
Sementara itu, Tommy mendekati Keenan. "Aku senang kau kembali bekerja," ujarnya.
Keenan tersenyum tipis lalu mengambil peralatan kebersihannya.
"Apa kau dan Nona Laura menjalin hubungan?"
Keenan menjawabnya dengan senyuman sekedarnya.
"Wah, kau beruntung sekali!" ucap Tommy.
Keenan menyerahkan sapu kepada teman kerjanya itu. "Jangan bicara saja, kerjakan tugasmu!"
"Kau bisa berbicara?" Tommy tampak tak percaya.
Keenan tak menjawab, ia lalu ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja.
Tommy belum melakukan pekerjaannya, dia masih menunggu Keenan keluar dari ruang ganti.
"Kenapa kau masih di sini?"
"Coba cubit aku!" perintah Tommy.
Keenan pun mencubit lengan temannya.
"Auww!" Teriaknya kesakitan.
"Sudah percaya, kan?" Keenan melepaskan cubitannya.
Tommy mengangguk mengiyakan.