
Lyla mengerjapkan matanya, tubuhnya terasa pegal. Perlahan ia bangun, memegang kepalanya yang pusing.
Lyla mencari pintu ruangan, ia berharap bisa keluar dari tempat itu.
Dari jarak tidak terlalu jauh dari dirinya duduk, Lyla melihat seorang pria tergeletak. Gegas bangkit dan mendekat, ia membalikkan tubuhnya.
Lyla membulatkan matanya ketika memandangi wajah pria itu yang pucat. Dengan cepat, memundurkan langkahnya dan berlari ke arah pintu.
Lyla terus menggedor pintu dan berteriak agar ada orang yang menolongnya. Hampir 15 menit tak terdengar sama sekali suara yang mendekatinya.
"Papa, Mama, tolong aku!" teriaknya.
"Aku sangat takut, Pa!"
Kya-ri menggerakkan tubuhnya dan mengerang kesakitan.
Lyla yang mendengar suara pria itu, semakin kuat menggedor pintunya. "Tolong... tolong!"
Kya-ri melihat punggung gadis yang berteriak itu dengan mata berkaca-kaca. "Tolong aku!" lirihnya.
Lyla membalikkan tubuhnya, menatap pria yang tergeletak itu dengan mulut mengeluarkan darah lalu pingsan. Perlahan kakinya melangkah mendekatinya.
Antara takut dan iba, Lyla menyenggol tangan Kya-ri dengan kakinya. "Apa kamu masih hidup?"
Kya-ri tak menjawabnya.
Pintu ruangan terbuka, Keenan dan Laura berlari menghampiri putrinya dan bergantian memeluknya.
"Papa, dia sepertinya terluka!" Lyla menunjuk ke arah Kya-ri.
Keenan melihat wajah keponakannya itu pucat. Perlahan mendekatinya dan menepuknya pipinya lembut. "Kya-ri, bangunlah!"
"Papa mengenalnya?" tanya Lyla.
Laura gegas mendekat, "Jangan beritahu dia tentang asal usulmu!" bisiknya.
"Apa yang sedang kalian rahasiakan padaku?"
"Tidak ada, Nak. Ayo kita pulang!" Laura mengajak putrinya. "Biarkan dia menjadi urusan Papa kamu!" lanjutnya.
Lyla mengiyakan, dia berjalan ke mobil bersama mamanya.
Sementara itu, Keenan berusaha membangunkan Kya-ri. "Paman akan membantu mengobatimu."
Kya-ri perlahan membuka matanya.
Keenan membantu pemuda itu berdiri, ia memapahnya ke mobil.
Kya-ri duduk di kursi penumpang depan, tak lupa Keenan memasangkan safety belt.
"Papa, kenapa dia ikut bersama kita?" tanya Lyla yang berada di kursi belakang ketika Keenan bersiap menyetir.
Mesin mobil menyala, perlahan meninggalkan bangunan tua itu. Keenan lalu menjawab pertanyaan putrinya, "Dia butuh bantuan kita."
"Pa, dia sudah berusaha menyakitiku."
"Lyla, kami tahu jika dia sudah melukaimu tapi saat ini dia terluka dan kita harus mengobatinya." Jelas Keenan.
"Jika selesai diobati, usir dia!" ucap Lyla.
"Iya, Nak. Dia juga akan pergi kalau sudah sehat," sahut Laura.
-
Begitu sampai rumah, Keenan membawa Kya-ri di ruang tamu. Ia membuka kemeja dan sepatu yang digunakan pemuda itu.
Keenan mengambil air dalam wadah lalu mengompres di bagian dada dan perut.
"Apa ini masih sakit?" tanya Keenan menyentuh dada.
"Tidak, Paman."
"Berapa lama kamu akan dihukum?"
"Enam bulan," jawabnya lirih.
"Paman harap selama menjadi manusia jangan terlalu dekat apalagi jatuh cinta kepada manusia yang sesungguhnya."
"Kenapa begitu, Paman?"
"Jika berani jatuh cinta, yakinlah kamu tidak akan pernah bisa kembali ke Kerajaan Kyu-Sa. Dan gadis yang membuatmu jatuh hati akan menderita," jawab Keenan.
"Apa istri Paman menderita?"
"Ketika kami belum direstui, beberapa kali nenek dan kakekmu ingin melenyapkannya. Tapi, Paman berhasil menyakinkan mereka."
"Kenapa tidak mau kembali ke Kerajaan?"
"Aku mencintai tempat ini terutama istriku."
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada manusia, Paman." Janjinya.
"Semoga saja, jika tidak kedua orang tuamu pasti akan memisahkan kalian."
****
Keesokan harinya, Keenan mengajak Kya-ri untuk sarapan bersama. Pemuda itu menatap Lyla yang sepertinya masih membencinya dan ketakutan.
"Hilangkan tatapan menakutkanmu itu!" titah Keenan.
Kya-ri dengan cepat membuang wajahnya.
"Jangan pernah membuat putriku takut apalagi menyakitinya!" Keenan memberi peringatan.
Kya-ri mengangguk.
"Silahkan dimakan sarapannya!"
Lyla yang memperhatikannya tampak bingung dan heran. Ia menatap wajah kedua orang tuanya bergantian seakan berkata jika pemuda yang ada dihadapannya aneh.
"Papa, aku tidak mau tinggal dengannya," ucap Lyla.
Kya-ri mendongakkan wajahnya menatap gadis yang ada dihadapannya.
"Dia takkan menyakitimu, Nak!" Keenan berkata penuh yakin.
"Tapi, Pa. Lihatlah dia menatapku seperti ingin melenyapkan ku," Lyla berucap sembari melirik Kya-ri.
"Jika dia berani, maka Papa yang lebih dahulu menghancurkannya," ujar Keenan.
Selesai sarapan sebelum pergi ke kantor, Kya-ri mendekati Keenan.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Keenan.
Kya-ri mengangguk.
Keenan mengajak pemuda itu ke kamar tidurnya, "Katakan?"
"Aku tidak tahu harus melakukan apa di sini, Paman."
"Kamu cukup di kamar ini dan tidur, jika bosan ada televisi dan buku."
"Baiklah, Paman."
"Jangan pernah mengganggu putriku!"
"Iya, Paman."
"Satu lagi, Paman akan memberikan namamu Zen," ujar Keenan.
"Zen?"
"Ya."
Kya-ri mengangguk tanda setuju.
"Aku mau pergi, jangan pernah ke mana-mana. Karena kamu tidak memiliki kekuatan!"
"Ya, Paman."
*
Di Kerajaan Kyu-Sa...
Kyi-Sha yang terbukti bersalah karena mengizinkan Kya-ri ke bumi dan menyakiti Lyla dihukum cambuk.
Kyu-ta membuang wajahnya tak berani melihat istrinya di hukum.
Kyi-Sha terus menangis, "Jika aku sudah dihukum, maka kembalikan putraku ke wujud aslinya!"
"Tidak bisa!" ucap Kyu-ma.
"Dia sudah melakukan kesalahan fatal!" sahut Kyi-mi.
"Aku takut dia akan jatuh cinta pada manusia," ungkap Kyi-Sha.
"Jika dia berani maka kami akan memisahkannya!" ujar Kyu-ma.
"Kalian saja tidak bisa menarik Kyu-ri kembali," sindir Kyi-Sha.
Kyu-ma dan Kyi-mi saling pandang.
"Itu semua karenamu!" tuding Kyu-na. "Jika kamu tidak menjebak kakakku, mungkin dia masih di sini!" lanjutnya.
Kyi-Sha terdiam.
Waktu itu memang dia yang selalu mengajak Kyu-ri bertemu dan memeluknya di depan para pengawal kerajaan. Ia berpikir, jika melakukan itu dirinya dan Kyu-ri akan disatukan ternyata salah. Pria yang disukainya itu malah dihukum dan dilempar ke bumi.
Selesai dicambuk, Kyi-Sha kembali ke Goa. Dia tak diizinkan keluar dari tempat itu. Pagar pembatas juga telah ditutup dan dijaga para pengawal.
Jika putranya berbuat baik di bumi, maka dia bisa keluar masuk Goa tanpa penjagaan ketat.
*
Di bumi.....
Kya-ri atau Zen, sangat bosan dengan siaran televisi yang membingungkannya. Akhirnya ia memutuskan keluar kamar diam-diam.
Zen berjalan ke arah sekolah Lyla menimba ilmu. Di tengah perjalanan keduanya bertemu.
"Bukankah kamu tidak diizinkan keluar kamar?" tanya Lyla.
Zen hanya melihat gadis itu dengan tatapan dingin.
"Kamu sungguh aneh!" Lyla melewatinya.
Zen mengikutinya dari belakang.
Lyla menghentikan langkahnya dan berbalik. "Pergilah, entah kemana. Jangan menunjukkan wajahmu itu dihadapanku!"
Zen berbalik, ia melangkah ke jalan raya lalu berhenti ditengahnya.
Lyla yang melihat tingkah konyol Zen, berlari lalu menarik tangan pemuda itu menjauh dari jalanan. "Apa kamu sudah gila? Bagaimana jika kamu tertabrak?" omelnya.
Zen hanya tersenyum.
"Astaga!" Lyla menyapu rambutnya ke belakang. "Aku sudah ketakutan dan panik, kamu hanya tersenyum!" gerutunya.
"Terima kasih!"
Lyla menarik nafasnya, "Ayo kita pulang!" menarik tangan Zen, berjalan menuju rumah.