
Keesokan harinya, Laura menjemput Keenan seperti biasanya tak menunggu lama pria itu telah duduk di sampingnya. Mobil menyusuri jalanan yang mulai ramai pengendara lainnya.
Sementara dua orang berlainan jenis menumpang mobil yang sama tampak tak bersuara. Laura yang biasanya sering mengajak mengobrol Keenan kini memilih diam.
Begitu sampai, keduanya sama-sama turun namun Laura memilih berjalan dengan cepat. Laura menekan tombol lift. Hal yang sama dilakukan juga oleh Keenan.
Karena tidak ingin terus dekat dengan Keenan dan lift juga sangat lama. Laura memilih menaiki tangga.
Keenan tidak mengikuti langkah Laura ia memilih naik lift.
Baru lantai ketiga nafas Laura terasa ngos-ngosan, masih ada 2 lantai yang harus dilalui demi menuju ruang kantornya.
"Huh, dasar. Susul kenapa? Ini malah membiarkan aku sendirian," omelnya dalam hati.
"Pagi, Nona. Kenapa tidak pakai lift?" tanya salah satu karyawan yang kebetulan melintas.
"Lagi ingin olahraga," jawab Laura berbohong.
Karyawan tersebut mengangguk, kemudian ia pamit.
Laura melanjutkan langkahnya.
Akhirnya, tiba di ruangan kerjanya. Ia meminta Kesya menyediakan air mineral dan secangkir teh manis hangat. Tetapi, ia tidak ingin Keenan yang membuatnya tetapi wanita itu saja.
Kesya ke pantry membuatkan pesanan yang diperintahkan Laura kepadanya.
"Nona, buat siapa?" tanya Tommy.
"Buat Nona Laura," jawab Kesya sembari mengaduk gula.
"Biasanya dia minta Keenan yang membuatnya," ujar Tommy.
"Aku juga tidak tahu, mungkin mereka lagi marahan," Kesya hanya menebak sambil tertawa kecil.
"Bisa jadi, sih!" sahut Tommy.
Keenan yang tidak ada di ruangan itu dapat mendengar jelas pembicaraan keduanya.
Kesya mengantarkan pesanan Laura, ke ruangannya.
"Terima kasih!" ucapnya sekilas menatap.
"Sama-sama, Nona. Saya permisi!" pamitnya.
Dibalas anggukan oleh Laura.
-
Makan siang kali ini, Laura tak mengajak Keenan. Ia memilih pulang ke rumahnya dengan beralasan kepada Kesya jika dia lagi tak enak badan.
Laura mengendarai mobilnya seorang diri pulang ke rumah.
Begitu sampai Mama Dita tampak heran, "Tumben, kamu pulang jam segini?" melihat jam di dinding.
"Aku lagi malas makan di luar, Ma."
"Biasanya kamu menghabiskan waktu makan siang dengan para pria tak bermodal itu!" sindir Mama Dita.
"Tapi, Keenan berbeda, Ma."
"Beda apanya?" tanya Mama Dita. "Mario, Teo dan Keenan pria yang hanya memanfaatkan kebaikan kamu dan menguras uangmu saja!" ungkap Mama Dita.
"Keenan beda, Ma. Dia di sini memang tidak memiliki apa-apa," jelas Laura.
"Ya, tapi terus menerus dia menumpang hidup denganmu. Sampai sekarang kita tidak pernah tahu asal usulnya!"
"Sudahlah, Ma. Jangan membahas dia lagi, aku mau makan. Ku tak mau saja selera makan ku hilang karena karena Mama menceritakan mereka," Laura mengambil lauk pauk dan sayur kemudian menyantapnya.
Selesai makan siang, Laura memang tidak ingin kembali ke kantor. Ia duduk sambil membaca majalah fashion di ruang santai keluarga.
"Kamu tidak balik ke kantor?" tanya Mama Dita.
"Tidak, Ma."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Ma."
"Kamu sedang bertengkar dengan pria itu?"
"Aku dekat dengan dia, Mama tak suka. Sekarang, aku menjaga jarak dengannya malah ditanya bertengkar. Mama mau aku bagaimana?"
"Ya, baguslah kamu menjauh darinya Mama senang mendengarnya. Delon bisa mendekatimu," ujar Mama Dita.
"Ma, sudah cukup. Berhenti menjodohkan aku!" Laura bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamarnya yang di lantai atas.
"Mama hanya ingin terbaik untukmu, Laura!" ucap Mama Dita sedikit lantang.
Laura menjatuhkan tubuhnya di ranjang, "Hari ini mood ku sangat buruk!"
Ia pun memejamkan matanya.
Asap warna-warni kembali muncul di ruangan kamarnya. Seorang wanita paruh baya masih terlihat cantik dan segar muncul dihadapan Laura membuat ia terbangun.
"Anda siapa?" tanya Laura.
"Kembalikan putraku!" menatap tajam.
Laura mengerutkan keningnya.
"Kamu sudah merebut hatinya, maka kembalikan putraku!" desisnya.
Wanita itu menyipitkan matanya.
Laura tiba-tiba jatuh dari ranjangnya memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Aku bisa saja menyakitimu lebih dari ini, maka bekerja sama dengan ku!"
"Aku benar-benar tidak mengerti, Nyonya!" ucap Laura sambil menahan sakit.
Wanita itu mengarahkan tangannya ke perut Laura dari jarak jauh.
Laura menjerit kesakitan.
"Katakan pada Kyu-ri untuk pulang!" menekankan kata-katanya.
Laura yang kesakitan semakin lama semakin lemah. "Siapa Kyu-ri?"
"Pria yang kamu bantu!" Jawabnya tegas.
"Keenan?"
"Ya."
"Jadi kalian keluarganya?"
"Ya," jawabnya lantang.
"Auww, sakit. Tolong lepaskan aku!" Laura mengiba karena perutnya sangat sakit sekali hingga darah keluar dari mulutnya.
"Kamu harus berjanji menyuruhnya pulang!"
"Aku janji!" jawab Laura semakin lemah.
Wanita itu menurunkan tangannya, Laura masih terduduk di lantai dengan tangan kanan memegang perut dan tangan kirinya menyentuh mulutnya.
Kemudian ia pingsan.
Beberapa menit kemudian, Laura terbangun masih dengan posisi sama ketika ia tertidur. Ia mengerjapkan matanya melihat sekelilingnya kemudian bangkit dari tidurnya.
Laura memegang perutnya tak sakit, menyentuh mulutnya tak ada darah sama sekali. "Apa aku tadi bermimpi? Kenapa itu sangat nyata sekali?" batinnya bertanya.
-----
Pagi harinya, Laura datang menjemput Keenan di apartemen. Hanya menunggu di mobil, pria itu juga akan tepat waktu muncul.
Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Laura memberikan sesuatu kepada Keenan. "Ini ponsel buatmu agar kita mudah saling berkomunikasi!"
"Aku tidak butuh!" ucap Keenan dingin.
"Hei, kau harus menerimanya. Agar aku bisa
menghubungimu. Tidak mungkin tiap hari aku menjemputmu, kau sudah sebulan tinggal di apartemen milikku. Jadi, waktunya hidup mandiri," ujar Laura.
"Aku bisa melakukannya semuanya sendiri," ucap Keenan.
"Baguslah, memang seharusnya kau melakukannya sendiri," ketusnya.
Laura kemudian menyalakan mesin mobilnya menuju kantornya.
Begitu tiba, Delon sudah berada di lobi.
Laura tak menghiraukan kehadiran pria itu ia memilih berjalan lebih cepat menaiki lift dan Delon menyusulnya keduanya berada diruang yang sama. Sementara Keenan menaiki tangga.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Laura ketus.
"Aku ingin mendekati hatimu!"
"Aku tidak tertarik padamu, menjauhlah dariku!"
"Aku tidak akan menyerah," ucap Delon percaya diri.
Pintu lift terbuka, keduanya keluar bersama.
"Aku mau bekerja, lebih baik pergi dari sini!" Laura membuka pintu ruang kerjanya.
Delon malah ikut masuk.
"Kenapa kamu tidak pulang?"
"Aku hanya ingin mengatakan jika Mall Mallorca dua puluh persen milikku."
Laura terdiam kemudian tersenyum sinis. "Kau pikir aku tertarik!"
"Bukankah toko pakaianmu juga berada di sana?"
"Kau ingin mencabut izin toko milikku?"
"Ya, jika aku mau!"
"Apa kau lupa beberapa orang datang berkunjung ke mall itu hanya ingin mendatangi toko pakaian ku? Aku bisa menarik toko dan memindahkan ke tempat yang lain, apa kau tidak ingin mall itu bangkrut. Apalagi, aku memberikan barang berkualitas baik dengan harga cukup terjangkau," ujar Laura membuat Delon terdiam.
"Ya, aku tahu dengan kualitas rancanganmu."
"Jadi, jangan pernah mengancamku!"
"Aku tidak mengancammu, aku hanya ingin semakin dekat apalagi sebentar lagi kita bertunangan," ucap Delon.
"Apa tunangan?"
"Ya, kedua orang tuamu juga setuju."