Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Tawaran Menjadi Model



Beberapa hari kemudian.....


Sammy mendatangi kantor Laura, ia memohon kepada temannya itu untuk mengizinkan Keenan sebagai modelnya.


"Aku tidak mau!" menolaknya.


"Ayo dong, Laura. Aku kekurangan seorang model pria," Sammy memohon.


"Tidak bisa!"


"Aku janji akan menjauhi para wanita dari dirinya."


Laura sejenak berpikir.


"Sekali ini saja, Laura!" Sammy mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, aku mengizinkanmu memakai Keenan sebagai model."


"Terima kasih, Laura." Sammy tersenyum senang.


Laura lalu menghubungi Tommy di ruang pantry. "Suruh Keenan ke ruangan saya!"


"Baik, Nona."


Tak lama kemudian pria itu datang ke ruangan Laura.


Keenan berdiri tanpa berkata apapun karena ia akan berbicara hanya kepada wanita yang menolongnya.


"Sammy memintaku untuk menjadikanmu model sebuah iklan. Apa kau mau?"


tanyanya pada Keenan.


Pria itu tetap diam ia hanya menatap Laura.


"Hei, apa kau tidak bisa berbicara?" tanya Sammy heran.


"Dia tak bisa berbicara dengan orang asing," jawab Laura.


"Lalu bagaimana kita bisa tahu dia setuju atau tidak?" tanya Sammy.


"Aku ingin berbicara berdua dengan dia, apa kau bisa meninggalkan kami?" pinta Laura kepada temannya.


"Baiklah," Sammy pun keluar.


"Keenan, apa kau bersedia menjadi model iklan?"


"Jika tak ada adegan berbicara, tidak masalah," jawab Keenan.


"Kamu yakin mau menerimanya?"


"Ya."


Mimik wajah Laura tampak tak suka.


"Sepertinya kamu tidak senang aku menjadi model," ujar Keenan.


"Di sekitarmu banyak wanita cantik," ucap Laura.


"Kamu cemburu, aku didekati mereka?"


Laura tak menjawab.


"Aku tidak akan melirik mereka, jika mereka tahu siapa diriku pasti takkan berani mendekatiku."


"Aku tidak cemburu, aku malah sangat membencimu karena sudah berbohong selama ini kepadaku," ujar Laura.


"Aku minta maaf, tapi ku benar-benar tidak ingin kembali ke negeriku," ucap Keenan.


"Aku tidak mau keluargamu menyakitiku lagi," Laura berkata dengan mata berkaca-kaca.


Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau kehilanganmu, Keenan."


Pria itu menarik kedua ujung bibirnya.


"Jadi, sekarang kau mau menjadi model?"


"Jika kamu mengizinkan aku mau menerimanya asal sesuai syarat yang ku berikan," jawab Keenan.


"Baiklah, akan aku katakan pada Sammy. Kau boleh kembali bekerja," ucap Laura.


Keenan pun keluar dan Sammy masuk.


"Bagaimana? Apa dia mau?" pria itu tak sabar.


"Dia mau asal tidak ada adegan berbicara," jawab Laura.


"Jadi, dia harus diam begitu?"


"Ya."


"Bagaimana aku harus mengatakannya kepada sutradara?"


"Aku tidak tahu, itu urusanmu!"


"Apa dia memang sulit berbicara?"


"Dia hanya mau berbicara kepadaku saja, jadi kau mau memakai dia atau tidak?"


"Iya, aku mau. Kekasihmu itu sangat tampan dan harga jualnya sangat tinggi. Aku yakin penjualan produk akan meningkat jika menggunakan dia," ucap Sammy.


"Ya, tapi aku ingin kau menjauhi dia para wanita," pinta Laura.


"Baiklah!"


"Satu lagi, aku ikut ke lokasi syuting!"


"Ya, tak masalah."


-


-


Sepulang kerja, Laura dan Keenan satu mobil.


"Sammy mengatakan dua hari lagi, syuting iklan akan dilakukan. Jadi, besok pagi kita akan latihan terlebih dahulu. Dia sudah memberikan alamatnya," tutur Laura.


"Aku ikut keputusan kamu saja," ucap Keenan.


Laura pun tersenyum.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, entah apa yang terjadi Laura mendadak membanting setir ke kiri. Beruntung tidak ada pengendara lain yang melintas di sebelah kiri.


"Apa yang terjadi?" tanya Keenan.


"Aku tidak tahu, sepertinya ada yang jatuh," jawab Laura masih dengan wajah syok.


"Aku akan mencoba melihatnya," Keenan pun keluar dari mobil.


"Aku ikut!" ucap Laura sebelum pria itu menutup pintu.


"Tidak, kamu tetap di dalam!" perintah Keenan.


Laura menuruti perkataannya.


Keenan melihat ke bagian depan mobil tak ada apapun hingga dia membalikkan badannya dan hendak kembali ke mobil.


"Kyu-ri, apa kabar?"