
Zen muncul di kamar Lyla yang sedang tertidur, wajahnya tampak mendung dan matanya membengkak karena menangis.
Zen duduk di pinggir, menyentuh pipi Lyla dengan lembut.
Gadis itu pun terbangun dan mengucek matanya, "Zen!" lirihnya.
Zen tersenyum hangat.
Lyla lantas bangkit dan duduk kemudian memeluk Zen. "Jangan pergi!"
"Aku tidak akan pergi, ibuku telah merestui hubungan kita!"
Pintu kamar Lyla terbuka, "Jauhi putriku!"
Zen dan Lyla menoleh, gegas berdiri.
"Aku mencintainya, Pa!"
"Papa tahu seperti apa ibunya, tak semudah itu ia memberikan restu!" ucap Keenan.
"Paman, ibu sendiri yang mengizinkan aku pergi ke bumi," jelas Zen.
"Paman tidak percaya, ibumu wanita yang licik!"
"Jangan pernah menghina ibuku, Paman!"
"Jika Lyla disakiti olehnya, Paman tidak akan pernah memaafkan kamu!"
"Ibu tidak mungkin menyakiti Lyla, Paman!" Zen menyakinkan papanya Lyla.
Keenan menghela nafas.
"Pa, percayalah. Kalau tidak mana mungkin Zen bisa kembali ke sini!" ucap Lyla.
"Baiklah, saat ini Papa percaya dengan Zen."
"Terima kasih, Pa!" Lyla tersenyum lega.
Keenan gegas meninggalkan kamar putrinya, ia berharap istrinya tak tahu jika Zen datang.
Zen menatap wajah Lyla, "Aku harus kembali ke istana, ku akan sering mengunjungi kamu."
Lyla mengangguk.
Zen pun berlalu.
-
Kerajaan Kyu-Sa....
Zen memasuki kamarnya dengan cara mengendap-endap, ia berharap para penjaga tak memergokinya.
Zen kini telah berada di ruangannya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya.
"Apa dia telah kembali?" tanya Kyu-ma kepada salah satu penjaga. Kepergian Kya-ri ke bumi memang telah diketahui pihak istana, namun mereka memilih diam dan tak menegurnya.
"Sudah, Tuan."
"Berpura-puralah tidak tahu, aku yakin ibunya pasti memiliki niat jahat makanya membantu Kya-ri ke bumi," ucap Kyu-ma.
"Baik, Tuan."
Kyu-ma kembali ke kamarnya.
Kyi-Sha memulai rencananya, ia pergi ke bumi dengan mudah tanpa ada penjagaan ketat di setiap sudut istana.
Para pengawal kerajaan, memberi laporan jika Kyi-Sha pergi ke bumi. Kyu-ma mengutus istrinya untuk menyusul menantunya itu.
"Apa kamu rela jika Kya-ri menikah dengan manusia seperti Kyu-ri?" tanya Kyi-mi.
"Lyla cucuku, aku sangat menyayanginya. Apapun yang menjadi kebahagiaannya, ku akan berusaha mewujudkannya," jawab Kyu-ma.
"Kamu tidak bersedih jika Kya-ri meninggalkan istana?" tanya Kyi-mi.
"Aku lebih bersedih jika kedua cucuku tak bahagia," jawabnya lagi.
-
Di bumi....
Kyi-Sha memasuki kamar Lyla sehingga membuat gadis itu terbangun dan terbatuk-batuk.
"Siapa kamu?" Lyla bertanya dengan terbata-bata karena ketakutan.
Kyi-Sha menunjukkan wajah penuh marah, ia mencekik Lyla dari jarak jauh, " Lupakan putraku!"
"Siapa putramu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" sentaknya.
"Aku benar-benar tidak tahu!" Lyla berkata terputus-putus karena menahan rasa sakit dicekik.
"Kau dan ibumu sama saja!" Kyi-Sha menghempaskan tubuh Lyla ke dinding.
Gadis itu menjerit kesakitan.
Pintu kamar terbuka, "Lyla!" pekik Laura.
"Kyi-Sha, apa yang kau lakukan pada putriku?" Keenan bertanya lantang dan marah.
"Itu akibatnya karena dia berani mengganggu kebahagiaanku!" jawab Kyi-Sha dengan sorot mata tajam.
"Ini semua karena kamu!" Kyi-Sha berkata dengan merapatkan giginya.
"Kya-ri yang datang ke bumi untuk mengganggu cucuku!" sahut Kyi-mi bersama dengan para pengawalnya.
"Ibu!" Keenan begitu senang bertemu dengan ibu kandungnya.
"Kamu yang menyuruh Kya-ri untuk membalaskan dendammu, tapi lihatlah sekarang putramu itu jatuh cinta kepada seorang manusia," ungkap Kyi-mi.
Kyi-Sha terdiam.
"Kamu harus merelakan putramu menjadi manusia untuk selamanya!" ucap Kyi-mi.
"Tidak!" Kyi-Sha berkata lantang.
"Kembalilah ke istana, biarkan mereka hidup bahagia dan tenang," ucap Kyi-mi.
"Aku tidak akan membiarkan ibu dan anak itu bahagia!" tatapan mata penuh dendam Kyi-Sha kini ke arah Laura dan putrinya.
"Sampai kapan kamu menyimpan dendam itu, Kyi-Sha?" tanya Kyi-mi.
"Sebelum mereka mati, dendam ini tetap ada!" jawabnya.
"Jika kau berani menyakiti istri dan putriku, aku akan membalasnya!" ucap Keenan.
Kyi-Sha tertawa lebar penuh kebencian, "Kau tidak memiliki kekuatan!" ejeknya.
"Aku ada bersama Paman Kyu-ri, Bu!" Zen muncul di tengah-tengah mereka.
"Kya-ri!" seluruh mata tertuju pada pemuda itu.
Zen berlari mendekati Lyla dan memeluknya.
"Kenapa kamu ke sini, Kya-ri?" tanya Kyi-Sha.
"Aku mendengar semua percakapan antara kakek dan nenek," jawab Kya-ri.
"Kamu harus kembali, Nak!" pinta Kyi-Sha.
"Tidak, Bu. Aku akan tetap di sini dan menikahi Lyla!"
"Kamu harus kembali!" Kyi-Sha mengeluarkan kekuatannya, mencekik putranya dari jarak jauh.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Kyi-mi mengerahkan kekuatannya melawan menantunya.
Kyi-Sha terhempas dan mulutnya mengeluarkan darah.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kedua cucuku!"
"Kya-ri putraku, Bu!"
"Memang dia putramu tapi kamu berani memanfaatkan dirinya untuk membalas dendammu!" ucap Kyi-mi.
Kya-ri memegang dadanya, tertatih menghampiri Kyi-Sha, "Maafkan aku, Bu!"
Kyi-Sha menatap wajah putranya dengan wajah marah.
"Aku mencintainya, Bu. Jangan sakiti dia, jika ibu ingin biarkan aku yang menggantikannya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kyi-Sha menggelengkan kepalanya.
"Bu, izinkan aku menjadi manusia seutuhnya!" mohonnya.
Kyi-Sha yang nafasnya terengah-engah karena menahan marah menatap putranya.
"Ini semua salahku, Bu. Harusnya aku tidak pernah ke bumi!" ucapnya dengan menangis.
Mata Kyi-Sha berkaca-kaca.
"Harusnya aku tidak jatuh cinta tapi kenyataannya berbeda, ku benar-benar terpikat padanya," ucap Kya-ri.
Kyi-Sha yang mendengarnya menjerit sekencangnya sehingga isi ruangan kamar bergetar, ia memilih pergi bersamaan dengan kepulan asap.
"Ibu, maafkan aku!" Kya-ri menjatuhkan tubuhnya di lantai dan menangis.
"Kyu-ri, Ibu pamit tolong jaga menantu dan kedua cucuku," ucap Kyi-mi.
"Iya, Bu. Aku akan merindukanmu," ujar Keenan.
Kyi-mi tersenyum kemudian pergi disusul pengawalnya.
Kya-ri masih terduduk dan terisak.
Keenan mendekati dan memeluknya, "Aku mohon, jangan pernah sakiti putriku!"
"Aku janji, Paman!"
Keenan lantas berdiri menghampiri istrinya dan mengajaknya keluar dari kamar putrinya.
Lyla melangkah pelan mendekati Zen dan memeluknya, "Terima kasih telah memperjuangkan aku!"
Zen mengelus rambut kekasihnya kemudian mengecupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima Kasih Buat Dukungan Untuk Cerita Ini...
Sampai Jumpa di Karya Selanjutnya..
Sehat dan Bahagia Selalu 🌹