Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Bisa Berbicara



Keesokan paginya, Laura mendatangi apartemennya ia ingin menjemput Keenan.


Laura membuka pintu, tampak seluruh barang berantakan.


Panik..


Jelas..


Ini adalah kediamannya yang baru ditinggalnya sehari tapi sudah seperti kapal pecah.


"Keenan!" teriak Laura memanggil.


Tak ada sahutan.


"Ke mana dia sebenarnya?" gumamnya.


Laura terduduk di sisi ranjang. "Astaga, aku menempatkan orang yang salah di sini!"


Laura merapikan seluruh barang-barang yang berantakan, ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menghubungi sekretarisnya. "Kemungkinan aku datang terlambat, jika ada tamu suruh mereka menunggu atau kembali esok harinya!"


"Baik, Nona!"


Laura menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke tasnya.


Ditengah kesibukannya, pintu terbuka tampak Keenan wajahnya penuh memar.


Laura yang melihatnya bergegas menghampirinya. "Kenapa dengan wajahmu? Apa yang terjadi?" cecarnya.


Keenan tak menjawab.


"Ayo duduk!" menyuruh pria itu.


Keenan pun duduk.


Laura menyentuh luka di bibirnya Keenan. "Kenapa kamu seperti ini? Apa tadi ada perampok?"


Keenan lagi-lagi diam.


"Keenan, bicaralah. Apa kamu memang tak bisa berbicara atau bagaimana?" Laura tampak frustrasi.


Keenan hanya diam.


Laura berdiri lalu ke kamar mencari obat salep pereda luka. Ia kemudian melangkah cepat mendekati Keenan lalu mengoleskannya ke sudut bibir itu.


Keenan memegang tangan Laura dan menatap matanya.


Laura yang mendapatkan tatapan itu segera membuang wajahnya dan menurunkan tangannya. Ia beranjak berdiri.


"Aku mau ke kantor, apa hari ini kau mau bekerja?"


Keenan mengangguk.


"Gantilah pakaianmu, aku menunggu di mobil!" Laura bergegas ke parkiran.


Tak lama kemudian Keenan sudah berada di dalam mobil dengan tatapan lurus ke depan.


Laura melirik wajah Keenan yang sangat tampan. Namun, ia mendadak menghentikan laju kendaraannya.


Laura kembali melihat wajah Keenan sudah seperti semula tanpa luka. "Apa obat yang ku beri sangat manjur? Sampai tak tampak bekas lukanya."


Keenan hanya tersenyum tipis.


"Keenan, apa kau ingin belajar bicara?"


Keenan memilih diam.


"Astaga, kenapa kau selalu diam, diam dan diam?"


"Jadi, kamu mau apa?"


Laura mendelikkan matanya lalu tersenyum bahagia. "Kau bisa bicara?"


"Ya."


Laura memukul lengan Keenan. "Kenapa tidak dari awal kita ketemu kau berbicara?"


Keenan kembali diam.


"Keenan, aku bicara padamu!" melanjutkan mengendarai mobilnya.


Keenan masih bergeming.


"Apa kau sudah tahu dari mana berasal?"


Masih diam.


"Keenan, apa kau tidak merindukan orang tua atau keluargamu?"


Keenan menggeleng.


"Jika kau masih memiliki orang tua pasti tak bisa ku bayangkan bagaimana khawatirnya mereka," ujar Laura.


"Mereka tidak mungkin mengkhawatirkan aku!"


"Hei, jangan berbicara seperti itu. Pasti kau pergi dari rumah karena sedang bertengkar dengan kedua orang tuamu, kan?" tebaknya.


"Ya."


"Apa masalahnya sehingga kalian bertengkar?"


Keenan lagi-lagi memilih diam.


"Baiklah, kalau kau tidak mau menjelaskannya. Tapi, aku harap setelah perasaan dan pikiranmu sudah tenang, kau boleh pergi dari apartemen ku."


"Kamu mengusirku?"


"Bukan... aku tidak mengusirmu, kita ini adalah lawan jenis dan tak memiliki hubungan ikatan darah atau pernikahan. Aku tidak mau saja orang-orang menganggap kita....." Laura tak melanjutkannya lagi.


"Menganggap kita apa?"


"Sudah lupakan saja," jawab Laura.


"Aku bisa membantumu agar terbebas dengan namanya perjodohan," ujar Keenan.


"Kenapa kau bisa tahu kalau aku akan dijodohkan?"


"Dari beberapa pria yang datang mendekatimu, tapi tak ada satu pun yang kamu pilih. Aku hanya menebak jika kamu sedang dijodohkan," jawab Keenan berbohong padahal ia tahu yang sebenarnya.


"Ya, aku memang akan dijodohkan tapi ku menolaknya."


"Kenapa?"


"Lalu kenapa kamu sampai membawa-bawa namaku?"


"Kenapa kau bisa tahu juga?"


"Aku hanya menebak saja, buktinya kamu bisa mencium ku padahal kita tak memiliki hubungan apa-apa."


"Masalah itu, aku sudah minta maaf padamu. Lain waktu aku takkan memakai namamu lagi," ujar Laura tersenyum.


Mobil akhirnya sampai di kantor Laura, keduanya pun turun.


Laura dan Keenan berjalan terpisah ketika memasuki gedung.


Laura seorang diri menaiki lift tak lama kemudian pintu lift terbuka sendiri padahal tak ada yang naik. Laura menyembulkan kepalanya keluar dan melihat ke kanan ke kiri.


Laura kembali menekan tombol lift, ia tampak terkejut karena di sampingnya kini seorang wanita muda yang sangat cantik menatap tajam dirinya.


Laura melemparkan senyumnya.


"Apa kau yang bernama Nagita Laura?" tanyanya dingin.


"Iya," jawab Laura ragu.


"Aku ingin bertemu dengan Kakakku," ucapnya.


"Kakak? Siapa namanya?"


"Kyu-ri."


"Sepertinya di sini tidak ada karyawan yang bernama Kyu-ri," ujar Laura.


"Jangan bohong!" sentaknya.


"Saya benar, Nona!" Laura terbata.


"Selama ini dia bersamamu!" tudingnya.


"Saya tidak mengenalnya," ucap Laura.


Wanita itu menyipitkan matanya sehingga membuat Laura terpental dan pingsan.


Pintu lift terbuka, beberapa karyawan wanita melihat Laura pingsan. Sebagian dari mereka berteriak karena kaget dan panik.


"Nona, bangunlah!" salah seorang menepuk pelan pipi Laura.


"Cepat panggil Keenan!" ucap yang lainnya.


Karyawan yang lainnya menelepon bagian kebersihan jika Laura pingsan, walaupun ada karyawan pria namun mereka tak berani karena takut salah paham.


Keenan adalah pria yang selalu bersama dengan Laura makanya mereka memanggil pria itu.


Tak lama kemudian, Keenan datang dan membopong Laura ke ruangannya.


Kesya datang membawa secangkir teh hangat dan minyak kayu putih lalu mendekatkannya di hidung.


Laura akhirnya mengerjapkan matanya. Perlahan bangun dan memegang kepalanya. Ia berusaha mengingat sesuatu tapi lupa.


"Nona, minumlah!" Kesya menyodorkan secangkir teh.


Laura meraihnya dan menyesapnya.


Keenan berdiri tak jauh dari sofa dengan tangan bersedekap memandangi Laura.


"Terima kasih, Kesya. Kamu boleh keluar!" ucap Laura lembut.


"Nona yakin tidak butuh apa-apa lagi?"


"Tidak, terima kasih." Laura tersenyum tipis.


"Baiklah, Nona. Saya tinggal, permisi!" pamitnya.


Setelah Kesya keluar dari ruangan, Keenan lantas bertanya, "Kenapa kamu sampai pingsan?"


"Aku tidak tahu, aku hanya mengingat satu lift dengan seorang wanita muda," jelas Laura.


"Apa kamu mengingat wajahnya?"


Laura menggelengkan kepalanya.


-


Keenan keluar dari ruangan kerja Laura setelah wanita itu mengatakan baik-baik saja.


Keenan melangkah dengan wajah dingin dan serius melanjutkan pekerjaannya.


"Hai, Kak!" sapa seorang wanita.


Keenan membalikkan badannya dan terkejut, "Kyu-na!"


Orang-orang yang berlalu lalang tak melihat dan mendengar percakapan kedua orang tersebut.


"Bagaimana permulaannya?"


"Kamu yang sudah membuatnya pingsan?"


"Ya, itu pantas baginya karena telah berbohong!"


"Dia tak berbohong!" ucap Keenan dingin.


"Jelas dia berbohong karena mengatakan kalau Kakak tidak mengenalmu!"


"Dia memang tak mengenalku sebagai Kyu-ri!"


"Jadi, maksudnya Kakak ganti nama?"


"Ya, dia yang memberikan aku nama."


"Begitu, ya."


"Mau apa kamu ke sini?"


"Membawa Kakak pulang!"


"Aku tidak mau pulang!" tolaknya.


"Kak, ibu dan ayah merindukanmu. Mereka menyesal telah mengusirmu," ucap Kyu-na.


"Aku tetap tidak mau!" Keenan membalikkan tubuhnya.


"Apa karena wanita itu alasan Kakak tidak mau kembali?"