Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
S2 - Aku Menyukaimu!



Lyla menghampiri Zen yang sedang memandangi langit malam di atas balkon dengan tangan memegang pagar pembatas.


"Malam ini penuh dengan bintang-bintang," ujar Lyla.


"Ya, aku senang memandanginya," tatapan Zen mengarah ke hamparan langit.


"Zen, bagaimana kehidupan di negerimu?"


"Sama seperti di sini cuma kamu akan selalu diawasi para pengawal kerajaan," jawabnya.


"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke bumi?"


Zen menoleh wajahnya ke arah Lyla. "Kenapa kamu ingin tahu alasannya?"


"Aku ingin tahu saja."


"Aku ke bumi karena membencimu," ujar Zen, pandangannya kembali memandang langit.


"Kenapa kamu membenciku? Kita sebelumnya tidak pernah mengenal."


"Karena seluruh perhatian istana tertuju kepadamu, ketika kamu lahir mereka selalu membicarakanmu. Waktu yang seharusnya bersamaku kamu rampas."


"Aku tidak merasa merampas waktumu dan ku tak mengenal keluargamu," ucap Lyla.


"Mereka diam-diam memperhatikanmu di ujung istana, makanya ku cemburu dan marah karena kamu telah merebut perhatian mereka."


"Aku minta maaf," Lyla menatap wajah Zen.


"Semua sudah terjadi, aku kini menerima hukumannya."


"Karena aku, kamu mendapatkan hukuman."


Zen lalu tersenyum, "Lupakan yang terjadi."


"Jika hukuman kamu selesai, apa kamu akan mengunjungiku?"


"Mungkin tidak."


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin menjadi manusia lagi."


"Aku akan merindukanmu jika kamu pergi," ujar Lyla.


Zen kembali menoleh, mata keduanya saling bertatapan. "Kenapa merindukan aku?"


"Aku tidak memiliki teman di sini," jawabnya lalu membuang wajahnya.


"Aku yang sudah membuatmu tidak memiliki teman."


"Makanya kamu harus bertanggung jawab," ucapnya.


Zen berkata, "Aku tidak bisa terlalu lama di sini yang ada ku 'kan jatuh cinta pada manusia."


"Kamu ingin membiarkan aku di sini karena ulah yang kamu buat?" Lyla kembali menatap.


Zen tertawa kecil, "Kamu memiliki Christ, sepertinya dia menyukaimu."


"Tapi, aku tidak menyukainya."


"Christ pemuda yang tampan dan baik, kamu tidak akan menyesal menyukainya," Zen membanggakannya.


"Dia memang sangat baik dan sempurna, tapi hatiku menyatakan tidak."


"Ternyata, kamu tipe wanita yang tidak mudah jatuh cinta pasti para pria sangat sulit menaklukkan hatimu," celetuk Zen.


"Mungkin," ucap Lyla tersenyum.


Zen memperhatikan begitu dalam wajah Lyla yang tersenyum. Lalu dengan cepat ia membuang mukanya, ketika mata gadis itu memergoki tatapannya.


*****


Beberapa hari kemudian kebetulan Lyla libur sekolah, keduanya mencoba memasak kue di dapur.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Zen.


"Pecahkan telur terus di kocok pakai ini!" Lyla memberikan whisk manual.


Zen memandangi heran benda itu.


"Cepat kerjakan!" perintah Lyla.


"Ya."


Sementara Lyla mengerjai yang lainnya, lalu ia menuang tepung ke dalam telur yang sudah teraduk.


"Campur semua bahan!" titahnya.


"Ya," Zen melakukannya lagi.


Lyla mengambil tisu lalu mengelap keringat yang kelihatan di dahi Zen.


Seketika pemuda itu menghentikan kegiatannya dan memandangi gadis yang ada dihadapannya.


Lyla tersenyum begitu manis.


Zen lalu tertawa, "Wajahmu memakai bedak, ya!"


Lyla menurunkan tangannya, lalu memegang pipinya. "Bagian mana yang terkena tepung?"


Zen menyentuh tepung dengan cepat ia arahkan ke pipi kanan Lyla. "Di sini!"


"Zen!" teriaknya kesal.


Zen malah tertawa lebar.


Lyla mendengus kesal dan mulai membalas perbuatan pemuda itu.


Keduanya saling tertawa dan dapur menjadi berantakan.


"Zen, sudah cukup!" teriak Lyla sembari tertawa ketika kedua tangan pemuda itu menyentuh pipinya.


Zen menurunkan tangannya.


"Kapan kita memasak kuenya?" tanya Lyla.


Zen hanya tersenyum.


Lyla memeriksa adonan yang dibuat Zen lalu ia masak di panggangan kue.


Zen mencuci tangannya dan mengeringnya. Meraih tisu kemudian mengelap keringat Lyla.


Keduanya saling bertatapan, Zen mendekati wajah Lyla dengan cepat gadis itu menghindar.


"A...aku sangat haus!" Lyla berkata terbata dan gugup.


Zen gegas mengalihkan pandangannya, "Astaga, apa yang akan ku lakukan tadi!" merutuki dirinya.


-


Menjelang sore hari, Lyla dan Zen menunjukkan hasil kue buatan mereka kepada Laura dan Keenan.


"Silahkan dicoba, Ma, Pa!" ucap Lyla.


Sepasang suami istri itu saling pandang.


Laura dan suaminya pun mulai mencicipi kue buatan putrinya.


"Bagaimana, Pa, Ma?"


"Cukup enak," jawab Laura.


Lyla tersenyum senang, hasil kue buatannya orang tuanya menyukainya.


"Kalian tidak makan?" tanya Keenan.


"Dia belum mengizinkan aku tuk mencicipinya," jawab Zen.


"Ayo dimakan!" ajak Keenan.


Keduanya pun memakannya.


-


Selesai makan malam dan menjelang tidur, Zen seperti biasa berdiri di balkon. Lyla dengan cara mengendap-endap mendekati pemuda itu lalu menutup matanya kedua tangannya.


Zen menurunkan tangan gadis itu lalu membalikkan badannya dan tersenyum.


"Aku sering melihatmu di sini sebelum tidur, apakah kamu merindukan tempat tinggalmu?"


"Ya, aku sangat merindukan ibu."


"Sebentar lagi hukumanmu selesai dan kamu pasti akan bertemu dengannya," ujar Lyla.


"Ya, aku akan kembali ke sana tapi kini jadi ragu," ucapnya.


"Kenapa ragu?"


"Aku tidak mau meninggalkanmu," Zen menatap Lyla.


Gadis itu terhenyak.


"Aku mulai menyukaimu dan jatuh cinta padamu, Lyla!" Zen berkata pelan dengan wajah sendu.


"Kamu bukan manusia, dunia kita berbeda. Buang perasaanmu itu, Zen."


"Aku ingin membuangnya tetapi tidak bisa, Lyla!" Zen menundukkan kepalanya.


Perlahan tangan Lyla mengelus pundak Zen, "Kamu pasti bisa, bahkan banyak pertentangan jika kamu mencintaiku!"


Zen mengangkat kepalanya kembali menatap Lyla. "Jika mereka merestui kita, apa kamu menerima perasaanku?"


Lyla terdiam.


"Aku menyukaimu, Lyla!"


Gadis itu menggelengkan kepalanya memohon agar Zen menghilangkan perasaannya.


Zen menunduk dan menangis hatinya kini menjadi dilema.


"Kembalilah ke sana, Zen. Lupakan semua perasaan kamu kepadaku!" Lyla pun pergi.


****


Keesokan paginya..


Lyla menikmati sarapan bersama keluarganya namun tak ada ocehan atau celotehan yang dikeluarkan dari mulut gadis itu.


Laura dan suaminya saling pandang, seakan hati keduanya bertanya apa yang terjadi pada putri mereka.


Lyla menyudahi sarapannya, ia memundurkan kursinya mengalungkan tasnya di bahu. "Aku berangkat, Ma, Pa!"


"Hati-hati, sayang."


Zen pun pamitan kepada sepasang suami istri itu lalu menyusul Lyla.


"Jangan mengikutiku lagi, Zen!" Lyla berkata tanpa menoleh dan terus berjalan.


"Waktuku belum habis jadi aku masih tetap mengikuti kamu di manapun berada!"


Lyla menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, "Jika perasaanmu kepadaku belum hilang, jangan pernah mengikutiku!"


"Kamu takut jatuh cinta padaku?"


"Bukan.."


"Lalu?"


"Aku tidak mau keluargamu menyakitiku ataupun orang tuaku!"


"Aku janji mereka tidak akan melakukan itu!"


"Apa kamu bisa menjaminnya?"


Zen tak mampu menjawabnya.


Lyla kembali melanjutkan perjalanannya menaiki bis.


Zen masih berdiri dan bergeming.


Lyla yang menaiki bus tanpa ditemani oleh Zen, tiba-tiba kendaraan yang ditumpanginya mendadak berhenti. Beberapa pria bertopeng memasuki bus lalu menodong pistol ke arah penumpang.


Lyla pun terkejut dan ketakutan.


"Serahkan barang berharga kalian!" salah seorang penjahat berkata lantang.


Sebagian penumpang tak mau memberikannya.


Salah satu penjahat menarik tas milik Lyla yang duduk di bagian belakang bus, gadis itu berusaha mempertahankannya.


"Aku tidak akan memberikannya kepada kalian!" ucap Lyla dengan nada tinggi.


Pria itu memaksa dan hendak melayangkan pukulan kepada Lyla namun sebuah tangan menepisnya dengan kuat.


Penjahat tersebut terkejut dan ingin membalas pemuda yang menepis tangannya.


Zen mencekik leher pria bertopeng itu dengan wajah memerah. "Jangan pernah sentuh dia!" berkata dengan tatapan tajam.


"I...iya!" Pria itu berkata dengan terbata serta ketakutan memegang tangan Zen.


Lyla masih dalam ketakutan dan hanya bisa diam.


Zen melepaskan cengkeramannya. "Kembalikan barang-barang mereka!" ucapnya lantang.


Para penjahat yang ketakutan pun mengembalikan barang-barang para penumpang, setelah itu mereka turun dari bus dengan berlari cepat.


"Terima kasih, Nak!"


"Terima kasih, Paman!"


"Terima kasih, Kak!"


Para penumpang mengucapkan terima kasih kepadanya.


Lyla yang masih syok, tangannya ditarik Zen untuk turun.


"Hei, kamu tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?" tanya Zen ketika mereka turun dari bus.


Lyla tak menjawab ia malah memeluk Zen dan menangis.