Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Keenan Memohon



Laura terbaring lemah di ranjang apartemennya. Keenan selalu berada di sisi wanita itu.


Kyu-na dan Rhi-kyu saling pandang memperhatikan Keenan yang begitu terpuruk.


"Kakak, kami bisa bantu memulihkan tenaga Laura." Kyu-na menawarkan diri.


"Ini sangat beresiko, kalian bisa kehabisan tenaga," ujar Keenan.


"Aku tidak bisa melihat Kakak bersedih," ucap Kyu-na meneteskan air matanya.


Keenan berdiri lalu berjalan menghampiri adiknya, ia memeluknya. "Hanya kamu yang paham dan peduli dengan ku!"


"Aku menyayangi, Kakak!" Kyu-na mengencangkan tangisnya.


"Aku juga menyayangimu, ku berharap kalian menemukan kebahagiaa," ucap Keenan melirik calon adik iparnya.


-


Sementara itu di Kerajaan Kyu-Sa....


Kyu-ma terduduk di kamar milik putranya, ia tak hentinya menangis.


Kyi-mi yang berada di samping Kyu-ma mengelus pundaknya. "Jangan menangis, suamiku."


"Bagaimana aku tidak bersedih, putraku sangat membenciku."


"Ini semua karena wanita itu!" Geram Kyi-mi.


"Ini salah kita, istriku!"


"Manusia itu yang sudah mempengaruhi putra kita, sekarang Kyu-na juga ikutan memberontak," ujar Kyi-mi.


"Kita yang salah, istriku. Seandainya kita tidak melemparkannya ke bumi mungkin dia takkan bertemu dengan wanita itu!"


"Jadi, kita harus bagaimana?" Tanya Kyi-mi.


"Kita harus menuruti permintaan Kyu-ri."


Kyi-mi lantas berdiri, "Tidak!" menolak tegas.


"Kau ingin melihat anak-anak menderita karena kita," ujar Kyu-ma masih duduk di lantai.


"Jika wanita itu mati, maka Kyu-ri bisa kembali lagi pada kita!"


"Kyu-ri tidak akan membiarkan wanita itu mati, dia sangat mencintainya," Kyu-ma lantas berdiri.


"Apa kau ingin putra kita membencimu?"


"Kyu-ri tidak mungkin membenci kita," Kyi-mi percaya penuh yakin.


"Aku tidak mengizinkanmu menyakiti wanita itu!" Larang Kyu-ma.


"Aku tidak peduli!" Kyi-mi melangkah cepat keluar dari kamar putranya.


Di bumi...


Keenan yang sedang memasak dibantu Kyu-na dan Rhi-kyu tampak terkejut ketika ruangan mereka penuh dengan asap warna-warni apalagi diiringi angin bertiup kencang.


Keenan dengan cepat berlari ke kamar tempat Laura dirawat begitu juga dengan adik dan kekasihnya.


Keenan membulatkan matanya melihat tubuh yang terbaring terangkat. Gegas ia melihat ke samping kekasihnya itu. "Apa yang Ibu lakukan?" tanyanya lantang.


"Ibu ingin melenyapkannya, agar kamu kembali ke Kerajaan Kyu-Sa."


"Jika ingin melenyapkannya, maka hancurkan aku juga!" Keenan mendekati ibunya.


"Aku tidak bisa menghancurkanmu putraku!"


"Laura memiliki ibu, bagaimana jika aku mati ditangan ibu yang lain," ucap Keenan.


Kyi-mi menatap putranya.


"Di mana hati nurani Ibu? Apa Ibu ingin aku menderita?"


"Tidak, Nak."


"Aku mencintainya, Bu. Jika menyakitinya itu artinya Ibu menyakitiku." Berkata dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu harus kembali, Kyu-ri!" mohonnya.


"Tidak, Bu. Aku sudah berjanji padanya," ujar Keenan.


"Aku Ibumu, kamu lebih memilih dia daripada keluargamu!"


"Apa kalian lupa siapa yang mencampakkan aku ke bumi hingga ku bertemu dengannya?" Keenan bertanya.


Kyi-mi tak sanggup menjawab.


"Ibu, izinkan aku bersamanya," Keenan berlutut di kaki wanita yang telah merawatnya dari lahir.


Mata Kyi-mi tampak berkaca-kaca.


"Aku sangat mencintai wanita itu, Bu. Tolong, jangan hancurkan kebahagiaan ku!"


Kyi-mi yang tak bisa menahan air matanya memilih pergi dengan cepat menghilang.


Laura terjatuh di ranjang, tubuhnya belum mampu merespon.


Keenan berlari ke ranjang, ia memeluk tubuh Laura yang tak sadarkan diri lebih dari 24 jam.


Keenan memperbaiki posisi tidur kekasihnya, dengan telaten ia merawat wanita itu. Mengusap kepala Laura sembari menatap wajah pucat yang biasanya berseri.


Kyu-na mengajak kekasihnya untuk keluar dari kamar Laura dan pria itu menurutinya.


"Maafkan aku, Laura. Karena diriku, kamu seperti ini. Harusnya dari awal ku mendengarkan kata-katamu untuk kembali ke duniaku. Tapi, aku menolaknya dan kini aku jatuh cinta padamu dan menjadi derita bagimu. Bangunlah, aku tidak bisa apa-apa tanpamu," menatap sendu.