
Keenan membalikkan tubuhnya lagi. "Ini tak ada hubungannya dengan Laura!"
"Lalu, kenapa Kakak tidak mau ku ajak kembali?"
"Aku sudah merasa nyaman di sini."
"Dunia kalian berbeda, Kak. Jangan sampai Kakak jatuh cinta dan membuat kedua orang tua kita murka," jelas Kyu-na.
"Mereka juga sudah membenciku, mereka selalu membela Kyu-ta!"
"Kak, aku tak bisa berlama-lama di sini. Kakak harus kembali!" Kyu-na mengarahkan matanya kepada Keenan membuat tangan dan kaki pria itu terikat.
"Lepaskan aku!"
"Aku tak ingin Kakak kabur lagi, ayo kita pulang!" Kyu-na menarik lengan Keenan.
"Tidak mau, Kyu-na!"
"Kak, aku tidak mau dimarahi ayah."
Keenan menggunakan kekuatannya agar kaki dan tangannya terlepas.
Kyu-na yang kesal akhirnya menyipitkan matanya membuat Keenan terpental.
Keenan lalu bangkit, ia menggerakkan tangannya ke arah adiknya. "Maafkan aku!"
Kyu-na pun menghilang.
Keenan memegang dadanya yang terasa sakit.
Sementara itu, Kyu-na tercampak ke negerinya tepat di kaki ibunya.
"Kyu-na!" sang ibu tampak kaget.
Wanita itu berdiri memegang perutnya.
"Apa kamu sudah berhasil membawa kakakmu ke sini?"
"Ibu lihat sendiri 'kan, malah aku dilempar kakak ke sini!" ketusnya.
"Kenapa dia tidak mau kembali?"
"Dia sudah nyaman di bumi!"
"Pasti ada alasan lainnya?"
"Kakak masih marah pada ibu dan ayah!"
"Kami hanya mengingatnya dan melarang jatuh cinta pada Kyi- Sha!"
"Bu, Kak Kyu-ri lebih dahulu mencintai Kyi-Sha tapi kalian yang memisahkan mereka," ujar Kyu-na.
"Mereka tak boleh menikah, Kyu-na!"
"Kenapa?"
"Kekuatan Kyu-ri akan hilang dan dia tak bisa menjadi raja." Ibu menjelaskan.
"Apa Ibu akan terima jika Kak Kyu-ri betah di bumi dan menjadi manusia?"
"Aku tidak mengizinkannya menjadi manusia apalagi jatuh cinta pada seorang manusia!"
"Aku tidak memiliki cara lagi untuk membawa kakak pulang, Bu!"
"Ibu akan menyuruh Kyi-Sha menjemputnya!"
"Apa Kak Kyu-ta mengizinkan istrinya menjemput mantan kekasihnya?"
"Kyu-na apa yang kamu katakan?" sentak Ibu. "Kyi-Sha adalah kakak iparnya Kyu-ri," lanjutnya.
"Terserah Ibu saja, aku tidak mau terlibat urusan dengan kakak," ucap Kyu-na kemudian berlalu.
*
Di bumi...
Laura berdiri menunggu Keenan di depan pantry. Tommy keluar dari ruangan itu.
"Apa kamu melihat Keenan?"
"Dari tadi saya tidak melihatnya, Nona."
"Apa dia tadi tak bekerja?"
"Tidak, Nona."
"Ya sudah, terima kasih!" Laura melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Kemana dia?" gumamnya.
"Nona, sepertinya mencari sesuatu," ujar Kesya karena melihat Laura terlihat bingung di depan lift.
"Apa kamu melihat Keenan?"
"Tidak, Nona. Sedari dia keluar dari ruangan Nona Laura, saya tak pernah melihatnya lagi."
"Begitu, ya. Kemana dia sebenarnya?"
"Mungkin dia pulang, Nona."
"Dia tak tahu jalan pulang ke apartemen," ujar Laura.
"Coba saja lihat ke sana, Nona."
"Baiklah, kalau begitu hari ini saya pulang lebih awal. Jika ada yang ingin bertemu, suruh besok kembali lagi!"
"Baik, Nona."
Laura berlari kecil ke parkiran mobil, ia melesat ke apartemennya.
Begitu sampai, ia membuka pintu lalu memanggil nama pria itu.
Berkali-kali memanggil tak ada sahutan.
"Kemana dia?"
Suara pintu kamar terbuka, dengan cepat Laura menoleh. Ia tersenyum kala melihat pria itu. Ia beranjak berdiri.
"Kau dari mana saja? Kenapa suka sekali menghilang? Kenapa tadi juga tidak bekerja?" cecarnya.
"Aku sakit perut, makanya pulang," ujar Keenan berbohong.
"Kau naik kendaraan apa ke sini?"
"Terbang!" ceplosnya.
"Kau bicara apa tadi?"
"Oh," ucap Laura singkat. "Sekarang bagaimana dengan perutmu, apa masih sakit?"
"Sudah tidak sakit lagi."
"Syukurlah!" Laura tersenyum lega.
"Kamu kenapa pulang?"
"Tadi aku mencarimu untuk mengajak makan siang tapi tak ada, makanya aku pulang," jawabnya.
"Jadi, kamu belum makan?"
Laura menggeleng.
"Aku akan memasak untukmu," ucap Keenan.
"Baiklah, kalau begitu aku mau membantumu memasak!" ujar Laura.
Keduanya berjalan ke dapur.
Laura mengiris bawang dan cabe, sementara Keenan memotong daging.
Laura memperhatikan Keenan mengaduk bumbu rempah-rempah di wajan stainless. "Ternyata kau pandai juga memasak, belajar dari mana?"
"Dari ibuku."
"Pasti ibumu sangat cantik," ujar Laura.
"Dari mana kamu tahu jika dia cantik?"
"Aku hanya menebak, karena putranya saja setampan dirimu!"
Keenan tersenyum.
"Aku baru ingat tentang wanita tadi pagi yang kami bertemu di lift," ucap Laura.
"Kamu sudah ingat wajahnya?"
"Aku tidak mengingat wajahnya tapi dia mencari kakaknya yang bernama Kyu-ri."
Keenan terdiam.
"Aku katakan padanya tidak ada karyawan yang bernama Kyu-ri tapi dia membentakku. Dia juga mengatakan kalau kakaknya itu bersamaku," tutur Laura. "Apa dia sebenarnya mencarimu?" ia menatap wajah Keenan.
"Aku tidak memiliki adik perempuan!"
"Entahlah, wanita itu memang cukup aneh. Untuk apa aku menyembunyikan kakaknya," gerutunya.
"Waktunya kita makan, lupakan kejadian tadi," ajak Keenan.
Pria itu menyajikannya di meja, keduanya duduk saling berhadapan.
"Keenan, kau belum memberitahuku darimana dirimu berasal," ujar Laura.
"Aku berasal dari tempat yang sangat jauh," ucap Keenan.
"Jauh? Di kota mana?"
"Kau tidak mungkin mengenalnya," ujar Keenan.
"Memangnya bukan dari negara ini?"
"Bukan."
"Lalu dari negara mana?"
"Kau tidak akan tahu jika aku jelaskan."
"Apa perlu waktu berjam-jam kita ke sana?"
"Tidak, hanya beberapa detik saja!"
Laura mengerutkan keningnya. "Kau sedang mendongeng atau bagaimana? Kau bilang jauh tapi perjalanan hanya beberapa detik saja!"
Keenan menyuapkan potongan daging ke mulut Laura. "Jangan bicara saja, lebih baik makan!"
"Aku penasaran saja dengan dirimu." Laura berkata sembari mengunyah.
"Jangan bertanya apapun tentangku, aku tidak akan menyakiti atau mencelakakanmu!"
"Aku hanya ingin tahu saja, agar bisa waspada," ujar Laura.
"Ya, mulai sekarang jangan bertanya!"
"Apa aku juga tidak boleh tahu usiamu?"
"Kamu ingin tahu usiaku?"
"Ya."
"Aku lahir dua ribu tahun yang lalu!"
Laura seketika tergelak.
"Apa ada yang aneh?"
"Mana ada manusia yang usianya sampai dua ribu tahun."
Keenan terdiam karena mulutnya keceplosan.
"Kau memang lucu, Keenan!" Laura tersenyum.
Keenan menatap Laura yang begitu sangat cantik ketika tersenyum.
Selesai makan siang, Laura melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda di ruang tamu.
Ia menatap layar laptop sambil mengemil potongan buah apel.
Keenan tak tahu entah kemana, tadi ia berpamitan pergi ke minimarket yang ada dilantai bawah.
Baru sejam berada di layar laptop, tiba-tiba lampu padam dan ruangan sangat gelap padahal hari masih siang.
Laura yang tampak kebingungan berusaha berdiri dan memanggil nama Keenan.
Lagi-lagi pria itu tak menjawabnya.
Asap warna-warni memenuhi ruangan tersebut dan membuat sesak.
Laura mencoba mencari penerangan tapi langkahnya seperti tertahan dan akhirnya ia jatuh.
Laura yang terbatuk terus memanggil pria itu. "Keenan!" lirihnya.
Laura pun pingsan.