
Keadaan Mall menjadi gelap karena ulah Keenan yang menggunakan kekuatannya untuk membalas sakit hati kekasihnya.
"Kenapa listriknya bisa padam?" tanyanya pada salah satu karyawan yang bertugas mengawasi gedung.
"Saya juga bingung, Tuan. Lift dan toilet masih bisa beroperasi dengan baik."
"Kerja kalian tidak becus!" omelnya.
Sementara itu, Keenan mengulum senyum mengingat aksinya tadi. "Itu belum seberapa, masih banyak lagi kejutan yang akan ku berikan," batinnya.
Setelah mengantarkan Keenan ke apartemen, Laura pulang ke rumah orang tuanya. Begitu sampai ia menghampiri Mama Dita yang sedang bersantai dengan suaminya di balkon.
"Delon mencabut izin toko di Mall Mallorca," ucap Laura.
"Apa?" Kedua orang itu tampak terkejut.
"Ya, dia memberikan toko tersebut kepada Aulia."
"Bagaimana mungkin?" Mama Dita tak percaya.
"Aku juga tidak tahu, bagaimana mereka saling kenal," ujar Laura.
"Aulia karyawan yang mencuri desainmu?" tanya Papa Romi.
"Iya, Pa."
"Pria begitu yang ingin kamu jodohkan kepada putri kita," ujar Papa Romi pada istrinya.
"Pasti dia mencabut izinnya karena Laura selalu menolaknya," Mama Dita memberikan alasan.
"Jika putri kita menolaknya bukan dengan cara licik seperti ini, dia memaksa kehendaknya untuk menuruti keinginannya," tutur Papa Romi.
"Maafkan Mama, Papa." Menatap suaminya.
"Dari awal aku sudah tidak menyukainya, Pa. Makanya ku terus menolak dijodohkan," ujar Laura.
"Keputusan kamu sudah tepat, Nak."
"Ya, Pa."
"Jadi, kamu akan memindahkan toko ke mana?"
"Aku akan mencari lahan atau tempat yang cocok," jawab Laura.
"Kapan kamu akan mencari lokasinya?"
"Besok pagi."
****
Laura meminta Keenan menemaninya mencari lokasi mereka tidak sendirian. Ada 2 orang karyawan yang juga ikut namun mereka lain mobil.
"Aku akan menyetir," ucap Keenan.
Laura memberikan kuncinya.
"Kamu sepertinya semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak," tebak Keenan.
"Ya, aku memikirkan lokasi dan membalas beberapa pesan dari tim yang ikut mencari," jelas Laura.
"Tidurlah sejenak, jika sudah sampai aku akan membangunkanmu," ujar Keenan.
Laura menggerakkan sedikit dagunya kemudian tertidur.
Perjalanan hampir 30 menit, akhirnya mereka tiba di sebuah lahan yang cukup luas dan sangat strategis.
Laura dan timnya mencoba bernegosiasi dengan pemiliknya.
Keenan berdiri di samping kekasihnya itu.
Hampir sejam mengobrol, berkeliling dan akhirnya pemilik tanah setuju di beli.
Laura menyerahkan urusan pembelian tanah kepada timnya, ia lalu kembali pulang.
Keenan mengambil alih menyetir sekilas menoleh ke arah kekasihnya. "Apa sekarang lebih lega?"
Laura mengangguk.
"Kalau begitu kita pulang, aku akan memasakkan makanan buatmu."
"Kita makan diluar saja," usulnya.
"Aku ingin di apartemen saja, biar kita memiliki waktu berdua mengobrol."
"Baiklah," ucapnya.
Mobil melesat ke apartemen.
Keenan bergegas memakai apron mengeluarkan bahan-bahan dari lemari es. Ia mulai memasak sementara Laura sedang bermain ponselnya.
Angin bertiup kencang disertai asap warna-warni. Keenan dengan cepat berlari menghampiri kekasihnya menarik tubuhnya dan memeluknya.
Kyi-mi datang bersama para pengawalnya.
"Ibu!" ucap Keenan lirih.
"Kamu harus kembali putraku!" Kyi-mi berkata lantang.
"Tidak, Bu!"
"Kalian saling mencintai, jadi saatnya kamu harus kembali ke kerajaan!"
"Bu, izinkan aku menjadi manusia seutuhnya!" Keenan melepaskan pelukannya lalu berlutut.
"Tidak, Nak. Ibu takkan mengizinkanmu menjadi manusia," ucap Kyi-mi tegas.
"Bu, aku sangat mencintai Laura. Jangan pisahkan kami!" Mohonnya.
"Dunia kalian berbeda!" sentak Kyi-mi.
"Aku mencintai Kyu-ri, Nyonya!"
Kyi-mi yang tidak suka dengan Laura, menggerakkan tangannya ke arah leher wanita itu sehingga ia tercekik.
Keenan lantas berdiri, "Lepaskan dia, Bu!"
"Karena dia, kamu mulai membantahku!" Kyi-mi marah.
"Bukan dia yang salah, Bu. Aku lebih dahulu jatuh cinta padanya," ujar Keenan.
Kyi-mi semakin emosi ia mencekik leher Laura lebih kuat meski dari jarak jauh.
Keenan mengeluarkan kekuatannya lalu ia arahkan pada ibunya. "Maafkan aku, Bu!"
Kyi-mi terdorong beberapa langkah dan melepaskan genggamannya.
Laura terjatuh dan terbatuk-batuk memegang lehernya.
"Bawa dia ke kerajaan!" perintah Kyi-mi pada pengawalnya.
Bukannya semakin berkurang, Kyi-mi memanggil lebih banyak lagi pasukannya sehingga Keenan kewalahan menghadapinya.
Laura tampak bingung dan ketakutan.
Keenan berhasil ditangkap.
"Jangan bawa dia!" Laura berlutut di kaki Kyi-mi yang terlihat sangat menakutkan dengan mata merah menyala.
"Kau harus sangat membencinya, agar dia kembali menjadi manusia seutuhnya!"
Laura terhenyak.
"Kau tidak mampu membencinya, kan?" tatapannya ia alihkan kepada wanita yang berlutut dikakinya.
"Aku tidak bisa membencinya, Nyonya." Laura tertunduk.
"Kalau begitu, bawa dia!" perintah Kyi-mi pada pengawalnya.
"Tolong, jangan bawa Kyu-ri pergi!" Laura memegang kaki Kyi-mi.
Kyi-mi yang terlihat emosi, menghentakkan kakinya membuat Laura terhempas ke dinding lalu pingsan.
"Laura!" teriak Keenan.
"Cepat bawa dia!" Kyi-mi pun menghilang.
Para pengawal juga sekaligus membawa Keenan.
Setibanya di kerajaan, Keenan terus memberontak. "Lepaskan aku, Ayah!"
"Tidak, Nak."
"Ibu sudah melukainya!" berkata dengan nada marah sambil menatap wanita yang melahirkannya.
"Itu hukuman baginya yang sudah berani mencintaimu!" ucap Kyi-mi.
"Kalian sendirilah yang mempertemukan aku dengan dia!" Keenan berkata dengan nada tinggi.
"Dia sudah tahu dirimu, Kyu-ri. Menjauhlah dari kehidupan manusia selamanya!" Kyu-ma berkata dingin.
"Aku tidak mau, Yah." Keenan terus memberontak.
"Biarkan saja dia bersama wanita itu, Yah!" Kyu-na akhirnya bersuara.
"Kembalilah ke kamarmu, Kyu-na. Apa belum cukup hukuman yang diberikan ayah kepadamu?" Kyu-ta ikut berbicara.
"Aku rela dihukum oleh Ayah, asal membiarkan Kak Kyu-ri bahagia!" menatap Kyu-ma.
"Lihatlah, Kyu-ri. Adikmu mengorbankan dirinya hanya untukmu. Apa kamu tidak memikirkannya?" Kyi-mi menatap putranya.
"Jangan pikirin aku, Kak. Aku juga akan menyusul Kakak jika keinginan ku tidak dituruti oleh Ayah dan Ibu," Kyu-na mengarahkan pandangannya kepada kedua orang tuanya.
"Apa keinginanmu, putriku?" tanya Kyu-ma lembut.
"Izinkan Kak Kyu-ri menikahi manusia itu dan restui hubungan aku dengan Rhi-kyu," jawab Kyu-na.
"Tidak!" Kyu-ma menolaknya tegas.
"Kamu tidak boleh menikah dengan Rhi-kyu!"
"Kalau begitu, hukum aku dan campakkan ke bumi!" ucap Kyu-na lantang.
"Tidak, Kyu-na!" sentak Kyu-ma. "Bawa dia dan tambahkan hukuman untuknya!" titahnya pada pengawal.
Dua orang pengawal mendekati Kyu-na dan menarik paksa tubuhnya menjauh dari balai pertemuan keluarga besar.
"Ayah, jangan hukum dia!" Keenan yang belum terlepas dari ikatan terus memberontak.
"Makanya, jangan membuat adikmu dalam masalah!" bentak Kyi-mi.
Keenan berlutut dan menangis. "Aku mohon, Yah, Bu!"
Sementara di bumi, Kyu-ta menghampiri tubuh Laura yang tergeletak. Ia mengamati seluruh wajah wanita itu. "Sangat cantik!" kagumnya.
Kyu-ta menggerakkan jemarinya menyentuh pipi Laura. Mendapatkan sentuhan membuat wanita itu mengerjapkan matanya.
Dalam penglihatannya yang samar, Laura dapat merasakan jika pria yang didekatnya bukan Keenan. Bergegas ia bangun dan memundurkan tubuhnya, "Pergi!" usirnya.
Kyu-ta tersenyum menyeringai.
"Pergi!" teriaknya dengan tubuh gemetaran.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau membencinya," ujar Kyu-ta.
"Aku tidak akan pernah membencinya, aku sangat mencintainya!"
"Dia takkan pernah kembali ke sini, jadi percuma kau mencintainya!"
"Aku yakin dia akan kembali!"
"Benarkah?" Kyu-ta mencekik leher Laura. "Apa dia akan datang menolongmu?" tersenyum jahat.
"Lepaskan aku!" memukul tangan Kyu-ta.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau membencinya!"
"Aku tidak akan pernah membencinya!" berkata dengan suara terputus-putus.
Di kerajaan Kyu-Sa, Keenan merasakan dan mendengar jika Laura membutuhkan pertolongannya.
"Ayah, dia dalam bahaya!" Keenan memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak ada yang boleh membantunya," ucap Kyu-ma.
Keenan memakai sisa kekuatannya melepas ikatan yang membelit tubuhnya.
Dengan keringat bercucuran dan tenaga melemah ia akhirnya berhasil terlepas.
Kyu-ma mengarahkan tangannya ke arah kaki putranya agar tidak melarikan diri.
"Ayah, tolong lepaskan aku!" Keenan terus mengiba, ketika sebuah tali kembali mengikat kakinya.
"Ayah tidak mau kecolongan lagi!"
Keenan berusaha melepaskan jeratan tali tersebut namun gagal lagi. Ia lantas berlutut dengan mengatupkan kedua telapak tangannya. "Ayah, aku sangat mencintainya. Dia wanita yang baik dan tulus mencintaiku. Dia membantuku ketika kalian melemparkan aku ke bumi. Dia pernah menyuruhku untuk kembali sebelum dia jatuh cinta kepadaku."
"Dia membutuhkan pertolongan aku, sekali ini berikan kesempatan itu!" Keenan memohon dengan air mata menetes.
"Baiklah, kamu boleh membantunya tapi segera kembali jika urusanmu sudah selesai!"
"Baik, Yah."
Kyu-ma melepaskan ikatannya. "Pergilah!"
"Terima kasih, Yah." Keenan pun menghilang.