
Laura menghampiri kekasihnya yang berada di bagian kebersihan kantor. Ya, dia ingin mengajak pria itu makan siang bersama.
Dalam perjalanan menuju restoran, Laura yang sedang menyetir berkata, "Apa kamu ingin belajar?" matanya ke arah stang mobil.
"Aku sudah bisa menyetir," jawab Keenan.
"Kamu tidak memiliki kekuatan lagi," ucap Laura.
"Kamu ingin aku yang menyetir?"
Laura mengangguk.
"Baiklah," ucap Keenan.
Laura menepikan kendaraannya lalu turun begitu juga dengan Keenan, mereka bertukaran posisi.
Keenan perlahan mulai menyetir. "Kamu lihat, kan?"
Laura menarik sudut bibirnya. "Syukurlah kalau kamu bisa menyetir, aku tidak capek."
"Oh, jadi kamu ingin aku menjadi sopirmu?"
Laura menggerakkan dagunya lembut sambil tersenyum.
Tangan kiri Keenan mengacak rambut kekasihnya. "Cukup pintar juga!" melemparkan senyumnya.
Laura pun tertawa.
Tak sampai 15 menit, keduanya tiba di restoran yang dituju.
Begitu keluar dari mobil, Keenan menggandeng tangan Laura memasuki restoran.
Keduanya menikmati makan siang yang cukup romantis.
"Kamu tidak masalah 'kan masih bekerja di bagian itu?"
"Tidak, karena aku hanya mampu melakukan itu saja."
"Jika ada pekerjaan yang cocok, aku akan menawarkan untukmu," ucap Laura.
"Ya, apapun pekerjaannya yang penting bisa bersamamu."
"Kalau begitu kapan kamu akan menemui orang tuaku?"
"Hari ini jika kamu mau," jawab Keenan.
"Apa kamu sudah siap bertemu dengan mereka, apalagi mama tidak begitu menyukaimu," ungkap Laura.
"Aku akan merebut hati kedua orang tuamu," ujar Keenan.
"Semoga saja kamu berhasil, dapatkan restu mama itu sangat sulit."
"Kamu tenang saja, aku bisa melakukannya!" ucap Keenan penuh yakin.
"Ya, aku percaya padamu."
****
Pagi ini, Keenan sengaja mendatangi kediaman kekasihnya. Kebetulan Papa Romi sedang menikmati teh di balkon rumah.
Laura mengajak Keenan menemui pria itu.
"Papa, Keenan ingin berbicara," ucap Laura.
"Oh, mari. Silahkan duduk!" Papa Romi mempersilakannya.
"Aku tinggal, ya!" ujar Laura pelan, dijawab anggukan Keenan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" menatap pria muda yang duduk dihadapannya.
"Saya mencintai putri anda," jawab Keenan.
"Ya, saya tahu. Begitu juga dengan Laura, pasti dia mencintaimu," ujar Papa Romi.
"Apa Laura sudah mengatakan pada Paman?"
"Tidak, dia belum cerita apapun tentangmu. Tapi, dari sikap yang ditunjukkannya dan membawamu ke sini. Saya sudah yakin, jika Laura menyukaimu juga," jawab Papa Romi.
Keenan menarik sudut bibirnya. Ternyata, menaklukkan hati papanya Laura sangat mudah.
-
Dua jam kemudian....
Laura menemani Mama Dita berbelanja kebutuhan rumah tangga di supermarket. Kebetulan hari libur jadi wanita cantik bisa menemani ibunya.
Ditengah aktivitas berbelanja, Keenan menghampiri Laura dan mamanya.
"Siang, Bibi!" sapanya.
"Siang," balas Mama Dita ketus.
Keenan mengambil alih mendorong kereta belanja.
"Pasti kamu yang sudah memberitahu dia jika kita di sini," ujar Mama Dita.
"Iya, Ma. Dia tak bisa jauh dariku," Laura menoleh sekilas melemparkan senyum pada kekasihnya.
Mama Dita kelihatan tak senang.
"Ma, Keenan ini sangat pintar memasak. Aku sering dibuatkan makanan olehnya," tutur Laura.
"Ya, karena dia ada maunya," ucap Dita menyindir.
"Bibi, ingin aku masakkan?" Keenan menawarkan diri.
"Tidak perlu," jawabnya ketus.
"Papa ingin Keenan memasak hari ini, jadi dia mengajaknya makan siang bersama," ucap Laura.
"Mama tidak akan mau memakannya," ujar Mama Dita.
"Tidak apa, yang penting Keenan memasak di rumah," ucap Laura tersenyum.
Sejam kemudian mereka tiba di rumah, Laura dan seorang asisten rumah tangga membantu Keenan untuk mempersiapkan makan siang bersama.
Hampir berkutat satu jam di dapur akhirnya makanan untuk makan siang selesai juga.
Sebagian masakan di serahkan kepada para asisten rumah tangga untuk dapat dinikmati.
Laura membantu Keenan menyajikan makanan di meja.
"Sepertinya sangat lezat," puji Papa Romi.
"Silahkan dicoba, Ma, Pa," ucap Laura.
Keempatnya duduk bersama, Papa Romi lebih dahulu mengambil makanan. Ia lalu mencicipinya.
Keenan dan Laura saling pandang, keduanya menunggu respon Papa Romi memberi komentar.
"Bagaimana, Pa?" Tanya Laura.
"Ini sangat enak sekali!"
"Terima kasih, Paman." Ucap Keenan tersenyum senang.
"Mama, tak mau mencoba rasa?" tanya Papa Romi.
"Coba rasa, Ma. Pasti nanti ketagihan," jawab Laura.
Mama Dita mulai mencicipinya.
Keenan harap-harap cemas menunggu komentar calon ibu mertuanya.
"Lumayan," ucap Mama Dita singkat.
Keenan dan Laura tersenyum, mereka pun juga mulai menikmati hidangan.
Mama Dita begitu lahap, ia sampai mengambil beberapa kali lauk yang dimasak putri dan calon menantunya.
Keenan, Laura dan Papa Romi hanya mengulum senyum melihat tingkah Mama Dita.
"Mama kebetulan sangat lapar," ucapnya.
"Tak apa, Ma. Silahkan dihabisi," ujar Papa Romi.
Selesai makan siang, Keenan berpamitan kepada Laura balik ke apartemennya.
"Kamu naik mobil saja," menyerahkan kunci.
"Tidak, aku naik bus saja."
"Tidak, Keenan. Besok pagi kamu jemput aku biar kita berangkat ke kantor bersama," ucap Laura.
"Baiklah," Keenan akhirnya menerima tawaran kekasihnya untuk mengendarai mobil.
Diperjalanan menuju apartemen, Keenan melihat dari kaca spion jika mobilnya diikuti seseorang ia mempercepat laju kendaraannya.
Mobil yang mengikutinya juga melakukan hal sama.
"Siapa mereka?" gumamnya.
Mobil yang mengikutinya, menghadang kendaraan Keenan dengan cepat ia mengerem.
Dua orang pria turun dari mobil.
Keenan juga keluar dari kendaraannya, tampaknya kedua orang tersebut terkejut ketika melihat dirinya yang turun.
"Pasti kalian mengira jika di mobil ini adalah Laura," ucap Keenan.
"Tidak masalah, kami juga ingin menghancurkanmu," ujar salah satu dari pria melayangkan pukulan ke arah wajah Keenan.
Dengan cepat Keenan menghindar, ia menepis secara kasar tangan pria yang mencoba melakukan pemukulan.
Perkelahian pun tak terhindarkan.
Keenan membalas dengan menendang perut lawannya hingga membuat keduanya tersungkur.
Dua orang pria ingin kembali menyerang namun wajahnya berubah ketakutan. Mereka pun berlari ke arah mobilnya dan pergi.
Keenan dengan nafas ngos-ngosan, tampak heran ia lalu membalikkan tubuhnya.
"Hai, Kak!" sapa Kyu-na tersenyum.
"Kamu?"
"Aku rindu padamu."
Keenan tersenyum.
"Aku harus kembali, sampai jumpa!" Kyu-na pun menghilang.
Sementara di tempat lain, sejam kemudian...
"Kalian menangkap satu orang saja tidak mampu!" maki Delon kepada anak buahnya.
"Dia cukup kuat, Tuan."
"Dia manusia biasa, bukan superhero!"
"Kami melihat dibelakangnya ada sosok wanita yang sangat menyeramkan, Tuan."
"Kalian itu kebanyakan makan, makanya pikirannya begitu!" maki Delon lagi.
"Kalau Tuan tidak percaya, coba lawan saja sendiri," celetuk salah satu anak buahnya.
"Aku membayar kalian untuk melakukannya, bukan menyuruhku. Dasar tidak berguna!" marahnya. "Pergilah!" usirnya.
Kedua orang pria tersebut pun keluar dari ruangan kerja Delon.
Di lain tempat, waktu yang sama..
Keenan menghubungi kekasihnya agar berhati-hati jika keluar rumah.
"Memangnya apa yang terjadi, Keenan?"
"Sepertinya ada seseorang ingin menyakitimu, mereka pikir jika di mobil adalah kamu."
"Astaga, tetapi kamu tidak apa-apa 'kan?"
"Aku tidak apa-apa, ada Kyu-na yang datang membantu," jawabnya.
"Syukurlah."
"Jika kamu ingin kemana-mana, harus bersamaku."
"Iya, Keenan."
"Jaga dirimu, ingat dengan pesanku tadi."
"Iya, aku akan menghubungimu jika melakukan perjalanan keluar rumah."
"Baguslah, aku mencintaimu dan sangat mengkhawatirkanmu," ucap Keenan.
"Aku juga."