
Di tengah sarapan pagi, Laura memberitahu kedua orang tuanya jika orang tua Keenan akan datang berkunjung dan membahas pernikahan.
"Kapan mereka akan datang kemari?" tanya Papa Romi.
"Nanti malam," jawab Laura.
"Baiklah, dengan senang hati kami menerima kehadiran mereka," ujar Papa Romi.
"Terima kasih, Pa," ucap Laura tersenyum.
Selesai sarapan, Laura menghubungi kekasihnya jika kedua orang tuanya siap bertemu dengan keluarga Keenan.
"Baiklah aku dan kedua orang tuaku akan datang nanti malam," ujar Keenan. "Sediakan makanan yang banyak," lanjutnya.
"Aku akan menyuruh pelayan untuk masak yang banyak." Janji Laura.
"Aku mau pergi bekerja, kamu tidak ke kantor?"
"Tidak."
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam," Keenan menutup panggilan telepon kekasihnya.
-
-
Malam hari pun tiba, Mama Dita dan Papa Romi tampak heran dengan menu hidangan yang begitu banyak.
"Kalian tidak salah masak sebanyak ini?" tanya Mama Dita melihat porsi makanan untuk 100 orang tersajikan di meja.
"Nona Laura yang memintanya, Nyonya."
"Memangnya keluarga Keenan datang semua?" tanya Papa Romi.
"Mama juga tidak tahu, Pa."
Beberapa menit kemudian, keluarga Keenan yang datang terdiri dari kedua orang tuanya, Kyu-na dan Ma-tha.
"Hanya lima orang saja, Pa." Bisik Mama Dita di telinga suaminya.
Papa Romi menyapa keluarga Keenan dengan melemparkan senyum meskipun tak ada balasan dari kedua calon mertua Laura.
"Silahkan duduk!" ucap Papa Romi mempersilakan.
Keluarga Keenan menatap dengan tatapan kosong membuat kedua orang tuanya Laura ketakutan.
"Bagaimana dengan pernikahan anak-anak kita?" tanya Papa Romi.
Kyu-ma mengarahkan pandangannya kepada putranya.
Keenan paham apa yang akan dikatakan ayahnya itu.
Papa Romi dan Mama Dita menunggu jawaban dari calon besannya.
"Kata ayah, dia setuju dengan pernikahan ini kalau bisa dipercepat," tutur Keenan.
"Oh, begitu," ucap Papa Romi. "Bagaimana jika pernikahan dilaksanakan dua pekan lagi?" lanjut bertanya.
Kyu-ma mengangguk mengiyakan.
Keluarga Keenan yang berjumlah 5 orang beserta dirinya duduk bersama di satu meja yang sama.
"Silahkan, dimakan!" Papa Romi mempersilakan.
Laura dan keluarganya baru 2 suapan, keluarga Keenan sudah menghabiskan 3 piring.
Papa Romi dan Mama Dita menelan salivanya ketika melihat keluarga Keenan yang cukup aneh.
Kedua orang tua Laura memaksakan tersenyum agar tidak menyakiti keluarga calon mertua putrinya.
Keenan yang sekarang menjadi manusia, tetap makan seperti orang normal lainnya.
"Makanannya sangat enak, Pa, Ma, makanya mereka begitu lahap," Laura memberikan alasan.
Papa Romi dan Mama Dita memakluminya.
Selesai mengobrol dan makan malam, keluarga Keenan pamit pulang.
Keenan sedang menyetir mengingatkan keluarganya yang sudah kembali menjadi wujud aslinya. "Ketika acara pernikahan ku, jangan makan seperti tadi. "
"Kenapa?" tanya Kyi-mi.
"Menurut mereka sangat aneh, Bu."
"Itu hanya sedikit, Kak. Biasanya kami makan lebih dari lima piring," jelas Kyu-na.
"Ini dunia manusia bukan dunia kita, Kyu-na."
"Kami akan makan seperti manusia pada umumnya," janji Kyu-ma.
Keenan tersenyum senang.
"Kalau begitu kami mau kembali pulang, sampai jumpa!" Kyu-ma menghilang begitu juga tiga yang lainnya.
Sementara itu, di kediaman Laura. Mama Dita bertanya, "Kenapa mereka makannya begitu?"
"Mereka memang seperti itu, Ma." Jawab Laura asal.
"Nanti ketika kalian menikah jangan membuat kami," pinta Mama Dita.
"Ya, Ma."
"Apa wajah mereka semua pucat begitu?" tanya Papa Romi.
"Ya, Pa. Cuaca di kota ini, memang tak cocok untuk kulit mereka, Pa." Memberikan alasan berbohong.
"Memangnya mereka dari kota mana?" Mama Dita penasaran.
"Sangat jauh dari kota ini, Ma."
"Iya, tapi nama kotanya apa?" tanya Mama Dita.
"Ma, aku sangat mengantuk sekali. Bisakah aku lebih dahulu tidur?" Berusaha menghindari pertanyaan dari kedua orang tuanya.
"Pergilah sana tidur," ucap Papa Romi.
"Terima kasih, Pa." Laura dengan cepat berjalan ke kamarnya.