Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
S2- Diizinkan Ke Bumi



Kyu-ma dan Kya-ri duduk di taman, dua lelaki beda usia itu saling mengobrol.


"Maafkan, Kakek."


Kya-ri tetap bergeming.


"Kami menyayangimu, kenapa kamu berpikir jika seluruh perhatian tertuju pada Lyla?"


"Jadi, namanya Lyla."


"Ya."


"Siapa dia?"


"Ayahnya adalah pamanmu, karena kesalahannya kami menghukumnya ke bumi."


"Lalu dia menjadi manusia selamanya?"


"Ya, dia jatuh cinta kepada manusia hingga membuat kami marah. Sekuat tenaga pamanmu berjuang untuk wanita itu. Meskipun itu tak membuat kami membencinya," ungkap Kyu-ma.


"Apa kesalahan yang dilakukan paman?"


"Belum waktunya kamu tahu."


"Baiklah, jika Kakek tidak mau memberitahunya. Apa aku boleh bermain dengan gadis itu di bumi?"


Kyu-ma menoleh sejenak menatap cucunya lalu kembali mengarahkan tatapan lurus.


"Apa aku boleh ke bumi?"


"Ya, tapi dengan syarat kamu tidak boleh menunjukkan wujud aslimu dan dilarang menyukai manusia," jawab Kyu-ma kembali menatap bocah laki-laki itu.


"Itu tak masalah," ucap Kya-ri dingin.


Kyu-ma tersenyum lalu mengacak rambut cucunya.


-


Di dalam Goa, Kya-ri mengatakan jika dirinya diizinkan ke bumi.


Kyi-Sha memandang wajah putranya karena mendengar ucapannya itu.


"Apa Ibu tidak setuju?"


"Ibu senang kamu ke bumi," jawabnya.


Kya-ri tersenyum.


"Ini adalah kesempatan kita untuk membalas mereka," ujar Kyi-Sha.


"Membalas apa, Bu?"


"Ibu berada di sini karena mereka, Nak. Dari hamil hingga melahirkanmu," jawab Kyi-Sha.


"Aku akan membalasnya karena telah menyakiti Ibu," janji Kya-ri.


"Ya, Nak. Berpura-puralah berteman dengan gadis itu, agar kamu mudah menyakitinya. Lyla adalah kelemahan mereka," ujar Kyi-Sha.


"Ya, Bu." Kya-ri tersenyum menyeringai.


Sementara Kyi-Sha tertawa dalam hati jika ia berhasil menghasut putranya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.


*****


Kya-ri kembali muncul di ruang kelas Lyla. Kakek dan neneknya tidak mengawasinya dan mempercayakan dirinya untuk melindungi gadis itu.


Kya-ri duduk di sebelah Lyla yang sedang mendengarkan penjelasan sang guru.


Kya-ri sengaja menyembunyikan buku yang ada dihadapan gadis itu.


Ketika Lyla hendak menulis ia kebingungan mencari bukunya. Ia lalu berdiri dan menjadi pusat perhatian guru dan teman-temannya.


"Ada apa, kenapa kamu berdiri?" tanya Bu Guru.


"Buku saya hilang, Bu."


"Mungkin ketinggalan," ucap Bu Guru.


"Tadi ada di sini, Bu!" Lyla menunjuk meja tulisnya.


"Tadi saya sudah memeriksanya," jelasnya.


"Coba lagi!" perintah Bu Guru.


Lyla kembali memeriksa tasnya dan benar ada.


"Bagaimana, Lyla? Apa ada?"


"Ada, Bu."


"Berapa kali kamu begitu? Sikapmu belakangan ini selalu aneh!"


"Maaf, Bu."


"Ya, cepat kerjakan tugasmu!"


"Ya, Bu!" ucap Lyla pelan.


Ketika istirahat, Lyla memilih ke perpustakaan sesekali ia menyeka air matanya, semua orang menganggap dia aneh.


Kya-ri yang mengikutinya tertawa senang, berhasil membuat gadis kecil itu bersedih.


Selesai mencari dan meminjam buku di perpustakaan, Lyla melangkah ke kelasnya.


Ketika melewati beberapa teman dari kelas lain, ia terjatuh lalu melihat ke belakang.


"Kenapa kalian mendorongku?"


"Siapa yang mendorongmu?" teman-temannya Lyla tampak kebingungan.


"Jangan berbohong!" sentaknya yang mulai kesal.


"Kamu sungguh aneh, kami tidak mendorongmu!"


"Dasar anak aneh!"


Lima orang anak perempuan itu meninggalkan Lyla yang menurutnya memang aneh.


Lyla membersihkan lututnya, "Jika bukan mereka, siapa yang mendorongku?" dalam hatinya.


"Aku yang melakukannya!" Kya-ri tertawa lepas.


-


Selepas sekolah, Kya-ri kembali membuat Lyla dalam kesusahan. Teman-teman sekelasnya sudah keluar dari ruangan sedangkan dia sedang mencari tasnya.


Lyla menggaruk kepalanya dan tampak kebingungan karena beberapa kali ia mengalami kejadian aneh.


Pintu kelas tertutup, penerangan di ruangan itu juga padam. Lyla semakin takut ia lalu berlari ke arah pintu dan menggedornya. "Tolong, buka!"


Kya-ri tersenyum senang, ia menggerakkan kursi lalu ia arahkan ke kaki gadis itu.


Kursi menabrak kaki Lyla cukup kuat sehingga gadis itu terjatuh. Ia memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya lalu menangis.


Kya-ri semakin tertawa lebar.


Pintu kelas terbuka, Kya-ri pun menghilang.


"Lyla!" Keenan mendekati putrinya.


"Papa!" meraih tubuh Keenan dan memeluknya.


"Papa menunggu kamu di parkiran kenapa lama sekali keluarnya?"


"Tas milikku hilang, Pa."


"Ini tas kamu!" menunjuk ke samping Lyla duduk.


"Aku sudah mencarinya tadi, Pa." Tampak bingung dan heran.


Keenan tahu jika ada sosok yang usil mengganggu putrinya.


"Ayo kita pulang, Papa percaya jika kamu bukan gadis yang aneh!" ucap Keenan padahal putrinya belum menjelaskan rentetan kejadian.


Lyla mengangguk, ia lalu berdiri memegang tangan sang papa. Keduanya berjalan ke arah parkiran dan melesat ke rumah.