
Sebelas tahun kemudian.....
Sudah tiga tahun ini, Kya-ri tidak mengunjungi bumi karena kekuatan sang ibu tak mampu membantunya ke tempat itu. Apa lagi ia kembali dihukum karena sudah membuat Lyla jatuh dari tangga.
Selama ini Kya-ri belum menunjukkan wujud aslinya maupun manusia kepada gadis itu.
"Ibu, bisakah membantuku ke bumi?"
"Kamu masih dihukum, Nak."
"Aku akan diam-diam tanpa sepengetahuan pihak istana," ujar Kya-ri.
"Ibu takut mereka akan menghukummu."
"Ibu bilang ingin membalas dendam, ini waktu yang tepat."
"Memang benar, tapi...."
"Ibu ingin mereka mendapatkan pembalasan, kan?"
"Benar."
"Lyla sudah dewasa, pasti sangat mengasyikkan jika membuat gadis itu tersiksa," Kya-ri tersenyum menyeringai.
"Baiklah, Ibu akan antar kamu ke ujung jalan ini," ucap Kyi-Sha.
-
Kya-ri kini tiba di bumi, ia tersenyum ketika melihat Lyla sedang duduk sendiri di taman sekolah.
Ya, Lyla menunggu seseorang yang ingin berbicara kepadanya. Ia berkali-kali melihat arlojinya. Namun, pria itu tak kunjung datang.
Lyla pun berdiri dan pergi dari tempat itu.
Kya-ri mengikutinya, dia mengubah diri menjadi manusia. Menggendong tas ransel, ia berjalan berlawanan arah dengan Lyla.
Keduanya saling berhadapan meskipun tidak terlalu jauh.
Ketika hendak melewati Kya-ri, Lyla mendongakkan kepalanya. Dengan cepat ia menarik pria itu hingga membuat keduanya terjatuh.
Bruuk...
Sebuah pot bunga jatuh dari balkon sebuah toko tempat Lyla melintas.
Kya-ri tetap dengan posisi diam dan dingin.
"Kamu tidak apa-apa?" Lyla bertanya.
Kya-ri menoleh menatap gadis yang menolongnya dengan tatapan dingin.
"Aku rasa kamu masih syok," ujar Lyla, ia lalu berdiri.
Kya-ri hanya diam.
Lyla yang bingung mau bicara akhirnya melanjutkan melangkah ke arah rumahnya.
Kya-ri menggerakkan kepalanya seperti robot lalu tersenyum tipis, ia mengikuti langkah gadis itu.
Lyla berhenti lalu menoleh ke belakang. "Kamu mengikutiku?"
Kya-ri tak menjawab.
Lyla melangkah mendekati pemuda itu. "Apa kamu tersesat?"
Lagi-lagi tak ada jawaban.
"Apa kamu membutuhkan bantuan aku?"
Kya-ri mengangguk.
"Baiklah, aku akan membantumu. Apa yang harus aku lakukan?"
Kya-ri menunjuk ke seberang jalan.
"Kamu ingin aku mengantarkanmu ke sana?"
Kya-ri mengangguk lagi.
"Ayo biar ku antar!" Lyla berjalan lebih dahulu.
Kya-ri yang berada di belakang tertawa keras lalu menghilang.
Lyla membalikkan badannya namun tak melihat pemuda itu.
Suara klakson saling bersahutan membuat Lyla tersadar dan kebingungan, ia kini berada di jalan yang ramai dilalui pengendara motor dan mobil.
"Nona, apa kau bisa minggir?" teriak seorang pria muda.
Lyla seperti orang linglung.
Lyla pun sadar, "Paman Tommy?"
Tommy menuntun Lyla ke pinggir, ia lalu berlari menghampiri motornya dan meminggirkannya. "Apa yang terjadi?" tanyanya pada gadis itu.
"Tadi aku menolong seorang pemuda tapi tiba-tiba dia entah ke mana," jelasnya.
Tommy menghela nafasnya. "Mari Paman antar kamu pulang!"
Lyla mengiyakan.
-
Begitu sampai di rumah gadis itu, Tommy menjelaskan kenapa dirinya bisa bertemu dengan Lyla dan membawanya pulang.
Setelah 30 menit mengobrol dengan Keenan, pria paruh baya itu pun pamit.
Keenan berjalan ke kamar putrinya, ia mengetuk pintu.
Lyla membuka pintunya. "Ada apa, Pa?"
"Apa kamu mengalami hal aneh lagi?"
"Ya, Pa."
"Ceritakan bagaimana ciri-ciri pemuda itu?"
"Kita mengobrol di teras samping saja, Pa."
"Baiklah," ucap Keenan.
Keduanya berjalan ke teras samping rumah yang menghadap dengan taman kecil.
"Dia lebih tinggi dariku, Pa. Wajahnya dan seluruh tubuhnya putih kemerahan. Bibirnya sangat merah sekali seperti wanita menggunakan lipstik. Tatapannya sangat dingin dan tidak bisa berbicara," ungkap Lyla.
Jantung Keenan berdesir hebat dan keringatan.
"Pa...Papa.."
Keenan berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Papa, kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nak."
"Dia berjalan di belakangku tak lama dia menghilang," ucap Lyla.
"Jika bertemu dengannya, Papa ingin kamu menjauhinya!"
"Ya, Pa."
*
Di kerajaan Kyu-Sa, Kya-ri menatap langit-langit kamarnya ia tersenyum ketika mengingat kejadian saat dirinya ditolong Lyla.
"Dia sangat baik, cantik sepertinya tulus," gumamnya.
"Siapa yang cantik?"
Kya-ri lalu terduduk, "Ibu!" tersenyum.
"Siapa yang baik dan tulus?"
"Bukan siapa-siapa, Bu."
"Apa kamu sedang jatuh cinta?"
"Tidak, Bu."
"Katakan saja, siapa wanita itu?"
"Tidak ada, Bu. Tak ada yang lagi jatuh cinta," Kya-ri mengelak.
"Baiklah, Ibu takkan bertanya lagi tentang itu," ujar Kyi-Sha. "Apa kamu tadi ke bumi?" lanjut bertanya.
"Ya, Bu."
"Apa kamu berhasil mencelakakan dia?"
"Aku membuatnya seperti orang linglung, ku pastikan gadis itu akan dijauhi teman-temannya."
"Ibu senang mendengarnya," ucap Kyi-Sha tersenyum.
"Bu, aku tadi menyamar menjadi manusia. Aku tidak tahu jika ada pot yang akan jatuh. Dia datang menolongku!"
"Kamu jangan tertipu dengan kebaikan yang ditunjukkan wanita itu!" Kyi-Sha mengingatkan putranya. "Itu hanya menutupi kejahatan dia, yang diwariskan dari kedua orang tuanya!" lanjutnya.
"Ya, Bu. Aku tidak akan tertipu!"