
Keenan melihat Laura dicekik Kyu-ta menggerakkan jemarinya, dari jarak jauh pria itu menghempaskan tubuh saudara tirinya hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Keenan berjalan mendekati Kyu-ta, ia mengeraskan rahangnya. Matanya memancarkan cahaya merah menyala.
"Kyu-ri, kenapa kau di sini?" Kyu-ta mencoba bangkit meskipun tubuhnya terasa sakit.
"Kau pikir aku tidak akan datang," desisnya.
"Kyu-ri, aku hanya ingin membuat dia membencimu agar kau menjadi manusia," jelas Kyu-ta.
"Aku memang ingin menjadi manusia, tapi tidak dengan menyakitinya," menatap penuh amarah.
Kyu-ta menggerakkan jemarinya dan membalas rasa sakitnya.
Keenan berhasil menghindar dari serangan saudaranya itu.
Dengan cepat Kyu-ta menghilang.
Laura masih terduduk dengan keadaan lemah dan memegang lehernya.
Keenan berlari menghampiri Laura, membantu wanita itu berdiri, meraih tubuhnya lalu memeluknya.
"Jangan pergi, Keenan!" lirihnya.
"Maafkan aku!"
"Jangan tinggalkan aku!" mohonnya dengan pelan.
"Aku tidak bisa lama-lama di sini, aku harus kembali!" ucap Keenan.
Laura menggelengkan kepalanya dengan mata mulai berair.
Keenan menangkup wajah Laura, "Kamu akan baik-baik saja!"
"Tidak, Keenan. Aku tidak akan baik-baik saja!" Mengencangkan tangisannya.
"Aku sudah berjanji pada ayah akan kembali, jaga dirimu. Aku mencintaimu." Keenan mengecup kening Laura.
"Aku juga mencintaimu, jangan pergi!" memohon dengan suara terisak.
"Maafkan aku!" Keenan melonggarkan pelukannya.
"Tidak, Keenan. Jangan pergi!" Laura terus menangis.
Keenan memundurkan langkahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kau mencintaiku tetaplah di sini!" teriaknya.
Keenan dengan cepat menghilang.
"Keenan!" Laura berteriak dengan kuat.
*
Laura terbangun dari tidurnya, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ya, dia berada di rumah orang tuanya dengan pakaian yang sama saat Keenan pergi menghilang.
Laura menyibak selimutnya, meraih kunci mobil dan tasnya di nakas. Ia bergegas pergi menuju apartemennya.
Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, ia mencoba tetap tenang. Ia berharap dirinya tadi hanya mimpi.
Begitu sampai, ia membuka pintu apartemennya tampak beberapa barang berantakan termasuk area dapur.
Makanan yang sempat dimasak Keenan masih berada di dalam kuali yang teronggok di atas kompor.
Laura berlari ke kamar milik Keenan. Tampak ruangan itu masih tertata rapi.
Melangkah gontai ke ruang tamu, ia menghempaskan tubuhnya di sofa. Tertunduk lesu lalu kembali menangis. "Jangan tinggalkan aku!" tersedu-sedu.
"Aku mencintaimu, Kyu-ri."
****
Keesokan harinya, Laura berangkat ke kantor seorang diri tanpa Keenan.
Tommy berpapasan dengan Laura. "Keenan, di mana Nona?"
"Dia sudah tidak bekerja lagi."
"Kenapa, Nona?"
"Dia sudah pulang ke kampungnya." Laura memberikan alasan berbohong.
"Oh," ucap Tommy singkat.
Di dalam ruangan, lagi-lagi Laura melamun. Ia begitu sangat merindukan pria itu. Ia memutar kursinya memandangi pemandangan kota dari jendela.
Laura menghembuskan nafasnya, melipat kedua tangannya di meja lalu meletakkan kepalanya di atas. "Keenan, aku rindu!"
Sementara itu, di Kerajaan Kyu-Sa....
Keenan berdiri di dekat jendela menghadap pemandangan yang penuh dengan bunga-bunga dan burung beserta kupu-kupu yang saling bercanda.
Pikirannya selalu tertuju kepada Laura yang di bumi. Ia berharap jika wanita itu baik-baik saja dan dapat menemukan pria yang mencintainya tulus.
"Kakak!" sapa Kyu-na pelan.
Keenan menoleh tanpa tersenyum.
"Kakak merindukannya?"
"Ya," jawabnya pelan.
"Kakak ingin kembali ke bumi?"
"Ya, aku ingin sekali menetap di bumi menemaninya," jawab Keenan. "Tapi, ayah memisahkan aku dengan dia," lanjutnya.
"Aku akan membantu Kakak kembali ke bumi," Kyu-na menawarkan diri.
"Tidak, Kyu-na. Ayah dan ibu akan marah dan menghukummu lagi," Keenan menolak.
"Aku tidak sendiri, Kak. Ada Rhi-kyu yang akan membantu kita," ujarnya.
"Apa? Kamu bisa dalam masalah besar jika bersama dia," ucap Keenan.
"Kami tidak ada pilihan lagi, Kak."
"Kamu mau ayah kita dan ayah Rhi-kyu melakukan perperangan?"
"Aku tidak peduli, Kak. Di bumi kami akan bersatu," jelas Kyu-na.
"Kekuatan kalian akan hilang jika menjadi manusia. Apa kalian mau?"
"Apapun yang terjadi aku tidak peduli, Kak."
"Aku takut ibu akan menyakiti Laura lagi," ujar Keenan.
"Apa Kakak tidak takut jika wanita itu diganggu oleh pria-pria yang jahat?"
Keenan terdiam dan berpikir.