Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Kyi-mi Memohon Pada Laura



Keenan menyusup masuk ke kamar inap dengan kecepatan angin tanpa ada yang tahu.


Laura yang sedang seorang diri dan lagi tertidur terbangun ketika merasakan sentuhan di pucuk kepalanya. "Keenan!"


Pria itu menarik tangannya dan tersenyum begitu hangat.


"Kenapa malam-malam begini kau ke sini?"


"Aku khawatir denganmu," jawabnya.


"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya kelelahan saja. Tak ada yang serius," ucap Laura.


Keenan menggerakkan dagunya dikit.


"Apa sebenarnya kau adalah Kyu-ri?"


Keenan terdiam.


"Jawab aku, Keenan!" sentaknya.


"Ya," jawabnya pelan.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Maafkan aku," lirihnya.


Laura turun dari brankar. "Ibumu menyuruhku aku mengembalikanmu."


"Aku tidak bisa, Laura."


"Kenapa? Kau ingin aku selalu dalam bahaya, keluargamu menyerangku hampir setiap waktu."


"Sekali lagi, maafkan aku!"


"Pergilah dari sini!" usirnya.


"Tidak, Laura. Aku tidak mau kembali ke sana!"


Laura terhempas sejauh 1 meter. Ia terjatuh dengan memegang perut. Keenan mendekatinya dan membantunya berdiri.


Asap warna-warni kembali memenuhi ruangan, suara tertawa kembali menggema.


Sesosok wanita dengan rupa sangat cantik muncul dihadapan keduanya.


"Akhirnya dia tahu," Kyi-Sha tersenyum puas.


Keenan hendak melawan namun tak bisa. Kekuatannya menghilang.


"Kenapa hanya diam? Apa kamu sekarang sudah tidak sanggup membalasku?" Kyi-Sha tersenyum jahat.


"Apa yang terjadi denganku?" tanya Keenan dalam hati.


"Dia membencimu, makanya kekuatanmu menghilang tapi aku tidak akan membiarkan kalian bersatu." Kyi-Sha menghempaskan tubuh Keenan ke sisi kiri menjauh dari Laura.


"Keenan!" teriak Laura.


Keenan terjatuh dan menahan sakit di perutnya.


"Kau ingin merasakan juga!" Kyi-Sha mendekati Laura dan mencekik wanita itu.


Laura memegang tangan Kyi-Sha berusaha melepaskannya.


Keenan hendak mendekat namun kekuatan Kyi-Sha mendorong tubuh pria itu menjauh.


Laura mengeluarkan air matanya, tubuhnya semakin melemah.


"Lepaskan dia, Kyi-Sha. Jika kamu membenciku, sakiti aku saja. Jangan dia!" pinta Keenan dengan suara lirih.


"Aku membenci kalian!" desisnya.


Angin kencang bertiup kencang, Kyu-na datang mendorong tubuh Kyi-Sha menjauh dari Laura.


Kyi-Sha terhempas lalu melihat siapa yang berani mendorongnya.


Laura terhuyung kemudian ambruk.


Keenan mendekati wanita itu. "Laura, bertahanlah!" panggilnya.


Kyi-Sha dan Kyu-na bertarung. Keduanya sama-sama hebat.


Keenan mencoba kekuatannya lagi tak bisa. Pria itu begitu panik dan sangat ketakutan.


Denyut jantung Laura semakin melemah. "Bangunlah, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!"


Kekuatan Keenan kembali muncul, ia mengerahkan kemampuannya untuk menyelamatkan Laura.


Di tempat yang sama, Kyi-Sha dan Kyu-na sama-sama saling terhempas kemudian keduanya menghilang.


Laura terbangun kemudian menatap Keenan lemah.


Keenan tersenyum ketika Laura mengerjapkan matanya perlahan, secepatnya dia pun menghilang.


"Dokter, pasien merespon!" ucap seorang perawat.


Dokter melihat elektrokardiogram detak jantung Laura kembali normal, tim medis tersenyum lega.


Setelah berbagai proses pemeriksaan dan dinyatakan membaik, keluarga pasien diperbolehkan masuk menjenguk.


Laura kembali membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Keenan.


"Laura!" Mama Dita dan Papa Romi tersenyum lebar.


"Papa, Mama, apa yang terjadi?" tanyanya seingatnya tadi ia sedang tertidur tapi Keenan datang.


"Kamu tadi ditemukan tergeletak di lantai, Nak." Jawab Papa Romi.


"Iya, Nak. Wajahmu pucat dan jantungmu melemah," sahut Mama Dita.


"Di mana Keenan?" tanyanya lagi.


"Keenan tidak ada datang ke sini," jawab Mama Dita.


"Benar, Nak. Hanya Kesya dan Delon yang datang menjengukmu." Sambung Papa Romi menjelaskan.


"Sangat jelas, tadi Keenan datang ke sini. Apa aku bermimpi lagi?" batin Laura bertanya.


"Nak, sebenarnya kenapa kamu sampai bisa jatuh di bawah?" tanya Papa Romi.


"Aku ingin ke kamar mandi, Pa." Laura berbohong.


"Kenapa tidak menunggu kami?" tanya Mama Dita.


"Sudah tak tahan menahan air, Ma." Berbohong lagi.


...----------------...


Keesokan paginya, Laura sudah kembali ke rumah. Dia masih perlu beristirahat yang cukup, Dokter tidak menemukan penyakit yang berbahaya di dalam tubuhnya.


Laura yang sedang membaca bukunya tampak terkejut ketika Keenan sudah berada di dalam kamarnya. "Kenapa di sini? Bagaimana jika kedua orang tuaku tahu?"


"Mereka sudah mengizinkannya," jawabnya berbohong.


"Benarkah?"


Keenan mengiyakan.


"Aku sudah datang menjengukmu."


"Kata kedua orang tuaku hanya Kesya dan Delon yang datang."


"Mungkin mereka tidak tahu, jika aku datang."


"Kau di mana saat aku tergeletak di lantai?"


"Aku........" Bingung menjawabnya.


"Keenan, aku mengalami peristiwa yang cukup aneh beberapa kali. Semua berkaitan denganmu, mereka datang menyerangku dan berharap kau kembali. Siapa sebenarnya dirimu?"


Keenan terdiam.


Laura lantas menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. "Keenan, apa ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku?"


"Aku bukan dari kalanganmu."


Laura mengernyitkan dahinya.


"Aku bukan manusia, Laura." Berkata dengan pelan.


Wanita itu memundurkan langkahnya.


"Aku dicampakkan ke bumi karena melakukan kesalahan. Dan kamu manusia yang menolongku. Kamu begitu baik dan tulus membantuku, sebagai balas Budi aku ingin selalu menjagamu."


"Kau bukan menjagaku, tapi malah menyakitiku!" sentaknya.


"Aku minta maaf, Laura. Karena aku keluargaku menyerangmu."


"Sekarang pulanglah, Keenan. Ini bukan duniamu," ujar Laura.


"Aku tidak mau kembali!"


"Kenapa?"


"Kamu dalam bahaya, Laura."


"Keluargamu yang membuat ku dalam bahaya!" Laura berkata dengan nada tinggi.


"Ada manusia jahat dan licik yang berada di sekitarmu," jelas Keenan.


"Yang jahat itu kau!"


"Kamu harus percaya padaku, Laura. Izinkan aku menjaga dan melindungimu!"


"Tidak, pergilah!" teriaknya. "Aku membencimu!" lanjutnya dengan nada emosi karena dirinya selama ini dibohongi pria yang ditolongnya.


Keenan tiba-tiba mundur beberapa langkah menjerit kesakitan kemudian menghilang.


Laura yang kaget, tampak bingung. "Keenan!" panggilnya. Ia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan kamarnya kehidupan gelap.


Laura terbangun membuka matanya, dirinya masih di atas ranjang dengan buku di atas tubuhnya. Melihat kaca jendela hari masih menampakkan sinar mataharinya.


Laura menyibak selimutnya ia duduk di pinggir ranjang. "Kenapa denganku?" sedikit menundukkan kepalanya.


Laura lantas meraih ponselnya dan menghubungi Kesya.


"Halo, Nona!" sapanya dari kejauhan.


"Apa Keenan hari ini bekerja?"


"Ya, Nona. Hampir tiap hari dia datang bekerja," jawabnya.


"Ya sudah, terima kasih," Laura kemudian menutup teleponnya.


Ia memijit pelipisnya, "Kenapa semuanya seperti nyata?" gumamnya.


Suara ketukan pintu membuat Laura bergegas menoleh.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda!" teriak pelayan berkata.


Laura berjalan ke pintu kemudian membukanya. "Siapa yang ingin bertemu dengan saya?"


"Seorang wanita sebaya Nyonya Dita," jawabnya.


"Saya akan menemuinya," ucap Laura kemudian menutup pintunya.


Ia mencuci wajahnya agar terlihat segar, merapikan rambut dan penampilannya lalu keluar menemui tamunya.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan seksi tersenyum ke arahnya.


"Maaf, ada perlu apa anda mencari saya?"


Wanita itu mengulurkan tangannya, "Saya Ibu kandungnya Kyu-ri."


"Kyu-ri?" Mengernyitkan dahinya.


"Ya, Kyu-ri adalah Keenan."


"Oh, jadi nama aslinya Kyu-ri."


"Ya."


"Anda ingin membawanya pulang?"


"Ya, tapi sekarang tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa membawanya dengan posisinya saat ini."


"Saya tidak mengerti maksudnya," ujar Laura.


"Dia sekarang menjadi manusia."


"Saya makin tak mengerti," ucap Laura.


Kyi-mi menggerakkan tangannya sedikit ke arah sebuah pot bunga kemudian mengangkatnya dari jarak jauh.


Laura mendelikkan matanya.


"Sekarang kau sudah percaya, kan?"


"Jadi.... selama ini...."


"Ya, Kyu-ri bukan manusia."


"Aku tidak percaya!" menggelengkan kepalanya.


"Terserah mau percaya atau tidak, sekarang aku tidak bisa menjemputnya," ucap Kyi-mi. "Karena dia menjadi manusia seperti kalian," lanjutnya.


"Aku harap kau mencintai putraku agar kekuatannya dan dirinya bisa kembali ke dunia kami."


"Dia sudah membohongiku, dia merahasiakan semuanya dariku. Aku bahkan ingin memecatnya dan mengusir dia dari apartemenku!"


"Jangan membencinya, dia takkan bisa kembali," mohon Kyi-mi.


"Aku akan memaksanya pulang dan kalian bisa menjemputnya. Jangan menggangu kehidupan ku lagi!"


"Baiklah," Kyi-mi kemudian menghilang membuat Laura mendelikkan matanya karena terkejut.