
Dua minggu kemudian....
Laura dan Keenan hari ini akan mengikat janji. Seluruh keluarga besar sang mempelai pengantin wanita juga telah hadir di gedung resepsi.
Sementara itu, Keenan yang masih berada di apartemen menunggu kedatangan keluarganya.
Ia meremas tangannya karena kedua orang tuanya juga belum kunjung datang.
Laura menghubunginya dan mengatakan jika acara pernikahan akan dilaksanakan 30 menit lagi.
Ditengah rasa kegundahannya, asap warna-warni muncul. Keenan tersenyum senang, akhirnya keluarganya tiba.
"Kakak, kenapa begitu panik?"
"Acara akan dilaksanakan sebentar lagi," jawabnya.
"Kita bisa menghilang tanpa harus menggunakan kendaraan manusia," ujar Kyu-na.
"Tidak, kalian tak boleh menggunakan kekuatan untuk mempersingkat perjalanan kita ke sana. Aku tidak mau keluarga Laura ketakutan dan membatalkan pernikahanku."
Larang Keenan.
"Baiklah, kami tidak akan mengeluarkan kekuatan demi kamu, putraku!" ujar Kyu-ma.
"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Keenan.
Sesampainya di gedung resepsi, para tamu menatap heran wajah keluarga Keenan yang begitu pucat dan tak bisa berbicara.
Keenan duduk berhadapan dengan Papa Romi di sampingnya ada Laura yang begitu cantik dengan gaun panjang berwarna merah.
Ditengah ikrar suci, angin berhembus kencang dan asap warna-warni membuat seluruh tamu batuk serta kesulitan bernapas.
Keluarga Keenan beranjak berdiri mencoba tenang, mereka sadar jika sebangsanya hadir ditengah pernikahan.
Suara tertawa menggema di seluruh ruangan.
Laura dan Keenan berdiri dengan sigap wanita itu memeluk calon suaminya.
"Aku tidak akan membiarkan dia menikahi manusia itu!" suara yang begitu lantang.
"Kyi-Sha, apa yang kamu lakukan?" Kyi-mi menatap geram menantunya.
"Aku tidak mau dia menjadi manusia dan menikahi wanita itu, Bu!" jawabnya tegas.
"Jangan merusak kebahagiaan, Kakakku!"
"Kalianlah yang sudah memisahkan aku dengan Kyu-ri, jadi ku tak ingin ada wanita manapun yang bisa memilikinya!"
"Kyi-Sha, kamu adalah istri Kyu-ta dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Lupakan Kyu-ri," pinta Kyu-ma.
"Tidak!" tolaknya lantang.
Kyu-na yang kesal menggerakkan tangannya dari jauh ke arah leher Kyi-Sha.
Wanita itu terseret 5 meter dengan memegang lehernya.
"Pergilah!" Kyu-na mendesis.
Kyi-Sha mengeluarkan kekuatannya, membalas adik iparnya.
Kyu-na pun terjatuh.
"Kyi-Sha, kenapa kamu selalu mengusik kehidupan ku?" tanya Keenan.
"Karena aku mencintaimu, Kyu-ri!"
"Pulanglah, Kyi-Sha!" pinta Kyu-ma lembut.
Angin bertiup cukup kencang kembali datang, Kyu-ta hadir ditengah acara.
"Kyi-Sha, pulanglah!" titahnya.
"Aku tidak mau!"
Kyu-ta yang sangat marah, memegang tangan istrinya dengan kuat lalu menghilang.
Kyu-ma mengembalikan kondisi seperti semula. Dengan memejamkan matanya, para tamu sudah melupakan kejadian beberapa menit yang lalu meskipun mereka tampak bingung dan berusaha mengingat namun tak berhasil.
Ikrar suci pernikahan pun diucapkan para tamu tersenyum lega dan bahagia. Keenan dan Laura kini resmi menjadi sepasang suami istri.
Perut Kyu-na sangat lapar, ia dan Rhi-kyu berjalan ke arah meja prasmanan. Keduanya melihat makanan begitu banyak dan lezat.
"Aku ingin menghabiskannya," ucap Rhi-kyu yang hanya Kyu-na mendengarnya.
"Aku juga, tapi Kak Kyu-ri melarang kita makan seperti di kerajaan. Ingat posisi kita di sini sebagai manusia normal."
"Apa boleh kita banyak makanan ini ke kerajaan?"
"Jika kau membawanya, para tamu di sini makan apa?"
"Mereka bisa membuatnya lagi!"
"Tidak mungkin, kau mau Kak Kyu-ri memarahi kita."
"Tidak!"
"Makan sekedarnya saja," ucap Kyu-na.
"Baiklah," Rhi-kyu mengambil makanan ke dalam piringnya.
Baru semenit, sudah tak tersisa tanpa sepengetahuan Kyu-na. Rhi-kyu mengambil lebih banyak dengan kekuatannya hingga 10 piring.
Para pekerja yang menangani katering tampak heran dengan makanan yang baru saja mereka hidangkan telah habis dalam hitungan detik.
Kyu-na yang melihat wajah keheranan para manusia itu, lantas menoleh ke arah kekasihnya yang ada disampingnya. "Pasti itu kerjaanmu?"
Rhi-kyu tersenyum menyengir.
"Ayo kita pergi dari sini, sebelum kau menghabiskan seluruh makanan!" ajak Kyu-na.
Rhi-kyu mengiyakan karena dia juga sudah kenyang.
*
Sementara itu di kerajaan Kyu-Sa..
Kyu-ta mendorong istrinya ke ranjang. Dengan tatapan marah dan kecewa.
"Jadi ini alasan kamu pergi ke bumi untuk mengejar Kyu-ri!"
"Iya, aku mencintainya!"
Kyu-ta mencekik leher istrinya penuh emosi.
"Kau ingin aku mati bersama anakmu!"
Kyu-ta melepaskan cengkeramannya.
Kyi-Sha tersenyum menyeringai, "Kenapa berhenti menyakitiku?"
"Jika bukan anak dalam kandunganmu, mungkin aku akan membunuhmu!"
"Jika kau berani menyakiti calon anakku, aku tidak akan tinggal diam!" menekankan kata-katanya.
"Bukankah kau hanya ingin menjadi raja?"
"Ya, aku ingin menjadi seorang raja. Aku akan mengambil tahta yang diberikan ibuku kepada ayah tiri ku!"
"Sekarang kau sudah mendapatkannya, sainganmu kini menjadi manusia. Untuk apa lagi kau mengharapkan anak ini?"
"Aku ingin dia menjadi penerus ku kelak!"
*
Di bumi...
Keluarga Keenan berpamitan kepada keluarga Laura. Pria itu mengendarai mobilnya berpura-pura mengantar keluarganya agar kedua mertuanya tidak curiga jika orang tuanya bukan dari kalangan manusia.
Di perjalanan pulang, di dalam mobil keluarga Keenan kembali ke wujud aslinya.
"Kami tidak bisa selalu mengunjungimu, Kyu-ri," ujar Kyi-mi.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku senang di pernikahan ku kalian sudah datang," ucap Keenan.
"Kakak harus selalu melindungi Kak Laura, ada manusia jahat dan licik yang ingin menyakitinya," ujar Kyu-na.
"Siapa manusia itu, Kyu-na?" tanya Keenan.
"Pria yang menculik Kak Laura dan seorang wanita," jawab Kyu-na.
"Aku menjaganya dari dua manusia itu."
"Kami tidak bisa selalu datang membantumu," ujar Kyu-ma.
"Tidak apa-apa, Yah."
"Jaga dirimu dan istrimu," sahut Kyi-mi.
"Aku akan menjaga mereka."
"Kami akan pastikan jika Kyi-Sha takkan kembali ke bumi," janji Kyu-ma.
"Terima kasih, Yah. Kalian masih menganggap aku keluarga," ungkap Keenan.
"Sama-sama, Nak." Kyu-ma tersenyum. "Kalau begitu, kami pamit!" Ia pun menghilang.
"Sampai jumpa!" ucap 4 lainnya, yang juga menghilang.
Keenan kembali ke gedung resepsi, membawa Laura ke apartemen. Mereka akan melewati malam penuh cinta di tempat dirinya pertama di rawat wanita itu.
Perlahan jemari Keenan menurunkan resleting gaun yang dikenakan istrinya. Tampak bahu Laura yang mulus.
Keenan mengecupnya dengan lembut, membuat Laura merasa geli.
Bukan hanya satu kecupan saja, tapi berulang kali di kedua bahu istrinya.
Laura membalikkan badannya, menatap suaminya sembari tersenyum manis.
Keenan sedikit menundukkan wajahnya lalu membenamkan ciuman di bibir istrinya.
Laura mengalungkan tangannya di leher sang suami, ia membalas ciumannya.
Tanpa melepaskan pangutan bibir, Keenan menjatuhkan tubuh Laura dengan lembut di ranjang.
Jemarinya perlahan mengusap paha istrinya, Laura yang merasa geli semakin dalam membenamkan ciumannya.
Keenan melepaskan ciumannya dan bibirnya kini menyusuri setiap jejak lekuk tubuh istrinya yang begitu menggoda.
Dan terjadilah penyatuan dua insan di malam yang begitu indah bagi kedua pasang pengantin baru.
****
Matahari telah tinggi, namun Laura masih berselimut. Pertempurannya dengan Keenan membuatnya sangat kelelahan apalagi suaminya itu begitu beringas dan ganas. Sehingga keduanya melakukannya hingga tiga kali.
Keenan yang sudah selesai memasak. Memasuki kamar tidurnya yang menjadi ajang pergulatan dirinya dan istrinya.
Dengan Keenan memberikan kecupan di wajah, Laura mengerjapkan matanya.
Keenan melemparkan senyuman yang begitu hangat. "Selamat siang!"
Laura gegas duduk lalu melihat ke arah jendela. "Kamu serius!"
"Ya, aku serius ini sudah jam dua belas siang," ujar Keenan.
"Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kamu tidur sangat lelap."
"Astaga, baru kali ini aku bangun jam segini!" melihat ke arah jam di dinding.
Keenan tertawa kecil.
"Ini semua salahmu!" mengerucutkan bibirnya.
"Aku minta maaf sudah membuatmu bangun kesiangan," Keenan tetap tersenyum.
Kini Laura menarik kedua ujung bibirnya.
"Pergilah mandi, aku sudah siapkan makan siang untuk kita," ujar Keenan.
Laura menyibak selimutnya lalu perlahan turun dari ranjang dan berjalan dengan tertatih-tatih ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, ia kembali ke ranjangnya masih memakai handuk kimono.
Keenan yang kembali masuk ke kamar melihat Laura masih di ranjang mendekatinya, "Kenapa masih di sini?"
"Aku tidak kuat berjalan."
Tanpa bertanya lagi, Keenan menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke ruang makan. Ia mendudukkannya di kursi.
Menaruh nasi beserta lauk pauk dan sayuran ke dalam piring lalu ia sodorkan ke hadapan istrinya. "Makanlah, biar ada tenagamu untuk berjalan."
Laura dengan semangat menyantap makanan sang suami begitu lahap.
Keenan melihatnya tersenyum, "Sepertinya pertarungan kita semalam membuatmu sangat kelaparan, ya."
"Ya, aku memang sangat kelaparan sampai melewati sarapan."
"Setelah ini kita lanjut lagi, ya."
Laura menghentikan suapannya dan menatap suaminya.
Keenan tersenyum tanpa dosa.
"Pertarungan semalam sudah membuat aku susah berjalan, kamu ingin tambah lagi. Apa kamu tidak kasihan denganku?" menunjukkan wajah sedih.
"Aku tentunya, sangat kasihan. Aku hanya bercanda, istriku!"
Laura kembali tersenyum, "Aku senang mendengarnya."