
"Aku tidak mau bertunangan denganmu!" Laura berkata tegas.
Delon mencengkeram lengan Laura sangat kuat sehingga wanita itu kesakitan.
"Lepaskan!" sentaknya.
"Tidak akan!" Delon mengeraskan rahangnya.
"Kita belum bertunangan saja, kau sudah bertindak kasar seperti ini!" desisnya.
"Aku harus mendapatkan apa yang ku mau termasuk dirimu!" Delon menekankan kata-katanya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau!" menatap tajam.
Delon yang sudah tersulut emosi, melepaskan cengkeramannya dengan mendorong tubuh Laura hingga membuat wanita itu terhuyung.
Keenan dengan cepat menahan tubuh Laura agar tidak jatuh.
"Keenan!" ucap Laura lirih kala menatap pria yang kini sedang setengah memeluk dirinya.
Delon mengerutkan keningnya, "Kenapa ada dia di sini?" tanya heran karena tak mendengar pintu terbuka.
Keenan menatap Delon dengan mata merah membuat pria itu ketakutan dan mundur.
"Si..siapa kau?" Delon bertanya dengan terbata.
Laura tampak bingung, melihat Delon seperti orang ketakutan padahal tak ada yang aneh dengan dirinya atau Keenan.
"Lekas pergi dari sini, jangan mengganggu dia atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Keenan.
Delon yang ketakutan, berlari dari ruangan kerja Laura.
Keenan membantu wanita itu berdiri.
"Kenapa kau bisa ada di ruanganku?"
"Aku mengetuk pintu berkali-kali, tapi kalian tidak mendengarnya," jawab Keenan berbohong.
"Benarkah?" Laura memijit pelipisnya.
"Ya, aku harus kembali bekerja," pamitnya.
"Keenan, tunggu!"
"Ada apa?"
"Kenapa tadi Delon seperti orang ketakutan ketika melihatmu?"
"Mungkin itu perasaan kamu saja," jawab Keenan asal.
"Itu seperti nyata, bukan perasaan," ujar Laura.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa tanyakan kepada pria tadi," ucap Keenan kemudian berlalu.
Keenan keluar dari ruangan, secepat angin mengejar pria itu.
"Kau...kenapa di sini? Pergi sana!" usirnya dengan mimik wajah ketakutan.
Keenan tersenyum smirk.
"Pergi sana!" teriaknya.
Keenan meraih tangan Delon, menatap dengan mata merah menyala.
"Mau apa kau?" tanyanya terbata dengan wajah penuh keringat.
Tanpa menjawab, Keenan memejamkan matanya. Seketika juga, Delon pun pingsan.
Keenan kemudian menghilang.
Delon terbangun beberapa menit kemudian ia mengerjapkan matanya, kepalanya terasa sakit. "Apa yang terjadi denganku?" batinnya.
Sementara itu, makan siang ini Keenan tak berada di kantor. Hal itu tidak membuat Laura panik maupun khawatir.
Wanita itu pergi makan bersama Kesya di sebuah restoran.
Tiba-tiba Laura kembali merasakan hawa panas di seluruh tubuhnya. Wanita itu terjatuh dan terasa tercekik.
Orang-orang yang berada di sekitarnya tak memberikan respon, tetap cuek dan melakukan kegiatan masing-masing.
Laura mengulurkan tangannya meminta bantuan Kesya yang berada dekatnya.
Asistennya tak memperhatikannya malah sibuk dengan ponsel.
Laura tak bisa menghirup udara dengan baik. "Tolong!" memohon dengan terbata.
"Aku sudah memperingatkanmu agar mengembalikan putraku, tapi kenapa kau enggan melakukannya?" suara ibu Kyu-ri terdengar muncul sangat menakutkan.
Laura tak bisa berbicara, nafasnya semakin sesak.
"Kembalikan putraku, jika kau ingin bebas!"
Wanita itu pun menghilang.
Karena tak kuat, Laura pun pingsan.
-
Malam harinya, Laura tersadar dan terbangun. Kini ia sudah berada di ruangan kamar inap. Tampak kedua orang tuanya menunggunya.
"Ma, Pa, apa yang terjadi?" tanyanya lirih.
"Kata Kesya makan siang tadi di restoran kamu pingsan dengan posisi terduduk," jawab Mama Dita.
Laura semakin heran padahal dia merasa sehat.
"Dokter juga sudah memeriksamu, dia mengatakan kalau kamu hanya kelelahan dan dehidrasi," Papa Romi pun berkata.
"Sangat aneh," batin Laura.