
Tujuh bulan kemudian....
Pasca kebakaran, toko itu kini telah kembali kokoh berdiri. Aulia yang menjadi dalang utamanya, dijatuhi hukuman 3 tahun serta mengganti biaya pembangunan sebesar 70 persen.
Laura tersenyum memandangi toko yang jauh lebih indah dan cantik dari sebelumnya. Sambil memegang tangan suaminya, ia melangkah memasuki tempat itu.
Ada juga kedua orang tuanya Laura yang turut menyaksikan peresmian toko.
"Jangan terlalu banyak berjalan, usia kehamilanmu masih terlalu muda," Keenan mengingatkan istrinya yang begitu sangat antusias.
"Iya, aku akan hati-hati kamu tenang saja," Laura tersenyum menatap suaminya.
Karena pembukaan, Laura memberikan diskon hingga 30 persen. Makanya, banyak toko pengunjung yang datang.
Selesai acara peresmian toko, Laura beserta suami dan kedua orang tuanya. Menikmati makan siang bersama di restoran tak jauh dari toko.
Keenan yang berada di dekat istrinya selalu memperhatikan makanan buat wanita itu.
"Apa aku boleh makan ini?" Menunjuk gambar cumi di menu makanan.
"Tidak, selama hamil kamu memiliki alergi dengan seluruh makanan laut," jawab Keenan.
"Tapi, aku ingin sekali," rengeknya.
"Kasihan dengan calon bayi kita," ujar Keenan.
"Sudah lama aku tidak makan cumi, Keenan." Menunjukkan wajah imutnya memohon.
"Laura, apa yang dikatakan suamimu benar. Dengarkan dia," sahut Mama Dita.
"Ma, ini juga permintaan calon bayi," ujar Laura mengelus perutnya yang memang belum membesar karena masih 2 bulan.
"Tetap tidak boleh, Laura," Keenan berkata dengan lembut.
Wanita itu mengerucutkan bibirnya.
Keenan mencubit pipi istrinya, "Sabar demi buah hati kita!"
Laura memaksakan tersenyum.
Karena istrinya tak bisa memakan cumi, menu makanan yang menjadi hidangan favoritnya Keenan juga tidak dipesan.
Keempat orang tersebut mengobrol sesekali tawa menyertainya.
*
Di Kerajaan Kyu-Sa....
Seluruh istana sedang menyambut kelahiran penerus kerajaan, semua tampak sibuk.
Sementara itu, Kyi-Sha bertaruh di ranjang kamar. Kyu-ta menggenggam tangan istrinya begitu erat. Meskipun wanita itu tak pernah memandang wajah suaminya, karena sangat begitu membencinya.
Kyi-Sha berteriak sekuat tenaganya, hampir 30 menit berjuang akhirnya putra Kyu-ta hadir.
Suara tangis bayi menggema ke seluruh kerajaan Kyu-Sa. Senyum sumringah terpancar dari wajah para penghuni istana.
Kyi-Sha tersenyum lalu menggendong putranya dan menciumnya.
Kabar kelahiran, putra Kyu-ta sampai juga ditelinga Keenan meskipun ia tak bisa melihat wujudnya.
"Cepat bersihkan bayi itu dan pakaikan pakaian, lalu kita akan tunjukkan kepada seluruh rakyat kerajaan Kyu-Sa!" titah Kyi-mi.
"Setelah itu kembalikan dia kepadaku," Kyi-Sha memotong pembicaraan mertuanya.
"Ini sebentar saja," ujar Kyi-mi. "Pasti kami akan mengembalikan dia segera," lanjutnya.
"Aku juga ingin Kyu-ta menepati janjinya," ucap Kyi-Sha.
"Apa permintaan kamu?" tanya Kyi-mi.
"Kembalikan aku dan putraku di Goa!"
"Tidak," tolak Kyi-mi.
"Hidupku lebih nyaman di sana," ujar Kyi-Sha.
"Baiklah, aku akan turuti kemauan kamu!" ucap Kyi-mi. "Dengan syarat?" lanjutnya.
"Syarat apa?"
"Putramu boleh bermain dan berkunjung ke istana kami."
"Baiklah, aku setuju."
Selesai dibersihkan dan dibalut dengan selimut Kyi-Sha menyusuinya. Kyi-mi meraih cucunya dan menggendongnya.
Kyi-mi berjalan memasuki aula istana dengan tersenyum.
Kyu-ma menyambutnya dengan sukacita termasuk para penghuni istana lainnya.
Setelah itu Kyi-mi melangkah keluar dari istana, di luar bangunan megah itu ribuan rakyat telah berkumpul untuk menyaksikan calon penerus kerajaan.
Hanya beberapa menit diluar, Kyi-mi membawa kembali cucunya ke dalam istana lalu ia serahkan pada menantunya.
Kyi-Sha berjalan didampingi 2 pelayan wanita dan 2 orang pengawal menuju Goa.
Kyu-ta tak mengantarkannya karena Kyi-Sha yang memintanya.
Didalam Goa, Kyi-Sha menangis sembari mendekap putranya. "Aku akan membalas kalian!" batinnya.