Fall In Love From The Sky

Fall In Love From The Sky
Istri Delon



Sepasang pengantin baru itu masih menikmati waktu libur bekerjanya. Kegiatan mereka sore ini mengunjungi toko yang baru buka beberapa minggu lalu.


Menempuh perjalanan selama 30 menit, keduanya tiba di toko tersebut. Meski tidak berada di mall namun tetap ramai pengunjung.


Menggenggam tangan istrinya, Keenan berjalan memasuki bangunan itu.


Keduanya berjalan di dampingi seorang pria yang bertugas sebagai manajer.


Mengelilingi bangunan 3 lantai, Laura memastikan pakaian yang berada di tokonya tetap terjaga kualitasnya.


Laura berjalan ke arah beberapa pakaian wanita dewasa yang tampak seperti model lama, ia lalu melihat harga di kerahnya. "Ini kenapa masih dijual harga segini?" tanyanya.


Manajer tampak bingung dengan pertanyaan atasannya.


"Jika model seperti ini kurang peminat, kalian turunkan harganya dengan memberikan diskon," ucap Laura.


"Maaf, Nona. Kami belum mendapatkan perintah menurunkan harga dari pusat."


"Kalau begitu, turunkan hari ini juga!" titahnya.


"Turun berapa persen, Nona?"


"Lima puluh persen."


"Apa kita tidak akan merugi, Nona?"


"Tidak, daripada uang tak kembali lebih baik jual rugi."


"Baiklah, Nona."


Laura dan Keenan melanjutkan ke bagian pakaian yang lainnya.


Hampir sejam berkeliling dan bertanya dengan manajer dan karyawan, keduanya pun pergi meninggalkan toko itu.


Di perjalanan menuju pulang, Laura meminta Keenan untuk berhenti ke sebuah restoran karena ia begitu sangat lapar.


Mobil berhenti di sebuah restoran, keduanya turun dan memesan makanan.


Keenan tak hentinya tersenyum melihat sang istri.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Laura memotong steak daging.


"Aku senang akhirnya bisa menikahimu," jawab Keenan.


"Aku juga," Laura juga membalasnya dengan senyuman.


"Jika kamu ingin pergi ke suatu tempat, beritahu aku agar bisa menemanimu," ujar Keenan.


"Pastinya aku akan mengabarimu, tapi kamu tidak bisa terus bersamaku kecuali di rumah."


"Aku takut sesuatu yang buruk menimpamu," ujar Keenan.


"Delon sudah ditahan dan mantan kekasihmu juga tak mungkin ke sini lagi," ucap Laura.


"Tapi, aku benar-benar takut. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melindungimu dengan cepat. Salah satu caranya selalu dekat, agar kamu tidak terluka."


"Keenan, aku tahu kamu begitu khawatir. Semoga hal buruk tidak terjadi pada kita."


"Semoga saja."


Selesai menikmati makan sore, kedua pasangan pengantin ini pun kembali ke apartemennya. Menghabiskan malam berdua dengan saling bercinta.


*


Di kerajaan Kyu-Sa...


"Ayah, kapan aku dan Rhi-kyu di izinkan menikah?"


"Tunggu calon penerus Kyu-ta lahir dan berusia 3 tahun," jawab Kyu-ma.


"Kenapa lama sekali, Yah?"


"Karena peraturan kerajaan begitu, tak boleh dalam satu keluarga ada yang melahirkan lagi dan menikah sebelum anak yang dilahirkan oleh saudara lainnya berusia tiga tahun."


"Bagaimana jika anak Kak Kyu-ri lahir sebelum putra Kak Kyu-ta berusia tiga tahun?"


"Kyu-ri sekarang menjadi manusia, maka peraturan itu tidak berguna."


"Kalau begitu aku mau menjadi manusia saja," celetuknya.


Kyu-ma menyipitkan matanya.


"Aku hanya bercanda, Yah."


Kyu-ma mengacak rambut putrinya.


"Oh, ya. Sejak kejadian di bumi, aku tidak melihat Kak Kyi-Sha. Ke mana dia?"


"Dia lagi di kurung Kyu-ta di sebuah goa agar ia tak kabur ke bumi."


"Sampai kapan di kurung?"


"Sampai melahirkan," jawab Kyu-ma.


"Kasihan Kak Kyi-Sha."


"Itu pantas ia dapatkan karena sudah berani melanggar peraturan kerajaan."


"Seperti yang dilakukan Kak Kyu-ri hingga dilempar ke bumi."


"Ya, itu menjadi penyesalan terbesar kami."


-


Masih di Kerajaan Kyu-Sa...


"Lepaskan aku!" teriak Kyi-Sha.


"Maafkan kami, Nyonya."


"Aku akan menghukum kalian jika aku sudah keluar dari sini!" ancamnya.


"Sekali lagi maaf, Nona." Para penjaga pun pergi.


"Suamiku, tolong lepaskan aku!" Kyi-Sha kembali berteriak dengan menggoyangkan pagar.


"Hai, Kyi-Sha!" seorang wanita muda sebaya dengan dirinya menyapanya.


"Aku senang akhirnya kau dikurung di sini, jauh dari istana," wanita itu tersenyum menyeringai.


"Pergilah, aku tidak ingin membuat masalah denganmu!" usir Kyi-Sha.


"Justru aku ingin membuat masalah denganmu," tertawa lebar.


Kyi-Sha meremas pagar tersebut sekuat tenaganya namun sama sekali tak rusak.


"Aku sangat bahagia melihatmu seperti


ini, rasanya aku ingin menggoda suamimu."


"Jangan pernah dekati Kyu-ta!" ancam Kyi-Sha.


"Bukankah kau menyukai Kyu-ri?"


Kyi-Sha terdiam.


"Aku mau pergi menemui suamimu, sampai jumpa!" wanita itu pun pergi meninggalkan Kyi-Sha sambil tertawa mengejek.


Kyi-Sha terduduk, ia mengepalkan tangannya. Ia akan membalas semua yang sudah membuatnya di kurung.


Mengelus perutnya dirinya berkata, "Kamu yang akan membalas penderitaan Ibu, Nak!" secara tegas


****


Tiga hari kemudian....


Sepasang pengantin baru itu kembali melanjutkan pekerjaannya, begitu sampai di kantornya seorang wanita mengarahkan tembakan di kepala Laura.


Hal itu membuat orang-orang yang berada di sekitar pasangan pengantin itu menjerit.


Termasuk Keenan juga tampak terkejut.


Wajah Laura berubah pucat dan tubuhnya gemetar.


"Jangan mendekat!" teriak wanita itu.


"Jangan sakiti dia!" Keenan memohon.


"Jika kau tak ingin dia ku sakiti, lepaskan suamiku!" berkata lantang.


"Suami?" Keenan mengerutkan keningnya.


"Kau tidak tahu siapa suamiku?"


"Aku memang tidak tahu," jawab Keenan.


"Pria yang kalian tahan beberapa minggu lalu!"


"Delon?" Keenan berusaha menebak.


"Ya!"


"Kami akan melepaskannya!" ucap Keenan. "Tolong, turunkan senjatanya!" lanjutnya.


"Kalian tidak berbohong, kan?"


"Kami akan menepati janji," jawab Keenan, ia melangkah semakin dekat dengan istrinya.


Wanita itu menurunkan senjata apinya.


Keenan menarik tangan Laura dengan sigap dan memutarnya ke belakang punggungnya.


Laura memeluk belakang tubuh suaminya.


Gegas 2 orang penjaga keamanan menangkap wanita itu dan senjata api yang digenggamnya terjatuh.


"Lepaskan aku!" teriaknya.


"Aku akan melepaskanmu jika anda berjanji untuk tidak mengganggu istriku lagi!"


"Aku janji, tapi lepaskan suamiku!"


"Jika kalian berani mengusiknya. Aku tidak akan segan menjebloskan dirimu dan suamimu!" Keenan menekankan perkataannya.


"Baiklah, aku janji!"


"Bawa dia menjauh dari kantor ini!" perintah Keenan.


"Baik, Tuan."


Wanita itu ditarik paksa keluar dari halaman gedung kantor milik Laura.


Keenan membalikkan tubuhnya dan mendekap erat istrinya.


"Mereka tidak akan datang lagi, kan?"


"Tidak, dia sudah berjanji. Aku akan mengurusnya, lebih baik kamu ke rumah orang tuamu saja."


"Jadi, kita pulang?"


"Ya, biar kamu bisa menenangkan diri."


Laura mengangguk mengiyakan.


Begitu sampai di kediaman mertuanya, Keenan menjelaskan semuanya.


Hal itu membuat kedua orang tuanya Laura semakin geram dan kesal dengan Delon yang telah berbohong.


"Aku pergi dulu, Pa, Ma," pamitnya. Keenan melesat kantor polisi.


"Dasar pembohong!" Mama Dita mengumpat.


"Sudahlah, Ma. Lagian putri kita tidak jadi menikah dengannya," ujar Papa Romi.


"Mama tak menyangka saja jika dia sudah memiliki seorang istri," ujarnya.


"Ini pelajaran buat Mama agar tidak asal percaya hanya karena dia memiliki jabatan bagus di perusahaan tempatnya bekerja," ucap Papa Romi.


"Ya, Pa."


"Pergilah ke kamar, Papa yakin suamimu bisa mengurusnya."


Laura mengiyakan, ia berjalan ke kamar tidurnya.