Faira'S Love Life

Faira'S Love Life
-57-



Disela Faira fokus memperhatikan acara Arsen


memulai bicara kembali..


“Gimana kabar kamu sekarang ?” tanya Arsen


“Aku? I’m oke sebelum ni kaki keseleo..lagi!”


Jawab Faira


“Makanya kurang-kurangin tuh ceroboh kamu Ra!


Kalo tadi aku gak ada udah bonyok sebadan kamu..” ujar Arsen


“Eelahhh pake dibahas lagiiii..oke-okee


thanksss udah nolongin aku yaa..”


“Kan..gak ikhlas tuh bilang makasihnya aja..”


“Astagaa kakk..kita mau berdebat ini sampe


pagi?”


“Boleh..kalo perlu..”


“Gak perlu! Gak perlu banget kak! Ngeselin


deh lo kak..mending lo pacaran deh sama pacar lo kak daripada ngajak ribut mulu


ama gue!” kesal Faira


“Ya ini aku juga lagi pacaran! sama kamu!”


ucap Arsen kemudian


“Ogah! aku bukan pelakor yaaa..dan bukan


selingkuhan..catet!” sanggah Faira


Arsen hanya tersenyum datar..


“Terus,


dimana pacar kamu?” tanya Arsen


“Pacar aku? Masih otw..” jawab Faira


“Hahahaha udah ada yang deket malah nungguin


yang masih otw..”


“Yaa..mending nunggu yang otw tapi jelas,


daripada yang deket tapi gak jelas!”


“Cih…kamu aja yang gak memperjelas!” ujar


Arsen


Tak menanggapi Faira mengalihkan


pembicaraan..


“Pacar kak Arsen gak diajak kesini ?” tanya


Faira mengubah topik pembicaraan


“Emang gak aku suruh kesini..” jawab Arsen


datar


“Dih! Kok gitu.. kan biar makin rame yang


dateng kenapa situ jadi ngelarang-ngelarang sih.. baru juga pacar belum suami


udah banyak larangan aja.. kan gak masalah cuma dateng kesini doang, masa


lakinya boleh kesana kesini, ceweknya gak boleh.. Situ yang tebar-tebar pesona


sama cewek lain, pacarnya gak boleh ngapa-ngapain.. cowok kok mau menang


sendiri aja, kan cewek juga but-…” keluh Faira yang terus mengomel namun


terhenti karena lagi-lagi Arsen tiba-tiba mendekatkan dirinya pada Faira


“Heii..mo ngapain?” teriak Faira dengan


mendorong tubuh Arsen menjauh darinya lagi namun Arsen masih menatapnya


“Hellooo..” ujar Faira dengan melambaikan


tangannya ke wajah Arsen “Kesambet apa ya nih orang?” ujar Faira berbicara


sendiri


“Haii halloo..” panggil Faira lagi masih


melambaikan tangannya dan memperhatikan wajah Arsen


“Kamu dekat, tapi terlalu jauh buat aku


gapai..”


DEG


Faira diam mendengar ucapan Arsen yang


menatapnya intens, ia masih terdiam dengan menatap wajah Arsen yang semakin


nampak sendu didepannya. Sungguh tak pernah terbayangkan ia akan menghadapi


situasi seperti ini. Keduanya masih saling diam hingga Faira tersadar lelaki


dihadapannya saat ini adalah milik orang lain, bagaimana bisa situasinya


menjadi seperti ini pikirnya. Faira langsung mengalihkan pandangannya dan


mencoba tenang..


“Ehem..” Faira mencoba mentralkan suara dan


suasana namun Pria dihadapannya masih saja diam menatapnya dalam


“Kak, kita mending turun deh! Aku gak enak


sama anak-anak aku tinggal lama..” ujar Faira mencoba mengakhiri situasi yang


canggung sedari tadi


Arsen akhirnya bersuara..


“Aku cinta sama kamu Ra..”


DUAR!!


Faira terdiam cukup lama, namun emosi Faira


justru tersulut, ia lalu tertawa sinis dengan ungkapan yang dilontarkan Arsen


padanya..


“Kak Arsen sadar apa yang kak Arsen ucapkan?


Kak Arsen bahkan sama buruknya dengan dia dimata aku sekarang!” ujar Faira tegas


“Kalian berdua dengan mudahnya mengucapkan itu tanpa memikirkan seseorang yang ada


dihidup kalian saat ini akan sangat terluka mendengarnya!” imbuhnya


“Aku tau aku bren*sek Ra! Aku tau aku gak


lebih baik dari mantan kamu! Aku sadar aku gak pantas milikin kamu..” jawab


Arsen


“Aku gak pernah bahas apakah seseorang itu


pantas atau gak pantas milikin aku kak! Sebreng*sek-breng*seknya orang aku


masih menghargai dia sebagai seorang manusia kak! Aku bukan manusia sempurna


yang bisa menilai seseorang pantas atau gak pantas buat aku! Kak Arsen pikir


aku orang yang suka memandang rendah seseorang, gitu?! Wahh.. ternyata begitu


kak Arsen mandang aku selama ini?”


“Kamu jangan salah paham Ra! Gak gitu maksud


aku! Please dengerin penjelasan aku dulu..” mohon Arsen


“Penjelasan ? Haha.. untuk? Kak Arsen gak


berkewajiban jelasin apapun sama aku kan.. Bahkan penjelasan Kak Arsen gak akan


mengubah apapun disini kak.. justru Kak Arsen yang harus ngasih penjelasan sama


pacar kak Arsen atas apa yang kak Arsen ucapkan sama aku!”


Arsen terdiam, kemudian menghela nafasnya


dalam ..“Aku tau aku emang gak pernah ada dihati kamu Ra, diawal aku memang


sebatas tertarik aja sama kamu, berpikir semua bakal sesuai dengan yang aku


harapkan, tapi pada kenyataannya semakin aku mengenal kamu, justru perasaan yang


lebih muncul dan itu semakin dalam, berjalannya waktu aku bertekad untuk


berubah demi kamu, bahkan saat aku berharap milikin kamu, dan mencoba untuk


meyakinkan kamu, keadaan gak pernah berpihak sama aku.. aku datang justru


ngebuat masalah kamu semakin banyak, dan pertama kalinya aku ngerasa aku gak


pantas memiliki wanita sepertimu Ra..”


“Aku tau! Jadi itu alasan Kak Arsen gak


berani melangkah dan menjauh saat itu?”


“PENGECUT!” ucap Faira kemudian


“Apa pernah sekali aja keluar dari mulut aku


kalo Kak Arsen cuma datengin masalah buat aku? Pernah?! Masalah yang aku hadapi


itu semua menjadi masalah aku, bukan hanya masalah orang lain.. apapun yang


terjadi dalam hidup aku itu semua juga terjadi atas kehendak-Nya bukan karena


orang lain semata.. justru dengan semua masalah itu aku bisa berdiri sampe saat


ini! Bahkan apa yang kak Arsen pikirkan dan yakini itu gak pernah terpikir sama


aku.. jadi apapun alasan kak Arsen, aku udah terlanjur menutup hati aku untuk


kak Arsen sejak saat itu.. saat dimana Kak Arsen gak berani melangkah dan


menjauh dari aku, dan itu alasan aku menghindar selama ini!”


Terkadang, memilih tuk mengabaikan


seseorang.. bukan karena tak ingin,


Tapi yang terpikir saat itu… hanya itu cara


termudah tuk menghindarkan diri dari luka..


manusia yang ternyata memiliki tujuan yang sama namun memilih jalan yang


berbeda dan berujung tak saling bersama..” 


Faira


Mendengar penjelasan Faira, Arsen sungguh tak menyangka jika saat itu Faira sudah membuka


hati untuknya masuk, namun Arsen justru berpikir sebaliknya. Arsen hanya


terdiam menyesali setiap keputusan yang ia ambil saat itu, berharap jika ia


menjauh dari Faira akan membuat Faira bahagia, tapi kenyataannya justru


membuatnya kecewa. Sungguh saat ini yang Arsen rasakan hanya ingin memutar


kembali waktu yang ada, dan merubah keputusannya saat itu. Tapi kenyataannya


itu tak mungkin terjadi.


 


“Jangan pernah lakuin ini lagi kak, wanita bukan sebuah objek yang bisa kalian


permainkan sesuka hati kalian.. Kak Arsen bahkan tau apa yang terjadi sama aku,


tapi sekarang bahkan kak Arsen melakukan itu.. aku udah bilang jangan memulai


sebuah hubungan kalau belum berdamai dengan masa lalu.. aku pikir kak Arsen


memilih wanita itu karena kak Arsen sudah menemukan seseorang yang tepat buat


kak Arsen dan kak Arsen berubah sesuai dengan keinganan kak Arsen saat itu


untuk berhenti bermain-main..” ujar Faira tanpa menatap Arsen lalu kini menoleh


menatap Arsen dan tertawa sinis “Dan kenyataannya masih menjadi Arsen yang


sama!” tegas Faira


“Ra--”  Ucap Arsen namun langsung dipotong oleh Faira


“Keputusan aku buat ngejauh dan ngehindar dari kak Arsen tepat bukan? Karena pada


kenyataannya masih menjadi Arsen yang lama! Tuhan dengan baiknya menjauhkan aku


lagi dari luka.. cukuplah kak.. jangan terus bermain dengan menutupi perasaan


kak Arsen, apa bedanya keadaan aku dulu dengan pacar kak Arsen saat ini ? sakit


kak.. mungkin dia mencintai Kak Arsen dengan sepenuh hati tapi justru kak Arsen


memberikan sebagian Cinta kak Arsen untuk orang lain.. stop kak..aku mohon


berhenti lakuin itu..” ungkap Faira yang kini menatap wajah penyesalan Arsen


dihadapannya


Arsen hanya terdiam ia tak mampu lagi menjawab segala pertanyaan dan pernyataan yang Faira


ucapkan, karena pada kenyataannya semua yang Faira ucapkan tak mampu ia


sangkal. Faira hanya menatap Arsen yang tertunduk dan terdiam..


“Jangan pernah berubah hanya karena seseorang kak, karena gak semua orang bisa menerima


perubahan kak Arsen.. berubahlah karena diri kak Arsen sendiri yang memang


ingin menjadi seseorang yang lebih baik, dengan begitu ketika orang lain gak


menerima perubahan itu bukan kekecewaan yang akan kak Arsen dapat.. Justru kak


Arsen akan bersyukur karena dengan begitu kak Arsen tau orang-orang yang


menerima kak Arsen apa adanya dan sayang sama kak Arsen dengan tulus..” Ujar


Faira yang saat ini ditatap oleh Arsen..


“Maaf kalo ada kata-kata aku yang nyinggung perasaan kak Arsen, mungkin takdir memang gak


berpihak, meski diawal kita memiliki tujuan yang sama, tapi kenyataannya jalan


kita berbeda kak.. dan ke depannya seperti apa dan bagaimana kita gak tau..


tapi pesen aku saat ini, aku mohon jangan lagi seperti ini, cobalah


mencintainya dengan tulus jika hubungan kalian pantas untuk dipertahankan,


kalopun tak berjalan baik tolongg kak, berusahalah terlebih dahulu jika pada


akhirnya tak sejalan akhiri baik-baik jangan biarkan kalian saling menyakiti..”


imbuhnya memohon dan diakhiri dengan senyuman yang tulus pada Arsen


Setitik air mata jatuh dari mata Arsen yang menatap sendu dan tulus pada Faira kemudian


memalingkan wajahnya dari Faira menghapus air matanya cepat..


“Sejak kapan seorang Arsen Pradana Putra preman kampus jadi mellow?!” Ujar Faira yang


memiringkan kepalanya melihat Arsen yang memalingkan wajahnya lalu tertawa


“Hahaha…ternyata body laki, tapi hati hello kitty ya bang ?”  Ledek Faira mencairkan suasana


“Aku bukan preman kampus!” jawab Arsen kemudian setelah menetralkan suasana hatinya


“Ohh..yaa? jadi playboy kampus lebih tepatnya yaaa?” masih ledek Faira


“Terserah kamu!” kesal Arsen yang  hanya direspon tawa


oleh Faira


“Ra..” panggil Arsen


“Hmmm…” jawab Faira tanpa melihat Arsen


“Kamu… “ Jeda Arsen terdiam ragu “Kamu serius kamu ngebuka hati kamu buat aku saat itu?”


lanjut Arsen kemudian


Faira masih memandang ke depan “Sebelumnya emang aku gak pernah nutup hati aku untuk


siapapun kok, siapapun aku terima dengan baik.. Tapi ternyata keadaan gak


semudah yang aku pikirkan.. dihadapkan dengan berbagai konflik dibilang gak capek


boong banget... Saat awal aku ngelalui itu semua ternyata Tuhan ngirim kak


Arsen buat aku saat itu, aku gak meminta dan gak menyangka ternyata justru aku


ngelaluin itu semua sama kak Arsen.. Aku berpikir saat itu, kenapa aku gak coba


lebih mengenal kak Arsen lebih jauh, menerima kehadiran kak Arsen lebih dari


seorang teman atau pun senior aku.. aku bahkan gak pernah mempermasalahkan segala


gossip tentang kita saat itu, maupun gossip tentang kak Arsen dengan A B C,


bahkan aku harus berkonflik dengan kak Clarissa.. aku orang yang menilai bukan


hanya apa yang aku dengar kak.. aku bisa melihat dan aku akan menilai bukan


hanya dari satu sudut pandang saja, karena itu aku butuh kenal kak Arsen lebih


jauh..” jelas Faira lalu kini menatap Arsen dan tersenyum “Tapi ternyata justru


kak Arsen yang menghilang..” ujar Faira telak untuk Arsen


“Kemudian tak sengaja bertemu dan seolah tak terjadi apapun disaat aku sudah berada dititik


lelah, sangattt lelah dengan semua konflik yang berhubungan dengan seseorang..


Sampai disaat tubuhku pun tak lagi mampu menahannya, jangan tanya bagaimana


hati aku.. aku mencoba baik-baik saja melaluinya, aku hanya membutuhkan diriku


sendiri untuk melalui semuanya.. Dan memutuskan untuk menutup segalanya.. “


imbuhnya


“Maaf Ra.. maaf kalo aku udah buat kamu kecewa, terluka untuk kesekian kalinya.. aku-“


Jawab Arsen yang kemudian dipotong Faira


“Aku paham kak.. gak ada yang perlu diperpanjang lagi.. bukan sepenuhnya kesalahan kak


Arsen jadi jangan merasa bersalah, aku pun gak pernah memperjelas kedekatan


kita wajar kak Arsen berpikiran seperti itu.. Ya mungkin memang harus begitu


jalannya kann? ” ujar Faira


Arsen hanya terdiam menganggukan kepalanya “Makasih Ra..” ucap Arsen kemudian


“Makasih ? untuk?” tanya Faira


“Untuk semuanya, dari kamu aku belajar banyak..” jawab Arsen tulus


“Hahaha… sejak kapan aku jadi dosen kak Arsen ?”


“Sekarang ngeselin kamu ya!?” Kesal Arsen yang mengacak rambut Faira


“Ihhh..kak Arsennnn…” teriak Faira tak terima


“Makanya kalo diajak ngomong serius tu jangan becanda mulu!” ujar Arsen yang sudah


berhenti mengacak rambut Faira


“Emang lagi sidang


kudu seriuss…” jawab Faira seenaknya sembari merapikan rambutnya


“Mulai lagi?!”


“Oke..oke.. Santai bos!”


“Ra!” Panggil Arsen


“Hmm.. apa lagii? Aku udah diem nih, masih protes?!” kesal Faira


“Kamu… “


“Iyaa..aku ..kenapa?”


“Kamu.. gak mau buka hati kamu lagi buat aku?” tanya Arsen terbata-bata


“Kak!”


Teriak Faira tegas memperingatkan


“Aku Cuma tanya Ra.. apa salah kalo aku tanya gitu..”


“Salah BESAR! Udah yaa kak, pembicaraan kita selesai sampai disini! Jangan pernah


mengakhiri hubungan kak Arsen sebelum kak Arsen berusaha menyayangi dia sepenuh


hati! Aku gak akan pernah maafin kak Arsen kalo sampe kak Arsen ngelakuin


kesalahan yang sama! Kak Arsen harus tanggung jawab apa yang udah kak Arsen


pilih! Inget itu!” ujar Faira


Arsen menghembuskan nafasnya kasar.. tanpa menjawab peringatan Faira


“Andai waktu dapat berputar kembali, aku akan kembali Ra, enggak! Aku bahkan akan berlari menghampirimu Ra dan memelukmu erat..”


-Arsen-