Faira'S Love Life

Faira'S Love Life
-19-



Gelas yang sudah kau pecahkan, tak akan mungkin kembali utuh seperti semula. Jika kau memang menyesalinya, buktikan saja!


Sejak saat itu hubungan keduanya merenggang, keduanya tak saling berkomunikasi intens. Al beberapa kali menghubungi Faira namun Faira hanya menanggapi seperlunya hingga keduanya terkadang sama sekali tak bertukar kabar. Faira kini lebih memfokuskan diri untuk mempersiapkan ujiannya. Dia berusaha keras untuk mengesampingkan masalahnya. Mencari hiburan dengan sahabatnya dan belajar bersama, mencoba melupakan masalahnya meskipun dalam kenyataannya itu sulit. Hingga sebulan sudah berjalan, bahkan keduanya melewatkan hari dimana di tanggal itu 2 tahun yang lalu mereka memutuskan berpacaran. Dan sudah seminggu ini Faira menjalankan ujian sekolahnya, dan ini merupakan hari terakhir ujiannya. Bel penanda waktu pengerjaan berbunyi menandakan waktu pengerjaan ujian siswa telah berakhir. Faira dan teman-temannya berhamburan keluar kelas..


"Finallyyyy..done!" Teriak Faira


"Aaaa..beban diotak gue ini akhirnyaa ilang jugaa.." seru Tita kemudian


"Emang lo punya otak ya?" Ujar Vanda


"Yee..engcek lo!!" Jawab Tita kesal


"Bawel lu pada! Cuss..cafe depan! Gue traktir!!" Ujar Qila


"Ajeegileee..nyonyaa takur lagi bae hati gaesss.." ledek Tita


"Lo bacot mulu gak gue traktir!" Ancam Qila


"Ampoooonnn nyahh.." melas Tita yang mengatupkan tangannya ke depan muka Qila..


"Hayukklahh..aus gue!" Ajak Faira yang sudah berjalan lebih dulu.


Keempatnya sudah mendudukan diri di cafe, memesan makanan dan minuman masing-masing. Dan tak lama pesanan mereka datang..


"Lo jadi daftar dimana Ra ?" tanya Vanda sembari mengunyah French Fries yang ia pesan.


"Gue masih bingung, kemaren sih bu Tika udah manggil gue, sekolah udah daftarin gue ke universitas Y jalur prestasi..tapi gue bgung jurusannya..mereka sih terserah gue ya, tapii..masa gue disuruh ambil yang pendidikannya coba karena ditawarin jadi guru di sekolah..lo pada bayangin deh gue kalo jadi guru cem mana hah? Hahaha..yang ada tu murid-murid abis gue bacokin kalo pada gak nurut ama gue!" Jelas Faira tertawa


"Wahh..bu Tika kesambet kali tuh! Bocah begini suruh jadi guru? Otak boleh encer tapi kelakuan engcek begini..jadi apa tuh murid-muridnya ntar?" Samber Tita


"Hehh mulutt lo yaaa..gue kn anak yang baik hati dan tidak sombong maemunah! Lo yg engcek!" Protes Faira


"Idih!" Jawab Tita


"Trus jadinya mo daftar dimana lo?" Tanya Qila


"Gue mau daftar ujian mandiri Universitas X kayaknya." Jawab Faira sembari memainkan ponselnya


"Lah lo mau sekampus ama kak Rey?" Tanya Qila


"Yaa mungkin.. kalo gue ketrima disanaa..tapi yang pasti ya gak ambil jurusan yang sama kayak kak Rey lah.. gue tertarik sama jurusan pariwisata sih.." jawab Faira tersenyum


"Gue tertarik aja, lo tau gue suka travelling kan? Ya karena itu gak ada salahnya dong gue mendalami apa yang gue suka?" Tanya balik Faira


"Ya iya sih..tapi kan lulusan pariwisata gak terlalu banyak peluang kerjanya Ra..ngapa lo gak ambil manajemen atau akutansi gitu yang jelas banyak sektor pekerjaannya.." ujar Qila


"Haha..lo tau gue paling males belajar ekonomi oneng! Gue cuma pengen mendalami apa yang gue suka..pariwisata sekarang itu udah jadi kebutuhan La..orang-orang sekarang udah terlalu jenuh dengan rutinitasnya, kalo udah gitu apa yg mereka butuhin? Ya berwisata kan? Apalagi orang perkotaan La, mereka akan rela mengeluarkan budget yang gak sedikit hanya untuk bisa travelling..karna itu gue mau mendalami dunia pariwisata." Terang Faira


"Etdahh Ra..kalo emang lo niat kesitu, ngapain juga lo ngeiyain tawaran dari sekolah?" Protes Tita


"Haha itu gue jadiin cadangan gaess..kalo gue gak ketrima di UX ya gue mau gak mau terima yang UY dong." Sombong Faira


"Lagak lo Ra!" Samber Tita


"Haha..santaii kali gosahh ngegas!" Ledek Faira


"Kak Al di UX juga kan Ra? Jangan-jangan emang lo mau sekampus ama kak Al ya ?" Tanya Qila tiba-tiba


Faira terdiam..Vanda yang sedari tadi hanya menyimak, mendengar pertanyaan Qila pun akhirnya ia bersuara.


"Lo belom nyelesein masalah lo ama kak Al?" Tanya Vanda kini.


"Jadi dari waktu itu kalian belum baikan Ra? Serius?" Tanya Tita kemudian


Faira menatap ke arah luar cafe, sejenak terdiam menundukkan kepalanya kemudian menatap wajah sahabat-sahabatnya..


"Entahlah..gue bingung..gue gak tau hubungan kita apa bisa baik-baik aja setelah masalah ini..gue gak berharap banyak dari hubungan ini, meskipun bersama.. sesuatu yang terlanjur hancur akan sulit atau bahkan tak mungkin menjadi utuh seperti semula kan.." jawab Faira


"Gue tau lo sakit, lo kecewa, lo sedih..tapi setiap masalah pasti ada sebab akibat kan Ra..gue tau lo tu super cuek Ra, dan itu juga yang menjadi pemicu masalah ini kan?" Ujar Qila


"Gue tau gue kelewat cuek La, tapi itu bukan menjadi sebuah alasan untuk seseorang mengkhianati seseorang yang ia sayangi La..semua masalah akan ringan jika dilalui bersama-sama bukan? Sulitkah bagi seseorang untuk berbicara apa yang menjadi permasalahnnya? Kalo memang sesuatu itu bisa diperbaiki kenapa justru lebih memilih menyakiti? Terkadang gue lelah..lelah menghadapi sikapnya yang kekanakan, gue lelah harus terus mengalah, gue capek harus berperang dengan batin gue sendiri, permintaan-permintaannya yang selalu ingin diturutin, selalu menuntut gue begini begitu, sedangkan gue? Dari awal gue ngebebasin dia, gue kasih kepercayaan gue sama dia, gue turutin permintaan dia meskipun gue harus berperang dengan hati gue sendiri..bahkan setelah dia menyakiti gue, sampe detik ini dia gak berusaha meyakinkan gue..dia selalu minta apa yang dia inginkan tanpa memikirkan perasaan gue..lo tau selama ujian ini gue berperang dengan perasaan gue sendiri, gue berusaha tetep fokus buat ujian meskipun perasaan dan hati gue hancur! Dan dia gak ada sedikit pun nyemangatin gue! Kenapa dia selalu minta di mengerti dan gue selalu harus ngertiin dia..gue gak tau hubungan kita ke depan gimana..gue sekarang cuma mau fokus sama apa yang ada didepan gue, meskipun berpisah menjadi jalan terakhir.." jelas Faira panjang ..


Vanda, Qila, dan Tita reflek memeluk sahabatnya itu. Faira hanya tersenyum tipis, ia berpikir betapa bersyukurnya ia masih mempunyai sahabat-sahabat yang selalu ada bersamanya saat senang maupun sedih. Tak ada pembahasan tentang Al lagi, ketiganya memilih menghibur Faira agar perasaannya lebih baik. Cukuplah mereka saling menjadi obat dan tempat hiburan bagi kesemuanya. Itulah persahabatan, tidak perlu ada jawaban maupun alasan jika memang keberadaan kalianlah yang terpenting.


Seorang lelaki yang sedaritadi duduk tak jauh dari meja Faira dan teman-temannya mendengar semua percakapan Faira dan temannya.


"Gelas yang sudah kau pecahkan, tak akan mungkin kembali utuh seperti semula. Jika kau memang menyesalinya, buktikan saja! Jika kau hanya bisa menyakitinya, lepaskan Faira! Dia terlalu berharga untuk kau miliki!"


Pesan terkirim ke ponsel Al.