
Carlise International Hospital..
Ketiga wanita berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menuju lift mencari ruangan Faira yang tadi sudah diberitaukan oleh Rey pada Maya.
Sesampainnya di depan ruangan Faira mereka bergegas membuka pintu langsung masuk tanpa mengetuk bahkan meminta ijin terlebih dahulu..
"Ra!" Panggil mereka serentak
Faira yang sedang berbaring terkejut melihat kedatangan teman-temannya yang tiba-tiba dan secepat itu pikirnya..
"Kalian ngapain kesini?" Pertanyaan itulah yang langsung terlontar dari mulut Faira setelah melihat kedatangan teman-temannya itu..
"Ngapain lo bilang hah? Keterlaluan lo ya Ra..lo anggep kita apaan hah? Tega-teganya lo gak ngasih tau kita tentang keadaan lo! Lo gak tau apa kita khawatir banget sama lo! Bisa-bisanya lo nyembunyiin ini dari kita dan boongin kita?! Lo udah bosen sobatan ama kita hah?" Racau Lisa menggebu-gebu namun raut wajah kekhawatiran nampak jelas di wajahnya
Faira tertegun melihat Lisa yang benar-benar nampak mengkhawatirkannya dengan menutupi kekhawatiran itu dengan amarahnya..Faira tau mereka sungguh mengkhawatirkan keadaannya, inilah yang Faira tak ingin lihat..Ia tak ingin melihat orang-orang yang menyayanginya mengkhawatirkannya..itu menyakitkan baginya..biarlah kesakitannya menjadi sakitnya saja, tak ingin melihat orang yang menyayanginya ikut merasakan sakitnya..
Bruk!
Tubuh Faira langsung terhantam pelukan dari Lisa, Faira sedikit terkejut dengan Lisa yang tiba-tiba berlari memeluknya setelah meluapkan segala emosinya..
"Apa susahnya sih lo bilang ke kita kalo lo sakit! Lo pikir dengan begitu singkatnya pertemanan kita, lo ngerasa bakal ngrepotin kita? Lo picik banget Faira! Gak ada kata ngrepotin buat seorang sahabat Faira..lo sakit, kita pun sakit..lo cuma anggep kita temen biasa hah? Segitu gak pentingnya kah kita buat lo?" Ujar Lisa di pelukan Faira
Faira diam merasa bersalah karena keputusannya menyembunyikan keadaannya justru melukai sahabat-sahabatnya..
"Maaf kalo keputusan gue justru ngelukain lo semua..gue baik-baik aja Sa..gue janji gak bakal ngulangin kesalahan gue lagi.." ujar Faira merasa bersalah
Lisa melepaskan pelukannya yang kemudian menunjuk kening Faira "Lo bego! Awas sampe lo ulangin lagi, gue gak akan maafin lo!" Ujar Lisa kesal
Rosi dan Maya kemudian berhambur ke arah Faira dan Lisa untuk berpelukan bersama
"Kalian drama banget sih! Mewekk kan guee jadinyaa.." ucap Rosi yang sudah sedaritadi meneteskan air matanya
"Cengeng lo!" Ejek Maya dan Lisa
Faira pun hanya tertawa melihat kelakuan sahabat-sahabatnya itu, namun disisi lain Faira bahagia memiliki sahabat-sahabat yang selalu mengerti akan dirinya.
Setelah itu Faira menceritakan singkat sakitnya..
"Jadii..lo mau balik ini?" Tanya Lisa
"Hmm..nyokap gue udah ngurus administrasi tadi sekarang lagi nunggu obat gue, sama ngabisin infus nih! Udah abis juga nih infusnya, biar gue panggil susternya buat nyopot.." ujar Faira yang kemudian menekan tombol panggilan yang terhubung langsung ke bagian perawat dan dokter..
Tak lama suster datang ke ruangan Faira dan sudah melepas infus yang terpasang di tangan Faira, dan Tiffany pun sudah kembali ke ruangan Faira setelah semua urusan rumah sakit diselesaikannya. Dan sekarang Faira sudah bersiap untuk pulang dengan di temani Lisa, Rosi, dan Maya juga. Rey pun sudah datang menjemput saat mereka semua sampai di lobby rumah sakit. Lisa, Rosi, dan Maya mengikuti mobil yang di kendarai Rey menuju rumah Faira.
Sesaat setelah mobil Rey melaju keluar rumah sakit, dua mobil yang tak asing memasuki area rumah sakit. Kedua orang pemilik mobil itu keluar dari mobilnya masing-masing dengan membawa barang bawaannya masing-masing. Berjalan menuju lobby rumah sakit. Dari arah yang saling berhadapan keduanya memasuki lobby rumah sakit..Di depan pintu lobby keduanya terhenti dan saling menatap..
"Lo?" Seru orang pertama
"Lo?" Seru orang kedua
"Jaga mulut lo! Gue gak kenal siapa lo, jadi gue gak ada urusan sama lo!" Balas orang kedua yang sudah pasti itu adalah Al
"Gue juga gak minat kenal sama lo!" Jawab Arsen
"Bagus!" Seru Al yang kemudian berjalan masuk lebih dulu meninggalkan Arsen
Arsen baru ingat dia tak tau Faira di rawat di ruang apa, akhirnya dengan cepat ia mengikuti Al.
Al sudah masuk ke dalam lift, dengan cepat Arsen masuk ke dalam lift sesaat sebelum lift tertutup sempurna.
Di dalam lift keduanya saling diam karena ada orang lain selain mereka berdua disana. Setelah pintu lift terbuka Al lebih dulu keluar dan Arsen mengikuti.
Al berjalan menuju ruangan Faira dan saat hendak membuka pintu Arsen mendahului Al..
Keduanya berebut masuk berdempetan di pintu ruangan..
Petugas rumah sakit yang sedang berada di dalam membersihkan ruangan menatap aneh pada kedua pria itu yang berebut masuk..Hingga akhirnya Al lebih dulu berhasil masuk, dan saat menatap ruangan kosong Al menjadi bingung ia berpikir apa dirinya salah masuk ruangan..
"Ada yang bisa di bantu mas?" Tanya petugas rumah sakit
"Pasien di ruangan ini namanya Ufaira Arielle Hutama kan mba? Pasiennya kemana ya?" Tanya Al
"Aduh..maaf saya kurang hafal nama pasiennya mas..yang jelas pasien disini baru saja diperbolehkan pulang mas..untuk lebih jelasnya coba tanya ke bagian informasi mas.." jawab petugas rumah sakit
"Pulang? Kok Rey gak bilang gue kemaren kalo Faira hari ini pulang?" Gumam Al bertanya-tanya
"Sial!" Seru Arsen yang kemudian berjalan keluar
"Makasih informasinya mba..permisi.." ujar Al kemudian yang juga beranjak keluar ruangan..
Arsen berdiri di depan ruangan mengambil ponsel di sakunya, mencoba menghubungi Faira. Namun tak kunjung diangkat juga oleh Faira..Ia juga beralih menghubungi Lisa, namun juga tak kunjung ada jawaban..Mencoba berulang kali hasilnya sama saja, Nihil! Arsen menghela nafas kasar..sedangkan Al juga mencoba menghubungi Rey, namun juga tak ada jawaban dari Rey, yang saat itu sedang mengemudi dalam perjalanan pulang bersama Faira.
"Angkat telpon gue, please.." Gumam Arsen yang masih didengar Al
Al tertawa "Emang enakk..gak diangkat kan sama Faira?! Hahaha..Kasian amat telpon dari kemaren dikacangin mulu!" Ejek Al
"Gak usah banyak bacot lo! Kalo gak tau apa-apa gak usah sotoy!" Balas Arsen
"Hahaha..lo pikir gue gak tau lo telponin Faira terus kemarin lusa hah? Gak direspon kan sama Faira? Gue tau karena gue ada disamping Faira!" Ujar Al memanas-manasi dan usahanya berhasil membuat Arsen naik darah..
"Breng*sek!" Gumam Arsen lalu maju mendekati Al dan menarik kerah baju Al.."Lo banci hah? Kalo lo laki beneran, jaga mulut lo! Lo gak tau gue siapa, dan apa hubungan gue dan Faira! Mending lo urus sendiri urusan lo yang cuma bisanya bikin Faira terluka!" Ujar Arsen melepas cengkeramannya pada Al
Mendekatkan wajahnya pada Al "Lo denger baik-baik, gue emang suka sama Faira dari pertama kali gue liat dia! Dan gue pikir dia cewek yang dengan mudah gue dapetin sama seperti cewek yang gue suka sebelum-sebelumnya, tapi lo tau? Bahkan gue gak bisa cuma sekedar ngetuk pintu hati dia! Dan dengan mudahnya lo sakitin dia! Lo gak tau seberapa terlukanya dia karena lo! Gue yang selalu disamping dia saat lo terus-terusan buat dia sakit! Dan semakin gue kenal dia semakin gue sayang sama dia! Gue selalu ada disamping dia aja gue gak bisa dapetin hati dia, dan lo berharap masih bisa dapetin cintanya dia lagi? Hahaha mimpi lo ketinggian! Bahkan bukan cuma gue di kampus yang berusaha dapetin hati dia, tapi banyak! Dari yang secara frontal maupun diam-diam! Dan gak ada satupun yang dia terima! Gue berpikir gue harus dapetin dia apapun caranya, tapi bahkan sebelum gue dapetin dia, gue udah bawa dia terlibat masalah karena gue..Dan dia gak pernah marah ataupun benci ke gue atas apa yang udah terjadi sama dia karena gue! Kalo cewek lain mungkin udah ngejauh dari gue, dan gak percaya sama gue! Tapi Faira beda..Dia selalu ngeliat segala sesuatu dengan cara dia sendiri, dan itu yang justru ngebuat gue bimbang.. Gue emang brengsek! Gue udah bilang ke dia gue udah berubah, tapi gue sadar..meski gue berubah, masa lalu gue akan terus ngikutin bahkan bisa jadi boomerang di kehidupan gue nantinya..Bahkan buat sekedar datang ke rumah Faira aja gue gak punya nyali! Gue ngerasa Faira berhak dapet seseorang yang lebih baik daripada gue..Dan lo! Bahkan dengan mudahnya nyakitin dia terus! Gue emang gak lebih baik dari lo..tapi gue gak pernah nyakitin cewek sebaik Faira! Dan sekali lagi gue denger Faira terluka karena lo, lo bakal berurusan sama gue! Camkan itu!!" Jelas Arsen pada Al tentang perasaannya pada Faira selama ini dan menjauh meninggalkan Al..
"Shit!!!" Kesal Al melempar bucket bunga yang ia pegang..Al paham betul apa yang dikatakan Arsen padanya, dan itu membuat perasaan Al tak menentu..Ia kesal Arsen lebih tau bagaimana perasaan Faira daripada dirinya, dia kesal pada dirinya sendiri selalu melakukan hal-hal yang bodoh yang menghancurkan perasaan Faira juga orang lain..Al hanya mampu menyesalinya..
"Benar bukan? Dia memang gadis yang menarik..konfliknya terlalu dalam ternyata..di umurnya saat ini dia sudah pandai mengelola konfliknya..Good girl!" Tersenyum dan berbalik badan..Dia adalah dr. Nico yang sedaritadi mendengarkan pembicaraan Al dan Arsen.. Dia datang tepat saat Arsen mencengkeram kerah Al, ia bermaksud untuk melerai keduanya, namun Arsen sudah lebih dulu melepaskannya saat ia hendak mendekat, dan disitulah dr. Nico mendengar semuanya..