
Terkadang,
memilih tuk mengabaikan seseorang.. bukan karena tak ingin,
Tapi yang
terpikir saat itu… hanya itu cara termudah tuk menghindarkan diri dari luka..
-Faira-
6 Bulan kemudian..
Kehidupan perkuliahan Faira beberapa bulan ini, layaknya perkuliahan mahasiswi pada umumnya. Disibukkan dengan berbagai jadwal yang padat, kegiatan yang padat, tak lupa tugas kuliah yang selalu menyita hari-hari para mahasiswa dan mahasiswinya. Lalu… bagaimana kelanjutan kehidupan percintaan Faira?
Faira : “Lo tanya gue thor? Lo tanya gue trus gue tanya siapa?”
Author : “PD banget lo! Gue tanya readers bukan lo!”
Faira : “OK Readers, kalian tanya tuh author pemalas yang gak pernah update ya! Gue udah
dibikin pusing ama dia jangan tanya gue!”
Author : “Dih! Yang ada juga gue yang pusing kali mikirin kisah cinta lo! Lo mah tinggal
terpampang dicerita doang!”
Faira : “Serah! Serahhhhhh lu thorrrr!”
Author : “Good job! Ok Lanjutttttt…..”
6 bulan telah berlalu, Faira melalui hari-harinya dengan kesibukan. Bahkan ia terhanyut dengan segala kesibukannya di kampus. Mengambil keputusan untuk menyibukkan diri demi sebuah kehidupan
yang lebih baik menurutnya. Setelah kejadian 6 bulan lalu, dia memutuskan untuk
memfokuskan dirinya dalam pendidikan. Lalu bagaimana hubungannya dengan Al saat
ini? Jawabannya… tak ada yang berubah dari 6 bulan yang lalu. Bahkan selama 6
bulan ini Al masih mengharapkan Faira kembali. Berulang kali ia meminta Faira
untuk kembali namun jawaban Faira masih tetap sama. Segala ungkapan telah Al lontarkan untuk
Faira, namun semua itu masih tak menggoyahkan hati Faira.
“ Sebenci itukah ? seburuk itukah aku dimata kamu? Hilangkah semua rasa ? “
“ 1 nama yang gak bakal mungkin aku hapus.. itu kamu!”
“ Aku hanya ingin melihatmu tersenyum seperti dulu lagi..”
Itu hanya beberapa penggal ungkapan Al untuk Faira..
“ Basi!”
Ya! Mungkin itulah ungkapan yang Faira tak
pernah lontarkan pada Al! tak sembarang Faira berpikir demikian.. karena Faira
tau bahwa Al masih berhubungan dekat dengan Irene saat itu. Meski ia pun tak
tau hubungan keduanya sebenarnya, karena ia pun tak ingin mengetahuinya. Yang
Faira selalu yakini, apapun yang terjadi antara keduanya, Faira sudah tak ingin
mengetahuinya ataupun terlibat didalamnya. Dia sudah bahagia dengan
keputusannya untuk menikmati kesendiriannya saat ini, karena itu yang terbaik
untuk saat ini pikirnya. Dia merasa bahagia dikelilingi teman-teman yang baik
yang selalu bersamanya.
Dan… bagaimana dengan Arsen?
“Entahlah..”
Sejak hari itu, Seolah memang takdir tak
berpihak pada keduanya. Hingga akhirnya waktu juga yang mempertemukan mereka
dalam situasi yang lebih baik. Tepatnya pada hari ini, dimalam yang cerah ini
keduanya bertemu.
Ya, hari ini bertepatan dengan hari ulang
tahun jurusan mereka dimana malam ini diadakan acara musik, penampilan berbagai
seni lainnya, dan juga bazaar pariwisata. Dan Faira yang menjadi Wakil Ketua
Panitia acara malam itu sudah sibuk kesana kemari mengatur dan
memantau segala persiapan dan kebutuhan acara malam itu. Semua Koordinator
setiap divisi sudah mengerjakan segala persiapan dan tugas dengan cukup baik
sehingga cukup meringankan tugas Faira. Semua mahasiswa Pariwisata dari
berbagai angkatan berkumpul diacara ini bahkan mahasiswa dari berbagai jurusan
lainnya turut hadir memeriahkan acara malam itu.
“Win, rundown acara ada yang berubah? Tanya
Faira yang baru saja tiba di back stage
“Ahh iya Ra..Hexagon confirm datang terlambat
jadi mau gak mau kita switch ama Growth untuk tampil duluan karena mereka yang
udah dateng kan..” Jawab Wina selaku
Stage manager malam itu
“Lo udah confirm ke Growth kalo dia switch
sama jam tampil Hexagon?” tanya Faira
“Udah dong, dan mereka gak masalah kok dan
bisa tampil di jam ini..” Jawab Wina meyakinkan Faira
“Huh..syukurlah kalo gitu..terus ni kabar
Hexagon gimana ? udah sampe mana ?PIC nya siapa ?” tanya Faira lagi
“PIC Hexagon Si Laura..tapi belum ngabarin
lagi ini dia, biar gue hubungin lagi deh..” ujar Wina
“Gak usah Win, biar gue cek kesana langsung
aja..ntar gue kabarin lo..oke?” Ujar Faira
“Ohh..Oke gue tunggu kabar dari lo..” jawab
Wina
Faira pun berbalik badan dan berjalan menuju
tanpa melihat tangga di depannya.
“Aaaaaaaa…”
“Bug!”
Faira terjatuh!
Terjatuh ke dalam pelukan seseorang.
“Masihhhh.. aja ceroboh!”
Faira mendongakkan kepalanya dari dada
seseorang yang menolongnya..
Mata Faira terbelalak melihat seseorang yang
tepat berada didepan wajahnya, wajah yang sudah lumayan lama tak dilihatnya,
seseorang yang berusaha ia abaikan kehadirannya hingga jarak itu yang
benar-benar membuat keduanya menjauh. Dan seseorang itu kini berdiri
dihadapannya dan ia segera menyadarkan keterkejutannya..
“Kak..Arsen?” pekik Faira yang dengan cepat
menjauhkan tubuhnya dari Arsen
“Aaw..aww..” Rintih Faira merasakan sakit di
pergelangan kakinya dan terhuyung kembali ke depan dan segera ditangkap kembali
oleh Arsen dan menuntun Faira dan mendudukannya di anak tangga.
“Raa..Raa..ceroboh kamu pelihara! Buang kek
ke laut!” Omel Arsen
Faira hanya menatap sinis Arsen dan memegang
pergelangan kakinya yang sakit tanpa ingin menjawab omelan Arsen.
Arsen berjongkok dihadapan Faira menarik
perlahan kaki Faira dan melepaskan sneakers yang dipakai Faira lalu memijat
pelan kaki Faira.
“Kalo aku gak nangkep, masuk IGD langsung
kamu! Kalo jalan tu makanya liat-liat gak main jalan aja! Tangga tinggi gini
main sruduk aja!” masih omel Arsen
“Kalo gak ikhlas nolongin mending pergi aja
gak usah ngomel-ngomel segala!” jawab Faira kesal
Pletakk..
“Awww..sakit tau!” Teriak Faira yang mendapat
sentilan di dahinya oleh Arsen
“Kamu tu udah ditolongin, malah marahin yang
nolongin..bilang makasih kek! Malah gak tau diri!” Omel Arsen kembali
“Iya..iya ..makasih! puas?” ujar Faira ketus
“Gak! Apaan ngucapin makasih begitu!” Tolak
Arsen ikut kesal
“Sekalinya muncul ngeselin banget deh lo
kak!” ucap Faira
Belum sempat Arsen menjawab ucapan Faira, ia
dikejutkan dengan teriakan Faira
“Astaga!!!” teriak Faira
“UFAIRA ARIELLE HUTAMA!! kamu bener-bener yaa
bikin aku kesel beneran!” teriak Arsen tak kalah kesal
“Aku harus ketemu Laura diruang tunggu ngecek
Hexagon udah dateng belummm..” ujar Faira yang bergegas memakai sepatunya dan
mencoba berdiri..
“Akhhh..sial!” Pekik Faira yang kembali
merasakan sakit dikakinya saat mencoba berdiri
Arsen sigap menopang tubuh Faira “Kamu keras
kepala banget sih Ra! Ayo ke ruang medis dulu!” ajak Arsen
“Tapi kak..aku mau ngecek dulu..” pinta Faira
“Siniin HT kamu!” Minta Arsen
“Aldo cek!” Panggil Arsen
“Yoa, bro!” Jawab Aldo selaku Ketua Panitia
“Gue Arsen, Wakil Lo gue bawa dulu ke ruang
medis! Handle dulu tugasnya!” Ujar Arsen
“Faira sakit ?oke! biar gue handle!” jawab
Aldo kemudian
“Nih! Ke ruang medis sekarang! Gak pakai
bantah! HT ada, HP ada, kamu bisa hubungin mereka kenapa harus bikin repot
sendiri sih Ra?” titah Arsen sembari mengembalikan HT pada Faira
“Iya..bawel!” Gerutu Faira
“Apa?” tanya Arsen yang mendengar gerutuan
Faira
“Gak! Ke ruang medis kan ?” Jawab Faira
ngeles dan Arsen hanya menatap sinis Faira