Faira'S Love Life

Faira'S Love Life
-35-



"Perasaan gue gak enak nih.." ujar Rosi


Faira teringat dengan perkataan Arsen yang mengatakan ada tradisi makrab pariwisata dan ia diminta menyiapkan mental "Gue rasa tradisi yang dimaksud kak Arsen bakal kejadian sekarang.." ucap Faira


"Awas aja nih yaa macem-macem gue babat abis nih semua orang!" Seru Lisa


"Santai siss..kita liat dulu apa yang bakal terjadi.." Maya menenangkan


Semua pun sudah berbaris rapi disana. Nampak semua panitia sudah berwajah gahar. Muncullah beberapa orang yang merupakan angkatan 08, nampak Marsya berjalan ke arah barisan, tapi sejauh ini ia tak melihat Arsen sejak awal datang tadi dan Arsen pun hanya mengirim pesan yang mengatakan ia akan datang malam karena ada urusan. Faira tak menghiraukan keberadaan Arsen sekarang, ia hanya bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini. Nampak Marsya berkeliling barisan dan Faira yang berada di barisan paling depan turut di tatap oleh Marsya. Suasana hening saat itu, namun kusak kusuk suara teman-teman Faira yang lain terdengar. Hingga suara Marsya yang berteriak mengagetkan semuanya.


"Woy! Kalo mau ngomong di depan! Jangan ngebacot di belakang kalian! Maju!" Teriak Marsya


Astaga Faira sungguh terkejut karena Marsya berteriak tepat di sebelah Faira padahal sedari tadi ia hanya diam saja. Mengelus telinganya yang penging dengan tangannya "Emang kuping gue toa apa?" Batin Faira. Dan seorang senior lelaki di hadapannya hanya tersenyum melihat tingkah Faira menggaruk kupingnya setelah Marsya berpindah ke barisan belakang.


"Lo pada budek ya? Gue bilang kalo mau ngomong ke depan!" Teriak Marsya lagi dan semua kini diam


Seorang senior lelaki yang ada di hadapan Faira sedari tadi tak henti memotret ke arah Faira dan mengambil angle dari segala arah hingga ia berjongkok memotret ke arah Faira terus. Faira menyadari itu "Ini orang ngapa dah daritadi foto-foto gak jelas!" Gerutu Faira


"Kenapa pada diem?! Pada gak punya mulut lo?" Masih teriak Marsya yang sedari tadi tak henti-hentinya mengumpat.


"Gue jawab gak gue jawab gue jamin kita tetep disalahin !" Batin Faira kesal


Semua peserta di tatap satu persatu oleh Marsya dan senior lainnya, namun anehnya hanya Faira yang tak di hampiri. Yang lain diumpat sedari tadi namun tidak dengan Faira. Hingga akhirnya Marsya menghampiri Faira


"Siapa nama lo?" Tanya Marsya


"Faira kak.." jawab Faira


Marsya tersenyum tipis "Oke..lo gue kasih tugas! " seru Marsya


"Tugas??" Tanya Faira memastikan


"Iya tugas! Lo budek?" Teriak Marsya Faira hanya menatap heran "Nih! Lo ikutin denah yang ada di kertas ini!" Titah Marsya


Faira mengambil kertas yang diberikan Marsya padanya dan membukanya, Faira terkejut denah itu menunjukkan ke arah hutan yang ada di depannya..belum sempat Faira bertanya Marsya lebih dulu bersuara


"Lo harus kesana sendiri! Gue kasih waktu 15 menit dari sekarang!" Seru Marsya


"Tapi kak.." protes Faira


"Lo gak denger perintah gue hah?" Teriak


"Astaga nih mulut pedes bener! Gue yakin gue emang jadi sasaran mereka nih!" Batin Faira


"Kenapa malah diem? Lo takut hah?" Seru Marsya


"Siapa lo? Gak usah sok jadi pahlawan lo! Gue yang bikin aturan disini!" Teriak Marsya pada Lisa


"Gak mungkin gue biarin temen gue pergi sendiri!" Teriak Lisa balik pada Marsya


Marsya tersenyum sinis "Cih! Gak usah sok setia kawan lo! Jijik gue dengernya!" Ujar Marsya


Lisa semakin di buat kesal dengan Marsya "Gue setia ato gak setia itu bukan urusan lo! Gue juga jijik liat tingkah lo daritadi!" Sarkas Lisa pada Marsya


Suasana semakin memanas, Faira tak ingin ada keributan. Faira yakin ia memang menjadi sasaran malam ini, dan ia tak ingin Lisa malah menjadi terkena masalah karenanya. Lisa hendak maju menghampiri Marsya tapi Faira menghalanginya


"Sa..gue gapapa..lo percaya sama gue, gue akan baik-baik aja.." ujar Faira menenangkan Marsya


"Lo mau ke hutan sendirian? Lo mau nyari mati? Gue tetep bakal temenin lo!" Paksa Lisa


Faira berbisik pada Lisa "Lo inget apa yang gue ceritain tadi kan? Lo percaya sama gue ini pasti ulah dia..gue bakal baik-baik aja Sa..gak mungkin mereka sampe nyelakain gue Sa, gue bakal langsung hubungin lo kalo ada apa-apa ..oke? Stop debat gak penting sama kak Marsya..dia gitu karena dia punya tujuan tes mental kita semua..kalo lo kebawa emosi tanpa berpikir jernih yang ada lo yang bakal di abisin dia..jadi inget kata-kata gue..oke?" Jelas Faira


Lisa diam sesaat dan akhirnya menyetujui apa yang Faira katakan "oke gue turutin apa mau lo..tapi kalo lo gak balik dalam waktu 15 menit gue gak peduli sama cucunguk itu gue bakal masuk nyamperin lo!" Ucap Lisa tegas


Faira tersenyum mendengar ucapan Lisa dan mengangguk setuju "oke gue bakal balik sebelum lo masuk" jawab Faira yang kemudian berbalik badan menghadap ke arah Marsya


"Udah dramanya?" Tanya Marsya


"Itu mulut emang minta di--" kesal Lisa yang hendak maju di tahan kembali oleh Faira


"Aku bakal masuk!" Ucap Faira


"Bagus!waktu lo gak banyak!" Titah Marsya


Faira pun beranjak pergi dari barisan dan berjalan ke arah hutan. Faira mengeluarkan kertas yang di berikan Marsya dan menyalakan senter. Berjalan perlahan mengamati jalan yang ia tapaki. Tidak terlalu buruk namun jalannya semakin menanjak. Meski sebenarnya Faira takut, ia terus berusaha mengendalikan rasa takutnya. Ia yakin ada seseorang di balik ini semua. Dengan langkah yakin Faira terus berjalan.


"Kenapa makin naik ya? Sebenernya ini tempat apaan sih?" Ucap Faira lirih


Kretekk..


Terdengar suara ranting pohon diinjak


"Siapa?" Teriak Faira yang melihat sekitar namun tak nampak siapapun disana ia pun memilih melanjutkan perjalanannya


"Ngeselin! Kenapa pada sok senior sih? Salah apa coba gue jadi gini..kenapa harus gue? gue mulu yang kena! Awas aja kalo ni tempat bahaya gue bakal tuntut!" Gerutu Faira sepanjang jalan hingga menaiki jalan agak berbatu untuk merangkak naik sampai ia tersadar akhirnya ia sampai di tempat tujuan sesuai denah yang di berikan.


Faira menatap kagum ke depan, hamparan lampu kota sungguh menyuguhkan pemandangan yang indah untuknya. Tak menyangka dari arah masuk sungguh hutan yang cukup rimbun pepohonan dan tak ada penerangan jalan namun di ujung jalan ada bukit kecil yang memberikan pemandangan yang indah.


"Awesome.." ucap Faira kagum