
Faira dibantu Arsen berjalan menuju ruang
medis..
“Faira? Kenapa lo?” tanya Intan yang bertugas
diruang medis
“Gakpapa, cuma kesleo dikit, tapi ada yang
lebay aja!” jawab Faira menyindir Arsen
“Kalo dikit lo gak bakal kesakitan!” jawab
Arsen kesal
Intan hanya tertawa melihat tingkah keduanya
“Dudukin disitu dulu aja kak, biar aku panggil dokternya..” titah Intan pada
Arsen
Dan dokter pun datang dan memeriksa
pergelangan kaki Faira yang sakit dan menanganinya, dan Arsen masih setia
menunggu Faira disana..
“Oke..sudah! sejauh ini diagnosa saya
terkilir aja ya kaki kamu, karena luka luar gak ada jadi saya belum bisa
memastikan sejauh apa sakitnya, sementara saya beri salep dulu ya untuk
meredakan nyeri saja, dipantau dulu yaa..kalo udah baikan berarti gak ada
masalah yang berarti dikaki kamu ya.. kalo nanti kaki kamu makin bengkak dan
makin sakit langsung ke rumah sakit yaa..” jelas dokter
“Oke, dok! Terimakasih..” jawab Faira
tersenyum dan diangguki dokter lalu beliau pamit pergi
Faira bangkit dari pembaringannya dan
mendudukan diri..
“Mau kemana kamu ?” tanya Arsen yang
menghampiri setelah dokter pergi
“Ya mau keluarlah, masa mo tidur disini!”
jawab Faira
“Yakin bisa jalan kamu ?” tanya Arsen kembali
“Emmm..ya harus bisalah! Kasian anak-anak
pasti lagi pada sibuk masa aku cuma tiduran disini doang.. lagian cuma sakit
dikit doang ini..” jelas Faira yang sudah selesai menggunakan sepatunya
“Mereka juga paham kali kalo kamu sakit! Gak
usah maksain.. toh acara juga lancar kok itu” ujar Arsen
“Tapi aku juga mau liat acaranya, yaakalii.. berminggu-minggu
aku ngurusin, endingnya aku cuma tiduran disini..” keluh Faira
“Hah..susah ngomong sama orang keras
kepala..” ucap Arsen
“Yaudah kak Arsen aja yang disini! Aku bisa
kesana sendiri!” ujar Faira kesal dan turun perlahan dari tempat tidur dan
berdiri masih berpegangan tempat tidur menahan sakit.
Arsen yang sejujurnya sangat kesal pun tak
tahan harus melihat Faira berusaha berjalan sendiri menahan sakitnya dan dengan
berat hati ia pun kembali membantu Faira..
“Kamu tu kalo dikasih tau bebal banget sih!
Gak kapok-kapok apa tu kaki kesleo berkali-kali!” ucap Arsen kesal
“Ahh..bener juga ya! Setiap ketemu Kak Arsen
aku selalu kesleo! Jadi jelas kan yang buat aku sial siapa?” ujar Faira tertawa
sinis mengejek sengaja membuat Arsen semakin kesal
“Hei! Jadi kamu anggep aku pembawa sial
setelah aku nolongin nyawa kamu huh?”
“Hahaha emang aku ada bilang ‘Kak Arsen
adalah pembawa sial buat Faira’ gitu?” Ledek Faira
“Serah kamu deh Ra!!” Rajuk Arsen yang justru
membuat Faira tertawa lepas puas membuat Arsen kesal karenannya
Arsen justru terhipnotis memandang wajah
Faira yang tertawa begitu bahagianya dihadapannya, wajah yang ia rindukan,
wajah yang selalu hadir dalam pikirannya, wajah yang tak sanggup ia lukai,
wajah yang ingin selalu ia pandangi namun tak kuasa ia miliki..
Faira yang tersadar ditatap ditengah tawanya,
berusaha mengalihkan suasana..
“Ekhem..mm Kak, aku ke ruang control aja biar
liat dari sana sekalian ngontrol apa yang kurang..” ucap Faira meminta Arsen
mengantarnya kesana
“No!” tolak Arsen
“Kenapa? Aku masih harus periksa ini itu
kakk..” rengek Faira
“Kaki kamu aja masih begini, gimana yang mo
kesana kesini!”
“I’m ok,kak!” keukeuh Faira
“You’re not ok Ra! Gak usah bantah! Bisa aku
minta waktu kamu sekarang ?” tanya Arsen serius
Faira mendadak bingung dengan pertanyaan
Arsen dengan meminta waktunya sekarang, apa maksudnya pikirnya..
“Waktu? Untuk ?” tanya Faira bingung
“Untuk bicara..” jawab Arsen lebih serius
“Mungkin ini waktu yang tepat untuk kita bicara ra, menyelesaikan apa yang belum kita
selesaikan” batin Arsen
bersikap serius, sungguh diluar dugaan Faira jika saat ini ia harus bertemu
dengan Arsen dan justru Arsen meminta waktunya untuk bicara. Sungguh sejujurnya
Faira tak menduga ini akan terjadi, namun mau tidak mau Faira tidak memiliki
alasan lagi untuk menghindar, dan mungkin hari ini menjadi takdir keduanya
bertemu dan berbicara pikirnya.
“Ayo! Kita ke balkon gedung depan panggung..”
ajak Arsen
“Hah? Ke Balkon? Kaki aku begini gimana yang
naik coba?” ucap Faira yang tersadar ketika Arsen mengajaknya ke balkon gedung
depan panggung
Arsen tertawa “Baru sadar kaki kamu sakit?
Kenapa tadi berlagak mau kesana kemari huh?” skak Arsen
“Yaa..kesana kesini kan gak perlu naik
tangga..masih bisaa lahh..” jawab Faira terbata-bata tetap berusaha ngeles
“Ngeless mulu kayak belut kamu! udah ayo, gak
usah banyak alasan!” ajak Arsen memaksa
“Dih! Napa gue jadi disamain belut! Situ kali
yang kayak belut! Licin banget tu mulut kalo ama cewek!” gerutu Faira
“Ulangin!” seru Arsen yang mendengar Faira
menggerutu
“Mampus gue!”* Batin Faira
“Aww..aww..” rintih Faira berpura-pura sakit
dan melihat tangga sudah dihadapan mereka dan masih berakting kesakitan
Arsen hanya menatap datar tingkah Faira dan
tiba-tiba langsung mengangkat tubuh Faira menggendongnya menaiki tangga, dan
Faira seketika membelalakan matanya karena ulah Arsen..
“Kak! Turunin aku! Gak lucu ya kak! Banyak
orang disana kak!” ujar Faira yang meronta meminta Arsen menurunkannya, namun
tak berhasil menggoyahkan Arsen yang tetap menggendongnya menaiki tangga dengan
wajah datarnya.
“Mereka gak bakal liat!” jawab Arsen tenang
“Kakk..please..aku gak mau orang salah
paham..” rengek Faira
“Gak masalah! Aku gak peduli omongan orang!”
jawab Arsen datar
“Astagaa..aku gak mau yaa kak kalo aku
dilabrak pacar kak Arsen!” teriak Faira
Arsen menghentikan langkahnya mendengar ucapan Faira
“Aku yang tanggung jawab!” jawab Arsen
kemudian setelah melihat wajah Faira
“Tanggung jawab dari hongkong, aku yang kena
semprot udah babak belur gimana dia yang tanggung jawab?” gerutu Faira pelan dan
hanya mendapat tatapan tajam dari Arsen yang mengisaratkan untuk diam.. Faira
pun sudah pasrah dalam gendongan Arsen percuma ia menghabiskan tenaga memohon
pada Arsen yang ia tahu tak akan menurunkannya apapun alasannya..
Sampai di balkon Arsen mendudukan Faira di
bangku yang menghadap ke arah panggung, dan Arsen duduk di sebelahnya. Faira
mengalihkan pandangannya terus ke arah panggung dimana saat itu Growth sedang
tampil bernyanyi dan tak memperdulikan Arsen disampingnya karena masih kesal
dengan kelakuan Arsen. Arsen menatap Faira yang sedang melihat ke arah stage,
rasa gugup tiba-tiba ia rasakan. Arsen tak tau bagaimana harus memulai
pembicaraannya dengan Faira. Faira yang menyadari sedari tadi ditatap oleh
Arsen akhirnya membuka suara lebih dulu..
“Kenapa? yang bengkak kaki aku doang kan
bukan muka aku?” tanya Faira yang masih kesal
“Cih…mulut kamu tuh yang bengkak!” jawab Arsen tertawa
sinis
“Sembarangan! Mulut gak disekolahin itu pak?”
kesal Faira
“Jangankan disekolahin, bahkan mulut aku udah
aku asuransiin!” Ujar Arsen
“Dih! Gak ada juga yang mau ama tu mulut!
Diloakin juga gak bakal ada yang mau nerima!” ejek Faira
Arsen mendekatkan diri ke arah Faira
“Kalo aku cium, kamu juga bakal klepek-klepek
sama mulut aku..” goda Arsen
Faira reflek mendorong tubuh Arsen menjauh
“Ihhhhh… Mesum lo kak! Gak usah
haluuuu..dikasih 7 Milyar juga ogah gue dicium lo kak!” sanggah Faira
“Hahaha…belagu lo! sok jual mahal padahal mau
kan?” masih goda Arsen
“Lo ngomong mesum lagi gue lempar ke bawah ya
kak!” kesal Faira
“Hahahahahahahha..Kalem wehh atuh neng!”
Jawab Arsen yang tertawa melihat Faira kesal
“Bodo amat!” ujar Faira mengalihkan
pandangannya kembali ke panggung dan sekelilingnya