Faira'S Love Life

Faira'S Love Life
-56-



Faira dibantu Arsen berjalan menuju ruang


medis..


“Faira? Kenapa lo?” tanya Intan yang bertugas


diruang medis


“Gakpapa, cuma kesleo dikit, tapi ada yang


lebay aja!” jawab Faira menyindir Arsen


“Kalo dikit lo gak bakal kesakitan!” jawab


Arsen kesal


Intan hanya tertawa melihat tingkah keduanya


“Dudukin disitu dulu aja kak, biar aku panggil dokternya..” titah Intan pada


Arsen


Dan dokter pun datang dan memeriksa


pergelangan kaki Faira yang sakit dan menanganinya, dan Arsen masih setia


menunggu Faira disana..


“Oke..sudah! sejauh ini diagnosa saya


terkilir aja ya kaki kamu, karena luka luar gak ada jadi saya belum bisa


memastikan sejauh apa sakitnya, sementara saya beri salep dulu ya untuk


meredakan nyeri saja, dipantau dulu yaa..kalo udah baikan berarti gak ada


masalah yang berarti dikaki kamu ya.. kalo nanti kaki kamu makin bengkak dan


makin sakit langsung ke rumah sakit yaa..” jelas dokter


“Oke, dok! Terimakasih..” jawab Faira


tersenyum dan diangguki dokter lalu beliau pamit pergi


Faira bangkit dari pembaringannya dan


mendudukan diri..


“Mau kemana kamu ?” tanya Arsen yang


menghampiri setelah dokter pergi


“Ya mau keluarlah, masa mo tidur disini!”


jawab Faira


“Yakin bisa jalan kamu ?” tanya Arsen kembali


“Emmm..ya harus bisalah! Kasian anak-anak


pasti lagi pada sibuk masa aku cuma tiduran disini doang.. lagian cuma sakit


dikit doang ini..” jelas Faira yang sudah selesai menggunakan sepatunya


“Mereka juga paham kali kalo kamu sakit! Gak


usah maksain.. toh acara juga lancar kok itu” ujar Arsen


“Tapi aku juga mau liat acaranya, yaakalii.. berminggu-minggu


aku ngurusin, endingnya aku cuma tiduran disini..” keluh Faira


“Hah..susah ngomong sama orang keras


kepala..” ucap Arsen


“Yaudah kak Arsen aja yang disini! Aku bisa


kesana sendiri!” ujar Faira kesal dan turun perlahan dari tempat tidur dan


berdiri masih berpegangan tempat tidur menahan sakit.


Arsen yang sejujurnya sangat kesal pun tak


tahan harus melihat Faira berusaha berjalan sendiri menahan sakitnya dan dengan


berat hati ia pun kembali membantu Faira..


“Kamu tu kalo dikasih tau bebal banget sih!


Gak kapok-kapok apa tu kaki kesleo berkali-kali!” ucap Arsen kesal


“Ahh..bener juga ya! Setiap ketemu Kak Arsen


aku selalu kesleo! Jadi jelas kan yang buat aku sial siapa?” ujar Faira tertawa


sinis mengejek sengaja membuat Arsen semakin kesal


“Hei! Jadi kamu anggep aku pembawa sial


setelah aku nolongin nyawa kamu huh?”


“Hahaha emang aku ada bilang ‘Kak Arsen


adalah pembawa sial buat Faira’ gitu?” Ledek Faira


“Serah kamu deh Ra!!” Rajuk Arsen yang justru


membuat Faira tertawa lepas puas membuat Arsen kesal karenannya


Arsen justru terhipnotis memandang wajah


Faira yang tertawa begitu bahagianya dihadapannya, wajah yang ia rindukan,


wajah yang selalu hadir dalam pikirannya, wajah yang tak sanggup ia lukai,


wajah yang ingin selalu ia pandangi namun tak kuasa ia miliki..


Faira yang tersadar ditatap ditengah tawanya,


berusaha mengalihkan suasana..


“Ekhem..mm Kak, aku ke ruang control aja biar


liat dari sana sekalian ngontrol apa yang kurang..” ucap Faira meminta Arsen


mengantarnya kesana


“No!” tolak Arsen


“Kenapa? Aku masih harus periksa ini itu


kakk..” rengek Faira


“Kaki kamu aja masih begini, gimana yang mo


kesana kesini!”


“I’m ok,kak!” keukeuh Faira


“You’re not ok Ra! Gak usah bantah! Bisa aku


minta waktu kamu sekarang ?” tanya Arsen serius


Faira mendadak bingung dengan pertanyaan


Arsen dengan meminta waktunya sekarang, apa maksudnya pikirnya..


“Waktu? Untuk ?” tanya Faira bingung


“Untuk bicara..” jawab Arsen lebih serius


“Mungkin ini waktu yang tepat untuk kita bicara ra, menyelesaikan apa yang belum kita


selesaikan” batin Arsen


bersikap serius, sungguh diluar dugaan Faira jika saat ini ia harus bertemu


dengan Arsen dan justru Arsen meminta waktunya untuk bicara. Sungguh sejujurnya


Faira tak menduga ini akan terjadi, namun mau tidak mau Faira tidak memiliki


alasan lagi untuk menghindar, dan mungkin hari ini menjadi takdir keduanya


bertemu dan berbicara pikirnya.


“Ayo! Kita ke balkon gedung depan panggung..”


ajak Arsen


“Hah? Ke Balkon? Kaki aku begini gimana yang


naik coba?” ucap Faira yang tersadar ketika Arsen mengajaknya ke balkon gedung


depan panggung


Arsen tertawa “Baru sadar kaki kamu sakit?


Kenapa tadi berlagak mau kesana kemari huh?” skak Arsen


“Yaa..kesana kesini kan gak perlu naik


tangga..masih bisaa lahh..” jawab Faira terbata-bata tetap berusaha ngeles


“Ngeless mulu kayak belut kamu! udah ayo, gak


usah banyak alasan!” ajak Arsen memaksa


“Dih! Napa gue jadi disamain belut! Situ kali


yang kayak belut! Licin banget tu mulut kalo ama cewek!” gerutu Faira


“Ulangin!” seru Arsen yang mendengar Faira


menggerutu


“Mampus gue!”* Batin Faira


“Aww..aww..” rintih Faira berpura-pura sakit


dan melihat tangga sudah dihadapan mereka dan masih berakting kesakitan


Arsen hanya menatap datar tingkah Faira dan


tiba-tiba langsung mengangkat tubuh Faira menggendongnya menaiki tangga, dan


Faira seketika membelalakan matanya karena ulah Arsen..


“Kak! Turunin aku! Gak lucu ya kak! Banyak


orang disana kak!” ujar Faira yang meronta meminta Arsen menurunkannya, namun


tak berhasil menggoyahkan Arsen yang tetap menggendongnya menaiki tangga dengan


wajah datarnya.


“Mereka gak bakal liat!” jawab Arsen tenang


“Kakk..please..aku gak mau orang salah


paham..” rengek Faira


“Gak masalah! Aku gak peduli omongan orang!”


jawab Arsen datar


“Astagaa..aku gak mau yaa kak kalo aku


dilabrak pacar kak Arsen!” teriak Faira


Arsen menghentikan langkahnya  mendengar ucapan Faira


“Aku yang tanggung jawab!” jawab Arsen


kemudian setelah melihat wajah Faira


“Tanggung jawab dari hongkong, aku yang kena


semprot udah babak belur gimana dia yang tanggung jawab?” gerutu Faira pelan dan


hanya mendapat tatapan tajam dari Arsen yang mengisaratkan untuk diam.. Faira


pun sudah pasrah dalam gendongan Arsen percuma ia menghabiskan tenaga memohon


pada Arsen yang ia tahu tak akan menurunkannya apapun alasannya..


Sampai di balkon Arsen mendudukan Faira di


bangku yang menghadap ke arah panggung, dan Arsen duduk di sebelahnya. Faira


mengalihkan pandangannya terus ke arah panggung dimana saat itu Growth sedang


tampil bernyanyi dan tak memperdulikan Arsen disampingnya karena masih kesal


dengan kelakuan Arsen. Arsen menatap Faira yang sedang melihat ke arah stage,


rasa gugup tiba-tiba ia rasakan. Arsen tak tau bagaimana harus memulai


pembicaraannya dengan Faira. Faira yang menyadari sedari tadi ditatap oleh


Arsen akhirnya membuka suara lebih dulu..


“Kenapa? yang bengkak kaki aku doang kan


bukan muka aku?” tanya Faira yang masih kesal


“Cih…mulut  kamu tuh yang bengkak!” jawab Arsen tertawa


sinis


“Sembarangan! Mulut gak disekolahin itu pak?”


kesal Faira


“Jangankan disekolahin, bahkan mulut aku udah


aku asuransiin!” Ujar Arsen


“Dih! Gak ada juga yang mau ama tu mulut!


Diloakin juga gak bakal ada yang mau nerima!” ejek Faira


Arsen mendekatkan diri ke arah Faira


“Kalo aku cium, kamu juga bakal klepek-klepek


sama mulut aku..” goda Arsen


Faira reflek mendorong tubuh Arsen menjauh


“Ihhhhh… Mesum lo kak! Gak usah


haluuuu..dikasih 7 Milyar juga ogah gue dicium lo kak!” sanggah Faira


“Hahaha…belagu lo! sok jual mahal padahal mau


kan?” masih goda Arsen


“Lo ngomong mesum lagi gue lempar ke bawah ya


kak!” kesal Faira


“Hahahahahahahha..Kalem wehh atuh neng!”


Jawab Arsen yang tertawa melihat Faira kesal


“Bodo amat!” ujar Faira mengalihkan


pandangannya kembali ke panggung dan sekelilingnya