
...Diam bukan berarti aku tak peduli, aku hanya tak ingin lebih terluka jika aku sendiri yang mengetahuinya, lebih baik jujur meski itu tetap menyakitkan...
Waktu terus berjalan hampir 2 tahun mereka bersama, Al sudah berstatus mahasiswa dan Faira sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Al dan Rey saat itu diterima di universitas negeri ternama, namun mereka berbeda jurusan juga berbeda fakultasnya. Dan kini Faira disibukkan dengan berbagai persiapan menuju ujian akhir sekolahnya, sedangkan Al lebih santai menjalani perkuliahannya. Dan badai sesungguhnya baru dimulai kini. Segalanya nampak baik-baik saja, tidak ada pertengkaran atau pun perdebatan diantara keduanya. Sampai malam itu saat keduanya sedang berbincang dan bercanda bersama di ruang tamu rumah Faira.
"Gak mau! Ihh..siniin kakk aku mau liatt.." seru Faira yang berusaha merebut ponsel Al
"Gapapa ini lucu tau Raa..Jangan dihapus yaaa..awas kalo dihapus!" Ujar Al yang memperingatkan Faira sebelum ponselnya ia berikan.
"Yaa makanyaa aku liat duluu..gak mau ah kalo jelek hapus ajaa.." rengek Faira
"Gak mau! Kalo dihapus gak aku kasih!" Ancam Al
"Yee..kok gituu..kan itu foto muka aku, aku punya hak dong.." Faira masih gigih dengan kemauannya.
"Hpnya punya siapa hayo? Jadi aku yang berhak dong! Janji dulu gak dihapus baru aku kasih!" Balas Al
"Dih! Curangg..yauda yauda iya janji gak dihapus! Sini hp nya.." pasrah Faira Al pun akhirnya memberikannya.
"Tuhh kann gak bagus fotonyaa tau kakk..nih kan keliatan bulet banget muka akunyaa." Protes Faira
"Enggak! Aku bilang bagus ya bagus! Natural tau itu aku suka..awas yaa dihapus!" Jawab Al sembari menahan pergerakan Faira agar ia tak menghapus fotonya. Faira memajukan bibirnya kesal.
Namun disaat bersamaan ada pesan masuk dari teman Al, Faira sekilas membaca yang berisi..
Haha..bingung kan lo pilih yang mana? Awas lo nyesel kalo nglepas yang onoh!
Faira penasaran dengan pesan itu. Hendak membuka pesan itu, tapi Al dengan cepat mengambil ponselnya dari tangan Faira. Sempat terjadi perebutan namun Faira lebih memilih mengakhirinya. Al beralasan sedang membicarakan hal lain. Faira mencoba mengerti dan menyangkal rasa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Tidak ada feeling tak enak sebelumnya, namun Faira merasa kali ini Al tak jujur padanya. Dia memilih diam tak ingin mencari tahu dan percaya apa yang tersembunyi akan terbuka dengan sendirinya. Meyakini Tuhan akan selalu menunjukkan yang terbaik dengan caraNya sendiri.
💕💕
Sore itu di tepi danau yang luas keduanya duduk di sebuah bangku panjang menghadap ke arah danau. Menikmati senja dan semilir angin yang menerpa wajah mereka. Faira terus mengembangkan senyumnya menikmati suasana danau yang indah.
"Makasih yaa udah bawa aku kesini..setidaknya otak sama mata aku lumayan segerlah.." ujar Faira menatap Al sekilas lalu kembali menatap danau dengan senyumnya yang tak pudar.
"Iya sayangg..yang penting kamu bahagia." Jawab Al tersenyum dan tangannya yang terangkat merapikan rambut Faira yang ditempa angin ke belakang telinganya. Hening sesaat keduanya menikmati suasana senja danau itu, hingga Al memulai perbincangannya..
Menarik nafas dalam "Ra?" Panggil Al yang menatap Faira serius.
Faira yang masih tersenyum terpaku ke depan hanya menjawab dgn berdehem "hmm.." jawab Faira singkat
Al diam tak kunjung menjawab hanya menatap dalam sosok dihadapannya membuat Faira kini beralih menghadap ke samping dimana sedaritadi sosok di sampingnya itu menatapnya terus.
"Heii..kenapa? Kok diem?" Tanya Faira lembut.
Masih menatap Faira intens, tangan Al terangkat untuk memegang pipi Faira hanya mengelus pipinya tidak menjawab pertanyaan Faira.
"Kak Al kenapa? Ada yang mau kakak bicarain ke aku?" Tanya Faira lembut sembari memegang tangan Al yang berada di pipinya.
Al masih diam menatap Faira dan membuat Faira semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan kekasihnya itu.
Al menarik napas dalam dan berpindah posisi bersimpuh di rumput dengan tangannya yang terus memegang tangan Faira "Maafin aku Raa.." ujar yang yang menatap Faira dengan serius.
Faira terheran dengan sikap Al yang tiba-tiba seperti ini "Maaf? Kenapa kak Al minta maaf sama Faira ? Kenapa begini..ayo bangun..kak Al gak ada salah kenapa harus minta maaf.." Jelas Faira yang mengajak Al untuk beranjak dari posisinya namun Al tetap tak bergeming.
"A..aku..ada salah sama kamu Ra.." ucap Al lirih.
Faira masih tak mengerti apa yang Al lakukan sejak tadi.." Salah? Aku gak ngerti deh maksud kak Al dari tadi..maaf ..salah..aku gak ngerasa kak Al buat salah apa-apa dari kemarin..beneran deh..emang kak Al nglakuin salah apa sama Faira?" Tanya Faira
"Aku.."
"Iya kak Al kenapaa?"
"Aku..aku deket sama cewek lain Ra.."
DEG!
"Gak usah bercanda deh kak..gak lucu tau.." melepas genggaman Al Faira kesal. Ia berpikir ini hanya akal-akalan Al saja.
"Aku gak bercanda Ra..aku serius, aku salah Ra..aku minta maaf..aku selalu ngerasa bersalah dan sakit setiap kali ngeliat senyum kamu, cerianya kamu..karena itu lebih baik aku jujur ke kamu..aku berharap dengan kejujuran aku kamu bisa maafin aku Ra..aku mohon maafin aku Ra..awalnya aku ngerasa diperhatiin sama dia karena kamu sibuk sama sekolah dan kamu terlalu cuek sama aku Ra, aku jadi lebih deket sama dia..dia adek kelas aku Ra..tapi aku mutusin pilih kamu Ra bukan dia..maafin aku Ra.., " ujar Al yang masih bersimpuh di hadapan Faira dan menundukkan pandangannya ke bawah.
Serasa ribuan, tidak..mungkin jutaan paku menghujam hatinya..mendengar penuturan Al barusan dan tatapan keseriusannya membuat dada Faira sesak. Belum bergeming dari posisinya Faira hanya menatap danau lurus ke depan. Berusaha menahan gelombang kesakitan dan kesedihan dalam dirinya, meski kini di sudut mata itu sudah menggenang, dan setetes air mata itu lolos jatuh menyentuh pergelangan tangan Al yang masih menyentuh tangan Faira. Al seketika itu mendongak menatap wajah sendu kekasihnya yang menatap lurus ke depan.
"Raa..maafin aku..aku tau aku salah.." mohon Al pada Faira.
Faira masih berusaha mengendalikan perasaannya yang masih berkecamuk tak menghiraukan ucapan Al sedari tadi yang tak berhenti memohon kepadanya. Entah kata apa yang harus ia ucapkan pada lelaki yang selama hampir 2 tahun ini bersama disampingnya justru menghianati kepercayaannya selama ini.
"Kak.." akhirnya Faira bersuara
"Ra..aku bener-bener minta maaf Ra.."
"Aku mau pulang.." ujar Faira datar
"Tapi Ra-"
"Aku butuh waktu kak..aku mau sendiri dulu.." melepas genggaman Al Faira berdiri beranjak pergi dari danau itu.
"Tunggu Ra! Biar aku anter kamu pulang ya.." bujuk Al
"Aku bisa pulang sendiri, biarin aku sendiri dulu kak..please.." pinta Faira yang kini sudah berjalan pergi meninggalkan Al sendiri disana.
Faira berjalan sendiri menyusuri jalan dengan tak tentu arah..semakin merasakan sesak dalam dadanya, melihat ada sebuah gazebo di dekat pepohonan Faira berjalan menuju gazebo itu mendudukan dirinya di belakang gazebo itu tangis Faira pun pecah. Air matanya tak terbendung lagi. Menumpahkan segala kesedihannya disana. Tanpa Faira ketahui Al mengikutinya sejak tadi, Al memutuskan menghubungi Vanda agar menjemput Faira disana, ia tak menceritakan pada Vanda apa yang sebenarnya terjadi hanya meminta Vanda segera datang ke lokasi yang Al minta untuk menjemput Faira dan Vanda pun menyetujuinya dan bergegas mengendarai mobilnya menuju lokasi yang Al berikan. Tak berapa lama Vanda sampai di lokasi yang Al berikan, Vanda langsung menuju gazebo yang di arahkan Al dan terkejut melihat Faira sedang menangis disana.
"Astagaa Raa.." Vanda berlari menghamburkan tubuhnya memeluk Faira
"Gue disini..lo boleh nangis sekenceng-kencengnya kalo itu bisa buat lo tenang." Imbuhnya
Faira menumpahkan segala kesedihan dan kesakitannya dipelukan Vanda, tanpa berkata apapun hanya menangis dan terus menangis. Begitupun Vanda ia hanya berusaha menenangkan Faira tanpa bertanya apapun. Vanda paham Faira sedang menumpahkan segala kesedihannya dan itulah tugasnya sebagai sahabat untuk selalu ada di samping sahabatnya apapun keadaannya.