Faira'S Love Life

Faira'S Love Life
-21-



Melihatmu terluka lebih menyakitkan untukku dibandingkan melihatmu jatuh cinta dengan pria lain..


Hari ini menjadi hari yang mendebarkan bagi semua siswa kelas 3. Ya, karena hari ini menjadi hari penentuan mereka akankah mereka meninggalkan atau tetap bertahan di sekolah menengah atas. Semua siswa sudah berkumpul di sekolah, termasuk Faira dan sahabat-sahabatnya. Berkumpul di tengah lapangan sekolah, masing-masing telah berbaris rapi dalam barisannya. Dan bapak kepala sekolah saat itu dengan lantang menyatakan kepada seluruh siswanya bahwa mereka semua dinyatakan LULUS! Suara riuh sorak sorai semua siswa menggema. Kegembiraan terpancar dari wajah-wajah guru dan siswa semua. Saling berpelukan semua merasakan haru kebahagiaan. Kebanyakan orang mengatakan masa-masa putih abu-abu merupakan masa yang paling indah. Ya, bagi Faira dan teman-temannya kebahagiaan bagi mereka bisa sama-sama menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas bersama-sama. Suka duka mereka lalui bersama, dan rasa sedih kini mereka harus berpisah untuk meneruskan pendidikannya masing-masing. Mencapai apa yang mereka impikan.


"Kok gue jadi melow gini sihh..sebel gue!" Seru Qila


"Awas ya lo pada kalo gue besok bilang kumpul, lo pada gak kumpul..gue seret lo satu-satu dari rumah!" Seru Tita


"Sadis amat lo mak lampir!" Decak Vanda


"Kita kantin buat terakhir kali yuk!" Ajak Faira


"Ah lo mah pake bilang terakhir-terakhir bikin gue makin melow!" Protes Qila


"Cup..cup..ntar gue beliin coklat! Oke?" Ledek Faira


Akhirnya keempatnya pun berjalan beriringan menuju kantin. Menempati meja pojok menghadap taman keempatnya menikmati suasana kantin sekolahnya yang pasti akan mereka rindukan kelak. Menatap ke segala sudut sekolahnya, semuanya larut dalam kenangannya masing-masing.


"Heii.." sapa seorang lelaki yang sudah berada tepat di meja mereka.


"Hei Bim!" Seru Vanda dan semua pun menoleh ke arah Bima terkecuali Faira yang masih fokus dengan lamunannya


"Selamat yaa kalian lulus semua.." ujar Bima


"Congrats juga buat lo yaa.." balas Qila


"Duduk Bim!" Seru Tita yang kemudian diikuti Bima yang sudah duduk.


"Lo lanjut kemana Bim?" Tanya Vanda


"Gue lanjut di luar Van..bokap udah ngatur semuanya disana." Jawab Bima yang tersenyum kecut.


"Wahh..susah ketemu dong kita besok..kalo lo balik indo kabar-kabar lo ya ke kita jangan sombong sok kebule-bulean lo apalagi dapet cewek bule!" Seru Tita


Bima tertawa mendengar ucapan Tita "Santai kali Ta..gue juga gak minat bule! Gue mah demennya masih tetep yang lokal, susah dilupakan!" Jawab Bima yang melirik Faira sekilas.


"Lo ngapa dah diem-diem bae Ra?" senggol Tita di lengan Faira


"Hah? Kenapa?" Ujar Faira yang tampak tak fokus sedaritadi.


"Ahelahh bocah daritadi orang ngomong kagak dianggep.." keluh Tita


"Sorii..eh, Bima? Lo disini?" Seru Faira kaget melihat ada Bima disana


"Heh! Lo kesambet apa? Orang sedaritadi juga Bima disini onengg..lo kenapa sih?" Jawab Tita dan Faira hanya tersenyum kaku.


"Ra..gue boleh ngomong bentar ama lo?" Tanya Bima tiba-tiba


"Hah? Sama gue? Sekarang?" Tanya balik Faira yang terkejut.


"Hmm..itu juga kalo lo mau." Jawab Bima dengan tersenyum


Memandang wajah teman-temannya yang tak menunjukkan ekspresi penolakan akhirnya Faira menyetujuinya. Mereka berdua pun berdiri dan meninggalkan ketiga wanita itu di kantin. Berjalan menuju taman sekolah, Faira dan Bima masih saling diam. Keduanya duduk di bangku taman.


"Selamat yaa buat kelulusan lo." Ujar Bima yang memulai percakapan mereka


"Hmm..selamat juga buat lo yaa." Jawab Faira tersenyum


"Lo lanjut dimana Ra?" Tanya Bima


"Mm..gue daftar di UX bim..lo gimana? Lanjut kemana?" Tanya balik Faira


"Ah itu..gue lanjut di luar Ra..bokap udah ngatur semuanya." Jawab Bima


"Lo serius mau lanjut di luar? Gak mau coba disini dulu?"


"Hmm..tadinya sih mau gitu..tapi lanjut di luar mungkin yang terbaik buat gue Ra."


"Kenapa gitu? Kalo lo gak suka kenapa gak coba buat ngomong sama bokap lo?"


Bima tersenyum melihat Faira "Dengan gue berjauhan dari lo, mungkin itu yang terbaik buat gue bisa ngelupain lo Ra." Jawab Bima telak membuat Faira kini hanya diam mendengar jawaban Bima.


"Ra, lo berhak bahagia..maaf kalo selama ini perasaan gue buat lo masih sama..gue udah berusaha buat ngelupain lo, tapi itu gak mudah Ra..tapi gue juga tau gue gak bisa maksain perasaan lo ke gue..jadi cukup gue yang ngatasin perasaan gue..lo gak perlu ngerasa gak enak atau ngerasa kasian sama gue..gue cuma pesen, lo harus bahagia, jangan biarin seseorang terus nyakitin lo..gue jauh lebih sakit ngeliat lo sedih daripada ngeliat lo lebih memilih lelaki lain.." jelas Bima tulus


Faira yang mendengar penuturan Bima terkejut akan pengakuan yang Bima utarakan. Faira tak menyangka perasaan Bima sedalam itu padanya. Karena kenyataannya memang Faira hanya menganggap Bima sebagai teman, ia tak menyangka perasaan Bima padanya justru menyakiti Bima sedalam itu.


"Gue tau lo sakit Ra, lo mungkin bisa nutupin sakit lo dengan senyum lo, tapi mata lo gak bisa Ra." Batin Bima yang menatap Faira


FLASHBACK ON


Saat itu setelah ujian selesai Bima dan teman-temannya langsung mendatangi kafe di depan sekolahnya, dan disaat itu juga nampak Faira dan teman-temannya memasuki kafe yang sama dengan Bima. Mereka duduk tak jauh dari meja Bima dan teman-temannya. Namun mereka pun tak menyadari keberadaan Bima disana. Dan semua percakapan mereka pun didengar oleh Bima saat itu.


Bima sangat geram saat mendengar semua perkataan Faira.


"Jo, lo ada temen di Nusa Mandiri kan? Lo tolong mintain nomor Kak Aldric, gue butuh nomernya sekarang, bisa kan?" Pinta Bima


"Tumben amat lo nanyain anak Nusa Mandiri, gue coba mintain dulu." Jawab Jo


"Gpapa cuma lagi ada perlu aja, dia alumni Nusa Mandiri tahun lalu gue cuma mau tanya-tanya doang." Jawab Bima beralasan


Tak lama balasan pesan dari teman Jo masuk, dan nomor yang diminta Bima pun sudah terkirim ke ponsel Bima.


"Oke thanks jo!" Ujar Bima


Menyimpan nomer yang dikirimkan Jo, yang tak lain ialah nomer milik Al. Dan saat itu juga Bima mengetik sebuah pesan pada Al.


Bima


Gelas yang sudah kau pecahkan, tak akan mungkin kembali utuh seperti semula. Jika kau memang menyesalinya, buktikan saja! Jika kau hanya bisa menyakitinya, lepaskan Faira! Dia terlalu berharga untuk kau miliki!"


Pesan terkirim kepada Al


Al yang saat itu sedang berada di kampus membuka pesan yang masuk ke ponselnya, dan nomer tak di kenal mengirimnya sebuah pesan yang tak terduga pada Al. Al mengernyit heran membaca pesan itu.


Al


Lo siapa?


Bima


Lo gak perlu tau siapa gue, yang perlu lo ingat kalo lo gak bisa bahagiain Faira, lepasin dia! Jangan jadi pengecut yang cuma bisanya nyakitin cewek yang lo bilang lo sayangin! Cinta lo itu bullshit! Kalo lo emang sayang sama Faira, lo gak bakal buat hatinya hancur! Apapun alasan lo, lo udah terlanjur nyakitin dia! Kalo lo emang masih mau disebut laki-laki, buktiin omongan lo kalo lo emang sayang sama dia! Gue relain dia bukan buat disakitin! Dia terlalu berharga buat laki-laki macem lo!


Al


Lo yang pengecut! Lo gak tau apa-apa jadi gak usah ngurusin hubungan orang! Kalo lo emang lebih baik dari gue ngapa lo gak jadian sama Faira! Gak cuma beraninya ngancem doang!


Keduanya saling emosi, beradu argumen. Hingga Bima mengakhiri untuk memperjelas posisinya pada Al.


Bima


Lo denger baik-baik ya, gue emang pengecut yang gak pernah berani berjuang untuk dapetin Faira! Karena gue sadar saat itu gue masih takut gak bisa bahagiain dia. Dan disaat gue yakin gue terlambat buat dapetin hatinya! Dia terlanjur milih lo buat jadi seseorang yang bisa bahagiain dia..dan sekarang lo justru nyakitin dia! Gue gak peduli lo mau sama cewek manapun! Kalo emang lo gak serius sama Faira, lo lepasin dia baik-baik bukan malah ngehianatin dia! Lo lepasin dia kalo emang lo gak becus buat bahagiain dia! Dia berhak bahagia! Camkan itu!


Al yang membaca pesan terakhir dari Bima semakin emosi, membanting ponselnya dia semakin kesal memikirkan hubungannya. Dan karena itulah Al berpikir untuk mengakhiri hubungan dengan Faira. Yang mana beberapa hari setelah itu Al akhirnya berpisah dengan Faira.


FLASHBACK OFF


"Heem..gue cuma selalu berharap lo selalu bahagia Ra..lo gak perlu minta maaf, karena bukan salah lo kalo gak bisa bales perasaan gue..gue juga gak akan mau kalo lo terpaksa mencintai seseorang Ra..ketika gue jatuh cinta, gue juga harus siap untuk jatuh sakit kan? Karena kita gak bisa memaksakan cinta.. Gue seneng bisa kenal cewek kayak lo Ra, dan gue juga bahagia bisa mencintai lo.." ujar Bima yang tersenyum tulus pada Faira.


"Karena setelah ini mungkin kita gak akan bisa ketemu dalam jangka waktu yang lama, gue cuma mau pamit aja sama lo..gue minta maaf kalo gue ada salah atau pernah bikin lo gak nyaman sama gue..lo jangan pernah ngerasa gak enak atau sungkan sama gue karena perasaan gue ke lo yaa..lo tetep temen gue yang paling gue sayangg.." imbuhnya sembari mengelus puncak kepala Faira.


Faira mengangguk dan tersenyum menatap Bima. "Thanks yaa Bim udah mau jadi temen yang baik buat gue.."


"Ra?" Panggil Bima


"Hmm?" Tatap Faira


"Sebelum kita berpisah, boleh gak gue peluk lo sebagai temen? Sori bukan maksud gue gak sopan..kalo lo gak setuju gapapa." Pinta Bima


Faira diam sejenak, lalu tersenyum.."baiklah..."


Bima pun perlahan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Faira dan dengan gugup memeluk wanita yang selama ini ia sayangi dan hanya mampu menyayangi dalam diamnya.


"Makasih lo udah jadi orang yang selalu memenuhi pikiran dan hati gue selama ini, meski gue gak bisa milikin apalagi bahagiain lo, tapi gue selalu berdoa buat kebahagiaan lo Ra..gue sayang banget sama lo Ra." Batin Bima


"Thanks dan maaf untuk semuanya ya Bim.." ujar Faira dalam pelukan Bima


"Lo gak perlu mnta maaf apalagi berterimakasih, lo selalu bahagia itu udah cukup buat gue Ra.." ujar Bima yang kemudian melepas pelukannya dari Faira.


Keduanya saling tersenyum, tak ada rasa canggung lagi antara keduanya. Mereka sudah melepaskan perasaan masing-masing..menerima takdir yang memang tak berpihak kepada keduanya..mengikhlaskan seseorang yang dicintainya untuk bahagia meskipun bukan dengan dirinya..