F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 39: Korban Bertambah



Mendengar salah seorang mahasiswa di kelas itu yang malah ingin melaporkan kejadian saat itu pada polisi,membuat pak Seto yang sudah kehilangan kendali akan dirinya itu pun berlari dan hendak menyerangnya yang masih berteleponan dengan polisi di daerah sekitar kampus itu.


Menyadari dirinya dalam bahaya,mahasiswa yang ternyata adalah Reno itu pun memilih untuk tidak berlari menghindarinya melainkan malah ingin melawannya yang jauh lebih tua darinya itu.


Reno yang masih terhubung dengan pihak kepolisian itu belum sempat menjelaskan apa-apa pada mereka karena situasi yang mendadak berubah disana.


Sehingga,Reno yang cukup cerdas menangani situasi mendesak seperti ini pun memilih untuk menjelaskannya lewat suara pertarungan yang akan dibuatnya dengan pak Seto nanti dengan harapan para polisi yang mendengarkannya dalam teleponnya itu bisa memahami situasinya disana.


Pak Seto pun tak tanggung-tanggung langsung mencoba menikam Reno pada bagian jantung yang terletak di dada kirinya yang tidak terlindungi sama sekali itu. Dengan mukanya yang sungguh seperti orang kehilangan akal itu,pak Seto bergerak secepat kilat mendekati Reno yang juga sudah siap menghadapinya itu.


"Rasakan ini,dasar kau tukang ikut campur!",kata pak Seto dengan nada tinggi berteriak pada Reno sambil terus bergerak secepat kilat ke arahnya.


Reno yang sudah siap menghadapinya dengan rencana yang matang itu pun langsung mengangkat tempat duduk yang digunakannya tadi untuk menahan pisau milik pak Seto yang ditujukan ke dada bagian kirinya itu.


"Jleb,Krek!",suara tempat duduk Reno yang terbuat dadi kayu yang begitu kuat itu tertusuk dengan mudah oleh pak Seto dengan pisau berdarahnya.


Ternyata,sesuai harapan Reno langkah pertama dari rencananya itu bekerja pada pak Seto yang hendak menyerangnya secara membabi buta hanya menggunakan emosi saja itu.


Namun,ini hanyalah permulaan sederhana saja darinya dalam rangkaian rencana matangnya tadi.


Reno kemudian siap untuk melaksanakan langkah kedua rencananya ini saat itu juga selagi pak Seto yang sudah kehilangan kendali akan dirinya itu malah dengan bodohnya berusaha mencabut pisau yang sudah jelas-jelas tertancap begitu dalam pada tempat duduk Reno yang berbahan kayu yang tangguh itu.


Sebuah kesempatan besar yang tidak akan disia-siakan oleh Reno itu untuk melancarkan langkah kedua dari serangkaian rencananya yang sudah disusunnya secara teratur hampir sempurna itu.


Tiba-tiba saja,Reno yang tadi hanya bertahan itu pun melayangkan tendangan sekaligus serangan pertamanya yang mendorong tempat duduk yang juga masih dipegangi tangannya sendiri itu untuk menjatuhkan pak Seto di lantai kelas itu untuk memudahkannya dalam melakukan serangan selanjutnya.


"BRAK!",begitu keras suara pak Seto yang jatuh terkapar bertumpukan dengan tempat duduk Reno yang dilepas Reno tadi saat menendangnya dengan keras pula.


Sehingga,pak Seto yang baru saja jatuh terhantam kerasnya tendangan Reno yang tersalurkan melalui tempat duduk tadi pun mengerang kesakitan sendirian disana tanpa ada satupun mahasiswa yang mau menolong bahkan mendekatinya yang sudah kehilangan akal sehat itu.


Menyaksikan aksi Reno yang berhasil melumpuhkan pak Seto yang tadi hendak menyerangnya secara membabi buta pun membuat kaum hawa disana menjerit histeris ketakutan di dalam kelas yang sudah kacau itu.


Mendengar para mahasiswi disana yang ketakutan di sekitarnya,Reno yang tidak ingin mereka semua mengalami trauma atas kejadian yang terjadi di kelas tempat seharusnya mereka menempuh pendidikan tingkat tinggi itu pun meminta tolong pada para mahasiswa lain disana untuk mengarahkan para mahasiswi keluar secepatnya dari kelas yang berubah mengenaskan itu.


Lantas,para mahasiswa yang mengandalkan Reno yang cukup cerdas disana pun mengikuti arahannya lalu menggiring keluar seluruh perempuan disana untuk meninggalkan kelas mereka sekarang juga.


Beberapa dari lelaki disana pun ada juga yang mengevakuasi Geri dan pak Susilo yang sudah sekarat bersama disana untuk kemudian dibawa menuju ruang kesehatan kampus sebagai upaya pertolongan pertama yang dapat mencegah pendarahan berlebihan pada keduanya.


Sehingga dengan cekatan,Reno yang sudah muak dengan situasi di kampus yang mengerikan ini pun langsung ingin segera mengakhiri semua ini dengan menghajar pak Seto hingga babak belur dan membuatnya tidak sadarkan diri disana supaya memudahkannya nanti menyerahkan pak Seto pada pihak kepolisian.


Reno kemudian memulai serangannya dengan melayangkan sebuah tendangan maut yang ditargetkannya ke arah wajah sang dosen psikopat itu sehingga dapat dengan cepat membuatnya tidak sadarkan diri nanti.


Sayang seribu sayang,kali ini rencananya yang sudah dipikirkannya dengan matang dan hampir sempurna tadi harus direlakannya gagal begitu saja karena evakuasi dadakan tadi.


Ternyata,dari tadi pak Seto bukannya tidak bisa bangkit dari sana melainkan menunggu Reno terlebih dahulu untuk menyerangnya supaya dirinya bisa menyerangnya balik lebih mudah dengan sebilah pisau yang telah berhasil dicabutnya dari tempat duduk itu.


Dan seperti dugaan pak Seto,Reno menyerangnya terlebih dahulu menggunakan kaki kanannya sehingga pak Seto di saat yang tepat pula mengeluarkan pisau yang sudah berada dalam genggaman tangannya itu lalu langsung menusukkannya ke bagian terdalam telapak kaki Reno yang terlindungi oleh sepatu itu.


"Argh!",jerit Reno mengerang kesakitan disana saking kuat dan dalamnya tusukan pak Seto pada telapak kaki kanannya itu.


"Hahaha,rasakan itu dasar kang ikut campur! makanya jangan sok-sokan jadi pahlawan kalau nggak bisa apa-apa!",kata pak Seto begitu bangkit dari lantai kelas itu langsung mengejek dan menertawakan Reno yang mengerang kesakitan di hadapannya.


Namun,rencana yang dilancarkannya ini ternyata belum sepenuhnya gagal karena di tengah-tengah rasa sakit yang telah menguasai telapak kakinya itu Reno masih terpikirkan akan sebuah rencana cadangan yang mungkin dapat dilakukannya saat ini.


Reno kemudian menjerit meminta tolong di kelas yang tertutup itu dengan harapan polisi dapat mendengarnya dan segera mengirimkan bantuan padanya dan kampus yang sedang dilanda masalah serius itu.


"Tolong! tolong! tolong! ada psikopat disini,tolong saya di fakultas kedokteran Universitas Nasional Indonesia!",teriak Geri dalam ruangan kelas itu menghabiskan seluruh tenaga yang dipunyanya untuk meminta tolong pada pihak kepolisian yang masih terhubung dengannya lewat telepon.


...----------------...


Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️