F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 2: Sulit



Geri berteriak mengalihkan perhatian kedua berandal itu untuk menyelamatkan perempuan malang yang sudah terpojok kaku di gang kecil nan sepi itu. Kemudian,Geri pun memulai langkah pertama dari rencananya untuk menyelamatkan perempuan itu dengan melemparkan batu-batu ke muka kedua berandal kekar yang bukan tandingannya itu.


Ia tahu betul jika melawan mereka berdua dengan kekuatan fisiknya saat ini bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan karena perbedaan yang sudah terlihat jelas dari awal tentang perbedaan jumlah dan postur tubuh antara dirinya dan kedua berandal itu.


Sehingga,dengan kepala dingin ia pun berpikir untuk menggunakan senjata pengalih perhatian yang ada di sekitarnya saja yaitu batu kerikil yang kemudian dikumpulkannya menjadi dua genggam tangan penuh batu untuk dilemparkan ke muka para berandal itu.


Karena tidak sempat menghindari lemparan batu-batu dari Geri tadi,para berandal itu pun jatuh tertunduk di bawah dan Geri yang melihat hal itu pun merasa puas dan senang karena rencananya kali ini berhasil.


"Rasakan itu!",teriak Geri merasa puas setelah berhasil melempar batu mengenai muka kedua berandal itu.


Geri kemudian dengan cepat menggowes sepedanya mendekati perempuan malang itu untuk menariknya keluar dari sana dan menyelamatkannya dari para berandal itu.


"Ayo cepat kesini!",seru Geri meminta perempuan itu untuk segera berlari ke arahnya dan meloloskan diri dari sana.


Tapi anehnya setelah jelas-jelas mendengar teriakan Geri yang memintanya untuk segera berlari dari sana,perempuan itu tetap berdiri disana dengan kaku tidak berani melangkah sedikitpun sambil menggelengkan kepalanya kepada Geri yang meneriakinya. Tentunya Geri yang melihat hal itu pun merasa ada yang aneh dengan yang terjadi disana. Ia pun mulai berpikir mengapa perempuan malang itu tidak segera melarikan diri dari berandal yang memojokkannya dari tadi.


Dan ternyata, betapa terkejutnya Geri setelah melihat kembali ke arah dimana para berandal yang tertunduk di bawah tadi,mereka sudah berdiri dengan tegak disana. Perlahan Geri pun mulai menaikkan pandangannya untuk melihat kembali ke arah para berandal yang dilemparinya batu tadi.


Geri yang tadinya berlagak seperti seorang pahlawan itu pun seketika berubah menjadi seperti anak kucing kecil yang lemah tak berdaya begitu melihat raut wajah penuh amarah kedua berandal itu.


Geri merasa ia sudah melakukan sebuah kesalahan besar dengan melempari mereka hanya dengan batu-batuan kecil saja tadi karena sebenarnya jika dipikir lagi memang tidak mungkin hal seringan dan sekecil itu dapat menjatuhkan bahkan melumpuhkan sementara dua pemuda kekar seperti mereka.


Sehingga,Geri yang sudah ciut nyalinya begitu melihat kedua berandal yang menatapnya dengan penuh rasa haus akan amarah dan balas dendam itu pun malah berdiri kaku disana sambil terus memikirkan caranya untuk menyelamatkan dirinya dan perempuan malang yang cukup sulit dijangkaunya itu.


Kedua berandal yang tadinya mengepung perempuan malang itu pun berbalik mengepung Geri yang mengganggu rencana mereka untuk memalak perempuan yang sudah terpojokkan tadi. Dan Geri yang masih kesulitan berpikir mencari jalan keluar masalah ini pun tetap berdiri kaku disana tanpa melakukan pergerakan sedikitpun.


"Aduh...,gimana nih?",pikir Geri dalam hatinya yang terus kebingungan harus berbuat apa disana.


"Nggak mungkin juga kan aku harus berhadapan sama dua preman kekar kayak gini...",sambung Geri dalam pikirannya terus mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya saat ini.


Geri yang kebingungan di tengah ketegangan itu pun tiba-tiba saja menyadari sebuah celah yang cukup besar ditinggalkan oleh para berandal itu untuk menyelamatkan perempuan malang tadi.


Saat ini,situasinya sangat menguntungkan bagi perempuan yang terpojokkan itu karena sekaranglah waktu yang tepat untuknya meloloskan diri dari para berandal yang sudah memalaknya tadi. Sehingga,Geri yang menyadari hal itu pun langsung bergegas memberitahu perempuan itu untuk segera keluar dan meloloskan dirinya dari sana.


"Cepat lari,sekarang!",teriak Geri dengan keras memberitahu perempuan malang itu untuk lari secepatnya dari sana saat itu juga.


Beralih ke kedua pemuda berandal yang mendekati Geri untuk membalas dendam terkait perbuatan Geri pada mereka tadi.


Salah satu pemuda berandal bernama Yudi yang semakin dekat dengan Geri malah sibuk memerhatikan barang-barang bawaan Geri yang nampak cukup mahal baginya sementara pemuda satunya yang bernama Yudo sibuk bersiap-siap melampiaskan seluruh amarahnya melalui otot-otot terlatih pada tubuhnya untuk memberikan sebuah pelajaran bagi Geri yang sudah berbuat keterlaluan baginya.


Dan Geri yang sudah kehabisan ide harus berbuat apa disana untuk menyelamatkan dirinya dari keadaan ini pun hanya bisa berdiam kaku seperti perempuan tadi. Ia juga merasa heran dengan apa yang dilakukan perempuan yang terpojokkan di tembok itu yang malah tidak meloloskan dirinya sendiri dari sana.


"Wuih,kayaknya jam tangan mahal tuh",kata Yudi sambil melirik ke arah jam tangan bermerek milik Geri.


"Urusan itu nanti aja,dasar mata duitan!",gertak Yudo memarahi Yudi yang malah sibuk melihat-lihat barang-barang milik Geri.


"Yang penting,orangnya mampus dulu! udah nggak sabar nih gue pengen ngremukin wajah dia!",tambah Yudo sambil terus mengumpulkan seluruh amarahnya ke dalam kepalan tangannya yang sudah siap mendarat ke wajah Geri.


Geri yang berhadapan dengan kedua berandal itu pun tetap diam dan hanya bisa pasrah karena ia tahu akan percuma untuk melakukan usaha melarikan diri dari sana. Yang pertama,pastinya keselamatan perempuan malang itu tidak akan terjamin lagi dengan keadaan yang semakin menguntungkan kedua berandal itu dan yang kedua,kalaupun ia berlari sekarang juga dan berhasil membawa serta perempuan malang itu nantinya para berandal itu pasti menyimpan dendam kesumat kepadanya yang membuatnya semakin terancam ke depannya sehingga itu sangatlah tidak menguntungkan baginya.


Kali ini Geri yang sudah berada di ujung tanduk itu sudah siap menghadapi kerasnya pukulan yang akan dilayangkan Yudo kepadanya saat itu juga dengan tetap berupaya berlindung menggunakan kedua lengannya yang sudah pasti tidak akan berguna apa-apa. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya saat itu selain berupaya melindungi dirinya sendiri dengan upaya yang pastinya akan sia-sia itu.


Sebuah pukulan penuh amarah dan dendam pun dilayangkan oleh Yudo dengan kuat kencang ke arah Geri yang berlindung menggunakan kedua tangannya itu hingga tiba-tiba terdengar suara pecahan botol kaca dari belakang tubuh para berandal itu yang membuat pukulan Yudo berhenti sebelum mengenai targetnya.


...----------------...


Sekian dulu part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️